THE Twins (Terjebak Cinta Si Kembar)

THE Twins (Terjebak Cinta Si Kembar)
Mulai


__ADS_3

"Tapi kami mau bertanggung jawab" ketiganya sekali lagi serempak menutup pernyataan yang seperti petir itu.


Aku menutup wajahku yang seperti hilang akal.


"Bagaimana kalian tidak tahu telah meniduriku" Aku sudah tak tahan untuk terisak.


Sekali lagi mereka serempak menggeleng dengan mengangkat kedua tangannya yang masing - masing masih memegang minuman soda di sebelah kanan.


Oh Tuhaaan.... Keluhku tak terbendung


Mana mungkin tidak ingat tentang malam itu. Aku yakin kami berdua sadar.


"Omong kosong!!" Suaraku menjadi lantang tanpa sadar. "Aku dan bedebah itu sangat sadar" nada suaraku sedikit mereda.


"Kalau kamu yakin sadar, beritahu kami siapa Di antara kami yang tidur denganmu" Pemuda yang sebelah kanan Kini angkat bicara dengan kedua lengan yang terlipat.


"Itu akan mempercepat masa depanmu"


Aku menutup mata Sejenak, dan mulai menghempas tubuhku ke sofa Di hadapan mereka. Rasa pusing mulai menyerangku seiring dengan wajah serupa itu yang berbunyi bergantian ataupun serempak.


" Kami menahanmu Di sini untuk menemukannya Di antara kami, pekerjaan yang juga sulit kami lakukan sendiri"


Nafasku serasa terhenti mendengar keadaan yang seperti tak masuk akal.


"Tidak ada yang tidak tahu, kalian hanya tidak mengaku" lirihku dengan kepala yang menggeleng otomatis. "Benar kan?"


Ketiganya kembali serempak mengangkat bahunya Dan Berahir menatapku dengan tubuh yang menyandar Dan kaki menyilang.


******


Serempak... Yup, ketiga pemuda yang mempunyai nama belakang Marvell ini. Benar - benar serempak. Entah ngidam apa ibunya saat hamil. Jangan - jangan ngidam nonton paskibra. Mengingat selain serempak mereka juga menjulang seperti tiang bendera.


Kriing....


Dering telphone nyaring memangkas kebencian Di hatiku untuk sesaat.


"Hallo..!" salah satu sosok Marvell mengangkat nya dengan setengah jengah.


Beberapa kalimat terdengar tidak ramah seiring wajah mereka yang juga tidak begitu nyaman.


"Waktunya sidang siang..!" keluhnya ketika usai menutup telphone.


Ketiga pasang mata itu kemudian menatapku dari atas ke bawah Dan begitu sebaliknya.


"Apakah tidak apa - apa menunjukkannya dengan penampilan begini?"


" Kita ingin kamu menyempatkan waktu membeli setidaknya baju untuknya"


"Dia tidak mudah untuk di ajak bicara baik - baik"


"Alasan....!!"

__ADS_1


"Well jujur saja kalau kamu tidak sabar melihatnya hingga melupakan detail penting"


"Itu tidak salah, dan kalian juga pasti sama"


Suara bersahutan mereka seperti lebah yang mendengung membagi tugas tanpa aku mengerti tujuannya.


"Ah... Coba cek kamar lily, you gadis itu sering mencoba menarik perhatianmu bukan? Dia mungkin memiliki beberapa baju yang lebih layak"


Tanpa menjawab, salah satu dari mereka kembali naik ke lantai atas. Tentu saja mereka harus hati - hati dengan beberapa pecahan tajam Di lantai.


Mungkin nampak kejam, tapi aku sedikit lega membuat mereka khawatir.


Sosok Marvell yang masih Di sudut meja telphone mengawasiku sesaat. "Kami Sungguh tidak menyukai kami"


Aku mengarahkan wajahku padanya "Cobalah Tanya Pada wanita lain apakah mereka suka pecarnya membela jadi tiga Dan kemudian menerornya"


"Hmmm...." Sosok itu berfikir Sejenak "meski andai saja kami ayah dari anakku"


"Justru aku mungkin sangat membencinya, karena dia tidak memikirkan kebahagiaanku"


Pria itu manggut - manggut dengan perlahan mencerna ucapanku yang masih meletup.


"Perhatikan baik - baik" Dia melebarkan matanya "Aku Michael"


Aku berdecih merasa sudah tidak tertarik


"Bisa jadi aku ayah dari anakmu"


"Dan kamu??"


"Aku Michelle..." Jawabnya datar atau lebih mirip kecewa.


"Rupanya kalian sudah mengenalkan diri dengan baik" sosok Marvell yang tersisa mulai turun dari tangga dengan tumpukan baju Di salah satu lengannya.


"Bukannya kamu juga harus tahu namaku?"


"Terserah" jawabku acuh tak bergeming.


"Malcom... Namaku Malcom Joan's Marvell"


"Tidak ada yang menanyakan nama lengkapmu" Gerutu pria yang bernama Michele.


Mudah mengenali ketika mereka tidak berpindah posisi, tapi ketika mereke sudah mulai...


"Jadi baiknya yang mana?" Tanya Malcom yang baru menghampiri Michelle.


Michelle mulai melihat dua potong baju Dan kemudian mengarahkan pandangannya Pada Michael. Yang tentu saja dia segera melangkah bergabung. Ketiganya sibuk dengan obrolan tentang baju - baju itu.


" Tidakkah kalian tertarik untuk memperbaiki fashion kalian yang selalu serupa?"


Ketiganya menoleh serempak ke arah ku tanpa aku bisa membedakan lagi.

__ADS_1


"Kami menculikmu ke sini agar kamu Bisa membedakan kami, andai saja kamu ahirnya menikah salah satu dari kami kamu tidak akan pernah tertukar"


Ketiganya kemudian serempak cekikikan.


Aku benci ke kompakan mereka.


Yang di katakannya tidak salah. Aku batal mendebat mereka. Selama ini aku sudah bodoh dan tidak bisa mengetahui bahwa mereka adalah tiga orang yang berbeda.


*****


"terracotta"


"Sage"


"atau Navy"


Mereka bersahutan seperti anak burung yang mengadu Pada induknya.


Aku hanya tersenyum miring tanpa merubah posisiku yang terpaku Di sofa.


"Adakah aku memiliki pilihan?" tanyaku satire.


Ketiganya Saling memandang Dan kembali serempak melemparkan baju - baju itu padaku.


"Gantilah Di atas, dan lewatilah hasil ranjau traditionalmu itu"


"Masih ada satu guci lagi Di sisi kanan tangga, kamu Bisa memecahkannya juga sebelum petugas kebersihan rumah ini tiba"


Aku memiringkan kepala ku, menimbang apakah setimpal untuk mengungkapkan rasa tidak suka atas sindiran mereka.


"Siapa nama kalian?" Aku beranjak berdiri Dan menatap bergantian dia kepala yang baru saja bersahutan.


"Malcom"


"Michael"


Aku mengangguk setelah mendengar keduanya.


"Dan kamu Michelle?"


Aku menunjuk pemuda yang tersisa.


Pemuda itu hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.


"warna apa yang kamu pilih untukku hari ini" pertanyaanku tertuju Pada Michelle yang masih mengamati.


"Terracotta" jawabnya singkat tanpa mengedip.


Aku melempar sisanya gaun yang lain ke sisi sofa. Dan beranjak meninggalkan mereka.


Bukankah sudah tidak penting aku terlihat cantik atau tidak. Aku hanya ingin semua cepat Berahir. Dan kembali ke kehidupan normal. Meski mungkin aku akan jadi ibu tunggal.

__ADS_1


__ADS_2