
"Sudah sadar? " Suara merdu itu menggema lirih di antara desiran angin yang aku dengar Sayup dari jendela kamar.
Entah pagi siang atau sore, aku masih enggan menerka.
"Mungkin dia terlalu kerja keras Dan lupa makan" Sahut yang lainnya yang baru datang dengan suara Denting piring.
"Kamu yang masak?"
"Michelle.." jawab yang lain singkat.
"Can.. Can... makan dulu, nanti boleh pinsan lagi. Bayimu juga perlu gizi kan?"
Aku yang sedari tadi enggan melebarkan mata secara yakin Kini membuka mata. Namun yang pertama aku memegang jantungku erat. Takut copot melihat dua sosok Marvell yang berdampingan di tepian ranjang.
Kedua netra mereka mengarah lurus padaku yang mulai sibuk meneriksa apakah aku masih utuh atau tidak.
"Kami tidak sejahat itu" Decih salah satunya. "Kami tidak akan melakukannya kalau kamu tidak sadar" lanjutnya. di ikuti anggukan yang lain.
"Not interested" gumam yang lain.
"Dia perlu ganti baju" Sosok marvell yang lain baru muncul dengan handuk Dan seperti tumpukan baju "Seragam barista itu pasti bau" lanjutnya ringan sambil meletakkannya di atas meja console dekat kamar mandi.
"Michele memang paling mengerti urusan rumah tangga" kedua kepala lelaki yang ditepi ranjangku mengarah Pada sosok marvell yang ternyata memiliki nama Michelle. "Apakah kamu sangat ingin menyandang status pewaris Bisnis hospitality Papa.
Pemuda bernama Michelle itu mengangkat bahu Dan menatapku Sejenak sambil Berahir menyandatkan tubuhnya di salah satu dinding tembok.
" Mungkin.... "
" Dia curang..." Sambut yang lain.
Ketiga pemuda yang berwajah sama itu kembali menatapku. Membuat bulu kudukku jadi sedikit merjnding.
Jemariku yang tadi terasa laku, segera kulancarkan meraih nampan sarapan di sisi ranjangku. Yup! Aku perlu tenaga, apapun yang terjadi mimpi atau Nyata. Aku perlu energi lebih untuk menyelesaikannya.
"Slruup..." Aku meneguk sedikit talus bubur ayam yang mulai terasa hangat itu lezat.. Standard bintang lima. Tunggu.. "Aku tidak sedang kalian racun kan?"
__ADS_1
Ketiga pemuda itu tertawa bersamaan. Wajah mereka seakan mengejekku.
"Kami akan mati mengenaskan kalau kamu mati dalam rangka mengandung benih Keluarga Marvell di janinmu" jelas pemuda yang berjarak paling dekat denganku.
"Bagus... Aku setidaknya ada yang berhati manusia di antara kalian" Desisku yang melanjutkan menyelesaikan sarapan dengan suasana sedikit mengerikan ini.
Ketiganya hanya melempar senyum simpul Dan mulai beranjak.
"Oh iya.... Kami tunggu kamu di lantai bawah setelah mandi"
Entah siapa yang bicara, aku masih sulit menandai, hanya satu nama baru yang aku tahu. Michelle.
******
Aku memilih merendam tubuhku di dalam bathtub yang lamban terisi. Biar saja ketiga pemuda itu menunggu selama mungkin.
Sekelibat kenangan najis menggaung di otakku, harusnya itu adalah kenangan manis. Kenapa harus Berahir menjijikkan begini.
Aku begidik sendiri membayangkan, and andai saja atau memang benar pernah bercinta dengan ketiganya.
****
"Permainannya tidak buruk" puji yang satu dengan meneguk botol soda di Tangan.
Mataku seakan mau keluar... Melihat apa yang terpampang di layar TV yang cukup besar itu. Harga diriku seakan sedang di cincang di depan mereka. Tanpa berfikir aku meraih hiasan gucci di sudut tangga Dan melempar lurus ke arah di mana TV itu bersemayam. Tapi sayang aku tidak cukup kuat mendaratkannya tepat sasaran.
"Candy.....!!!!" tiga wajah serupa itu menoleh serempak ke arah ku dan Entah sudah takdir atau kebiasaan mereka juga meneguk botol soda di Tangan secara bersamaan.
"Aaaaaaaaaah....!!!!!!" Aku menjerit sekuat tenaga mencoba menolak kenyataan bahwa Marvell adalah tiga orang. Rasanya otakku sudah gila.
Aku berlari dengan cepat Dan mencabut kabel TV tanpa peduli apakah aku kesetrum.
"Candy tenang... Tenang.. Tenang"
Aku langsung berbalik menatap ketiganya secara bergantian.
__ADS_1
"Bagian mana yang aku bisa tenang" Aku melangkah cepat ke arah pecahan gucci yang bercecer tak jauh. Tanpa pertimbangan aku meraih pecahan yang paling mudah ku genggam.
"Bagian menerima pesan terror kalian?" ungkapku tanpa ragu menodong ke arah mereka.
"Bagian aku di culik?" Aku mendekatkan Pada leher salah satunya.
"Atau bagian yang ini?" lanjutku yang kali ini melempar pecahan itu ke arah TV yang telah padam.
Aku menarik nafas, and berharap menangis tapi tidak sanggup. Aku tak punya keberanian untuk terlihat lemah.
"Sekali lagi kalian merendahkanku, aku akan melempar barang yang sama ke jantung kalian, supaya bernasib serupa dengan TV itu"
Ketiganya menegang Dan menelan saliva secara serempak. Oh God!!! Aku benci kekompakan mereka. Baru kali ini aku mengutuk garis keturunan kembar di dunia itu.
Sebuah helaan nafas besar menghembus dari salah satu dari mereka.
"Let's speed up the game..!"
Suara pun kembali henning seiring kepalaku yang pening menahan kaki yang sepertinya lemas ini tetap bertahan tegak.
"OK...!!! " Ahirnya ada yang serempak lainnya.
"Well... Hanya salah satu dari kami yang tidur denganmu" Jelas pemuda yang berada di tengah.
Kemudian dia menoleh ke arah kedua saudaranya. "Tapi memang..." suaranya tercekat sesaat "Kamu memacari kami bertiga" lanjutnya dengan wajah meringis.
"Sialnya... Kami juga tidak tahu, siapa yang tidur denganmu di video itu" pria yang sebelah kanan menunjuk ke arah TV yang kondisinya suduh mengenaskan.
"Tapi kami mau bertanggung jawab" ketiganya sekali lagi serempak menutup pernyataan yang seperti petir itu.
Aku menutup wajahku yang seperti hilang akal.
"Bagaimana kalian tidak tahu telah meniduriku" Aku sudah tak tahan untuk terisak.
Sekali lagi mereka serempak menggeleng dengan mengangkat kedua tangannya yang masing - masing masih memegang minuman soda di sebelah kanan.
__ADS_1
Oh Tuhaaan.... Keluhku tak terbendung