Three Sweet Dads

Three Sweet Dads
Keranjang


__ADS_3

keyakinan yang begitu kuat perlahan memudar seiring berjalannya waktu serta usaha mereka untuk menemukan keranjang bayi, benda yang satu-satunya sebagai petunjuk identitas si bayi.


"Bi, bener disini kan lo nemuin tu bayi?" Tanya Lasa, yang kini bersimbah keringat membuat kaos oversize yang ia kenakan basah di bagian leher dan dada.


"Iya beneran Sa," jawab Abi, ia ingat betul malam itu ditempat ini ia menemukan bayi mungil itu.


Mereka terus mencari bahkan sekali-kali membuka semak, memasuki rindangnya pepohonan, dan berjalan hilir mudik beberapa meter dari tempat mereka berada tapi tetap tak menemukan apa-apa.


Saat ini Lasa dan Abi, mereka berdua berada ditengah-tengah, tempat mereka sebelum berpencar mencari keranjang itu. Lasa menghela napasnya, wajahnya kusut, lebih mengerikan dari wajah datarnya yang biasa ia tampakkan. Sedangkan Abi terdiam menyesali kelalaiannya. Kenapa malam itu tak membawa keranjang itu? kenapa terlalu terburu-buru? Ah, semuanya terlambat. Tak ada harapan bagi mereka bisa menemukan identitas si bayi. Sedangkan saat ini matahari tak lagi menguning, berubah menjingga tanda sebentar lagi datangnya petang.


"Kita terlambat dan akhirnya ga nemuin bukti terakhir," ucap Abi, wajahnya menyiratkan kekecewaan.


"Kita pulang saja," ajak Lasa, walaupun feelingnya mengatakan tunggulah barang sedetik karena banyak hal yang menakjubkan terjadi hanya dalam waktu satu detik namun, ia menyangkalnya. Dan walau berat ia pun melangkahkan kakinya menuju sedannya dan diikuti Abi.


Keduanya memasang seatbelt, setelah terpasang keduanya terdiam. Lasa sebagai sopir pun tak berniat tuk melajukan sedannya. Keduanya menikmati semilir AC dan mengatur deru napas sembari tenggelam dengan pikiran masing-masing.


"Sa kayaknya kita gak bakalan bisa nemuin identitas si bayi," Abi bersuara, memecah kesunyian yang terjadi diantara mereka.


"Forever bahkan," sambungannya. Sekarang pikirannya berkelana jauh pada bayi mungil yang mereka titip kepada Mila. Kasihan sekali bukan? mungkin saking malunya kedua orangtuanya karena dosa membuat mereka membuang bayi tak berdosa hasil perbuatan mereka. Padahal mereka yang berbuat imbasnya pada bayi lemah, yang bahkan tuk mengusir nyamuk yang menyesap darahnya saja ia tak mampu. Miris sekali bukan?


"Hmm ... " hanya itu respon yang diberikan si pohon pinang. Sebagai worst response yang pernah ia dengar. Biasanya seburuk-burukmya respon yang Abi dengar adalah jawaban yes and okay namun sekarang berganti dengan deheman saja.


Sebenarnya Lasa juga kecewa namun ia tak seperti Abi yang bisa mengekspresikan wajah kecewanya. Lasa tetap pada wajah datarnya. Aneh bukan?


Lasa menegakkan duduknya, kemudian bersiap tuk menjalankan mobilnya. Namun ketukan di kaca pintu mobil mengurungkan niatnya. Abi yang sedikit menunduk ketika mendengar ketukan langsung menengok.

__ADS_1


"Astaghfirullah!!" pekiknya sambil mengelus dada, kaget? tentu saja kaget siapapun pasti akan kaget, karena rasanya tadi disepanjang jalan ketika mereka masuk ke dalam mobil tak ada seoarang pun. Tapi apa yang ia lihat kini seorang kakek dengan rambut gondrong tanpa baju, di wajahnya terdapat cemong hitam, sedang mengetuk pintu mobil. Auranya memang menakutkan, namun lihat di tangannya. Tangan itu memegang apa yang mereka cari. Pucuk dicinta ulam pun tiba!


"Sa, lihat tangannya," Lasa yang memang tak pernah peduli, tadinya hanya melihat sekilas kepada orang yang mengetuk kaca mobilnya lalu lanjut menekuni ponselnya. Berbeda dengan Abi yang bahkan sampai terkejut saking memperhatikan tampang sang pengetuk pintu. Lasa pun melihat kearah tangan kakek tua itu. Dan ternyata apa yang mereka cari telah datang didepan mata.


"Ayo kita minta!" langsung melepas seatbelt yang memeluknya dan keluar dari mobil.


Membuat Abi mencibir, "Dasar pohon pinang," ia kesal, sebenarnya ia memahami sifat Lasa. Tapi terkadang kata kesabaran itu ada batasnya ibenar adanya. Lihatlah dari kekesalannya yang meninggalkan warna merah diwajah putihnya.


Abi pun keluar mengikuti Lasa dengan wajah sebal dan


DOR!


Ingin rasanya ia tertawa melihat keadaan Lasa saat ini.


"Anakku, uuuu anakku," ucap kakek tua itu sambil memeluk Lasa. Kakek tua itu terlihat sangat senang sekali, terbukti dengan tawanya yang menampakkan gigi hitam si kakek.


"Anaaakku ... " seru sang kakek, mengeratkan pelukannya ke tubuh tinggi Lasa. Lasa pun meronta-ronta agar bisa dilepaskan si kakek. Sungguh sial sekali nasib Lasa hari ini.


"Eh lo bantuin gue!" Seru Lasa pada Abi yang terbahak menertawakannya. Abi pun menghentikan tawanya. Dan mendekat kearah Lasa. Kemudian mengambil keranjang yang dilepaskan si kakek ketika merengkuh tubuh Lasa.


"Bentar, gue taruh ini dulu," ucap Abi dan langsung menaruh keranjang bayi yang masih lengkap dengan kain-kain yang ia lihat tadi malam. Meninggalkan Lasa yang terus meronta, bayangkan saja wajah datarnya saat ini.


Setelah selesai meletakkan keranjang tadi di bagasi, Abi melangkahkan kakinya ketempat dimana Lasa dipeluk habis-habisan oleh si kakek. Setelah sampai ia pun berdiri didekat mereka, "Ini nih hukuman lo," cetus Abi.


Lasa medengkus sebal, matanya menatap tajam kearah Abi. Jelas ia tak terima dengan ucapan Abi. Hukuman? memang ia salah apa? perasaan ia tak ada salah? pertanyaan menguar di benaknya.

__ADS_1


Abi mendekat dan menepuk pundak sang kakek, sehingga fokusnya kini beralih pada Abi, yang otomatis kekuatan ditangan yang ia gunakan tuk memeluk Lasa mengendur. Disaat inilah waktu yang tepat bagi Lasa tuk melarikan diri. Dengan cepat ia menepis kedua tangan kakek itu dan langsung berlari memasuki mobil. Abi pun tak ingin menjadi korban selanjutnya, selepas Lasa menepis tangan si kakek otomatis kakek itu menoleh ke arah Lasa dan disaat itulah menjadi waktu yang tepat juga bagi Abi tuk berlari masuk ke dalam mobil. Setelah Keduanya masuk, Lasa pun langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan kakek gila itu yang berdiri seolah mengucapkan salam perpisahan kepada dua orang pemuda yang mencuri hasil temuannya.


"Memang bener bener dah tu kakek," keluh Abi.


"Lo harus bersyukur tadi tu gue mau nolongin lo," sambungnya. Tentu saja mengundang decihan serta masamnya wajah Lasa. Iya ditolongin tapi harus dengan meminta dulu, seharusnya Abi mengerti untuk melepaskannya dari jeratan sang kakek tadi.


Masih memandangi deretan pohonan dan melewati pemakaman keduanya terdiam, pikiran mereka entah melayang kemana. Namun, sekelabat pikiran mereka terhenti ketika melihat sebelah ruas jalan terparkir mobil polisi serta ambulan polisi. Banyak warga yang tampak ingin tahu dengan apa yang terjadi. Bahkan salah seorang warga rela menjadi pengatur jalan, agar lalu lintas tetap berjalan seperti sedia kala.


"Oke, oke maju ... yaa," tangan warga itu mempersilahkan truk didepan mereka untuk maju namun baru sedikit maju malah diberhentikan kembali. Abi yang penasaran dengan apa yang terjadi membuka kaca mobil, "Bang ada kejadian apa ya bang kalo boleh tau?!"


"Ouh, polisi lagi olah TKP mas, tapi warga-warga pada kepo makanya jalan jadi nggak teratur kayak gini, sama ada pohon tumbang juga ," jelas bapak-bapak berkumis dengan perut buncit.


"Oh gitu ya bang makasih," Abi langsung menutup kaca mobil. Ia sama sekali tidak ingin tahu dengan apa yang terjadi, yang ia inginkan hanya segera pulang ke rumah.Begitu pula dengan Lasa yang wajahnya semakin masam saja.


Dua menit kemudian giliran mobil mereka yang disuruh maju. Dan akhirnya Abi dan Lasa bisa bernapas lega. Tujuan sedan itu kali ini adalah pulang meninggalkan daerah kawasan pemakaman yang mungkin tak akan pernah mereka datangi lagi. Kecuali takdir yang menggiring mereka kembali ketempat itu.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Lanjut?😆


__ADS_2