Three Sweet Dads

Three Sweet Dads
Tabungan Kebaikan


__ADS_3

Suasana kamar bercat krem itu hening, tak ada yang bersuara. Mila berbaring miring menatap bayi yang tertidur tangannya sembari menepuk-nepuk pantat bayi berpopok itu agar tidurnya semakin nyenyak. Sekali-kali mulut bayi itu bergerak seakan menyesap padahal itu hanya kebiasaan karena menyusu. Menatap bayi yang tertidur itu tak pernah membuat ia bosan.


Sebelum bayi tertidur ia sempat bermain dengan bayi berumur dua bulan itu bahkan mengajaknya tuk berbincang.


"Maaniiis ... " Mila menepuk tangan beberapa kali, seketika bayi yang sudah bisa mendengar jelas itu menatapnya dengan mengemut ibu jarinya sendiri, kakinya menendang-nendang.


"Uh ... manisnya syuka yah ama mba Mila? saamaaaa mba juga syuka sama ... uh nama amuu syiapa syiiih " Mila berbicara dengan lebay, kemudian ia menghujani kecupan bertubi-tubi diwajah bayi itu, alih-alih merengek tak suka bayi itu malah tersenyum hingga menampakkan gusi tanpa gigi menambah yang melihat semakin gemas. Tangan mungilnya bergerak-gerak hendak meraih wajah Mila.


"Kenapa nih mau gendyong yaah cini-cini" tangannya terulur mengangkat bayi itu. Kemudian langkah kecilnya berjalan mengelilingi kamar. Kaktus kecil disudut ruangan diatas meja yang menghadap jendela menjadi tujuan.


"Ityuuuh tanaman mba Mila," ucapnya, kemudian menatap bayi digendongnya. Seperti biasa bayi itu mengemut ibu jarinya.


"Syuka banget deh, bisa tumpul inih ibu jarinya. kasian dong anaknya," celoteh Mila, tangannya terulur hendak melepaskan ibu jari bayi itu dari mulutnya.


"Bruuulb ... bruuulb ..." embun liur, mengenai leher serta bagian pinggir wajah Mila membuat gadis itu memejamkan mata, kemudian tawa kecil menyergap ruangan kecil nan sunyi itu.


"Hihihi ... udyah pintel yah ngelespon mba, hmm..." Kemudian kecupan mendarat lagi di wajah mungil itu. Setelah itu ia mendekap bayi itu dan membawanya berjalan kecil.


Mila terus mengelus punggung bayi dalam dekapannya dan menepuk pantatnya, sekitar lima menit ia berdiri berjalan hilir mudik. Mata bayi itu mulai sayu. Di menit berikutnya bayi itu telah tertidur sepenuhnya. Mila beranjak menuju ranjang kemudian dengan pelan ia meletakkan bayi itu diatas ranjangnya.


Disinilah ia menatap bayi yang tertidur dengan nyenyak itu, rasa iba menyeruak memenuhi ruang didadannya membuat ia sesak. Disentuhnya pipi bayi itu, pipi yang begitu gembul berwarna merah, kulitnya terasa lembut dan pasti sensitif, kemudian ia beralih ketangan kecil yang menggenggam jari telunjuknya itu.


Tak terbayang olehnya jika malam itu Abi tak membawa bayi itu pulang. Apakah yang akan terjadi? Ah, mungkin kulit lembutnya yang sensitif pasti memerah atau mungkin terluka karena diurung semut dan nyamuk. Mila menghela napasnya, seberat apapun hidupnya jika ia berada di posisi ibu sang bayi, ia akan terus mempertahankan bayi itu, bahkan nyawa pun ia berikan untuk melindungi bayi itu.


Lama ia terdiam, empuknya kasur diranjang serta suasana sendu, angin dari kipas angin menerpa menyapu kulit membuatnya tergoda untuk menutup matanya. Tanpa ia sadari ia telah tertidur membawa hati penuh lara disamping bayi mungil itu.


****


"Sa, woy berhenti!" Seru Kendy, kepada manusia pinang yang berjalan begitu cepat tak menghiraukan orang yang beberapa kali memanggilnya.

__ADS_1


Langkahnya terhenti didepan pintu. Muak sekali rasanya ia mendengar panggilan beruntun dari Kendy. Ia berbalik dan menatap Kendy keningnya berkerut mata sipitnya menatap Kendy sebal.


"Apa lo! biasa aja dong mukanya, kalo gini muka lo ntar bayinya ga mau disentuh sama lo," Semakin berkerut saja keningnya, aneh? iya sangat aneh. Apa betul seperti itu? pertanyaan dungu itu keluar dalam benaknya.


"Ini siang bro, siang. Bayi itu pasti bobok mending lo sama Abi nganterin Inara pulang terus cari tau deh asal usul tu bayi," ujar Kendy.


Ia menimbang perkataan Kendy, Mengantar Inara dan sekalian mengambil keranjang bayi siapa tahu disana ada petunjuk. Hmm ... mungkin hal yang tepat untuk dilakukan.


"Oke," Ia berbalik melangkahkan kakinya kembali memasuki rumah. Kendy menghela napasnya, betapa mirisnya bertemu dengan manusia pinang yang anehnya malah lebih famous dan lebih tampan daripada dirinya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengikuti langkah Lasa.


*****


"Ay ... ay ... bangun yok, pulang." Abi menepuk pelan pipi sang kekasih yang tertidur dikamarnya. Sengaja tadi ia membiarkan Inara tidur dikamarnya selagi mereka diskusi part dua di kamar Lasa.


Pelan Inara membuka mata membiasakan matanya tuk menerima cahaya


Hoaaaam ... Ia menutup mulutnya, "Udah selesai diskusinya?" tanyanya.


"Cantik," ujarnya, tanganya menangkup dagu Inara


"Ish, gombal," Inara mencebik kemudian, melepaskan tangkupan tangan diwajahnya. Inara tersenyum dan langsung melabuhkan pelukan kearahnya. Sungguh ia tak menyangka reaksi Inara. Ada apakah gerangan?


"Kenapa Ra?" tanya Abi, kemudian mengelus punggung Inara.


"Hmm ... gak apa, cuma aku terharu sama kalian bertiga. Kalian hebat," ucapnya.


"Kalian berhasil," ujarnya.


"Berhasil membuat tabungan kebaikan," sambungnya. Merasa puas ia menarik tubuhnya dan bangkit, "Ayo pulang kak!" ajaknya, Abi pun mengangguk. Walaupun banyak pertanyaan dibenaknya. Ia pun mengikuti langkah Inara.

__ADS_1


"Loh kak!" Pekik Inara, ia terkejut melihat Abi mengikutinya kekamar mandi.


"Ngapain ngikutin aku kesini?" tanya Inara, membuat Abi tersadar dari lamunan panjangnya. Ia pun terkejut menyadari dirinya di kamar mandi bersama Inara.


"Eh ay, ga ada apa-apa kok. Duh nggak sadar aku tuh," ujarnya, "ya udah deh, aku keluar dulu." Ia pun melangkahkan kakinya keluar.


Inara menggerutu, pasalnya sudah dua kali Abi tak sadar dengan apa yang ia lakukan. yang pertama saat menciumnya, eh mengecupnya. Pipi Inara memanas bila mengingat itu ia pun menepuk pipinya, "Ish, aku kenapa sih kesenengan banget," ujarnya. Dan yang kedua saat Abi mengikutinya ke kamar Mandi dengan alasan 'nggak sadar' aneh bukan?


Inara langsung mencuci wajahnya, setelah selesai ia pun keluar. Ia mendapati ketiganya diruang tengah. Inara langsung menuju kearah Abi dan bergelayut dilengan Abi membuat Kendy memutar bola matanya jengah.


"Ayok kak, pulang!" Abi melirik kearah Inara, kemudian mengangguk. Keduanya keluar dan diikuti Lasa. Tentu saja hal itu mengundang protes dari Inara. "Loh kak Lasa ikut?" tanyanya pada Abi.


"Iya, sekalian mau cari tahu asal usul bayi itu," jawabnya.


"Caranya?" tanya Inara, alisnya bertaut.


"Ketempat kemarin malam, mau ngambil keranjang. Terus cari bukti deh siapa tau orang tuanya ninggalin sesuatu" Masih sambil berjalan, sungguh pemandangan itu menyiksa jiwa-jiwa jomblo seperti Lasa. Tapi sepertinya ia bergeming melihat keduanya, tak merasa keberatan sama sekali.


"Oh," Inara hanya ber-oh ria, kemudian ia teringat bagaimana keadaan keranjang bayi saat mereka menemukan, langkahnya terhenti ketika menyadari sesuatu, tentu saja membuat Abi heran.


"Kenapa Ay?"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2