
"Maaf sekali lagi Tante, jadi Inara itu bukan anak kandung tante?" tanya Lasa. Ternyata Lasa baru mengetahui fakta tentang Inara. Dan yang membuatnya tertarik adalah proses adopsi Inara oleh Bu Salma.
"Iya, dia kami adopsi dari panti asuhan Kasih. Kami memutuskan mengadopsi Inara karena dia begitu berbeda dengan anak lainnya," jelas bu Salma.
Bu Salma tersenyum, bibirnya tertarik beberapa senti. Ingatannya menerawang jauh sebelas tahun yang lalu. Dimana ia dan suaminya adalah salah satu donatur dari panti Asuhan Kasih tempat dimana mereka menemukan Inara.
"Mas lihat anak itu!" Pekik Salma, ia menunjuk seorang gadis yang mungkin berumur 12 tahun sedang asik mengasuh beberapa balita. Keceriaan jelas terpampang diwajah gadis itu membuat hatinya terenyuh.
Bagas pun memutar kepalanya kearah yang ditunjuk sang istri, matanya menatap jeli. Setelah mendapati apa yang dimaksud ia pun menatap kearah sang istri. Posisi mereka berhadap-hadapan dengan Bagas menatap dalam mata Salma, "Kamu tertarik dengannya?" tanya Bagas.
Salma kemudian mengangguk pelan, wajahnya murung. Dan Bagas memahami perasaan sang istri. Bagaimana tidak? setelah sepuluh tahun menikah tak ada tanda datangnya bayi mungil kedalam kehidupan mereka. Bagas menghembuskan napasnya pelan, melihat Istrinya seperti itu membuat hatinya ikut merasakan apa yang Salma rasakan. Tapi alih-alih mengadopsi bayi kenapa istrinya tertari pada gadis kecil berumur dua belas tahun itu?
"Kamu ingin mengadopsi anak kecil itu?" tanya Bagas, dan anggukan pelan dari Salma sebagai jawaban untuk pertanyaannya.
"Baiklah," ucap Bagas, seketika senyum merekah dibibir Salma, matanya berbinar.
Namun ternyata, mengadopsi Inara bukanlah hal yang mudah. Semenjak Inara mengetahui dirinya hendak diadopsi oleh pasangan membuat anak itu bertingkah nakal. Bahkan ia pernah mengerjai Salma dan Bagas. Tentu saja hal itu membuat pasangan itu terheran-heran, pasalnya gadis yang terkenal baik tingkah lakunya berubah drastis seperti ini.
Mereka terus membujuk gadis itu agar mau ikut dengan mereka namun, lagi dan lagi gadis itu menolak dan bahkan kelakuannya merajalela disetiap harinya.
Hingga suatu hari Salma mengetahui alasan mengapa gadis itu berubah. Gadis itu berubah karena memang tak ingin meninggalkan balita-balita yang diasuhnya. Ia begitu menyayangi adik- adik kecilnya. Dan fakta selanjutnya adalah ternyata bukan mereka saja yang ingin mengadopsi Inara. Banyak pasangan sebelum Salma dan Bagas yang ingin mengadopsi Inara namun, karena sikapnya yang berubah nakal membuat pasangan itu urung untuk mengadopsinya.
****
Di halaman depan panti asuhan, rumput tipis tumbuh memenuhi halaman menjadi alas bagi anak-anak panti ketika bermain. Pohon rambutan lengkap dengan ayunan yang tergantung menjadi tempat favorit Inara untuk menyendiri. Setelah menidurkan adik-adiknya (balita panti) ia memilih menikmati semilir angin di siang hari sembari memikirkan masa depannya kelak.
Ia menatap kosong kedepan, kakinya menapak dan mengayun agar ayunanan yang ia duduki bergerak. Ia memikirkan masa depannya yang tak terarah. Akan jadi apakah ia dimasa depan? apa yang harus ia lakukan untuk menggapai mimpi-mimpinya? Ya, Ia mempunyai mimpi yang tinggi namun, apakah ia bisa menggapainya? menjadi anak panti membuatnya kadang berkecil hati. Yang bisa ia lakukan hanya menggantungkan mimpi tingginya dilangit, jika ia tak bisa menggenggam mimpi-mimpinya maka ia akan menyerahkan mimpinya pada tuhan dan membiarkan tuhan menggenggamnya erat.
Kemudian kakinya menapak lagi, menghentikan ayunan yang mengayun ketika seorang wanita dewasa berhenti didepannya. Matanya memutar jengah, bagaimana tidak? disaat banyak pasangan yang langsung urung mengadopsinya dengan alasan sikapnya yang nakal namun, berbeda dengan wanita didepannya ini. Kenapa wanita ini bersikeras mengadopsinya? tolong siapapun beri tahukan kepada wanita itu bahwa ia tetap ingin disini, menemani adik-adiknya.
Ia mengehela napas kasar, "Tante, sudah berapa kali saya katakan saya tidak ingin ikut tante, saya tetap ingin disini! heran banget deh sama tante, saya itu nakal tante, na-kal!," tuturnya, menekan pada kata 'nakal' ia bahkan menghentakkan kakinya ketanah, wajahnya masam tak bersahabat.
"Baru kali ini tante ketemu anak yang bilang dirinya sendiri nakal. Kan kalau nakal ya udah nakal aja gak usah ngomong kali," wanita itu menatapnya dengan tatapan mengejek.
Huh ...
Ia hanya menghela napasnya. Memang wanita di depannya ini punya seribu satu cara untuk mendekatinya. Jika ia harus jujur, sebenarnya ia tertarik dengan wanita yang ingin mengadopsinya kali ini. Orangnya lemah lembut, sabar, keibuan, dan berbeda seperti pasangan yang lainnya yang hanya ingin mengadopsinya karena ia bersikap baik. Buktinya kemarin ia mengerjai wanita ini dan suaminya namun, mereka tetap kekeuh ingin mengadopsinya. Haruskah ia menerima? namun bagaimana dengan adik-adiknya pasti mereka amat sedih? lalu haruskah ia bertanya alasan terbesar kenapa wanita didepannya ini ingin mengadopsinya?
"Tante, apakah tawaran tante mengadopsi saya masih berlaku?" tanyanya dan seketika wanita didepannya itu tersenyum manis, mata bening itu berbinar, bahkan berkaca-kaca.
"Iya masih nak." wanita itu melangkahkan kakinya mendekat kearahnya, wanita itu ingin mendekapnya namun, di hentikan, "tunggu tante! apa alasan tante mengadopsi saya?"
"Karena tante amat menyayangimu, walaupun tante tidak mempunyai anak namun, karena mu tante merasakan bagaimana menjadi seorang ibu. Kamu tahu betapa khawatirnya tante ketika melihat kamu menangis sendirian di gudang? lain kali jangan seperti itu. Jangan menangis sendirian, sementara kamu selalu membagi rasa bahagiamu. Jika kamu bersedih, bagilah kesedihan itu. Tidak semua hal harus selalu tampak baik-baik saja. Dan kamu tahu betapa takutnya tante ketika kamu tidak ada di panti? Tante takut kamu melarikan diri atau diadopsi lebih dulu oleh orang lain rasanya Tante takut sekali ... " jelas wanita itu bahkan cairan bening menetes dipipinya, membuat Inara langsung bangkit menghapus cairan itu dan memeluk erat pinggang wanita didepannya. Sekarang ia merasakan betapa tulusnya wanita yang ia peluk. Bahkan wanita itu tahu bahwa ia sering menangis, dimana orang lain tak mengetahui namun wanita yang pinggangnya ia peluk mengetahui.
__ADS_1
"Baiklah tante saya mau, maafkan Inara tan ... " ucapnya masih memeluk erat pinggang wanita didepannya.
***
Persetujuan dari Inara sudah didapat, pengasuh panti pun dengan senang hati mengizinkan mereka mengadopsi Inara. Walau berat saat mereka mengingat begitu luar biasanya Inara, bocah dua belas tahun namun memiliki pemikiran yang dewasa.
Saatnya bagi Salma dan Bagas mengurus dokumen yang dibutuhkan. Sebagai COTA banyak dokumen yang harus mereka lengkapi. Bagas pun sempat terkejut, karena begitu banyaknya dokumen yang harus mereka urus.
Totalnya dua puluh tujuh dokumen, yang berisi beberapa pernyataan dari COTA. Contohnya adalah pernyataan bahwa seluruh keluarga dari COTA mengetahui pengangkatan CAA oleh COTA, dan masih banyak pernyataan yang harus dibuat COTA. Surat kesehatan dari rumah sakit pemerintah tentang kesehatan COTA, beberapa identitas COTA dan CAA contohnya adalah surat nikah, KK, KTP akta COTA dan dokumen identitas lainnya, sedang untuk CAA akta kelahiran dan masih banyak lagi. Bahkan mereka disuruh membuat surat keterangan catatan kepolisian (SKCK).
Tidak heran kenapa banyak sekali berkas yang digunakan, maraknya kekerasan pada anak, ketidak layakan kehidupan anak, penjualan anak adopsi, bahkan penjualan anak kandung sendiri pun ada. Membuat pemerintah memperketat berkas yang harus dilengkapi oleh COTA dan memastikan benar-benar identitas COTA. Beberapa kunjungan pun akan dilakukan oleh pihak yayasan memastikan bahwa CAA mendapatkan kelayakan untuk hidupnya.
Bagas dan Salma yang melihat list berkas yang dibutuhkan tercengang, sepertinya waktu satu bulan tidak cukup untuk menyiapkan semuanya namun, demi Inara mereka akan melengkapi semua berkas yang dibutuhkan.
.
.
.
.
Bersambung
COTA : Calon Orang Tua Angkat
CAA : Calon Anak Angkat
FYI
27 dokumen yang harus disiapkan ketika ingin mengadopsi anak dari yayasan atau panti asuhan :
Permohonan ijin Pengangkatan Anak kepada instansi sosial setempat
Surat Keterangan sehat COTA dari Rumah Sakit Pemerintah
Surat Keterangan Kesehatan Jiwa COTA dari Dokter Spesialis Jiwa dari Rumah Sakit Pemerintah
Surat keterangan tentang fungsi organ reproduksi COTA dari dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Pemerintah
Copy akta kelahiran COTA;
Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) setempat;
__ADS_1
copy surat nikah/akta perkawinan COTA;
kartu keluarga dan KTP COTA;
copy akta kelahiran CAA;
keterangan penghasilan dari tempat bekerja COTA
surat pernyataan persetujuan CAA di atas kertas bermaterai cukup bagi anak yang telah mampu menyampaikan pendapatnya dan/atau hasil laporan Pekerja Sosial
surat pernyataan motivasi COTA di kertas bermaterai cukup yang menyatakan bahwa pengangkatan anak demi kepentingan terbaik bagi anak dan perlindungan anak;
surat pernyataan COTA akan memperlakukan anak angkat dan anak kandung tanpa diskriminasi sesuai dengan hak-hak dan kebutuhan anak di atas kertas bermaterai cukup
surat pernyataan bahwa COTA akan memberitahukan kepada anak angkatnya mengenai asal usulnya dan orang tua kandungnya dengan memperhatikan kesiapan anak
Surat Pernyataan COTA bahwa COTA tidak berhak menjadi Wali Nikah bagi anak angkat perempuan dan memberi kuasa kepada wali hakim
Surat Pernyataan COTA bahwa COTA untuk memberikan Hibah sebagian hartanya bagi anak angkatnya.
Surat Pernyataan persetujuan adopsi dari Pihak keluarga COTA
Laporan Sosial Calon Anak Angkat yang dibuat oleh pekerja sosial Instansi Sosial setempat dan pekerja sosial Panti/Yayasan.
Surat Berita Acara/Penyerahan dan Kuasa dari Pihak Ibu Kandung kepada Instansi sosial setempat.
Surat Berita Acara/Penyerahan dan Kuasa dari Pihak Instansi sosial setempat kepada Panti/ Yayasan
Laporan Calon Orang Tua Angkat yang dibuat oleh pekerja sosial Instansi Sosial setempat dan pekerja sosial Panti/Yayasan.
Surat Ijin Pengasuhan Anak dari Instansi Sosial Provinsi
Surat Perjanjian Pengasuhan Anak antara Panti/ Yayasan dengan COTA
Surat Penyerahan Anak dari Panti/Yayasan kepada COTA
Laporan Perkembangan Anak yang dibuat oleh pekerja sosial Instansi Sosial setempat dan pekerja sosial Panti/Yayasan.
Akta Kelahiran Calon Anak Angkat
Foto calon orang tua angkat dan calon anak angkat.
Author ngeriset ini dari beberapa temen yang ngadopsi anak guys ... memang banyak banget dokumen yang dibutuhin wkwkwkwk😂😂 bahkan tadi temen bilang, lebih enak bikin sendiri daripada ngadopsi. Tapi apapun pilihannya semua pasti punya alasan tersendiri 😌 ya kan?
__ADS_1