THE Twins (Terjebak Cinta Si Kembar)

THE Twins (Terjebak Cinta Si Kembar)
Tebakan


__ADS_3

"Semuanya akan baik - baik saja.. Untukmu!"Fokus saja untuk tugas kamu yang utama.


Aku sudah sulit membeda kan ketiganya ketika mereka mulai menyebar di segala sudut ruangan. Ruangan yang jauuuh lebih mewah dari kamar kosku.


" Bagaimana kalian Bisa mengatakan baik - baik saja sementara kalian tidak lebih berkuasa dari lelaki yang kalian panggil daddy itu?" Aku menghempaskan badanku Di salah satu ujung sofa. Bergabung dengan salah satu si kembar yang aku rasa Michelle.


"Kami tidak berlomba dengan Daddy" Michelle menatap saudaranya yang ada Pada tepi ranjang.


"Kami cukup dewasa untuk memutuskan siapa yang akan kami nikahi Dan tentunya kami mandiri secara financial" Jelas kembaran michelle yang di tepi ranjang dengan pandangan yang teralihkan Pada saudara kembar lainnya yang masih berdiri sambil mengamati benda pipih canggih Di genggamannya.


"Kamu perlu melihat ini" Dia segera melangkah ke arah ku dan menyodorkan halaman website yang tersaji Di layar benda pipih itu.


Aku mengamati Dan membaca beberapa details dari website itu. Serta membacanya dengan teliti termasuk menyempatkan waktu untuk memeriksa ke situs yang lain tentang kebenaran kenyataannya.


"Tapi semua ini berakar dari perusahaan ayahmu bukan?"


"Tidak salah" sahut Michelle yang sepertinya gemas dengan aku yang selalu tidak puas untuk yakin Pada mereka.


"Tapi Sebuah perusahaan besar punya dewan direksi yang memegang semua keputusan" Michelle menggeleng.


"Kamu terlalu banyak melihat drama dari Pada membaca. Tidak semua Di drama itu benar, mereka hanya menghemat untuk menyewa actornya" Michelle masih mendominant penjelasannya.


"Ayolah... Dia hanya kaum awam, tidak perlu membahas Bisnis kita dengannya. Cukup tugas dia saja" sergah kembar an Michelle yang masih bersemayam di tepi ranjang.


"Kalau kondisi kami tidak terlalu serupa, dan memiliki ayah yang tua. Mungkin kami tidak akan memilihmu" wajah serupa yang lain coba membela Michelle.


"Benar!! Renungkanlah Dan coba bersyukur. Karena meraih kekayaan seperti kami lebih memusingkan dari Pada menebak siapa ayah bayimu Di antara kami" Sorot Michelle yang teduh berubah sedikit garang. Dan mulai beranjak dari sofa.


"Kamu Michelle kan?" Aku mencoba memastikan tebakanku padanya.

__ADS_1


Michelle tertawa. "terlalu dini menebakku cantik!!" Si kembar yang aku kira Michelle itu menatapku lembut " Aku Michael"


" Selain sosok yang identik, kami memiliki expresi yang sangat identik pula" sahut si kembar lain yang meminjamkan telpon genggamnya padaku "Akulah Michelle" si kembar yang mengakui Michelle menghampiriku Dan meraih kembali handphonenya dari Tanganku.


"Kalian tidak berbohong?" Aku tidak mau Di tipu.. Mengingat permainan ini tidak ada wasitnya.


"Kami tidak pernah berbohong, bahkan kami tidak pernah mengatakan bahwa kami adalah satu orang" yang tersisa pasti Malcom yang Kini mulai bergabung dengan lainnya.


"Bagaimana aku tahu"


"Kamu akan bertemu ibu kami saat ahir nanti. Dia tidak pernah salah memmbedakan kami"


Ketiganya mengangkat baru Dan tersenyum manis. Seiring langkah mereka meninggalkanku sendiri Di ruangan ini.


"Istirahat yang cukup" Ucap salah satunya. Yang membuatku tercengang sesaat.


****


****


"Kalau kamu bertemu aku lusq, jangan jawab pertanyaan apapun dariku. Setidaknya aku ingin punya sedikit rahasia atas diriku sendiri" Permintaan aneh pria yang aku anggap Marvell itu usai malam Panas kami.


Aku menertawakannya saat itu. Tapi aku baru sadar akulah yang pantas ditertawakan karena mudah tertipu.


*****


Mungkin malam sudah pekat. Sepasang mataku selalu penuh percaya diri menantang cahaya bintang yang jauh Dan berkelip tanpa henti.


"Cahaya...??Yang ada dalam kegelapan mata.. Tidak pernah berbohong" Sebuah suara lirih terdengar dari gemerisik Di antara dedaunan, Mengundang rasa penasaran ku.

__ADS_1


Benar saja, salah satu dari pria kembar yang mungkin akan jadi suamiku itu. Berdiri tegak Di samping bingkai jendela Di luar kamarku.


"Ucapan, prilaku atau sentuhan kami mungkin sama. Bahkan takaran cinta kami untukmu" lanjutnya tanpa melepas tatapannya ke arah langit pekat yang baru saja aku tinggal kan.


"Kamu adalah dia bukan?" Aku menuduh dengan tegas. Tidak peduli Apabila salah, semakin banyak kesalahan. Semakin aku mendekati kebenaran. Begitu prinsipku saat ini.


Pria itu memalingkan wajahnya padaku. Satu sisi terpantul cahaya kamar, sedang sisi lain cukup temaram karena gelapnya malam.


"Aku tidak marah kamu tidak mengenaliku" Jawabnya, dengan senyum termanis semanis saat cinta kami bertaut malam itu. Tapi mungkin itu palsu, dia hanya mengorek keuntungan sesaat dariku.


"Hah... Benar.. Kamu tidak lupa Dan sangat sadar"


"Itu hal indah... Mana mungkin aku lupa"


Kami Saling menatap sesaat. Mata...


Ah benar... Mungkin sorot mata mereka yang akan Bisa kukenali.


Sepasang mata pria itu langsung tertutup dengan senyum yang masih merekah. Wajahnya kembali menatap langit.


"Aku tidak mau curang... Aku akan berusaha mendapatkanmu. Tapi semua tergantung padamu"


"Maksudmu..." Aku bingung dengan teka teki ucapannya.


"Kamu akan menikahi siapapun yang kamu kenali pertama. Tanpa salah" Lanjutnya, kali ini senyum ya masam "Dan aku harus rela meski itu bukan aku"


Aku otomatis melongo dengan keputusan yang tidak masuk akal dari tiga bersaudara sableng yang serupa ini. "Ini anakmu" Aku memekik hingga rasanya sakit sampai ke uluhati.


"Aku percaya Pada saudara ku, kami selalu biasa membagi apapun. Hanya tidak dengan istri"

__ADS_1


Aku hanya sanggup mematung. Menatap wajah pemuda bermarga marvell itu yang juga tidak tersenyum tenang tapi nampak pasrah. Yang perlahan mulai kabur tertelan gelapnya malam.


"Apa aku sedang mimpi?" Aku menepuk pipiku sendiri "Atau aku mimpi?"


__ADS_2