THE Twins (Terjebak Cinta Si Kembar)

THE Twins (Terjebak Cinta Si Kembar)
Hamil


__ADS_3

"Anda pinsan" Nyonya Dolores menjawabku sambil mulai mengeluarkan handphone dari sakunya. Tentu saja, dia pasti perlu mengabari tentang kesehatanku.


Aku meraba perutku yang tersembunyi di balik selimut. Benarkah aku sungguh hamil?


****


Seorang pelayan yang baru aku lihat telah datang dengan berbagai makanan. Tapi ada seorang pria yang tidak muda yang juga datang dengan didampingi seorang wanita berseragam perawat.


"Selamat nona Candy, saya dokter Albert" pria itu mengenal kan diri dengan nada yang sopan.


"Anda hanya mengalami anemia, itu biasa untuk kehamilan awal. Saya sudah meminta untuk menyediakan makanan sehat untuk Anda" pria itu melempar pandang Pada Nyonya Dolores Dan keduanya Saling tersenyum.


Aku sudah tidak terkejut tentang kenyataan yang satu itu.


Hamil??


Itu sudah seharusnya terjadi Apabila aku sudah melakukan processnya. Bodohnya aku hingga tidak pernah terpikir memintanya menggunakan pengaman.


Aku mulai menikmati makanan yang di gelar Di hadapanku, dengan samar - samar aku mulai mengingat peristiwa itu.


Sebuah pertanyaan besar mulai segera menggungah ruang sadar ku.


"video itu memang hanya sekali" Aku menarik nafas dalam dalam "Tapi kami tidak melakukannya hanya sekali" lanjutku dalam hati. "Apakah aku sudah bercinta dengan ketiganya? Karena itu mereka tidak keberatan aku menikah dengan salah satunya?"


Aku mendengus kesal.. Dan melahap lebih cepat makanan Di hadapanku. Aku harus tetap sehat bukan hanya demi bayiku tapi lebih untuk jaminan hidupku sendiri. Apakah aku egoist?


Aku memejamkan mata sesaat...


'Nak... Mungkin ibu bukan ibu yang baik karena ibu justru memanfaatkanmu untuk menjamin keselamatan ibu' aku bermonolog dalam hati.


Itu memang kenyataan, aku masih hidup hingga saat ini pasti karena janin dalam perutku yang jelas adalah keturunan keluarga marvell. Sejauh ini aku tidak mengerti nasib para perempuan yang pernah mereka sebutkan.

__ADS_1


Para perempuan yang Pada ahirnya malah mengejar tuan Marvell daripada para putranya. Bahkan aku tidak pernah mendengar nama mereka sekalipun. Apakah mungkin mereka sama sepertiku yang hampir mirip yatim piatu meski kami memiliki keluarga?


*'***


"Jangan salah selera orang kaya itu terkadang aneh" Dewi pernah mengingatkanku "mereka memiliki tipe tertentu"


"Seperti...?" tanyaku saat itu dengan sedikit tidak tertarik sama sekali Namun aku tidak ingin sendirian dalam sunyi.


Dewi yang sangat suka mendengar segera tanpa menunggu menjelaskannya padaku "Ingat Tuan Harvey? Customer exclusive kita?"


Aku mengangguk tanpa mengalihkan pandangan ku Pada layar laptop yang sedang memutar drama Korea.


"Tidakkah kamu mengamati bahwa perempuan yang dia bawa memiliki benang merah yang sama?"


"Ehem.." aku menggeleng, karena aku tidak pernah begitu mengamati pengunjung se spesifik itu.


"Mereka semua menggunakan barang palsu" Dewi melempar pandang padaku "mereka sangat ingin Di pandang sebagai orang kaya sehingga mereka akan terus menempel Pada tuan Harvey apapun kondisinya"


"Mungkin fetish marvel adalah pelayan sepertimu" lanjut Dewi dengan senyum misterius "Tidak akan masalah, bila saja mereka tidak kejam bukan? Atau mengahiri dengan cara yang tak wajar"


Aku dan Dewi Saling menatap kosong, Pikiranku melayang Pada novel detective tentang Jack on the ripper atau pembunuh berantai lainnya.


"Grrrr.... Menjadi miskin sudah cukup thriller menurutku jangan kamu mengisi otakku dengan fantasi anehmu itu"


Dewi hanya meringis Dan memasukkan lembaran pipih keripik kentang Di mulutnya.


"Aku hanya mengingatkan, beberapa cerita cinderella yang Sebenarnya. Yang rata - rata jauh dari cerita Walt Disney yang kita hafal"


******


"Kamu makan dengan bagus"

__ADS_1


Aku tersentak seketika dari lamunanku, suara merdu ibu marvel menjadi sangat horror saat ini ketika Pikiranku melayang ke arah lain. Dentingan sendok yang nyaring tak dapat aku hindari.


"Maaf, apakah mama mengagetkanmu?" Wanita Anggun itu tersenyum manis seperti biasa. "Padahal aku sudah mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban Dan aku langsung masuk saja"


"Hmmm.... Tidak apa - apa" Aku menarik nafas panjang sesaat, berharap Bisa mengusir keresahan tanpa alasan Di dalam hatiku "Aku hanya masih bingung tentang kenyataan bahwa aku sudah hamil Dan harus menentukan ayah anakku sendiri" mulutku tak dapat aku hentikan. Aku mengeluh dengan jelas.


"Biasanya kita memilih pasangan Dan berencana, setidaknya aku melakukannya beberapa waktu yang lalu sebelum ahirnya aku menyadari bahwa lelaki yang aku pilih adalah kembar identik Dan bukan hanya dua tapi tiga?" Aku terus melantur otomatis.


"Dan lebih gilanya..." Tak terasa aku mulai sesenggukan "Aku dan mereka tidak ada yang tahu atau mengaku siapa ayahnya" Tangiskupun langsung pecah.


"Oh dear...." perempuan itu langsung menghambur ke arah ku dan mendekapku dalam Pelukannya. Sejenak aku menumpahkan semua tangis ku Di dadanya. Hingga aku sadar.....


Dia sama saja, bukankah dia sangat hafal dengan Ketiga putranya. Dan aku jamin dia sudah melihat video kami meski hanya sekilas. Bukankah dengan mudah dia Bisa mengenali siapa Di antara putranya itu yang sedang bersama ku.


Aku segera melepaskan Pelukannya, menghapus sisi kanan Dan kiri pipiku dari air mata. Aku mendengus kan nafas kasar, menarik kembali Dan menata emosiku.


Dengan berani aku menatap wanita Anggun yang Kini menatapku dengan iba.


'Tidak... Aku tidak boleh kalah! Bisa jadi dalam permainan ini adalah wanita ini.


"Maaf aku hanya sedikit emosi.... Namun Bisa kah Anda tinggal kan aku sendiri, aku ingin beristirahat" Aku menyudahi pertemuan ku dengan calon ibu mertua ku.


Tanpa menunggu dia menjawab, aku kembali membenamkan tubuhku Di balik selimut. Tanpa peduli dengan nampan makanan yang tergucang sesaat oleh gerakanku.


Nyonya marvell segera mengangkatnya dengan sigap Dan...


"OK... Beristkrahatlah dengan baik, aku akan menjengukmu saat jam makan malam tiba" lantunnya padaku "Apakah kamu ingin salah satu anakku menemanimu?" Tanyanya lagi yang tentu saja tidak aku tanggapi.


Bagaimana mungkin aku ingin bertemu dengan makhluk yang menyebabkan kekacauan dalam hidupku.


Aku putuskan menutup mataku Rapat - Rapat, berharap terlelap Dan mimpi indah, meski kenyataan sedang tidak baik - baik saja.

__ADS_1


__ADS_2