THE Twins (Terjebak Cinta Si Kembar)

THE Twins (Terjebak Cinta Si Kembar)
Bergossip


__ADS_3

Bukan seperti kebanyakan orang kaya yang memiliki perusahaan gurita berskala besar. Keluarga marvell ternyata kekayaan ya lebih berasal dari bidang seni.


Ibunya adalah seorang kurator International yang berkeliling dunia Dan bergelut dengan banyak bentar seni baik modern atau yang bersifat memiliki nilai sejarah.


Sedangkan ayahnya adalah seorang arkeolog yang perlahan mulai memiliki jaringan Bisnis dalam support bidang yang serupa seperti istrinya. Dari perusahaan art supply, sekolah seni, perhiasan, design architecture Dan banyak usaha lain yang mengandung nilai seni. Salah satu yang dekat denganku adalah fine dining restaurant.


Yup.... Beliau memiliki restaurant fine dining yang tersebar hampir Di seluruh dunia. Di area strategies Dan sangat menguntungkan.


"Apakah itu benar - benar membuat mereka sangat kaya?" tanyaku memastikan Pada penjaga perpusatakaan yang menyukai bergossip denganku.


"Tentu saja.. Bayangkan saja, Sebuah cat acrylic yang berharga tidak lebih dari 100ribu rupiah Dan Di poles Pada canvas oleh pelukis harganya Bisa melejit menjadi puluhan juta"


"Bukankah karena pelukis itu sudah sangat terkenal?"


Penjaga perpusatakaan bernama Lisa itu mengangguk Dan tidak menyangkal "Tapi mereka melakukan kontrak yang nilainya akan sekitar hanya 20% dari nilai keuntungan yang akan di dapat dari hasil lukisan"


"Apakah itu bukan semacam ke dzaliman"


Lisa menggeleng beberapa kali "para pelukis itu selalu setuju Dan terus memperpanjang kontraknya, meski mereka tahu berapa banyak keuntungan yang di dapat"


"Ah.... Tidak heran sih" setelah bertemu dengan ibu marvell bersaudara itu. "siapapun akan tinduk padanya"


"belum lagi perhiasan, yang harganya selalu naik berlipat - lipat. Lebih dari nilai seninya tapi juga ketika perhiasan itu berhasil Di kenakan oleh para pesohor dunia atau hadir dalam Sebuah film popular" Lisa berdecak "sepasang suami istri itu sangat Cocok Dan panda menciptakan trend yang mahal"


Aku mengangguk - anggukkan kepalaku bukan karena paham aku hanya semakin penasaran apakah mereka juga menyukai perfilman?


Melihat Ketiga putra mereka yang cukup kurang ajar memanipulasi hidupku saat ini.


"Ah iya... Katanya kamu akan menjadi Nyonya kami dari Ketiga tuan muda itu" Lisa melebarkan senyum penasaran.


"Benar... Kamu lihat sendiri aku sedang mengkoleksi buku tentang kehamilan.


Aku membatin sendiri Sebenarnya Lisa tidak terlalu muda, tapi dia masih setia bekerja Pada keluarga ini.

__ADS_1


" Bagaimana denganmu apakah kamu sudah menikah? "


Lisa mendengus dengan pertanyaan tidak sopanku.


"Lihatlah aku ini gendut, siapa yang mau denganku" Dia mulai nampak Sedih Dan sedikit putus asa.


"Kalau kamu selalu terkurung Di sini tentu saja tidak mungkin ada yang tertarik padamu. Kamu hanya memandang buku - buku itu Dan mengelap mereka agar tidak berdebu"


Sejenak senyum lisa merekah bak musim semi. "Pada masa tertentu tempat inj sangat ramai, setahun sekitar dua kali, menjelang ahir tahun atau Pertengahan tahun. Para tamu dari pengagum seni akan berkumpul Di perpusatakaan ini, dulu aku berfikir Di sini lah tempatku merubah nasib siapa tahu aku bisa menggaet salah satu dari mereka "


Aah... Sehebat itukah keluarga ini?


" Berapa banyak lagi kamu akan menumpuk buku tentang masa kehamilanmu itu "


Wajah dingin sikembar marvell muncul secara tiba - tiba mengagetkan kami. Lisa yang sedang membantuku memilih buku hampir terjatuh dari tangganya karena kaget. Untung aku menangkapnya dengan tepat. Wajah kami Saling menatap sesaat. Berharap satu - satunya lelaki Di antara kami itu tidak banyak mendengar topik dalam diskusi kami.


"Seharusnya kamu menyapa terlebih dahulu" keluhku yang Kini membantu Lisa yang tidak ringan ini untuk berdiri.


Lisa hanya menunduk tak berani menatap...


"Malcom?" tebakku.


"Wow... Kali ini kamu benar" Malcom tersenyum senang.


Langkahnya segera lebar menghampiriku Dan mendarat kan kecupan Di keningbtanpa permisi.


Terkejut? Tentu...


"Status kita masih pacaran... Kita belum putus"


"Tapi aku merasa sangat aneh karena kenyataan aku memacari tiga orang sekaligus, dan lebih parah kalian serumah Dan serupa..." Aku begidik sendiri dengan rasa ngeri yang meremang seketika.


"Aku bantu bawa buku - buku ini" Malcom segera mengangkat tumpukan buku yang aku koleksi.

__ADS_1


"Tu... Tunggu..."Cegahku dengan jemari yang menahan lengannya" Buku ini terlalu banyak, dan.. "Aku menoleh ke arah Lisa sejenak dengan senyum datar." Aku butuh teman untuk setidaknya membantuku untuk sekedar sinopsisnya? "


Aku dan Malcom bertatapan sejenak. Sepasang mata Malcom menyipit ke arah ku dan kemudian mengarah ke arah Lisa yang masih menunduk.


"Lisa ternyata banyak membaca buku Di sini, kalau aku membaca sendiri aku tidak akan punya banyak waktu membeda kan kalian... Aku lupa bahwa sembilan bulan itu cukup lama" Aku sangat berharap rayuanku mampu menggugurkan apapun keraguan yang ada Pada Malcom.


"Common... Not difficult... Ada beberapa hal yang wanita butuh berdiskusi dengan sesama wanita"


"Akan Ada miss. Dolores yang membantumu"


Aku menggeleng "Orang tua hanya akan memberi nasehat kuno Dan membosankan.. Kamu tidak ingin melihatku menggantung leherku kan?"


Kali ini Lisa mulai berani mengangkat wajahnya Dan mengarahkan padaku dengan Mimik terkejut. Malcom hanya mendengus Dan ahirnya menyerah...


"Baiklah... Tapi miss. Dolores akan memastikan bahwa kamu benar - benar ke perpustakaan bukan kemanapun"


Aku mengangguk dengan cepat Dan menarik lengan marvell kembali ke tempat buku - buku itu aku tumpuk sebelumnya.


"Tapi aku mau ikut denganku sekarang, Mom and Dad... Ingin ketemu denganmu. Kita Akan membahas tentang restaurant yang kami beli untukmu"


Aku melempar pandangku Pada Lisa yang masih membeku Dan menepuk pundaknya sesaat "Terimakasih" bisikku sejenak.


"Apa kalian mulai keberatan untuk memenuhinya" Aku menarik lengan Malcom menjauhi Lisa Dan menggiringnya untuk keluar dari deretan rak buku tinggi itu.


"Bukan begitu, kamu tidak perlu khawatir. Kalau kami memutuskan tidak akan Bisa mereka hentikan" Malcom tersenyum dengan aura sedikit pamer.


Ah.. Expresi ini memang benar aku kenal dengan baik. Aku sering menemuinya Di hari senin ketika the restaurant ku sangat padat dengan para pekerja yang membicarakan hal - hal serius.


Pantas saja sosok pacar ku marvel selalu ada untukku, Di antara profesinya yang cukup padat. Karena mereka adalah tiga orang bukan satu.


"OK..." Jawabku ringan, anyway tidak ada salah ya mendebat sekali lagi ayah si kembar. Dari Pada aku tetap miskin.


Who know the gueen of fortune ada padaku.

__ADS_1


__ADS_2