
"Kamu jahat...." Aku mengumpat sendiri, seiring sepasang bola mataku yang mulai mengembun...
Marvell hanya terdiam dan membiarkanku termenung dalam kepedihanku sendiri. Aku masih tidak ingin menyerah untuk tidak menerima situasi ini sebagai alat memenuhi sindrom cinderella yang pernah hinggap padaku.
Sejenak aku mengamati wajah marvell yang tampak lurus menatap kedepan seakan aku tidak ada. Begitu dingin Dan tidak sehangat saat kami bersama.
"Apakah semua kebahagiaan yang pernah ada itu Sungguh Nyata?" Aku menarik nafasku dalam - dalam "Setidaknya kami melakukannya atas dasar suka - sama suka"
***
Aku menurut saja ketika Marvell menghempaskanku Di sofa Dan meninggalkanku seiring kedua tangannya membelah korden panjang yang menutup jendela kaca.
Marvell mengambil duduk Di salah satu kursi Dan perlahan mulai menyalakan benda pipih dari sakunya.
"Kamu masih percaya padaku?"
"huh... Aku setelah ancaman Dan perlakuanmu hari ini?" Aku tertawa kering. "Jangan mimpi"
Marvell membuang muka Sejenak, and usai mengetik beberapa baris Di handphonenya "Apakah Sungguh kamu hamil?"
"Apa pedulimu? Jangan berharap aku akan mengakuimu sebagai ayahnya. Kami tidak butuh"
"Aku juga tidak yakin bahwa aku adalah ayahnya"
"Jadi kamu berfikir aku murahan? "
Sebuah senyum mengembang, Namun tidak ramah. "Aku sedang tidak mempercayai kenyataan, and bahwa aku adalah salah satunya bukan satu - satunya"
Sekali lagi tawaku berderai dengan trenyuh. "Jadi kamu menemuiku hanya untuk mengatakan aku selingkuh?" Aku berdecih Dan segera berdiri dari duduk ku. Tanpa berfikir apapun resikonya aku hanya ingin berlari sekuat tenaga Dan sejauh yang aku mampu. Tapi...
"Kamu mau ke mana....???" Sebuah tubuh menjulang tinggi menyambutku Di depan pintu yang baru terbuka.
"Aaaaaaaah....!!!" jeritanku tak dapat tertahan, mendapati sosok Marvell yang sudah begitu cepat menghadangku.
__ADS_1
"Bukankah kamu baru datang? " Marvell menanyaiku seakan baru saja melihatku.
Aku menarik nafas dalam - dalam Dan mulai menenangkan diriku. "Aku sudah cukup mendengarkan ocehanmu"
"Siapa yang sudah mengoceh padamu" Suara lain muncul dari sisi area parkir. Dan sekali lagi sosok itu adalah Marvell yang lain.
"Kalian.." lidahku kelu. Semua kata terhenti Di tenggorokanku.
Perlahan rasa dingin menjalar dari kaki mendapati dua sosok marvell yang mengikutiku melangkah mundur.
Satu... Dua.. Dan tiga... Aku
Ketika aku menoleh ke arah sosok marvel yang lain yang masih duduk dengan santai Di sofanya.
Pandanganku segera berputar dari lambat kemudian cepat. Samar - samar nampak tiga wajah serupa sedang mengelilingiku Dan memanggil namaku secara bergantian sebelum semuanya menjadi gelap.
*****
" Apakah kamu membelah diri?" suaraku lirih Dan bergetar melihat kenyataan yang tersaji.
Aku menggigit bibir bawah ku sekuat tenaga Dan..
"Auhh..." perih.
Berarti ini Nyata?
Aku menggosok mataku sekali lagi, and berharap kenyataan yang tersaji ini adalah mimpi atau setidaknya ini adalah efek dari mataku yang menderita cylinder.
"Kamu sudah sadar..? " Tanya salah satu sosok marvell.
Aku hanya mengangguk otomatis dengan Mulut yang masih menganga melihat fenomena alam Di hadapanku.
"Apakah kita Sebenarnya tidak terlalu berlebihan?" Tanya sosok Marvel yang yang lainnya.
__ADS_1
"Ini gara - gara kamu yang diam - diam membujuknya tidur denganmu" Sambut Marvell yang lain.
"Benar!!" Teriak marvel yang lainnya Lagi. "Kita sudah sepakat, and bahwa siapa yang di pilih candy dialah yang mendapatkannya dialah yang mendapatkannya"
"Betull... Kalau begini curang kan? " desis yang lainnya lagi "Dia pasti memilih ayah bayinya"
"Itu salahmu... Yang mengancamku dengan akan menidurinya, aku hanya membela diri"
"Semuanya sudah salah dari awal"
Aku tidak Bisa tahan untuk tidak berteriak.. "Stoooooop...!!!!"
Aku menata nafasku yang terengah karena sesak menyaksikan tiga sosok yang kembar identik Di depanku. Jadi... yang manakah pacarku?
"Siapa yang bernama Marvell?" tanyaku dengan tenaga yang tidak berdaya.
Namun ketiga pemuda itu mengangkat tangannya serempak tanpa ragu. Membuatku menelan kasar ludahku tanpa permisi.
"Maksudku... Yang pacarku..."lanjutku tanpa mengurangi rasa heranku.
Sekali lagi mereka mengangkat tangannya tanpa ragu sedikit pun.
" OK.... "Aku... Aku menarik nafas panjang.. Dan dalam" Yang bercinta denganku? " Tanyaku akhirnya lirih, dan penuh harap bahwa ini adalah mimpi.
Ketiganya Saling memandang untuk beberapa saat. Dan melipat kedua tangannya secara hampir bersamaan Dan menatapku lekat - lekat.
Kali ini wajahku seketika kaku, beku Dan kelu. Apakah mungkin aku sudah meniduri mereka bertiga?
Apakah aku Sungguh bercinta dengan mereka semua?
Sekali lagi Pandanganku berputar cepat, Wajah tampan mereka menjadi lebih banyak Dan tambah banyak Dan menjadi penuh kemudian gelap.
Tuhan, bangunkan aku dari mimpi ini...
__ADS_1