
Temaram cahaya lampu LED berwarna merah biru di dinding abu-abu, cahaya lampu kalah saing dengan cahaya matahari yang masuk lewat jendela yang sengaja di buka sang pemilik ruangan. Selimut putih jatuh teronggok dilantai, diatas ranjang bercover bad warna Navy berbaring sang pemilik kamar yang tak lain dan tak bukan adalah Kendy. Ia menikmati tidur sorenya tanpa ada gangguan apapun.
Tubuh itu bergerak gelisah, peluh membanjiri dahinya. Entah apa yang dimimpikannya, mimpi indahkah atau mimpi burukkah ... siapa yang tahu? hingga suara alarm yang membangunkannya.
Matanya mengerjap ia masih berbaring menstabilkan deru napasnya, sekitar lima menit baru ia bangkit menyandarkan diri pada headboard ranjangnya. Ia mengingat pertarungan yang menggelora di alam mimpinya. Sungguh mimpi yang indah disore hari, gumamnya. Mimpi yang berhasil membuat celanannya basah. Dan yang membuatnya merasa aneh adalah duetnya ketika melakukan itu di alam mimpi adalah perempuan yang dikenalnya.
"Bisanya gue mimpi kek gitu sore sore gini". ujarnya, kemudian ia bangkit dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi. Tak lupa ia mengambil baju gantinya.
Sekitar lima belas menit, ia keluar dengan handuk kecil yang melingkar dilehernya. Ia berusaha mengeringkan rambut yang masih basah. Setelah selesai ia menyisir rapi rambutnya dan memakai skincare untuk wajahnya. Baginya skincare bukan hanya untuk perempuan, laki-laki pun butuh skincare. Bagaimanapun menjaga dan merawat ciptaan tuhan itu penting, pikirnya
Kemudian ia merapikan ranjang dan mengambil selimut putih yang terjatuh dan menghamparkan sampai kebagian tengah ranjang. Ia duduk diatas sofa kamar dengan ponsel ditangannya.
Kendy tolong jenguk si manis ya! gue sama Lasa baru mau ketempat gue nemuin tu bayi. Tolong yah sekalian bantuin Mila, kasian besok dia udah mulai kerja.
Sebuah pesan dari sahabat lucknatnya, Abi baru saja ia baca. Ia melihat waktu dikirimnya pesan itu dan jam setengah empat yang ia lihat. Kendy memutar bola matanya malas. Bagaimana bisa baru jam setengah empat baru ketempat itu? bukankah sudah terlalu sore, pikirnya.
Ia memasukkan ponselnnya dikantong celana dan melangkahkan kakinya keluar kamar, tujuannya ke dapur mengambil air tuk membasahi tenggorokannya yang kering. Rencananya setelah ini, ia mau ketempat Mila menjalankan amanah dari sahabatnya. Yah, walaupun dengan keadaan yang terpaksa. Ingin rasanya ia bebas dari situasi seperti ini. Situasi yang membuatnya repot, membuat lelah pikiran dan raganya. Sebenarnya ia belum bisa menerima kedatangan bayi mungil yang dibawa Abi. Lihatlah belum apa-apa mereka bertiga sudah direpotkan seperti ini. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya berharap okisigen itu mampu menambah energi. Sepertinya ia harus mulai membiasakan diri dan mencoba untuk ikhlas. Tapi ...
"Berat woy!" teriaknya tiba-tiba, hingga membuat Yuyun, adiknya Mila terperanjak kaget dan langsung me-mute zoom meetingnya padahal ia sedang asik presentasi, takut suara diseberang rumahnya terdengar oleh guru dan teman-temannya. Ia hanya mengelus pelan dadanya untung saja guru yang masuk pak Astung. Guru penyabar tak pernah marah dan guru yang terkenal congek disekolahnya.
"Haaah ... untung saja," gumamnya, kemudian menghembuskan napasnya pelan. Siapa coba yang teriak di sore hari seperti ini? pertanyaan itu melintas di benaknya.
"Heran banget dah," ucapnya, disela-sela mengelus dada.
"Yun, yun lanjut, kok tiba-tiba berhenti ini," suara dalam Zoom meetingnya. Yang ternyata seruan guru congeknya.
Yuyun pun menonaktifkan fitur mute dari Zoom, "Maaf pak tadi, ada orang gila teriak," kelakarnya, seketika temen-temen Zoomnya terlihat terbahak, sedang pak Astung hanya mengernyit heran. Entah ia mendengar atau tidak, karena sengaja Yuyun berbicara dengan suara yang agak pelan.
__ADS_1
"Baik, lanjutkan presentasinya," ucap Pak Astung.
***
Setelah berteriak Kendy pun melangkahkan kakinya menuju rumah Mila. Pagar didepan rumah Mila terbuka, langsung masuk saja pikirnya. Ia pun masuk kemudian mengetuk pintu kayu didepannya.
"Assalamualaikum," salam pertama tak ada jawaban.
"Assalamualaikum,"
Ceklek
Pintu dibuka pelan oleh Yuyun, rupanya ia ngezoom diruang tengah, Ternyata tadi tinggal penutupan sesi presentasinya. Ia terkejut mendapati Kendy tetangga yang seumuran dengan kakaknya. Tetangga yang biasanya jarang bersosialisasi di lingkungan kompleknya. Terkecuali bang Abi yang terkenal ramah. Bagaimana dengan bang Lasa? Hah apalagi manusia itu, yang terkenal dengan wajah datar dan sikapnya yang cuek.
"Wa'alaykummussalam, abang cari siapa ya?" Tanya Yuyun.
"Kamu adiknya Mila ya?" bukannya menjawab ia melempar pertanyaan.
"Iya bang, Abang cari siapa?" tanyanya untuk kedua kali. Lalu terdengar suara langkah kaki dari dalam.
"Nak siapa?" tanya bu Ratih. Yuyun pun membuka pintu rumah agak lebar.
"Oh, nak Kendy, masuk, masuk!" ajak bu Ratih.
Jujur saja karena ini pertama kalinya, Kendy kerumah Mila ia merasa canggung. Ia memang mengenal Mila, tapi untuk berkunjung kerumah Mila ia tak ada niatan sama sekali.
Ia pun masuk mengikuti bu Ratih sedang Yuyun memperhatikan Kendy. Ini pertama kalinya melihat tetangganya ini dari dekat. Tapi ada keperluan apakah sampai-sampai datang kerumahnya? Sampai di ruang tengah ketiganya duduk di sofa ruang tengah. Kendy menatap bu Ratih yang duduk didepannya, memindai dengan seksama.
__ADS_1
Oh ternyata ini ibunya Mila, ucapnya dalam hati. wajah wanita itu ramah, hmm ... dalam usianya yang tak lagi muda masih terlihat cantik. Tapi kenapa wajah Mila biasa saja, ia membandingkan.
"Nak Kendy nyari bayi itu ya?" tanya bu Ratih.
Kendy yang memindai wanita didepannya pun terperanjat, ia sedikit terkejut tapi seketika ia bersikap normal kemudian menyunggingkan senyum tipis, "Iya tan," ucapnya.
"Ini pertama kalinya ya kamu kesini?" wanita itu tersenyum melihat Kendy yang tampak tak betah dengan duduknya.
"Iya," ucapnya.
"Mulai saat ini sering-sering yah main kerumah," ucap bu Ratih.
Kemudian bu Ratih memerintahkan Yuyun memanggil Mila. Gadis itu pun menurut dan memanggil Mila.
"Jadi tadi pagi itu Abi, Lasa dan Inara datang kesini. Tante juga baru tau ternyata Mila itu temenan sama kalian."
"Aaa ... iya tan, Mila memang berteman dengan kami. Hmm ... kayaknya dua tahun yang lalu kami temenan. Yah temenan biasa, nggak terlalu dekat juga. Tapi maafin kami loh tan, padahal kami nggak terlalu dekat tapi merepotkan kalian," tuturnya, ia merasa menjadi orang yang tak tahu malu karena meminta tolong pada orang lain. Tapi mau meminta tolong dengan siapa lagi mereka bertiga, selain dengan teman yang tak terlalu dekat yang sekaligus menjadi tetangga mereka.
Kendy menyesal karena tak bersikap ramah dan bersosialisasi pada tetangga sekitar. Sekarang ia mengerti betapa pentingnya itu semua. Ya, tanpa sadar karena kehadiran bayi itu membuatnya sedikit tersadar.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung