THE Twins (Terjebak Cinta Si Kembar)

THE Twins (Terjebak Cinta Si Kembar)
Berkenalan


__ADS_3

"Wow!!!" Ketiganya segera menatapku heran.


"Bagaimana kamu tahu" Pemuda yang memegang kemudi memutar badannya Dan menatapku.


"Apakah kamu tahu aku? " pemuda yang lainnya juga ikut bersuara.


Tapi Michelle hanya membisu, seakan merasa kalah.


"Karena kalimatnya mengeluh, dan susunannya sama"


"Aaah....!!"kedua marvell yang duduk Di depan langsung lemas Dan kecewa.


" Dia belum tahu sisi garangmu... Tidak sulit mengeluh seperti Michelle "


Mobil kembali melaju. Hembusan kekecewaan terdengar berkali - kali dari mereka bertiga. Antara kecewa denganku atau ke tidak sukaan mereka Pada pria yang akan mereka temui.


"Tuan besar sudah menunggu Di ruang utama" seorang kepala pelayan segera menghampiri kami ketika kami baru sampai di gerbang rumah yang lebih besar dari rumah tempatku mendarat sebelumnya.


"Apakah dia sudah berkarat?" Tanya Marcell yang di ikuti cekikan dari yang lain.


Hanya aku yang terdiam mengamati.


"Ah.. Pak Surya!" Michelle yang masih berdiri Di samping ku memanggil kembali pria paru baya itu.


"Bisa kah kamu mendapatkan baju dengan ukuran" Michelle mengamati ku Sejenak.


"Ukuran 70A kalau tidak salah?" Michelle membisikkan kalimat kurang ajar itu Di telingaku. "Kecuali kamu mengubahnya"


Kedua pemuda yang ada Di belakang ku juga mulai mendekat Dan menguping pembicaraan kami.


"Apa Sungguh kamu telah mengubahnya?"


"Bagaimana ini? bukankah kita tidak menyukai ukuran yang berlebihan?"


Aku membuang nafas kasar. "Bisa kah kalian menjaga privasi masing - masing?"


Aku menekan kan kalimat ku dengan tajam. "Lagi pula ini tubuhku, itu terserah padaku"

__ADS_1


"Jadi Sungguhkah kamu mengubahnya?" Michelle mencoba mengkonfirmasi kembali prasangkanya padaku.


Aku bergantian menatap ketiganya "Selama kalian belum pernah mentransfer Jumlah harga Perubahannya aku rasa semua tetap sama" Ucapku sedikit kecewa karena sepertinya aku sedang memenuhi Keinginan mereka. "Apa kalian lupa kalau aku miskin?"


"Ah.... Aku lega rasanya" ucap salah satu yang di belakang di ikuti dengan yang lain.


"Ukuran S pak" Lanjutnya kepada pak Surya yang sedang menanti perintah.


Aku hanya melempar senyum sekilas Pada pak surya sebelum beliau pergi.


Rumah ini nampak tinggi Dan besar. Sebenarnya designnya lebih terkesan minimalist. Hanya saja, dia memang pencinta tanaman. Sejumlah tanaman indoor tersebar dengan rapi Di setiap sudut. Dari jenis Calladium, Philodendron, Calathea Dan banyak jenis lainnya.


"Ehem..."


"Ehem.."


"Ehem.."


Ketiganya berdehem secara berurutan Dan mulai menyebar ke kursi Di sekitar seorang pria yang tidak muda Dan juga tidak terlalu tua, yang sepertinya tidak begitu ramah.


" Apakah dia adalah wanita itu?"


Ketiganya tidak begitu memperlakukan ayahnya seperti selayaknya seorang ayah. Nampak begitu santai Dan jelas tanpa rasa hormat.


"Silahkan duduk Nak.." Ayah mereka melepaskan kaca matanya Dan mulai mengarahkan pandangannya padaku.


Benar!! Ayah mereka nampak tidak terlalu tua Dan hampir mirip ke tiga putra kembarnya. Hanya saja, tentu dia lebih kharisamatic. Harus wajahnya lebih tegas seiring beberapa kerutan Di ujung matanya.


"Nama..?"


"Candy.. Pak.." Aku menjawab dengan suara sopan yang bisa aku sajikan.


"Common Dad...!" salah satu dari mereka Entah mengapa mulai protest.


Pria itu menarik nafas dalam - dalam "Seperti kamu tahu nama saya Marvell" Pria itu mendengus kesal "Nama yang di pakai para bocah tengil ini melakukan hal yang kurang menyenangkan padamu" nadanya mulai teratur Dan sopan.


"Sebagai orang tuanya, saya minta maaf padamu" lanjutnya dengan lembut Dan suara teduh.

__ADS_1


Tentu saja semua wanita akan lebih memilih ayah mereka. Di usia yang tidak muda lagi, ayahnya masih nampak rupawan. Bahasanya juga sopan Dan teratur. Terlebih lagi, semua harta Di keluarganya Sebagian besar pasti adalah miluknya.


"Benar bukan.... Dia juga mulai tertarik dengan Daddy" keluh salah satu dari sikembar. Aku sudah kembali bingung dengan mereka.


"Tidak sulit menyukai ayah kalian, setelah melihat sifat kalian" Entah keberanian dari mana aku mengatakan kalimat itu dengan lancar. "ups.. Maaf," Aku buru - buru meralat.


"Tidak apa - apa, kamu tidak salah" Senyum teduh kembali tersungging "Kamu juga Bisa memanggil saya daddy, mengingat kamu akan segera menjadi menantu"


"Ternyata membuat dia hamil bukanlah ide buruk, setidaknya mengurangi resiko untuk dia lebih memilih Daddy dari Pada kami" ujar salah satu dari si kembar.


"Tidak ada masalah asal kalian ingat siapa yang melakukannya" Ayah mereka melempar pandang kembali padaku dengan tatapan sedikit iba "Seharusnya kalian jujur juga padanya sebelum berbuat seperti itu, bagaimanapun itu tubuh dia"


CK CK CK.... Bagaimana ayah sebijak ini Bisa menghasilkan benih tengil. Tapi melihat kekayaannya mungkin mereka jarang bertemu dengan ayahnya.


Aku mengangguk otomatis, ucapan ayah mereka benar. Aku bukan perempuan murah an yang bercinta dengan siapapun. Tapi rasanya aku mulai diperlakukan serupa dengan ke tidak pastian tentang ayah Di dalam kandunganku saat ini.


"Maaf, bolehkah saya meminta sedikit pertanggung jawaban tentang kerugian emosi sementara ini?"


Ayah Dan anak itu mengerutkan dahi secara ber.. Sa.. Ma.. An. Uhf...apakah aku lancang?


Aku menarik nafas perlahan seiring keberanian yang aku kumpulkan. Tidak akan Ada yang berjuang untuk kita selain diri kita sendiri. Tidak masalah kalau mereka mendepakku dari tempat ini. Setidaknya aku bisa bebas. Kabur dari area seluas 10 hektar untuk seorang yang sedang hamil pasti tidak mudah bukan?


"Apakah anda tahu kalau mereka membawa saya ke sini dengan cara menculik?" Aku menahan nafas Sejenak. Karena sepertinya sang ayah tidak tahu "Saya punya pekerjaan yang mungkin sudah saya tinggalkan tanpa permisi..." aku menggantung ucapanku sesaat "saya mungkin kehilangan satu - satunya pekerjaan saya saat ini"


Suasana mendadak jadi henning seakan nafas pun tidak berhembus.


" Jadi ini tentang kompensasi?"


"Bagaimanapun... Saya Dan anak saya harus tetap hidup normal siapapun ayahnya. Saya pastikan saya adalah ibu yang bertanggung jawab. Meski saya nampak bodoh karena tiba - tiba tidak tahu ayah dari anak saya"


"Hm.....kamu benar, sebagai ayah mereka saya harus bertanggung jawab" Pria itu menuliskan sesuatu Di benda pipih yang berasal dari sakunya.


Berselang beberapa menit seorang pria muda nan tegap memasuki ruangan dengan map kulit berwarna tan mengkilap. Tanpa ragu dia melangkah mendekati ayah si kembar Dan menyerahkan map itu.


"Tuliskan nomor rekeningmu, dan kami yang akan menggajimu setiap bulan"


Aku menggeleng "Tidak..!!" Aku harus tegas "Mencari pekerjaan bukan perihal yang mudah, saya mau kompensasi"

__ADS_1


"Hmmm...." Mimik Ayah si kembar tidak seramah sebelumnya, Namun berbanding terbalik dengan tiga wajah serupa Di sekitarnya, mereka nampak bersemangat dengan hal selanjutnya yang terjadi di antara kami.


__ADS_2