THE Twins (Terjebak Cinta Si Kembar)

THE Twins (Terjebak Cinta Si Kembar)
Kompensasi


__ADS_3

"Tuliskan nomor rekeningmu, dan kami yang akan menggajimu setiap bulan"


Aku menggeleng "Tidak..!!" Aku harus tegas "Mencari pekerjaan bukan perihal yang mudah, saya mau kompensasi"


Hmmm...." Mimik Ayah si kembar tidak seramah sebelumnya, Namun berbanding terbalik dengan tiga wajah serupa Di sekitarnya, mereka nampak bersemangat dengan hal selanjutnya yang terjadi di antara kami.


" Saya butuh kompensasi menyeluruh "Aku memberanikan menyinggung sang penguasa yang ada Di hadapanku. Membuatnya marah akan lebih bagus, karena akan lebih cepat buatnya melemparku jauh dari tempat ini.


" Apakah kamu paham apa kerugianmu? "


" Tentu saja, reputasi saya pasti tidak bagus dengan Di seret Di area perbelanjaan yang ramai. Di angkut tanpa ijin Di area helipad mall Dan pasti terekam cctv. Belum lagi..."Aku menarik nafas cukup dalam menyiapkan mungkin ada gertakan yang keras dari pria ramah ini" Apakah anda sudah melihat video antara saya Dan salah satu putra anda yang serupa ini" Aku menebar pandang Pada sosok yang aku maksud.


"Aku hanya mendengarnya, dan aku memilih tidak pernah melihatnya" Jawab lelaki itu dengan suara Berat.


"saya harap anda cukup Bisa menimbang seberapa banyak kerugian saya, dan saya yakin anda tipe yang dermawan" Aku memilih mengahiri kalimat ku seiring sepertinya aku sudah mulai menyesal mengenal ketiga saudara kembar ini.


"Tanpa mengurangi rasa hormat, tapi belum ada kepastian kalau kamu mengandung cucu saya"


Beginikah rasanya ketika kamu merendahkan dirimu sekali saja? Dan cap murahan segera tertatto permanent Di keningku.


"Anggapan anda adalah alasan terbesar saya untuk meminta kompensasi. Saya bukan murahan, tapi pikiran seperti yang ada Pada anda sekarang akan mengahntui sisa hidup saya. Tapi..." Aku masih muda wajar bila tersulut emosi "Lupakan saja, anggap kita tidak pernah bertemu"


Aku malas melanjutkan diskusi ini, bagaimanapun kesalahan pasti ada padaku sendiri. Kenapa aku tergoda untuk menjadi cinderella yang jelas tidak akan pernah Nyata.


Derit kursi terdengar nyaring seiring kakiku yang menegak Dan memilih meninggalkan area gila ini.


10 hektar?? Mungkin aku harus berjalan setengahnya dari rumah utama ini ke arah pintu gerbang. Andai saja aku mati, aku tidak bunuh diri. Aku mati dalam keadaan menjadi ibu yang terdzolimi. Siapa tahu tuhan memasukkanku Pada syurga karena iba. Rasanya itu lebih baik.


"Tunggu..." Entah suara siapa yang memanggilku. Tapi aku sudah malas.


Aku tidak pernah berniat untuk membebani mereka dengan keadaanku. Bagaimana mungkin ayahnya masih meragukan tentang siapa ayah bayiku.


Melihat kelakuan tiga anaknya, aku sekarang tidak heran dengan kelakuan bapaknya.


"Tunggu..." Sebuah genggaman begitu erat menancap Di pundakku.


"Tidak bisa begini, kamu harus menyelesaikannya"


Ini suara salah satu dari wajah serupa itu. Bagaimana Bisa mereka juga memiliki suara yang serupa. Sungguh sulit di percaya mereka bukan kloning.


"Buatku sudah selesai," Aku memutar tubuhku memberanikan menatap tajam sepasang mata yang menghujam ke arahku "aku ke sini bukan untuk di rendahkan. Andai kalian tidak memaksa ku datang, aku masih baik - baik saja menanggung bebanku"

__ADS_1


"Tapi ada hak kami dalam tubuhmu" Sahut si kembar yang lain yang baru saja mendekat


"Tapi Kenapa kalian tidak jujur saja siapa Di antara kalian yang tidur denganku. Dan kita perjelas situasinya"


Keduanya Saling pandang Dan selanjutnya menggeleng.


"Kami bertiga mencintaimu Dan ingin memiliki kamu" Sahut yang lain ketika turut menghampiri.


"Kami percaya satu sama lain untuk urusan yang lain, selain yang berhubungan denganmu" Lanjutnya.


"Aku tidak se istimewa itu, aku tidak percaya dengan bualan kalian" Aku tidak mau mendengar lagi bualan buaya dari Mulut mereka.


"Aku harus cepat kembali sebelum aku benar - benar kehilangan pekerjaanku" Aku memutar kembali langkahku menuju pintu utama yang ada Di hadapanku.


Namun baru setengah langkah.


"Kami akan membeli restaurant itu untukmu, beserta pegawainya. Kami akan memberikan management yang lebih proffesional untuk mengolahnya hingga kami pastikan kamu selalu untung"


Penawaran yang tidak buruk. Tentu saja jiwa miskin ini tergoda. Aku memutar tubuhku kembali Dan Kini melangkah mendekati mereka.


"Kalian tidak bohong?"


"Kalian kembali membuat keputusan tanpa aku?" Tuan Marvell selaku ayah mereka turut bergabung.


"Daddy keterlaluan, meragukan Candy" seru salah satu sikembar.


"Kalian bercermin Pada diri kalian sendiri. Setelah sekian banyak perempuan yang kalian bawa malah melempar dirinya sendiri ke ranjang Daddy. Bagaimana mungkin Daddy Bisa percaya dia juga"


Ketiganya mendengus kesal, sepertinya itu semua benar.


Para anak Dan ayah itu Saling menatap tajam untuk sesaat, hingga Tangan salah satunya segera meraihku Dan bergumam.


"Kita pulang!!"


Yang lainnya pun segera mengikuti.


Kami kembali Pada rumah awal aku berada. Rumah itu sudah nampak lebih rapi Dan tertata.


"Semua sudah siap tuan" Ucap wanita paru baya yang menyambut kami.


"Apakah kebutuhan dia juga?"

__ADS_1


Tanya si kembar yang masih belum melepas jemarinya dariku.


"Sudah tuan"


Ketiganya mengangguk Dan berlalu. Sepertinya aku mulai terbiasa dengan pemandangan aneh ini. Rasa stress ku ketika melihat kekompakan mereka sudah berlalu.


"Kami mau makan bersama kami atau langsung istirahat? makanan akan Di antar ke kamarmu" tawar Marvell yang ada a Di sisi kananku.


"Namamu?" Aku mulai berencana mengikuti Keinginan mereka dengan menghafal makhluk serupa tapi tak sama.


"Michael.." Wajahnya tersenyum manis kearahku. Harusnya ini menjadikan ku lebih teduh. Andai saja aku tidak tahu kalau mereka terpecah tiga.


"Aku Michelle" Sahut yang lain.


"Aku Malcom" kali ini yang sedang menggenggam Tanganku.


Ketiganya tersenyum dengan indah. Tapi mengirim hatiku.


"Aku istirahat saja. Aku butuh mengumpulkan kewarasanku bersama kalian" Jawabku sekenanya.


"OK..!" jawab mereka serempak.


"Kami antar kamu ke kamarmu yang baru" Michelle mengambil posisi memimpin menuju kamar yang rupanya Di siapkan untukku.


"Apakah Judith sudah tiba?"


Tanya Malcom yang masih belum melepas genggamannya.


"Belum" jawab yang lain, Aku rasa dia Michael.


"Jangan khawatir, kami pasti memenuhi janji..." bisik Michael ketika aku tiba Di ruangan yang di sebut untukku.


"Kami cukup kaya Candy... Meski tidak se kaya Daddy" yang lain menegaskan kemampuan mereka.


"Kami cukup dewasa untuk mengambil keputusan Dan bertanggung jawab"


"Semuanya akan baik - baik saja.. Untukmu!"Fokus saja untuk tugas kamu yang utama.


Aku sudah sulit membeda kan ketiganya ketika mereka mulai menyebar di segala sudut ruangan. Ruangan yang jauuuh lebih mewah dari kamar kosku.


*****

__ADS_1


__ADS_2