Three Sweet Dads

Three Sweet Dads
Kura-kura nyemplung di kali, pura-pura saja ia tak peduli


__ADS_3

"Ini nih yang katanya mau melihara anak orang, ck!" Kendy berdecak, menyindir dua orang yang menurutnya begitu kekanak-kanakan itu.


"Bisa ga sih lo jangan ngomong gitu? dari tadi pagi lo marah, pas dateng lo marah lagi. Kesel juga gue lama-lama sama lo!!" Abi tak terima dirinya dan sang kekasih dibilang kekanak-kanankan.


Haruskah ia membeli kaca besar nan lebar kemudian menyuruh Kendy berkaca bahwa dirinyalah yang begitu kekanak-kanakan? Marah, pergi, mengancam pindah dan memutuskan hubungan pula. Semua itu adalah tindakan yang sangat kekanak-kanakan sekali bukan?


Kendy diam, tentu bukan karena membiarkan Abi menang dengan opininya. Tapi rasa laparnya lah yang membuatnya terdiam. Untuk saat ini ia memutuskan untuk diam, siapa tahu dengan diamnya bisa menghemat energi.


Kendy melangkah menuju dapur, membuat Inara dan Abi bertatapan heran, "mau ngapain ya tu anak?" Gumam Abi. Inara hanya mengendikan bahunya tanda ia pun tak tahu.


"WOY, KALIAN APAIN DAPUR GUE!!!" Teriak Kendy.


Kendy begitu terkejut melihat dapur yang begitu ia sayangi dan begitu ia jaga bagai ayah yang menjaga gadis kecilnya. Rasa lapar diperutnya hilang ketika melihat dapurnya yang bagai kapal pecah. Tak tahukah mereka bagi Kendy dapur itu adalah tempat yang sangat istimewa. Jadi, jangan heran kenapa dapur dirumah Lasa design-nya begitu unik dan tertata dengan rapi karena semua itu adalah maha karya Kendy.


Abi dan Inara pun langsung menuju kedapur, disana terlihat Kendy yang terduduk diatas kursi meja makan, sedang salah satu tangannya memijat kepalanya. Mau marah tapi tenaganya sudah terkikis habis, karena tenaga terakhirnya ia gunakan untuk berteriak tadi.


Tapi Kendy segera menyadari sesuatu, sepertinya orang dirumah ini benar-benar ingin ia pergi makanya mereka tak menghargai maha karyanya dan membuat hancur dapur yang selalu ia manage. Makin besar saja su'udzon Kendy kepada para sahabatnya.


"Iya, yah kan gue ga ada hak lagi buat marah," ucapnya kemudian tertawa.


"Makanya kalian ga ngehargain dapur yang selalu gue manage kerapiannya, kebersihannya, bahkan isinyapun gue yang manage"


"Lo mabok ya? kok lo ngomong ngawur gini sih?" Abi benar-benar tak habis pikir dengan sahabatnya ini.


"Dah, deh gue capek, laper, nanti lagi kita lanjutin debatnya." kemudian Kendy mengambil ponselnya dan memesan makanan melalui grabfood. Kemudian ia bangkit dan mulai membersihkan area dapur.

__ADS_1


Sedangkan Abi terdiam, dan melirik kesampingnya. Ia terkejut melihat mata bulat Inara yang mulai berkaca-kaca. Sejak Kendy berteriak marah dapurnya berantakan, membuat Inara tersentil perasaannya. Apalagi saat ini ia sedang kedatangan tamu bulanannya, bertambah sensitif pula perasaannya ditambah Kendy yang tak melirik masakan yang ia buat. Membuat hatinya seperti teriris-iris.


Astaga batin Abi.


"Ay udah yuk kita kedalam aja," Abi merangkul dan mengusap-usap punggung Inara. kemudian melangkah pelan meninggalkan Kendy yang acuh tak acuh sambil membereskan dapur.


"Cih, gitu aja mau mewek," decihnya, kemudian melanjutkan acara bersih-bersihnya. Dimana bayi itu? Tiba-tiba saja terlintas didalam benaknya sebuah pertanyaan yang selalu ia sangkal.


"Gila, baru semalam gue ketemu tu bayi beraninya dia menuhin ruang di kepala gue ," keluhnya, tolong siapapun katakan kepada Kendy bahwa ia sendiri yang selalu memikirkan bayi itu! Hanya saja ia bersikap seperti pantun 'kura-kura nyemplung di kali, pura-pura saja ia tak peduli'


Ia terus membersihkan dapur kesayangannya. tangkai cabai, kulit bawang, dan sisa potongan sayur ia masukkan kedalam kantung sampah. wajan, panci, pisau yang tak tertata ia tata kembali. Wadah-wadah kotor diwastafel bekas Inara memasak ia cuci. Kemudian ia melihat tumis kangkung dan beberapa potong ayam goreng. Mata jelinya menilai tampilan kedua masakan itu.


"Kalau dilihat tampilannya sih oke, dari warna kangkungnya kelihatan matang sempurna. Tapi, ga tau rasanya," ucapnya pelan menilai masakan diatas meja makan.


Ia melangkah dan mengambil sendok. Sebelum memasukkan tumis kangkung kedalam mulut alangkah baiknya ia menghirup aromanya terlebih dahulu. Ia menghirup aroma tumis kangkung dengan mengibas-ngibaskan tangannya.


Ia meletakan sendok yang sudah ia pakai diatas piringnya, ia kembali duduk dan melipat tangannya diatas meja. Kepalanya ia letakkan diatas tangannya. Hingga ponselnya berbunyi, ternyata itu abang grabfood yang mengantar makanan.


"Oke, bang tunggu bentar yah," Ia pun melangkahkan kakinya menuju keluar, diruang tengah ia melihat Inara yang mulai tersenyum karena Abi yang selalu bercanda. Keduanya menatap Kendy dengan pandangan tak suka. Kendy yang melihat itu sungguh tak peduli. Ia melanjutkan langkahnya keluar dan benar saja abang grabfood berjaket hijau dengan menenteng kresek makanan berdiri dibalik pintu pagar.


"120k ya bang?" Tanya Kendy memastikan.


"Iya mas,"


Ia pun meraba celananya dan ah, ternyata dompetnya belum ia ambil dari kamar.

__ADS_1


"Bentar dulu yang bang, saya ambil uang dulu. Saya lupa," ucapnya kemudian beranjak menuju kamarnya.


Ia pun mengambil uang seratus dua puluh ribu didalam dompetnya dan menyerahkan pada grabfood yang menunggu.


"Makasih ya bang,"


"Sama-sama,"


Kendy kembali menuju dapur, diruang tengah ia berhenti dan menatap Inara dan Abi sedang yang dipandang diam saja.


"Kalian bedua, makan gih! gue tau lo bedua pada lapar. Abis ini baru deh kalo mau debat sepuasnya sama gue," ajaknya, kemudian melangkah pergi. Namun sebelum mencapai dapur ia berhenti, "Masakan lo enak, cuma jangan lupa selalu beresin setelah lo masak," tambahnya lalu melanjutkan langkahnya kembali.


Abi dan Inara berpandangan, sikap Kendy seperti itulah yang membuat mereka tidak bisa terlalu lama bermusuh-musuhan. Keduanya pun langsung beranjak menuju meja makan.


****


Lasa yang baru datang mengantar beberapa kantung yang berisi pakaian ke laundry, memasukkan mobilnya kedalam garasi. Ia menatap motor Kendy yang terparkir. Ah, ternyata cecunguk kecil itu sudah pulang, pikirnya. Ia pun melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah.


Sepi seperti tak berpenghuni, kemudian ia melangkah menuju dapur. Mendekati dapur ia mendengar suara sendok yang berdenting. Tak ada satupun diantara mereka berbicara membuat alisnya bertaut. Lalu dia teringat, perdebatan mereka tadi pagi. Sekarang bisa ia tebak Kendy masih marah kepada mereka semua. Pelan ia melangkah, agar ketiga insan yang tengah asik menyantap makanan itu tidak terganggu dengan kedatangannya. Ia tidak sadar jika nanti ia tiba-tiba saja datang tanpa suara itu malah sangat mengejutkan mereka semua.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2