Three Sweet Dads

Three Sweet Dads
More Sweetnes


__ADS_3

Entah perasaan apa yang menggelitiki Kendy saat ini. Perasaan yang membawanya ke awang-gemawang, membuat hatinya senang. Senang mengetahui ternyata Mila tak benar-benar mempunyai cowok. Aneh bukan? Rasa apakah ini? namun, diselipi rasa geli ketika mendengar ucapan Mila tadi. Kendy tak menyangka virus halu sudah terukir dalam dikalangan wanita Indonesia. Apalagi mendengar Mila bercerita dengan mata yang berbinar, sumringah Mila menceritakan bahwa ia begitu mengidolakan Choi Siwon sebuah nama asing yang baru Kendy dengar namun, seketika paham ketika Mila menceritakan bahwa sang idola mengiklankan Mie favoritenya.


"Siapa tu Mil, kok namanya aneh gitu?" tanyanya, karena baru pertama kali ia mendengar nama seaneh itu.


"Ish ... mas kudet banget deh, itu loh yang ngiklanin Mie yang punya slogan Jinjja Pedaaaas," Ujar Mila sumringah.


Menggelengkan kepala serta tersenyum geli Kendy ketika melihat reaksi Mila di kaca spion sebelah kirinya.


"Pokoknya gitulah tipe aku," tambah Mila dengan tersenyum lebar.


"Kata lo kan tadi tipe lo kaya juga kan? emang dia kaya?" Tanya Kendy.


Mila menepuk gemas pundak Kendy, "Hish ituu di tanyain, ayahnya tuh CEO dari Boryoung Medicine, salah satu perusahaan farmasi ternama di Korea, jadi Duta UNICEF di Asia Pasifik, katanya punya darah biru jugaaa ... mantep gak tuh," jelas Mila sumringah.


Kendy hanya mangut-mangut, mengerti atau tidak yang penting dengarkan saja. Bukankah itu rumusnya perempuan? mereka akan sangat senang ketika didengarkan.


"Wiih keren juga yah," ia menanggapi sebisanya. Ah, ditepuk gemas Mila ternyata menyenangkan.


"Iya dooong ... " jawab Mila dengan melingkarkan tangannya di pinggang Kendy membuat ia tersenyum. Entah hilang kemana rasa tak nyaman Mila ketika dibonceng Kendy.


___


"Martabak manisnya tiga bang! Mil rasanya lo yang nentuin deh!" suruh Kendy.


"Martabak satu, coklat keju, martabak dua coklat kacang, martabak tiga coklat aja bang!" cerocosnya, walaupun ia bertanya-tanya untuk siapakah ketiga martabak ini. Ah, yang pasti satunya untuk bu RT. Apakah ini termasuk rasuah? maybe yes, maybe no. Mereka hanya memenuhi permintaan bu Puspa, ikhlas tak ada udang dibalik bakwan. Kemudian perhatiannya teralihkan pada sebuah toko yang berada beberapa meter dari mereka membeli martabak. Sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi. Walaupun tak seperti toko yang menjual perlengkapan bayi dengan brand ternama, tapi sepertinya barang-barang yang di display cukup meyakinkan dan berkualitas. Mila teringat dengan bayi mungil berpipi chubby yang saat ini berada bersama kedua papanya. Eh, papa? hmm ... iya papa.


"Mas kamu nggak keinget sama anak kita?" tanyanya.


Seketika itu juga Kendy melotot, terkejut anak kita? anak? gituan saja mereka tak pernah eh ralat ingat mereka hanya teman bagaimana bisa punya anak?


"Apa maksud lo Mil anak kita?" tanya Kendy heran kemudian mengusap tengkuknya.


"Ah ... itu bukannya yang dirumah itu sudah bisa kita anggap kayak anak kita semua. Anak kamu, Inara, Abi, Lasa, sama aku ya kan?"


Seketika tengkuk Kendy yang tadinya terasa agak panas karena terkejut, mulai terasa dingin. Ah, iya bayi itu ternyata. Ia ternyata lupa dirumah ada bayi yang merepotkan.


"Gimana sih mas bisa lupa! segitunya ya kamu ga suka sama dia," cetus Mila.


"Enggak Mil. Ya 'kan tadi lo bilang anak kita? makanya gue kaget. Kok bisanya kita udah punya anak gue aja belum pernah iya iyain lo," ucap Kendy namun, menggumam dalam kata 'iya iya'.

__ADS_1


Mendekatkan telinganya Mila berujar,"Mas ngomong apa ga kedengeran ih,"


"Ga ada intinya gue kaget aja," jawab Kendy.


Tanpa rasa curiga Mila hanya ber oh ria. Kemudian Mila menunjuk toko yang menjual perlengkapan bayi tadi, "Nanti kesana ya mas!" Pintanya sambil tersenyum lebar. Membuat Mila yang manis semakin manis dimata Kendy.


more sweetnes!


Pandangan Kendy mengikuti arah yang ditunjuk Mila, sebuah ruko yang dijadikan toko dengan pelang merk yang tak pernah Kendy ketahui, tapi ia cukup familiar dengan desain toko kecil itu.


"Mau ngapain disana?" tanya Kendy heran, melihat Mila ingin ke toko yang menjual perlengkapan bayi.


"Mas ga mau belikan bayi mungil itu pakaian?" tanya Mila.


Ia berpikir sejenak, iya benar, walaupun ia tak menyukai bayi itu tapi bayi itu harus mendapatkan haknya. Dibalut dengan pakaian yang layak bahkan mungkin ia rela membelikan bayi itu pakaian dengan brand yang terkenal. Kalau ia tak melengkapi itu semua sama saja ia buruknya dengan orang tua bayi yang membuang bayi itu.


"Iya deh Mil kita kesana, tapi lo yang bantu buat milihnya ya ... soalnya gue gak tau," ucapnya.


"Siap boss!" Mila berujar dengan tangan hormat bak saat upacara kenaikan bendera. Membuat Kendy terkekeh dan mengacak rambut Mila.


"Neng martabaknya!" seru bang penjual martabak.


"60 ribu neng,"


"Bentar ya bang," ucapnya kemudian ia mengulurkan tangannya kearah Kendy. Kendy yang paham dengan maksud Mila langsung memberikan dompetnya.


"Eh," Mila tersentak, "Ambilkan duitnya aja atuh mas! ga sopan ih begini," sergah Mila.


"Udah ambil aja," ujar Kendy kemudian meninggalkan Mila yang merasa tak nyaman membuka barang pribadi Kendy.


"Cowoknya neng royal amat," ujar bang martabak, membuat Mila salah tingkah.


"Eh, bukan cowo saya bang," ucap Mila dengan tersenyum kikuk. kemudian mengeluarkan uang seratus ribu dalam dompet Kendy.


"Nih neng kembaliannya," sembari memberikan tiga kotak martabak manis pada Mila.


"Makasih ya bang,"


"Sama sama"

__ADS_1


Kemudian Mila menghampiri Kendy yang sudah menunggunya.


"Nih mas dompetnya," Mila memberikan dompet Kendy.


"Tadi uang yang dipake seratus ribu, kembaliannya empat puluh udah aku masukin lagi," jelas Mila.


"Oooh," ujar Kendy.


"Kayaknya keputusan kita bawa motor salah deh Mil," sambung Kendy.


Mila masih berdiri dekat Kendy yang menyandarkan diri pada motornya.


"Kita gak bisa bawa banyak barang, kata lo kan tadi mau belanja perlengkapan. Tapi liat tangan lo penuh dengan martabak gimana mau bawa barangnya ya 'kan?"


"belanjanya dibatalin dulu aja deh ya. Nanti pas lo ada waktu baru deh kita belanja," jelas Kendy.


Sebenarnya Mila ingin sekali berbelanja perlengkapan bayi. Tapi ternyata keadaan tak mendukung keinginannya. Ia mengangguk pelan, "Tapi janji ya ... mas!" ucapnya.


"Iya janji, nanti bareng Inara Lasa sama Abi deh," bujuk Kendy.


"Ya udah sini gue pakein dulu helmnya! lo pasti ga bisa soalnya bawa tu martabak." ucap Kendy.


Dengan polosnya Mila mendekatkan diri dan mendongakkan kepalanya. Sedangkan Kendy merasakan deguban asing dalam dadanya. Jujur saja ia tak tahu artinya apa, selama ia berdekatan dengan banyak cewek tak ada satu pun yang membuat jantungnya berdisko ria seperti ini.


Setelah selesai ia mendudukkan pan tatnya keatas jok motor, "Sini kotaknya gue pegangin dulu!" pinta Kendy pada Mila.


Mila memberikan dan mengikuti jejak Kendy, mendudukkan diri. Setelah duduk dengan nyaman Kendy memberikan kotak martabak dan ia pun memakai helmnya. Setalah itu mereka membelah jalanan malam kota Jakarta.


.


.


.


.


Bersambung


About Choi Siwon : Merdeka.com

__ADS_1


Gengs Mila Kendy semakin meresahkan yak 😂


__ADS_2