
Sebulan Dan dua bulan mulai berlalu, kepanikanku mulai meningkat ketika...
Aku baru menyadari bahwa aku tidak datang bulan, Pada bulan sebelumnya.
"Gajiku masih Di atas umr sedikit, membiayai satu anak tentu bukan hal yang sederhana" Aku menceramahi diriku sendiri.
"Tidakkah lelaki itu harus bertqnggung jawab sedikit meski harus urusan biaya kelahiran"
Tiga photo lagi terkirim ke handphone ku, pagi ini. Sama seperti sebelumnya tidak ada satupun kalimat yang menyertainya. Apa dia mengharap aku akan mengemis memintanya kembali padaku?
Meski sempat terlintas, aku mulai berfikir itu hal bodoh. Aku tidak ingin anakku memiliki ayah yang hanya pandai mengancam. Atau bersembunyi seperti pengecut.
'Aku tidak peduli.... Tapi jangan lupa tinggalkan warisan yang berharga untuk anakmu, setelah kamu berusaha menghancurkan ibunya' Aku memberani kan diri mengirim pesan itu padanya.
Aku menarik nafas dalam - dalam, bukan karena lega. Tapi karena aku tidak Bisa membayangkan bagaimana kehidupanku setelah ini.
Semoga saja ayahnya tidak bangkrut, paling tidak aku masih Bisa menuntutnya untuk pendidikan anakku Di masa depan.
Aku memutar video itu lebih dari satu kali. Aku mulai berfikir, bagaimana kalau saja aku melakukan hal yang Sebaliknya? Seumpama, aku mengancam agencynya? Bukankah itu juga Bisa menghasilkan uang?
"Drrrrt..." aku hampir saja melempar handphoneku karena terkejut dengan panggilan masuk.
"Nona Candy?"
"Tidak salah, tapi saya sudah punya asuransi Dan kartu kredit" jawabku cepat. Aku tidak mau membuang waktuku dengan suara merdu Di seberang sana.
"Maaf, saya adalah sekertaris tuan Marvell, dan kami berencana mengundang anda untuk bertemu dengan beliau"
__ADS_1
"Apakah saat ini dia cukup kaya?" Aku tidak perlu sopan bukan? Terutama Pada pria yang berencana menghancurkan hidupku.
"Tentu saja!" terdengar tawa kecil dari lelaki Di seberang sana." Kami akan me jemput anda malam ini"
"Apakah ada konsekuensi kalau aku menolak?"
"Maaf, saya hanya di minta mengundang anda. Selebihnya saya belum menerima perintah"
Dia hanya robot berwujud manusia saja. Bagaimana mungkin dia belum berfikir untuk adanya penolakan dariku. Atau mungkin Marvell begitu percaya diri aku akan setuju begitu saja?
Aku memang miskin, tapi tidak bodoh. Mungkin aku wanita bertubuh lemah, tapi kemiskinan telah membuat mentalku sekuat baja.
"Maaf hari ini aku sibuk, ajukan beberapa tanggal Dan hari yang berbeda, selama aku mempertimbangkan apakah aku akan memenuhi undangan itu" Jawabku diplomatis.
Aku meraih kertas alamat Marvell Dan membaca detailnya sekali lagi. Tempat ini cukup exclusive terhampar dengan Fasilitas mewah dengan jarak yang cukup jauh dari satu lokasi dengan lokasi lainnya.
Para staff atau pegawai?
Nilai kemanusian sudah merosot cukup significant Pada era saat ini. Bahkan pemerintah Di Singapore mengharuskan agar semua iklan mulai mulai mencantumkan nilai kemanusiaan dalam setiap iklan yang tayang Di negara mereka.
Gaji para staff Dan pegawai Di sana tidaklah sedikit. Bahkan mungkin mereka akan berfikir bahwa nilaiku tidak lebih tinggi dari gaji tahunan mereka.
"Sorry... I am not that so stupid Marvell" Aku meremas kertas itu sekuat tenaga. Meski ahirnya aku berusaha merapikan kerutannya kembali. Karena masih ada kemungkinan hal yang menguntungkan yang mungkin belum terlintas.
*'******
Selain kekacauan yang di tinggalkan Marvell padaku, hidupku sepertinya jadi lebih damai.
__ADS_1
Para wanita itu juga sudah berangsur tidak menghiraukanku. Meski sesekali mereka datang. Teman - teman ku juga sudah mulai tidak perlu membawa baju seragam cadangan untukku. Jika saja, aku tersiram kopi.
Hanya saja, Wajah managerku sedikit berangsur tidak ramah. Promosi yang di janjikan padaku juga mulai tidak pernah di bahas lagi.
*****
"Karena penjualan mulai menurun" Jawabnya ketus. "Para anak orang kaya itu tidak lagi mengalirkan uangnya seperti air lagi"
Benarkan... Nilai kemanusiaan Sungguh mulai terkikis dengan materi. Bagaimana mungkin dia Bisa menikmati yang dari hasil tamparan atau siraman kopi Panas Pada staffnya. Untung saja kopi selalu Di hidangkan dengan suhu 90 derakat celcius. Dan pastinya kulit tubuh Dan mentalku ini buat an tuhan. Kalau tidak, aku sudah out off error.
"Ini hanya soal penjualan bukan?" Bantahku dengan berani.
Posisi supervisor Bar, menjadi Incaranku sebagai jaminan untuk memutuskan hubunganku sepenuhnya dengan Marvell. Setidaknya Gajiku naik hampir dua kali lipat. Dengan begitu aku bisa membayar day care.
" Kira - kira begitu " jawab managerku dengan tak mempedulikan Api semangat Di mataku.
"OK... Kalau besok aku mencetak duapuluh juta dalam satu jam, apakah kamu akan memberikan posisi itu segera?"
Pak. Ari hanya tersenyum miring menanggapi tantanganku. "Coba saja, aku tidak yakin kamu mampu"
"Berjanjilah lebih dulu"
Sejenak dia mulai berfikir, hingga ahirnya dia menerima ukuran Tanganku "
Aku tidak boleh gagal, aku tidak akan membiarkan pengecut berwajah malaikat itu kembali Pada hidupku, hanya karena masalah financial.
Aku yakin aku bisa mengatasinya.
__ADS_1