
Bukankah Keinginanku bunuh diri sudah terdengar normal sekarang.
Ketiga pemuda yang serupa itu mulai tercengang Dan menatapku dengan wajah yang sulit di tebak.
Bagaimana?
Ha... Ha.. Ha..
Tawa meledak Di antara mereka, seolah meragukanku yang sedang serius. Aku memilih diam Dan memasang wajah kaku. Sungguh aku belum pernah seserius ini mengahiri hidupku.
"Ha..." Tawa merekapun perlahan mereda.
"Jadi kamu serius?"
Aku hanya mengangkat kedua alisku tanpa Keinginan menjawab ucapan mereka.
"Tapi sebelumnya aku perlu makan yang banyak. Aku perlu energi untuk menggantungkan tali Di dahan yang tinggi.
Aku melangkah gontai, menuju meja makan Di tepi kolam renang. Yang sudah tertata rapi lengkap dengan rangkaian bunga peony favoritku.
Andai saja, mereka hanya satu seperti dulu. Pasti suasana seperti ini adalah menjadi momen indah.
*****
Seorang wanita yang cukup matang sedang duduk di ujum meja makan. Sebuah topi lebar berwarna mocca menaungi kepalanya dan menutup sepertiga wajahnya.
Tapi sepasang mata tajam itu beraura cukup kuat, hingga aku bisa merasakan bahwa dia sedang mengawasiku dari jarak yang tidak dekat.
"Mom... Sorry... Dia tipe yang sedikit kurang sopan" salah satu dari sikembar itu menghambur Dan melangkah cepat menghampiri wanita itu serta mendaratkan kecupan.
"Wanita yang baik pasti marah melihat video itu" Wanita itu segera berdiri Dan menundukkan kepalanya sejenak padaku.
"Aku meminta maaf padamu, karena kurang mendidik anakku dengan benar" Sebuah senyum ramah tersungging sempurna.
__ADS_1
Sebenarnya sedikit diluar dugaan bahwa bocah bocah tengil berwajah seragam itu lahir dari perempuan Anggun yang Kini mulai aku dekati.
"Terimakasih tante"
"Kamu Bisa memanggilku mom juga, bagaimapun kamu sudah termasuk keluarga" Kali ini Jari telunjuknya menunjuk ke arah perutku. "Bagaimana keadaannya?"
Aku langsung terharu, karena baru dia saja yang peduli Pada wanita hamil dengan tepat. "Ba.. Ik.. Tan"
"Panggil saya mom..." Kali ini jarak kami kurang dari dua meter, pesona wanita itu sangat kuat. Mungkin itu yang membuat ayah si kembar tidak pernah masih setia, meski banyak wanita cantik dan muda ingin Di pinangnya.
"Mual??" Tanya ya lagi membuyarkan Pikiranku.
"Untungnya tidak"
"Makanan yang dibuat Michele selalu lezat Dan penuh nutrisi" perempuan itu melempar padang lepas ke sekeliling. Ketika salah satu sikembar Michelle mulai muncul Dan mengambil duduk Di sebelahku.
"Tidak sia - sia Mom mengantarksnku kursus bukan?"
Kini ketiganya sudah lengkap ketika sikembar terahir yang di panggil dengan nama Michael bergabung dengan menyajikan minuman kepada kami.
"Belum mom!" yang menjawab itu pasti Malcom, si kembar yang mengecup pipi ibunya.
"Harus secepatnya, kesehatan bayinya harus Di jaga, agar kuat Dan cerdas seperti ayahnya"
"Oh.. Gitu" Malcom menjawab sambil mengerutkan keningnya menatapku.
Aku mengangkat bahu, pertanda aku tak mengerti maksudnya. Aku juga tidak pernah menyangka akan hamil saat ini Dan lebih gila lagi aku bingung siapa ayahnya. Meski aku tidak pernah lupa wajahnya.
"Ajak sesekali.." Ucapan wanita itu menggantung Dan kini ia mulai menatapku kembali "Siapa namamu sayang?"
"Candy" tante jawabku cepat tanpa lupa memgurai senyum.
"Ajak sesekali Candy ke perpustakaan kita. Banyak buku tentang kehamilan yang perlu ia pelajari, apalagi sebagai ibu pemula"
__ADS_1
Katiga pemuda itu diam tak menjawab hanya menatap padaku tanpa aku mengerti apa yang salah dari ucapan ibu mereka.
"Saya sangat berterima kasih, itu pasti sangat berguna" reaponsku yang mulai merasa tidak nyaman dengan aura pemuda kembar Di sekitarku.
Apakah mungkin ada yang salah dari perpustakaan? Sehingga mereka seperti tidak begitu menyukai saran mengunjungi perpustakaan?
"ehem..." Aku berdehem sejenak sambil membenarkan duduk ku yang Sebenarnya tidak salah.
"Mommy tinggal lebih lama saat ini?" Tangan Malcom mulai menghidangkan makanan untuk ibunya.
"Entahlah.. Ada pelelangan karya seni yang harus mom persiapkan baik Di sini serta Di singapura. Mungkin akan sering bolak balik"
"Mom nggak takut kalau daddy selingkuh" Malcom bertanya tanpa basa - basi.
Mommy hanya tertawa renyah sambil menggeleng pelan. "Di usia mommy sekarang, hal yang seperti itu bukan yang terpenting, bukankah mommy punya kalian untuk mengawasiku daddy?" candanya sambil menyapu ke wajah para putranya yang sepertinya tidak terlalu puas dengan jawaban sang ibu.
"Bisa kah mommy membawa daddy ikut dengan mommy bekerja? Daddy cukup meresahkan kami Di sini" Michelle mulai mengisi piringku dengan steak.
Sejenak wanita itu terdiam.
"Kamu ada masalah dengan ayah mereka? " Tanyanya padaku.
"sa... Sa ya..?"
"Kamu bebas bercerita Pada mommy kalau kamu tidak puas dengan perlakuan daddy"
Aku tersenyum beku, satu hal yang aku pelajari Pada kehidupan ku. Jangan pernah mengadu, belum tentu mereka memihakmu mungkin saja mereka justru menggunakannya sebagai kelemahanmu.
"Hanya respon normal saja, mungkin beliau agak sedikit terkejut dengan kenyataan bahwa saya yang bukan siapa - siapa ini tiba - tiba menjadi bagian keluarga"
Wanita itu menggoyangkan telunjuknya, "Bukan begitu sayang... Kamu gadis yang manis Dan baik. Kalau tidak mana mungkin putra ku memperhatikanmu dalam jangka waktu yang lama"
Aku hanya menunduk setelah mengucapkan "Terimakasih, atas pujiannya"
__ADS_1
Dasar sikembar pembohong, bukankah awalnya dia menyatakan cintanya hanya karena ingin menghindari pernyataan cinta wanita yang lain. Tunggu.... Kira - kira itu siapa? Michelle, Michael atau Malcom.
Uhf....mungkin orang banyak mengagumi makhluk kembar seperti mereka, tapi aku saat ini sangat mengutuk kenyataan ini.