Three Sweet Dads

Three Sweet Dads
Ini nih!!


__ADS_3

Bayi perempuan baru lahir dibuang didepan warung warga Aceh


^^^SecondNews.com^^^


Mayat bayi laki-laki ditemukan tewas mengambang di Kali Sragen


^^^IndoNews.com^^^


Kisah bayi Syifa yang tak diinginkan oleh kedua orang tuanya diperebutkan 14 orang tua untuk diadopsi


^^^ThousandNews.com^^^


Beberapa tajuk berita muncul di laman


pencarian ponsel Kendy. Mengukir tiga garis dalam di dahinya. Kendy menghembuskan napas kasar. Bayi, bayi dan bayi. Kenapa semua orang tertarik sekali menjadikan bayi sebagai topik berita? Ah! menjengkelkan sekali bukan? Bahkan dalam hidupnya pun, ia dihadapkan dengan bayi. Kendy meremas kepalanya. Hah, muak sekali rasanya.


Saat ini ia sedang duduk di kursi taman, bernaungkan pohon Trembesi. Lebarnya dahan dan rindangnya pohon Trembesi membuat udara begitu sejuk bahkan sinar matahari susah tuk mengenai kulit siapa pun yang bernaung dibawahnya.


Kendy kembali mensecroll laman pencarian diponselnya. Tak bisa dipungkiri direlung hati terdalamnya ia merasa kasihan dengan nasib bayi-bayi yang dibuang bahkan dibunuh oleh kedua orang tuanya.


"Damn it!! Pas bikinnya aja demen, giliran buat tanggung jawab lari," Pekiknya kemudian memukul keras kursi yang ia duduki. Untung saja kursi itu terbuat dari kayu. Bayangkan saja jika kursi itu terbuat dari besi, bisa lecet tangan mulus Kendy.


Akibat kelakuannya, membuat orang-orang berlalu lalang menatapnya heran. Kendy membalas tatapan itu dengan wajah tanpa dosa kemudian ia menunduk lagi memandang ponselnya dengan salah satu kaki yang diangkat, dilipat dan diletekannya diatas kaki satunya. Bagaimana dengan wajahnya? jangan ditanya, wajahnya saat ini menyiratkan kekesalan dan kemarahan.


Emosi yang memenuhi ruang di kepalanya membuat ia tak bisa mengontrol raut wajah, bahkan perilakunya. Biarkan sajalah orang-orang menilainya sebagai pemuda yang tak berakhlak dan tak berbudi pekerti. Karena pada dasarnya tak ada yang bisa menghentikan dan mengatur seberapa dalamnya pemikiran orang lain, pikirnya. Kemudian ia terkekeh dalam hati ketika mengingat pemikirannya mengenai kalimat 'tak berakhlak dan berbudi pekerti' Kayak pelajaran PKN aja, batinnya.


Setelah membaca beberapa artikel tentang bayi, ia terdiam menatap seekor kupu-kupu dengan sayap lebar bercorak sangat cantik namun malang sekali nasib kupu-kupu itu harus berakhir menjadi santapan laba-laba. Melihat itu ia menjadi teringat akan masa lalu yang membuatnya sesak.


"Gila! Kenapa gue inget dia lagi sih. Cih, jijik gue sama ingatan gue sendiri!" Ia memukul pelan kepalanya. Berusaha emembuang ingatannya.


Kemudian ia mengalihkan pandangannya ia manatap kosong kearah depan, sekarang pikirannya berkecamuk. Ia menimbang apa yang harus ia lakukan. Pulang atau tidak? menerima bayi atau menolak? memutuskan persahabatan atau tidak? pindah atau menetap? Ah, frustasi sekali ia saat ini. Saking frustasinya membuat perutnya berbunyi, berdemo meminta makan "Ternyata ngelamun doang butuh tenaga," gumamnya kemudian meraba saku celana dan betapa terkejutnya ia tak menemukan apa yang ia cari, dompetnya tertinggal!

__ADS_1


"Ya Allah apes banget gue," keluhnya. "alamat pulang kerumah ni, plus batal ngambek deh," sambungnya. wajahnya lesu, berat rasanya harus kembali secepat ini.


Ia melangkahkan kakinya, kemudian menunggangi motor kesayangan. Tujuannya hanya satu, pulang kerumah Lasa.


Bener-bener ga ada pilihan ya buat gue?


****


Sisa potongan sayur beserta tanah-tanah yang menempel diakar sayur berhamburan dimeja dapur. Kulit bawang, serta tangkai cabai bertebaran dimana-mana. Wajan, panci, pisau tak lagi berada pada tempatnya. Keadaan dapur saat ini seperti kapal pecah. Lalu siapa pelakunya? bukan Abi dan bukan Lasa. Tapi Inara, Ya! Inara kekasih tersayang Abi.


Abi duduk dikursi meja makan, menopang dagu dengan kedua tangannya. Saat ini ia melihat gadis berkucir kuda sedang asik menumis sesuatu. Walaupun dapurnya saat ini berantakan tapi ia tak mempersalahkan itu. Sebenarnya ingin rasanya ia menegur Inara namun, karena Abi adalah type softboy rasanya ia tak tega menyakiti perasaan kekasih tersayangnya. Biarkan saja, mungkin seiring waktu dia akan berubah, batinnya.


"Ay, masih lama ya?" Tanya Abi. Rasanya sudah lama kekasihnya itu menumis tapi tidak selesai-selesai.


Inara meletakan spatula, ia menoleh dan tersenyum, "bentar lagi nih." kemudian ia melanjutkan acara tumis menumisnya.


"Kamu masak apa sih?" selidik Abi kemudian mendekat kearah Inara.


Abi saat ini berada disamping Inara, ia melihat Inara yang memanyunkan bibir sambil melanjutkan masaknya. Ternyata kekasihnya ini sedang kesal. Tapi, lihatlah bibir mungil itu, membuat Abi begitu gemas. Ia menatap bibir itu, ranumnya bibir itu membuatnya terhipnotis. Tanpa sadar ia melabuhkan bibirnya diatas bibir mungil itu.


cup


Satu kecupan mendarat, membuat sang pemilik terhenyak. Inara terkejut dengan apa yang Abi lakukan. Ini adalah pertama kalinya Abi berani mencium, eh mengecup bibirnya.


Ia mengangkat spatula ditangannya siap mendaratkan spatula panas itu jika Abi berani mengulang apa yang baru saja Abi lakukan, "Kak! no kissing inget itu. Ish ... belom juga dibayar tunai," sungutnya, bertambah kesal saja Inara kerana tingkah Abi.


Abi langsung tersadar, kemudian mengangkat kedua tangannya, "Ya ampun Ay, ga sadar aku beneran deh ... " Ucapnya. "Ay turunin dong spatulanya, panas loh itu," bujuknya.


Inara langsung meletakan spatulanya kemudian mematikan kompor.


"Aww!!! ... sakit Ay," pekik Abi. Setelah Inara mendaratkan cubitan yang rasanya 'Ah mantap' bagai capitan kepiting diperut Abi.

__ADS_1


"Rasain!!" ucap Inara kemudian menjulurkan lidahnya dan menepuk pantatnya mengolok Abi yang masih mengusap perutnya. Sungguh tak ada kata 'jaim' dalam kamus hubungan mereka.


Abi melihat kearah Inara yang menjauh dari dapur. Kemudian ia berlari mengejar Inara.


"Dapat!!" pekik Abi tangannya memegang pinggang Inara bersiap menggelitik Inara.


"Jangan kak, Jangan!" Inara memohon agar Abi tak menggelitiknya, dan tak lupa ia menggeliat berusaha lepas dari cengkraman Abi.


Melihat Inara yang menghiba membuat Abi semakin bersemangat untuk mulai menggelitiki Inara. Senyum smirk tertarik dibibir Abi. Membuat Inara semakin meronta berusaha melepaskan diri.


"Hahahahaaa...ka...k uu..daah (kak udah)" Inara tak kuasa menahan tawanya. Abi terus menggelitiki Inara sampai suara tepukan tangan menghentikan kegiatan mereka.


Prok prok prok prok


Kedua insan yang sedang asik bercanda ria langsung menoleh kesumber suara. Seketika membuat binar wajah keduanya senang.


Namun berbeda dengan laki-laki yang bertepuk tangan tadi, wajah yang biasanya dihiasi tawa jenaka menatap datar kearah mereka. Membuat Abi dan Inara bertanya-tanya dalam benak mereka. Kenapa dengannya? apakah salah jika mereka tersenyum menyambut kedatangannya? Apakah manusia didepan mereka ini masih marah? Semua pertanyaan itu terlintas dibenak keduanya. Semoga saja lelaki didepannya ini tidak marah lagi dan menarik kata-kata yang keluar dari mulutnya pagi tadi. Abi menatap penuh harap kearah laki-laki itu.


"Ini nih__"


.


.


.


.


Bersambung


Huweeee... maafkanlah Author yang lama ga Up🥺 ini nih karena author terlalu banyak dunianya. Ada dunia nyata, ada dunia halu, ada dunia kapuk namanya. Pokoknya maaf deh ya... Dan terima kasih yang sudah like and komen...😉

__ADS_1


Gimana udah bisa menyimpulkan karakter Abi, Lasa and Kendy? pasti belom ya... sama Author juga😂😂


__ADS_2