
"Minumannya dataaang," Inara berseru riang, seketika Salma menghentikan acara berkisahnya pada Lasa dan Abi.
Inara memicing curiga kearah bundanya, kenapa diam? rasanya tadi ia mendengar bahwa Bundanya bercerita panjang kali lebar. Sayangnya ia tak mendengar jelas, hanya suara orang berkumur yang terdengar.
Ia meletakan nampan diatas meja, "Pasti bercerita sesuatu 'kan?" tebaknya, ia tahu betul, pasti bundanya menceritakan sesuatu tentangnya. Kemudian ia duduk di samping bundanya.
"Lanjutkan bund aku juga mau dengar," ucapnya, ia menatap bunda Salma. Salma tersenyum, sedang Lasa tampak penasaran akan kelanjutan kisah dari Salma. Cerita tadi baru awalnya saja sedang bagian akhir yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Jujur saja bagian awal bagi Lasa sangat membosankan karena fokusnya hanya kisah Inara. Sedang yang ia tunggu proses pengadopsian.
Berbeda dengan Abi yang begitu girang dan antusias, siapa yang tak tertarik dengan masa lalu sang kekasih? apalagi masa kecilnya, siapa tahu nemu aib 'kan bisa jadi bahan tuk menggoda Inara, muehehehe Abi terkekeh dalam hati.
"Jadi dua puluh tujuh dokumen itu tante dan suami tante deh yang ngurus," lanjut Salma.
"Oh, bahas ngadopsi aku." Ia menganggukkan kepalanya pelan. Sampai saat ini ia tak pernah lupa dengan asal usulnya yang berasal dari panti asuhan. Walau sepuluh tahun berlalu, terkadang membuat bundanya tak nyaman, namun, ketika ia ditanya, 'biar Nara selalu bersyukur kepada Tuhan bund,' jawabnya sederhana membuat bundanya untuk kesekian kali menjatuhkan air mata, terharu pada anak angkatnya.
Walaupun ia anak yang tak diinginkan oleh kedua orang tua atau sesuatu terjadi pada orang tuanya, sehingga memaksa mereka untuk menitipkan ia pada panti asuhan, membuatnya sama sekali tak pernah menyalahkan takdir, mungkin dulu saja ketika ia masih kecil. Semakin dewasa membuatnya semakin mengerti dan yakin bahwa Tuhan menskenariokan sesuatu pasti punya tujuan tertentu. Bersyukur menjadi alternatif agar ia tak terlalu mengeluh menjalani betapa kerasnya kehidupan. Bersyukur masih diberikan kehidupan, kesehatan dan bersyukur datangnya bunda Salma dan ayah Bagas yang tak kalah menyayangi dan mencintai ia layaknya kedua orang tua kandunganya.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? salah satu ayat dalam Al-Qur'an terpatri dalam benak dan relung hatinya. Itulah yang selalu menguatkan rasa syukur ia pada tuhan, dari kecil hingga saat ini.
Abi sedikit terkejut dengan ucapan Inara, kenapa bisa sesantai itu? seharusnya ada raut sedih yang terukir diwajah cantik kekasihnya, apalagi membahas tentang asal usulnya. Salma yang melihat Abi terkekeh pelan, "Jangan kaget nak Abi, Inara memang seperti itu."
"Lalu berapa lama waktu yang tante butuhkan untuk menyiapkan semua dokumen itu?" Lasa benar-benar tak sabar, karena sedari tadi, ada saja yang menghentikan Salma bercerita.
Meletakkan mug dan berdehem, "Hmm ... tiga bulan," jawabnya.
"Kenapa lama sekali tan?" Lasa mengernyit, wajah Lasa yang terheran terlihat begitu lucu dimata Inara dan Salma. Abi menyikut si pohon pinang yang beralih profesi menjadi seorang wartawan. Bagaimana tidak, manusia pinang itu selalu bertanya, tidak lihat apa calon mertuanya itu minum? pikir Abi.
Salma tersenyum dengan tingkah kedua pemuda yang ia ketahui satunya adalah kekasih sang putri dan yang satunya adalah sahabat dari kekasih putrinya, "Nggak papa Bi," ucapnya, kemudian menjawab pertanyaan Lasa, "lama karena menunggu surat-surat itu keluar. Misal surat SKCK dari kepolisian butuh waktu 30 menit baru jadi dan itu perlu digaris bawahi, jika dihari itu banyak yang membuat maka butuh waktu cukup lama, begitu pula surat kesehatan dari rumah sakit, surat pernyataan ini, itu dan masih banyak lagi. By the way, kenapa nak Lasa begitu tertarik dengan hal ini?" kali ini bunda Salma yang penasaran.
__ADS_1
Tentu saja pertanyaan dari tante Salma membuat Lasa terdiam, seperti biasa wajahnya datar. Ia bingung, apakah ia harus bercerita atau tidak? Apakah dengan memberi tahu tante Salma adalah solusi yang tepat? pertanyaan berterbangan dibenaknya namun, sepertinya ia tak berniat mengeluarkan pertanyaan itu.
"Nggak ada apa-apa bund," bukan Lasa atau Abi yang menjawab namun, Inara. Abi dan Lasa menatap heran kearah Inara, kenapa berbohong? itulah arti dari tatapan mereka. Dan Inara mengedipkan matanya, seolah mengatakan 'nanti saja aku ceritakan pada bunda' kemudian, ia melirik jam dinding memberitahukan bahwa mereka harus segera pulang. Karena bila Lasa dan Abi terus melanjutkan bercerita bisa-bisa pulang malam mereka berdua. Inara yakin sekali bundanya yang memang suka bercerita akan meladeni keduanya. Dan bagaimana rencana mereka yang mau mencari asal usul bayi itu, akan gagal bukan? Inara tak mau itu terjadi, terlebih lagi ketika ia membayangkan keranjang itu diambil pemulung atau dibuang ke pembuangan sampah. Bisa tak mempunyai kesempatan mereka mengatahui asal usul bayi yang mereka temukan.
Tanpa mereka sadari, Salma memperhatikan gerak gerik ketiganya. Ia menggelengkan kepalanya, tersenyum lalu memutar bola matanya jengah. Pemuda pemudi yang duduk bersamanya ini memang sesuatu. Walau ia penasaran tapi ia yakin nanti pasti Inara yang menceritakan semua padanya.
Abi menarik mugnya dan menandaskan teh dalam mug itu, begitu pun Lasa yang sedari tadi sudah menghabiskan teh dalam mugnya. Dan saat ini ia menyilangkan tangannya didada. seperti biasa wajahnya datar. Terlihat Salma dan Inara mengobrol, tapi obrolan yang tak terlalu ditanggapi oleh Abi dan Lasa karena sepertinya itu memang obrolan yang terkhusus untuk Inara.
Setelah selesai keduanya pun berpamitan, "Tante, kami pamit pulang, maafkan kami yang bertamu tak ingat waktu," ujar Abi, kemudian membungkuk tuk menggapai tangan Salma, kemudian mencium takdzim tangan calon mertua. Dan diikuti oleh Lasa yang kali ini lebih peka dengan keadaan.
"Iya nggak papa nak, tante malah senang banget kalian kunjugi," ujar wanita yang mungkin hampir berumur empat puluh tahun itu.
"Baik tante kami pergi dulu, Assalamualaikum,"
"Wa'alaykummussalam,"
"Sini Sa, disekitar sini!" Abi menunjuk kawasan tempat mereka menemukan bayi itu. Lasa menghentikan mobilnya, lalu memakirkannya dipinggir jalan yang sepi, walau masih sore hari. Setelah mobil itu berhenti keduanya pun keluar.
Lasa membuka kacamata hitamnya dengan tangan kiri lalu tangan kanannya berkacak pinggang. Ia menatap rumput tipis serta pohon-pohon yang berderet.
Begitu pula dengan Abi, setelah membuka seatbelt nya. Ia pun keluar dari mobil dan berdiri di samping Lasa.
"Dimana lo naruh keranjangnya?" tanya Lasa kelopak mata sipitnya bergerak mengikuti pergerakan bola mata yang melirik kearah Abi.
"Gue yakin di sekitar sini," jawab Abi yakin namun, keyakinan itu luntur ketika ia tak melihat keranjang.
Lasa menghela napasnya, ia khawatir keranjang itu sudah ditemukan pemulung atau sudah dimasukkan didalam tong sampah oleh petugas pembersih jalan.
__ADS_1
"oke kita cari dulu, semoga masih ada disekitar sini," ucapnya dan diangguki oleh Abi. Keduanya pun melangkahkan kaki, berpencar mencari keranjang, bukti satu-satunya agar bisa mengetahui asal usul bayi itu.
.
.
.
.
.
Bersambung
Next? tunggu kelanjutannya yak 😉
Note : ¢_¢
By the way : ngomong-ngomong.
FYI (For Your Information)
Al-Qur'an surah Ar-Rahman.
Pokoknya cari aja deh di surah itu😂😂 banyak banget ayat itu diulang-ulang.
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 🥰🌦️✨✨
__ADS_1
Bagi yang menjalankan🥰