
Candy mengajak rambut ikalnya Dan menggerutu tak jelas.
Dia merasa bodoh untuk menyanggupi Keinginan lelaki kurang ajar itu. Harusnya dia menolak dari awal.
'Tapi fisik sempurna itu sulit di tolak ' batin nya 'aku juga wanita dewasa yang sangat normal '
Samperin ngga ya ?
Candy merasa ragu untuk langkah selanjutnya. Dia Sebenarnya sudah cukup ikhlas untuk kehilangan lelaki yang di cintainya. Bahkan meski lelaki itu telah merenggut kesuciannya.
Hidupnya jauh lebih berharga dari apa yang harus Di korbankan Apabila terus bersama dengannya. Para perempuan binal itu pasti tidak akan pernah membuatnya hidup damai.
******
Candy adalah Aku, seorang wanita biasa yang mencari kerja untuk bertahan hidup Dan dengan impian seperti lainnya. Ingin memiliki suami tampan Dan kaya raya, meski aku tahu aku hanya biasa....
******
"Kenapa gulanya terlalu banyak, kamu mau merusak program diet saya?"
Perempuan cantik yang sedang duduk Di kursi bar coffee shop saat itu adalah salah satunya.
Sebagai barista mereka sangat mudah menyerangku dengan menyiramkan minuman yang di pesannya. Ketika orang berbondong - bondong melakukan scrub kopi Dan mandi Susu. Aku mendapatkannya hampir setiap hari.
Dan yang terparah.
Sebuah Tangan kekar berkulit Halus Dan lentik mengusapkan handscraf ke wajah candy
"Apakah kamu terlalu miskin hingga tidak bisa sedikit mentolerir Dan memesan minuman baru yang lebih sesuai seleramu?" suara lembut itu sangat akrab Di telingaku. Bahkan Apabila dia hanya mengucapkan "Ah...." dengan nada yang sangat pelan.
Wanita itupun meninggalkanku dan lelaki itu dengan wajah penuh amarah.
"Lain kali jangan ikut campur" aku menepis lengan Marvell yang cukup berotot.
"Hey Calm Baby... Aku hanya membelamu"
"Pembelaanmu akan membuat mereka membawa sekutunya, seperti yang sudah - sudah" Aku beranjak ke balik meja bar Dan mencegat Rulli yang baru memasuki area Bar.
"Kamu bawa Apron cadangan?" Tanyaku Pada Rully.
"Lagi??" Rully memggeleng Dan melepas apron yang di pakai nya serta kembali ke area ganti untuk mengambil cadangan.
Kejadian seperti ini sudah menjadi kebiasaan Di restaurant ini.
"Lihat lah!! Bahkan semua pegawai Di sini sudah menganggapnya sebagai kebiasaan. Mereka sudah bosan membelaku" Aku mengeluh atau hanya sekedar memuntahkan deritaku.
__ADS_1
" OK.. Baby.. Aku tidak akan mengganggumu. Aku akan duduk manis Di sana untuk menunggu jam pulang..."
"Masih dua jam Lagi.." Potongku yang segera kembali bekerja.
"Cafe latte satu Dan Carrot cake satu, Di antar ke meja biasa" pesannnya yang di Tutup dengan kerlingan mata.
*****
Mungkin seharusnya aku lembut kepada Marvell hingga tidak menimbulkan rasa dendam seperti yang sedang terjadi.
**''
"Pacar kamu nggak datang lagi?" Manager restaurant mulai gusar, sejak Marvell tidak datang mengunjungiku seperti biasa.
"Lebih baik begitu, supaya tidak ribut" Jawabku sekenanya.
"Wah sayang sekali, padahal penjualan selalu naik kalau dia nongkrong Di sini"
Selali ada orang yang menarik Di atas penderitaan orang lain. Managerku adalah salah satunya.
"Padahal kalau dia datang saya merasa terganggu" celetukku sedikit berusaha menyindir.
"Tapi gaji kamu Di bayar dengan hasil penjualan. Bukan dari kenyamanan bekerja, lagi pula lama - lama juga biasa"
Enak banget kalau ngomong, sekali - sekali dia harus coba rasanya Di siram kopi.
Perasaanku terus bimbang, untuk menyelesaikan situasi yang belum tentu ini.
Ah.. Sebenarnya apa ruginya klo di sebar... Aku bukan siapa - siapa. Lagi pula aku ini tidak begitu cantik kalau Di banding dengan video - video yang lainnya yang sudah pernah viral. Tapi....
Aku menundukkan kepalaku Dan mulai memukul sisi kanan Dan kirinya. "Lawan mainku adalah Marvell" desisku yang mulai menyesal.
Dari ribuan wanita yang selalu berusaha melempar dirinya ke Pelukan Pria tegap itu. Kenapa harus aku.
****
"Kamu nggak tahu selera orang kaya itu seperti apa... Kadang - kadang aneh" Terngiang ucapan Cindy yang sempat menjadi tempat curhatku saat aku mempertimbangkan marvell menjadi pacar ku.
****'
Ping...
Dua photo lagi dari potongan video itu terkirim ke handphone ku. Oleh siapa lagi kalau bukan lelaki kurang kerjaan itu.
"Apa kamu nggak ada kerjaan? Apakah karir modelmu sudah kandas atau ayahmu yang millyuner itu tertangkap KPK?" Aku memgutuki handphone ku seperti orang gila.
__ADS_1
"Kenapa Can.... Sepertinya kamu stress banget? Udah putus sama pangeranmu itu" sapa Rulli yang mempuatnya terperanjat
"Hampir...." Jawabku sekenanya.
"Dia sudah bangkrut atau wajahnya ke siram air Panas?"
"Kamu kayaknya dendam banget sama Marvell?" Aku sedikit tak terima atau lebih tak Bisa membayangkan kalau hal itu benar - benar terjadi Pada kekasihku yang nyaris putus sekaligus nyaris jadi tunangan.
"Habisnya... Apalagi alasan kalian putus? Kayaknya dia baik Dan setia - setia aja deh. Kami aja yang senewen gara - gara sering di terror sama para fans dy"
Ucapan Rully Sebenarnya nggak ada salahnya. Atau jangan - jangan Marvell itu psikopat? Yang bisa menyimpan dendam cukup lama Dan akan membalas dengan kejam Di saat tertentu?
Aku begidik sendiri mendengar kan bisik an hatiku yang makin tak menentu.
"Jadi.... Kamu udah putus"
"Belum... Masih ada hal yang harus Di bahas" Aku mulai m3ngaduk makan siangku, dan meletakkannya Di lantai halaman belakang restaurant berharap mungkin ada kucing liar yang memungut.
"Aku balik ke bar lagi.." Pamitku Pada Rully yang baru memulai makan siangnya.
"Baguslah.. Tolong bikin stock gula cair, tadi udah mau habis"
"ck ckck... Udah tahu mau habis bukannya bikin malah istirahat"
"Lapar cand.. Dari Pada aku pinsan kelaparan, kamu jadi lembur kan?"
"Hmm...." Aku tak tertarik meladeni ucapan rully. Pikiranku sudah terbagi cukup banyak hari ini.
'******'
Ini sudah hari ke tujuh, bukannya aku tidak menyelesaikan urusan ku dengan Marvell, masalahnya lokasi alamat Marvell tidak Terdapat sarana transportasi umum. Satu - satunya cara adalah menggunakan transportasi pribadi.
Aku mengamati motorku yang sudah berusia lebih dari lima tahun. "Tenang... Sayang meski kamu satu - satunya yang aku punya. Aku tidak akan mengorbankanmu untuk mengejar bajingan itu. Doakan saja aku bisa dapat solusi segera" gumamku sambil mengelus jok motor merah ku.
"Kamu habis Di tipu? Motor kamu nggak ada harganya kalau mau Di jual. Paling laku tiga jutaan" Pras Waiter restaurant menyapaku dengan kurang ramah.
"Udah malam, entar istrimu nyari lagi... Aku ogah Di tuduh selingkuh ma kamu" jawabku ketus.
Ckckkckc kayaknya aku sudah kehilangan diriku sendiri. Yang ramah dan selalu positif. Se positif aku berfikir bahwa hubunganku Dan marvell akan berjalan dengan baik - baik saja.
"Sensi amat sih Can...." Pras menanggapiku dengan Canada Dan segera berlalu..
Aku mencoba mendial untuk kesepian kalinya semua nomor marvell yang aku tahu. Dan hasilnya pun selalu sama. Semua nomor itu mati.
Kalau begini Caranya. Aku bisa gila atau mati gentayangan.
__ADS_1
"