Three Sweet Dads

Three Sweet Dads
Gak enak


__ADS_3

Mila datang dengan bayi mungil digendongannya, rambut tipis bayi itu basah, ternyata habis mandi. Wajah mungilnya cemong penuh dengan bedak. Mila melangkah mendekat kearah ibunya diikuti Yuyun dibelakang. Wajah gadis dibelakangnya menyiratkan keterkejutan. Terlihat Kendy menatap kearahnya. Setelah sampai ia menjatuhkan pantatnya disofa bersebelahan dengan ibunya.


"Mas Kendy mau ngambil ini 'kan?" tanyanya, sembari melirik kearah bayi yang ia gendong.


"Hmm ... emm gimana yah Mil, gue cuma disuruh jenguk aja sih sama bantuin lo sama si Abi. Nanti pas mereka dateng baru yah," ucap Kendy. Benarkan? cara menggendongnya saja ia tak tahu bagaimana mau membawanya pulang? sungguh pengetahuan Kendy mengenai bayi serta cara pengasuhannya amat dangkal.


Mila menyunggingkan senyumnya, "Nggak papa mas, biar sama Mila aja," ucapnya. Ia tahu betul laki-laki didepannya ini. Bagaimana tahu caranya mengasuh bayi, menyukainya saja tidak, jadi wajar saja. Ia kemudian berpikir, besok waktunya ia bekerja. Ia berharap semoga ketiga temannya bisa menjaga bayi digendongnya ini. Sebenarnya ingin sekali Mila terus menjaga bayi ini tapi, bagaimana dengan pekerjaannya?


"Baik, ibu tinggal kebelakang dulu yah," ujar bu Ratih ia memberi senyum kepada Kendy dan Mila.


"Bu maaf yah Mila gak bisa bantu," Ucap Mila ia menengadah melihat ibunya yang telah bangkit tentu saja bayi mungil di gendongannya mengikutinya. Bu Ratih tersenyum dan mengelus puncak kepala putrinya dan mencium bayi mungil berpipi chubby yang berbau bedak. Lalu melangkah diikuti Yuyun meninggalkan Kendy dan Mila diruang tengah.


"Huuuffttt ... " tiba-tiba saja Kendy membuang napasnya seakan sedari tadi ia menahan.


"Akhirnya lega Mil," ucapnya, membuat Mila tertawa kecil.


"Kenapa Mas?"


"Gue itu gugup banget tau Mil, ini pertama kalinya gue kerumah lo,"


"Hahaha ... santai aja mas, mang kenapa?" tanyanya, membalikkan posisi bayi digendongannya menghadap kearahnya.


Untuk kesekian kalinya Kendy menghela napas mencoba meringankan beban dalam diri, "Gue gak enak banget sama lo dan ibu lo. Dari kemarin gue sama sohib gue terus aja ngerepotin kalian," ia berhenti sejenak, mengalihkan tatapannya pada bayi mungil digendongan Mila yang terlihat asyik mengemut ibu jarinya.


"Lagi pula kita gak terlalu dekat," sambungnya.


Mila menatap kearah Kendy, ternyata orang seperti Kendy ini juga punya perasaan 'gak enakan'. Padahal perasaan 'gak enakkan' itu menyiksa diri sendiri. Ingat beban seisi semesta bukan punya kita. Hanya karena merasa 'gak enak' mengorbankan perasaan kita sendiri dan urung tuk mengemukakan isi hati. Yang penting ungkapkan saja dulu keinginan, urusan dikabulkan atau tidak itu belakangan.

__ADS_1


"Huuuh, santai aja atuh mas. Jangan jadi orang gak enakkan ih, nyiksa diri sendiri. Dirumah ini ga ada rumusnya 'gak enakan'. Kalo kami menyanggupi membantu, ya kami bantu. Kalau nggak ya kami bilang nggak," ujarnya.


"Terus yang kata mas kita gak dekat itu, masa iya nunggu kita nikah dulu baru aku bisa nolongin mas," cetus Mila dan seketika mata Kendy membola karena terkejut. Ia langsung teringat mimpi mengeloranya tadi.


Melihat reaksi Kendy membuat Inara terkekeh, "Hehehe ... perumpamaan mas, perumpamaan,"


"Lagian perumpamaannya ektrim bener,"


"Loh apanya yang ekstrim? Deket banget 'kan? selain betapa kentalnya hubungan darah, urutan yang kedua menurut aku ya pernikahan, karena apa? karena Menggabungkan dua insan yang penuh dengan perbedaan. Beda darah, beda sifat, beda sidik jari emm .. eh eh ada deh yang sama," Ia seakan berpikir sesuatu sampai bayi digendongnya menatap lekat kearahnya seolah penasaran juga dengan lanjutan kalimat yang akan ia ucapkan, begitu pula dengan Kendy.


"Apa tuh?" karena tak tahan dengan rasa penasaran yang menyeruak ia memilih bertanya.


"Rasa Cinta," ucapnya, dengan mata menatap berbinar memvisualisasikan seseorang yang amat dicintai dan dikaguminya.


Kendy pun tergelak melihat ekspresi Mila, kenapa ada cewek seperti Mila, pikir Kendy. Yang begitu santainya membicarakan tentang cinta dengan lawan jenis. Biasanya gadis lain jaim takut dikira mengkode si cowok. Ia gemas dengan tingkah Mila. Ia langsung bangkit dan membungkuk lalu ia mengacak rambut Mila.


"Hahahaha ... bisanya lo bilang orang yang nikah itu sama rasa cintanya," cibirnya.


"Iya deh, iya. Tapi Mil lo punya cowo?" tanya Kendy, ia kembali pada posisi awalnya dan ia menebak pasti Mila menjawab tidak punya.


"Punya," jawabnya tentu saja membuat Kendy terkejut, bagaimana bisa Mila yang sepolos ini punya cowo. Ya, Mila memang terkesan polos namun sikap dewasanya menyembunyikan sikap polosnya.


"Duh Mil, semoga aja cowo lo itu beneran baik dah. Lo tau sendirilah cowo jaman sekarang," ucapan doa dan sedikit peringatan ia berikan. Yah, walau terkesan seperti menakuti Mila. Entah kenapa ucapan itu bisa keluar dari mulutnya intinya ia hanya berharap cowonya Mila, adalah lelaki yang baik. Bukan sepertinya, tahu sendirilah ia seperti apa.


"Aamiiin ... " eh, eh malah di aamiiinin 'kan ga asik. Daripada terus mendengar Mila yang nantinya membahas tentang kekasihnya lebih baik dialihkan kepembicaraan lain.


"Mil habis ini mau ngapain?" tampak Mila seperti berpikir, kemudian mata bulat Mila menatap kearah gendongannya, bayi mungil itu anteng menyesap ibu jarinya.

__ADS_1


"Gimana kalo jalan-jalan?" usulnya, menikmati jam-jam terakhir dihari liburnya karena besok ia harus berkutik dengan padatnya pekerjaan parttime nya. Dan siapa tahu bayi ini juga butuh refreshing kan? tepatnya bukan hanya refreshing. Membawa bayi jalan-jalan memberikannya kesempatan untuk menghirup udara segar selain itu mengenalkannya pada lingkungan sekitar. Tapi perlu digaris bawahi untuk memberikannya udara yang segar ajaklah ketaman dan tempat yang dipastikan minim polusi.


"Oke deh, taman bermain disekitar komplek perumahan aja kali ya," ucap Kendy, tak mungkinkan membawa ketaman kota? terlebih lagi hanya ada motor dirumah sebab mobil dibawa Lasa dan Abi.


"Iya disekitar sini aja, udah sore juga," ujarnya membenarkan ajakan Kendy.


"Oke deh, ayo!"


.


.


.


.


Bersambung


Hmm gimana yah readers terzeyeng, ada kata-kata yang bilang ga usah jadi orang ga enakan karena apa? rasa ga enakan ituuu membunuh kita secara perlahan. Membuat kita ga bisa ngungkapin isi hati kita yang sebenarnya. Dan jadi orang ga enakan bikin orang jadi se-enaknya sama kita. Gimana true gak? Misal nih kita jadii gampang buat orang memanfaatkan kitaa.


Contoh yah :


"Min bantuin aku dong?" terus akuu mikir dong karena aku ga enak buat nolak yah akuu bantu deh. Padahal ada deadline tugas yang harus aku selesain. Kalo temen yang tahu diri mah dia ga bakalan lagi minta tolong. Tapi terkadang ga semuaaa temen baik gengs ada yang selalu manfaatin kita ..


Wewww nggak mau khaaan nah ituuu aja siiih hahahahaha ...


Sorry banget neh Othor kebanyakan BCT 😂😂 karena jadi orang ga enakkan ituu aseli ga enak banget cumpah✌🏼

__ADS_1


Ya udah, gimana puasanya lancaaaar?


SEMANGAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA 🥰😘🌦️


__ADS_2