
Sekitar jam 7 malam Abi dan Lasa datang, namun keduanya tampak terkejut. Didepan rumah mereka beberapa warga datang. Salah satunya pak Gunawan ketua RT. Kenapa? Ada apa? berbagai pertanyaan berterbangan di kepala keduanya. Sudah lama mereka tinggal disana namun, kejadian kali ini baru pertama kali yang terjadi.
Abi dan Lasa keluar dari mobil kemudian mengamati gerombolan warga. Teriakan sang propokator terdengar ditelinga mereka. Entah apa titik duduk permasalahannya, sungguh keduanya tak tahu. Saat ini mereka hanya bisa menduga-duga.
"Pak Gun! saya harap bapak bisa bertindak tegas sama dua orang ini!" seru wanita itu sambil menunjuk kearah Mila dan Kendy.
Abi dan Lasa berpandangan kemudian membelah gerombolan beberapa warga,
"Mohon maaf ada apa ya ini?" Abi yang tak tahu duduk permasalahan ingin tahu. Matanya menatap heran pada wanita propokator itu.
"Pak ini hanya salah paham."
"Mending masuk dulu kita bicarakan baik-baik," ujar Kendy.
Kemudian ia melirik tajam sang propokator. Ya, Fany mantannya sendiri. Entah dendam atau apa wanita didepannya meledak-ledak tidak jelas seperti itu. Intinya dia tidak suka karena Mila terkena imbas dari kemarahan Fany. Betapa kurang didikan mulut Fany mengatai Mila yang berbudi luhur sebagai wanita tak benar.
Sementara Abi masih dengan kebingungannya hanya ternganga. Pertanyaannya tak digubris siapapun. Menyesal sekali ia sudah bertanya. Walaupun ia sudah mulai sedikit mengerti karena mendengar ucapan Kendy. Sedangkan saat ini Lasa dengan santainya mengulurkan tangan hendak mengambil bayi di gendongan Mila.
"Mil!" serunya
Mila yang saat itu terdiam karena memikirkan hinaan yang dikeluarkan dari mulut tak berakhlak Fany menoleh kearah Lasa. Awalnya ia tak mengerti karena Lasa hanya memanggilnya namun, ia mengerti setelah Lasa berdecak kesal dan sorot matanya menajam. Ia memberikan bayi itu. Kemudian Lasa masuk kedalam rumah meninggalkan hingar bingar yang tak ia sukai.
Segerombolan warga itu melongo saja melihat Lasa, kemudian perhatian mereka teralihkan kepada empat orang yaitu Fany, Mila, Kendy dan Pak Gun.
"Kenapa Mbak Fany menuduh mereka berdua kumpul kebo? apakah mbak punya bukti?" tanya pak Gun.
"Buktinya ya bayi tadi lah pak, saya juga pernah melihat mereka tengah malam boncengan, dan hari ini mereka berduaan dalam rumah pak," ucapnya Fany, jujur saja ia menahan gugup setengah mati.
Kendy terus menatap tajam Fany, sungguh ia menyesal pernah punya hubungan dengan wanita macam Fany, wanita yang kolot. Lihat saja tanpa berpikir panjang, ia membawa pak RT serta beberapa warga. Heran, apakah ia tak mempunyai rasa malu nantinya jika apa yang ia lakukan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri? pikir Kendy. Ia yakin sekali apa yang dilakukan Fany bukan semata-mata untuk kemaslahatan tapi untuk dirinya sendiri. Sungguh bo doh sekali Fany ini.
"Begini pak Gun, bayi itu keponakan saya pak. Saya sama sekali tidak berduaan pak. Karena kami berempat ada Bu Ratih, Yuyun, saya sama Mila," jelasnya mencampurkan kebenaran dan kebohongan. Kebenaran karena mereka memang tak berduaan, kebohongan karena ia mengatakan bahwa bayi itu adalah keponakannya.
"Bapak masuk saja kalau tak percaya," sambungnya, menatap pak Gun yang tampak berpikir. Ia pasti menang pikirnya, karena apa? karena mereka bersikap tenang sedangkan Fany? Saat ini ia merasa seperti diatas awan.
Fany menelan ludahnya susah, kali ini ia tak lagi diliputi amarah. Sekarang ia tersadar bahwa ia sedang menyeret dirinya sendiri ke tepi jurang, mempermalukan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Huuu ... udah balek balek!"
"Kesalahpahaman ini!"
"Makanya mbak jangan asal nuduh! cuh"
Puas berteriak warga-warga yang tadi bergerombol satu-persatu meninggalkan mereka. Menyisakan Pak Gun, Abi, Kendy Mila serta Fany yang menahan malu.
"Baik, saya nyatakan ini kesalahpahaman semata. Fany lain kali hati-hati dalam berbicara minta maaflah pada Mila. Dan Kendy serta kawan-kawannya kami mohon maaf atas ketidak nyamanannya,"
"Saya terkejut ketika melihat ada bayi bersama Mila. Karena yang saya tahu, tak ada warga yang melahirkan akhir-akhir ini,"
"Dan ternyata itu adalah keponakan kamu, syukurlah," ucap pak Gun dengan tersenyum kemudian menepuk pundaknya.
Kendy hanya tersenyum kikuk membalas senyuman pak Gun. Bagaimanapun ia telah berbohong pada pak Gun. Tak ada yang bisa dibenarkan dalam kebohongannya. Andai saja saat ini ia memakai poligraf (alat pendeteksi kebohongan) pasti akan terlihat reaksi tubuhnya ketika berbohong.
"Baiklah saya pamit dulu, jangan lupa Fany minta maaf sama Mila, Assalamualaikum"
"Wa'alaykummussalam,"
"Mau kemana Lo?"
"Minta maaf dulu!" ujar Abi.
Fany mendengkus sebal dan menepis kasar tangan Abi, "Gue gak mau minta maaf sama cewek murahan kayak dia!" sembari menunjuk Mila yang hanya diam sedari tadi.
"Astaga lo keterlaluan Fan! kita berdua yang punya masalah kenapa lo bawa-bawa dia!" Bentak Kendy karena mendengar Fany yang tak kunjung berdamai dengan keadaan.
"Lagian yah yang ngemis-ngemis mau jadian sama gue itu siapa? Lo kan! ya ... wajar lah kalo gue bosen ama lu gue putusin!"
"Gila bener lu pake cara ginian mau balas dendam ke gue! ngehina dia lagi!" kali ini amarah Kendy membuncah. Apalagi ketika ia mengingat hinaan yang Fany berikan kepada Mila dan ia tadi.
"Udah bro, udah,"
"Udah Fan pulang sono!" usir Abi ia masih merangkul pundak Kendy. Fany langsung pergi sebelumnya ia melirik tajam Kendy serta Mila.
__ADS_1
"Gue penasaran separah apa dia ngehina lu pada sebelum gue sama Lasa datang."
"Sampe lu marah gini," ucapnya.
"Gue sih nggak masalah kalo gue yang dihina, kalo Mila gue gak terima!" ucapnya entah kenapa ketika Mila yang dihina hatinya sungguh tak terima dan anehnya ada perasaan aneh yang ia rasakan. Entah perasaan apakah itu. Kemudian ia menarik pelan tangan Mila meninggalkan Abi.
Kini tersisa Abi seorang, "Alah ditinggalin gue," keluhnya.
(Can I) call you my own, and can I call you my lover
Call you my one and only girl
(Can I) call you my everything, call you my baby
(Jeff Bernat, call you mine)
Ponselnya berbunyi, seketika senyum mengembang diwajahnya.
"Halo Ay ... " kemudian perlahan ia melangkahkan kakinya memasuki rumah. Menyisakan temaram sinar rembulan, lampu jalan dan rumah-rumah yang berderet.
.
.
.
.
Bersambung
poligraf : Alat pendeteksi kebohongan. Biasanya digunakan di pengadilan untuk mengetahui si terdakwa bersalah atau tidak.
Uji kebohongan mendeteksi adanya kebohongan dari sistem gelombang. bila seseorang bohong maka gelombang akan bergetar cepat. Sebaliknya jika seseorang jujur, maka gelombang tidak bergetar dengan cepat dan tidak terdeteksi oleh uji kebohongan.
(Wikipedia.org)
__ADS_1