Three Sweet Dads

Three Sweet Dads
Worries


__ADS_3

Lasa meletakkan kembali kain yang ada ditangannya. Kemudian ia berlari menuju rumah Mila. Ia tidak sadar saat ini ia hanya memakai kolor diatas lutut dan memakai kaos tanpa lengan berwarna putih. Sehingga otot lengannya terlihat, bahkan roti sobeknya tampak menonjol.


Ibu-ibu perumahan yang melihat Lasa langsung membelalakkan mata. Bagaimana bisa anak muda yang tampak acuh nan dingin itu memamerkan aset pribadinya? Namun dalam hati ibu-ibu itu bersyukur karena pagi-pagi sudah diberikan vitamin mata.


Mila yang sedang menjemur pakaian pun ikut terkejut.


'Mas Lasa kenapa?' batinnya. Laki-laki itu berlari bak model susu L-Men. Rambutnya yang jatuh terombang-ambing memberikan kesan keindahan makhluk ciptaan Tuhan. Ditambah dengan kulit putih bersih yang tampak bersinar di bawah sinar matahari, membuat ibu-ibu perumahan meleleh kecuali Mila saat ini yang merasa heran dengan sikap Lasa, terlebih lagi raut wajahnya yang menyiratkan kekhawatiran.


Tak tinggal diam Mila menghampiri Lasa yang sudah berada didepan pagar. Kaos tanpa lengan yang ia pakai basah karena keringat. Memperlihatkan pemandangan indah yang seharusnya tersembunyi dibalik kaos itu.


Mila menelan salivanya dengan susah, tubuh lelaki didepannya ini sangat menggoda iman. Sesaat matanya mengarah kearah roti sobek. 'Astagfirullah, sadar Mil!' batinnya. Ia pun langsung mengalihkan pandangannya. Mata Mila yang polos menjadi ternoda karena ulah Lasa.


"Mas kenapa?" Matanya melihat kearah mata Lasa yang saat ini menatapnya tajam.


"Bisa kau buka ini?" Nada suaranya dingin seolah bisa membekukan Mila. Bahkan ia tak menjawab pertanyaan Mila, membuat wajah ceria Mila berubah kesal.


Mila pun membuka pagar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Lasa langsung masuk kedalam rumah Mila.


Lasa masuk kedalam rumah Mila. Diruang tengah ia mendapati bu Ranti dan Inara. Ia pun tersenyum kaku kearah Bu Ranti.


"Eh, ada nak Lasa," sapa bu Ranti. Bu Ranti berdiri kemudian menghampiri Lasa.


"Kenapa nak?" Wanita itu menatap dalam wajah Lasa yang terlihat gusar.


"Bu, bayi itu dimana?" tanyanya. Membuat Inara dan Bu Ranti berpandangan.


"Dikamar Mila," ucapnya.


"Izin masuk ya bu." Tanpa menunggu jawaban Lasa pun bangkit dan mencari kamar Mila. Rasa khawatirnya membuatnya lupa dengan adab dan sopan santun.


Didepan pintu berwarna krem tergantung plat bernama Mila yang terukir indah. Dengan kasar Lasa membuka pintu membuat bayi itu terlonjak kaget kemudian menggeliat, alis kecilnya tampak berkerut.


Lasa masuk, tanpa ba-bi-bu ia langsung menyentuh bayi itu. Alhasil bayi itu menangis dengan kencangnya membuat Abi, bu Ranti, Inara dan Mila langsung menghampirinya.

__ADS_1


Abi terkejut melihat penampilan si pohon pinang, ia diam membeku. Apalagi melihat tingkah Lasa. Pasalnya si pohon pinang itu tidak pernah mengkhawatirkan sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungan dengannya. Terkadang sangat acuh dan tidak perduli. Tapi apa yang Abi lihat hari ini? walaupun Lasa membuat bayi itu menangis tapi dilihat dari air mukanya ia tampak sangat gusar mengkhawatirkan bayi itu.


Mila yang memang kesal sedari tadi bertambah kesal. Darahnya mendidih, orang didepannya ini memang jarang bertingkah tapi sekali bertingkah kenapa membuat semua orang emosi? Mila mendengkus sebal.


Mila menghampiri Lasa dan melayangkan pukulan yang sangat keras ke punggung kencang berotot Lasa.


Plak


Sontak hal itu membuat Inara, Bu Ranti, dan Abi terkejut tapi tak ada upaya apapun untuk menengahi keduanya.


Walaupun di pukul dengan keras Lasa tidak sama sekali meringis ia hanya menoleh dan menatap tajam Mila. Mila tak peduli, yang penting tangannya sudah puas menghajar si pohon pinang pembuat onar. Kemudian ia mengambil bayi itu, menggendong dan mengayun-ayunkan bayi itu agar tak menangis lagi. Cukup lama ia melakukan itu hingga akhirnya bayi itu diam didalam pelukaannya.


Abi, Inara, dan bu Ranti pun masuk setelah puas menikmati tontonan yang menguji adrenalin mereka. Perdebatan si pohon pinang dan mengamuknya putri malu. Heh, kenapa putri malu? karena Mila yang biasanya sopan, berbudi luhur, dan bisa menjaga sikap tiba-tiba menjadi singa betina yang murka.


Abi memandang wajah Lasa saat ini ia berdiri disebelah Lasa. "Sa, lo kenapa tiba-tiba datang terus ganggu tu bayi?" Abi mengalihkan pandangannya pada bayi mungil yang berada di gendongan Mila.


Lasa menatap tajam Abi. Kenapa laki-laki didepannya itu tidak tahu bahwa bayi mungil itu terluka? Apakah ia tidak memeriksa badan bayi itu? Ah, ingin sekali rasanya ia memukul Abi yang hanya asik berpacaran.


"Lo tadi malam mandiin tu bayi kan?" cecarnya tegas.


"Lo gak sadar kalau dia terluka?" Tatapan Lasa mengintimidasi Abi.


"Eh, maksud lo apa? kulit bayi itu mulus, alus tanpa goresan sedikitpun ya..." Jelas Abi tak mau kalah.


"Lagian kenapa lo menyimpulkan sesuatu padahal lo aja gak liat faktanya,"


Wajah gusar Lasa terkikis habis setelah mendengar penjelasan Abi. Mensyukuri jika bayi itu tidak terluka. Ia sangat takut bila terjadi sesuatu pada bayi itu. Ia juga merasa heran kenapa jantungnya berdegup kencang karena begitu khawatir. Biasanya segenting apapun keadaanya ia bisa tenang menghadapinya. Sekarang berbagai pertanyaan berebut menghantam benak Lasa. Darah siapakah gerangan? Apakah milik orang tua bayi? Atau milik Abi? Ia manatap Abi.


"Bi, lo ada luka gak?"


"Hmm... gak ada deh kayaknya, memang kenapa?"


Lasa hanya diam tak berniat menjawab pertanyaan Abi. Membuat Abi menghela napas, 'Selalu saja seperti ini dasar si pohon pinang' umpatnya dalam hati.

__ADS_1


Lasa merasakan angin menyapu lembut kulitnya, bagian dadanya terasa begitu dingin. Merasa aneh ia langsung menunduk dan betapa terkejutnya ia melihat keadaannya saat ini, matanya melebar. Lasa melipat tangan diatas dada.


Saat ini ia mengamati Inara, Bu Ranti, dan Mila. Ketiganya tengah memperhatikan bayi mungil itu. Mengenai punggungnya yang dipukul Mila, sebenarnya itu terasa sangat sakit. Hanya saja Lasa menahannya.


****


Mereka berempat saat ini sudah duduk diatas sofa diruang tengah. Ruangan itu tampak sempit. Ruangan yang hanya berisi satu sofa panjang dan dua single sofa serta meja kaca minimalis ditengahnya. Tak banyak barang berada di ruangan itu.


Jika ada yang bertanya kenapa Mila mempunyai rumah di perumahan kalangan menengah atas? jawabannya karena sebenarnya Mila adalah mantan anak sultan. Perusahaan ayahnya bangkrut, ayahnya meninggal karena terkena stroke. Rumah mewahnya, mobil serta seluruh aset mereka disita. Perusahaan yang bertahun-tahun dibangun ayahnya, dalam sebulan hancur tak tersisa. Untung saja ayahnya ternyata masih mempunyai simpanan uang dan akhirnya bisa membeli rumah yang mereka tempati saat ini.


Abi memohon bantuan bu Ranti dan Mila untuk sementara menitipkan si bayi sampai Kendy kembali kerumah. Bu Ranti tidak keberatan begitu juga dengan Mila. Ia malah terlihat sangat senang. Abi, Inara dan Lasa pamit pulang.


"Kalau begitu kami pulang bu, terima kasih bantuannya bu. Entah apa yang bisa kami lakukan kalo Mila ga ketemu Kendy kemarin malam," ujarnya.


"Sama-sama nak jangan sungkan meminta bantuan," bu Ranti tersenyum lembut.


"Hmm... Maafkan saya yang tidak sopan tadi Bu, dan Mil maafin gue," Lasa menoleh dan menatap kearah Mila.


"Iya, ga apa nak. Maafin Mila juga yang mukul kamu. Ibu juga kaget loh melihat Mila yang bisa emosi sampai memukul orang seperti itu," ucap bu Ranti, membuat Mila menunduk menahan malu.


"Iya ga papa bu," Ucap Lasa.


"Kalau begitu kami pamit bu, Assalamualaikum" Pamit Abi.


"wa'alaykummussalam" Mereka bertiga berdiri Inara mengambil punggung tangan bu Ranti dan menciumnya diikuti dengan Abi dan Lasa. Membuat Bu Ranti merasa memiliki banyak putra dan putri. Kemudian mereka melangkah pulang kerumah sebelah.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2