
Tidak ada petunjuk atau sedikitnya bantuan, aku benar - benar tersesat dalam keseragaman para pemuda tampan yang tidak bisa kusangkal adalah keluarga dari bayiku.
Menolak terikat sudah terlambat dari sisiku. Lagi pula tawaran kepemilikan restaurant tempatku bekerja bukankah buruk. Aku sudah membayangkan wajah managerku yang tidak punya hati itu ketika suatu hari nanti dia akan melihatku melenggang penuh percaya diri mengenal kan diriku sebagai pemilik restaurant yang baru.
Akan aku buat dia tersiksa perlahan dengan tugas tugas Berat yang sering dilimpahkannya padaku. Oh.. Sepertinya aku sudah mulai jadi psikopat karena terlalu lama Di sini.
"Sepuluh.. Hektar" gumamku sendiri " kabur tapi miskin? Atau lanjut tapi kaya?"
Aku mengelus perutku. "Menurutmu yang mana baby" Aku seperti orang sinting berbicara Pada janin yang mungkin belum memiliki Telinga ini. " hanya saja... Menjadi miskin itu tidak begitu nyaman... Meski tidak terlalu buruk.. Uhf"
*****
Menjadi cinderella Di dunia Nyata sepertinya sudah di depan mata. Tapi ternyata dunia Nyata tidak sesederhana Di dunia dongeng yang Semua Berahir dengan nyanyi an indah Dan dansa gegap gempita.
"Tanda Tangan Di sini" salah satu calon ayah bayiku menemuiku pagi ini.
"Thank you Michelle" jawabku dengan tebakan random.
"Kamu sangat menyukai Michelle?"
"Tapi kamu Michelle bukan?" Aku ingin tetap Pada pendirianku.
Wajah tampan pria yang aku tebak Michelle hanya tersenyum manis.
"Baca baik - baik Dan tanda Tangani dulu" Sepasang matanya Kini mendekat ke arahku seiring ujung pulpen yang bersarang Di jemariku.
"Kamu pasti rindu bermesraan dengan kami?"
Kami... Yah kata kami berubah menjadi menjijilkan dalam anganku. Naluri ku yang hampir menyambut sepasang bibir merona yang sekian tak berjarak itu, gugur seketika.
__ADS_1
"Tidak" Aku segera memelingkan wajah Dan menandatangani tanpa membaca "Aku tidak perlu membaca, lagi pula aku tak punya pilihan lain"
"Ah sayang sekali..." Gerutunya "andai kan kamu membacanya lebih dulu aku akan punya waktu lebih banyak denganmu dari Pada yang lain"
"Maaf... Aku tidak Bisa memuaskanmu" Aku menanggapi dengan nada mengejek. "Apakah kamu berniat untuk curang"
"Hanya mengambil kesempatan saja" cengiran pemuda yang masih bernama marvell dalam hatiku itu mengobati rindu yang susah aku pungkiri.
"Kamu selalu Bisa mencari alasan untuk membenarkan situasi"
Pemuda itu mengangguk tanpa mengurangi tawa kecilnya.
"Saat - saat seperti itu akan mudah kamu nikmati juga saat ini, andai kamu Bisa sedikit memahami situasi kami"
"Hei...kriminal yang kalian lakukan tidak pernah benar" Aku protest dengan prulakuku yang terdengar salah dari kalimat yang di lontarkan.
"Itu benar" sahut pecahan lelaki tampan yang lain dari arah pintu masuk.
"Tidak juga, itu memudahkan kami untuk berbagi tugas. Ambil sisi positifnya"
Aku memilih tetap berpaling dengan Mulut yang masih membisu.
"Waktunya makan siang, aku sudah menatanya Di Taman. Langit hari ini sangat cerah" wajah yang lain Kini muncul dengan penuh semangat.
"Hi Michelle....!!" pemuda yang di sampingku melambai Anggun "Dia merindukanmu"
"Ah benarkah?" wajah Michelle Kini menghampiriku yang sedang jengah dengan situasi yang membingungkan. "Kita banyak memiliki kenangan manis, sweet heart"
"Cukup...!!" Aku menyudahi emosi ku sendiri "Aku mau bunuh diri saja"
__ADS_1
"No..." Katiganya serempak mencegah.
"Aku tidak sedang bergurau" Aku memastikan perkataanku. Rasanya aku mulai putus asa. Bahwa akan Ada solusi tentang kebingunganku.
"Aku mengajukan syarat.."
"Apa...??? "Ketiganya menanggapi dengan serentak Dan serius.
" sebutkan nama kalian masing - masing saat kita mulai bertemu pertama kali Di setiap harinya "
" Maksudnya?? "
" Misalnya kamu.. " Aku menunjuk sosok Marvell yang masih setia duduk di sebelahku." Ucapkan selamat pagi aku Michael, Malcom atau Michelle atau setan sekali pun "
" Dan kamu... Jangan muncul Dan langsung menawari makanan seperti tukang bakso begitu"Aku menatap lurus dengan kejengkelan yang sulit aku redam Pada marvell yang masih menggunakan celemek "Hi candy.. Aku Malcom, I Michael, Michelle atau hantu. Maukah kamu makan siang?"
Suasana hening beberapa saat seiring nafas ku yang tertahan.
"Atau kalian menemukanku tergantung Di pohon belakang kamarku Dan menhantui kalian seumur hidup"
Jangan salah, aku bukan tipe yang mudah putus asa. Tapi keadaan sepertinya sudah membuatku gila.
Video asusila yang terancam tersebar, hamil Di luar nikah dengan pria yang tiba - tiba membelah menjadi tiga bagian. Dan Di paksa terkurung Di lahan 10 hektar yang tanpa cela.
Oh iya satu lagi, calon mertua yang meragukanku sebagai perempuan baik - baik.
Bukankah Keinginanku bunuh diri sudah terdengar normal sekarang.
Ketiga pemuda yang serupa itu mulai tercengang Dan menatapku dengan wajah yang sulit di tebak.
__ADS_1
Bagaimana?