
Kendy membeku, tak berniat untuk melihat kebelakang. Tepukan di pundak memaksanya untuk menoleh. Ia memutar kepalanya, tubuhnya pun berbalik mengikuti gerakan kepalanya. Dan betapa terkejutnya ia, ketika melihat siapa yang mendatanginya. Seorang lelaki yang lebih muda dari ayahnya. Lelaki yang dikenal sebagai tangan kanan sang ayah, paman Dery.
"Sudah lama sekali nak," Paman Dery tersenyum hingga kerutan di bagian matanya semakin tampak. Lelaki didepannya ini memang memperlakukannya dengan sangat lembut berbeda dengan sang ayah yang terkesan kasar dan memandangnya sebelah mata.
"Kenapa paman bisa tahu saya ada disini?" Wajah Kendy datar, seperti tak merasa senang atau bahagia karena kedatangan sang paman. Padahal didalam hatinya ia begitu merindukan lelaki didepannya itu.
Diatas gedung pencakar langit yang tinggi keduanya saling berhadap-hadapan. Paman Dery menatap lekat kedalam mata Kendy. Mata itu menyiratkan kemarahan, kesedihan, kerinduan yang bercampur menjadi satu. Melihat keadaan Kendy yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri membuatnya dadanya sesak.
Lelaki itu mendekat, kedua tangannya hendak meraih kedua lengan Kendy namun Kendy segera menjauh. "Kau tidak merindukan pamanmu ini nak, kau tidak merindukan ayahmu? Pulanglah nak" Paman Dery menghiba.
"Tidak paman aku sama sekali tidak merindukan kalian, bagiku kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi denganku. Semenjak kejadian itu aku tidak akan pernah kembali kerumah itu!" Suaranya meninggi, matanya memerah. Ia murka setelah apa yang mereka semua lakukan kepadanya mereka menyuruhnya untuk pulang? Tidak akan! itu tidak akan pernah terjadi.
Bentakan itu membuat paman Dery teramat sedih, wajahnya berubah sendu, matanya berkaca-kaca. Hatinya bergemuruh menyesakkan. Ternyata pemuda didepannya ini belum memaafkannnya dan juga sang ayah.
"Apa yang harus kami lakukan agar kamu memaafkan kami nak?"
"Tidak ada yang perlu dilakukan. Berhentilah mengikutiku, berhentilah menyuruhku untuk pulang, berhentilah! aku tidak suka semua itu. Aku tahu semua itu kebohongan. Pergilah Paman!" Jelas Kendy tegas. Emosinya tak terbendung lagi.
"Baiklah paman akan pergi, Sekali lagi maafkan kami." Kemudian dengan kepala yang menunduk lelaki itu berbalik, melangkah meninggalkan Kendy.
Kendy menatap punggung yang menjauh, setetes air mata jatuh dari matanya. Mengalir dipipinya. Kerinduannya sangat besar namun tak sebesar rasa sakit yang ia rasakan. Untuk saat ini ia belum bisa memaafkan mereka.
****
Dirumah Mila, Inara dan Abi bertelungkup berhadapan-hadapan dengan bertopang dagu. Salah satu tangan Inara memegang dot bayi. Ditengah-tengah wajah mereka berbaring bayi mungil yang kemarin mereka temukan. Saat ini mereka berada diatas ranjang bercover bad warna peach milik Mila.
"Ay, dia manis ya..." Puji Abi.
"Iya, kenapa orang tuanya tega membuang anak semanis dan semungil ini," tangannya ia letakkan diperut bayi karena begitu gemas.
"Hihi... perutnya hanya sebesar ini," imbuh Inara, kemudian Ia mengangkat tangannya, wajahnya begitu sumringah. Membuat Abi gemas. Abi mengangkat tangannya dan melayangkan tangannya mencubit pipi Inara yang menggembung akibat tersenyum.
__ADS_1
"Kak...!" Cetus Inara. Wajahnya berubah menjadi masam.
"Syut, jangan ribut!" menggunankan matanya ia memberitahu bahwa bayi yang saat ini sedang menghisap susunya mulai terpejam. Seketika Inara langsung menutup mulut. Wajah masamnya berubah.
Setelah beberapa menit bayi itu akhirnya tertidur. Perlahan Inara melepaskan dot yang masih menempel di mulut bayi itu. Setelah terlepas ia menaruh dot itu diatas nakas.
Abi dan Inara saling berpandangan, dengan perlahan keduanya mulai bangkit. Setelah mereka berdiri dengan sempurna Abi dan Inara bergandengan keluar dari kamar itu.
Ketika mereka keluar mereka berpapasan dengan bu Ranti, Ibu Mila.
"Eh, ada mas Abi sama... " bu Ranti menjatuhkan pandangannya pada Inara. Bu Ranti memang baru melihat Inara karena malam ketika Inara bersama Mila, ibunya sudah tidur dan Inara bangun agak siang sehingga tidak bertemu dengan bu Ranti.
"Ah, ini Inara bu pacar saya," Abi memperkenalkan Inara karena sepertinya bu Ranti tidak mengenal Inara.
"Saya Inara bu," Inara tersenyum dan hendak mengambil tangan bu Ranti namun ia urung karena melihat bu Ranti memegang kresek yang berisi sayuran. Mungkin perempuan didepannya ini habis berbelanja dipasar, pikir Inara.
"Tidak apa, nggak usah salim toh nak. Kenalin nama ibu, Ranti," Ucap Bu Ranti memperkenalkan diri.
Bu Ranti menolak, tidak etis rasanya tamu membantunya. Ia menjauhkan kresek yang hendak Inara ambil, "Nggak usah nak, gak papa biar ibu saja,"
Abi yang melihat kedua wanita yang tidak mau kalah itu langsung mengambil semua belanjaan bu Ranti "Ya sudah, biar saya saja," kemudian Abi melenggang pergi menuju dapur.
Bu Ranti dan Inara berpandangan, kemudian tersenyum. Bu Ranti mengajak Inara keruang tengah untuk berbincang.
"Gimana kok kalian bisa bawa bayi yang gak kalian kenal itu nak?" tanya bu Ranti menyelidik. Raut wajahnya terlihat begitu penasaran.
"Kami menemukannya kemarin malam bu sekitar jam setengah sebelas malam di dekat kawasan pemakaman. Sepertinya bayi itu dibuang bu, karena kami tidak tega kami membawanya pulang," jelas Inara. Wajahnya sendu ketika menceritakan hal itu, membuat bu Ranti merasa tidak enak.
Ketika mengingat nasib bayi mungil berpipi chubby yang merah itu membuat Inara bersedih. Ia seperti mengingat dirinya sendiri, yang bernasib sama dengan bayi itu.
"Kamu kenapa nak?" rasa penasaran yang meronta itulah membuat bu Ranti bertanya.
__ADS_1
"Emm...nggak apa bu, saya hanya mengingat bayi mungil itu mirip seperti saya. Tak diharapkan dan dibuang," Inara menghela napas.
Bu Ranti merasa kasihan dengan Inara. Ia mendekat dan mengelus punggung Inara.
"Jadi, sekarang kamu tinggal bersama siapa?"
"Hmm... saya tinggal bersama ibu angkat saya," Ucapnya, kali ini wajah sendunya sudah tak terlihat.
"Eh, kok saya malah cerita ke ibu sih ya... kan jadi malu," sambungannya. Ia pun tersenyum malu.
"Ah, tidak apa-apa anggap saja saya seperti ibumu sendiri oke?"
"Oke bu," Bu Ranti tersenyum melihat Inara.
****
Lasa memandang mesin cuci yang akan libur hari jnj, karena Lasa akan membawa pakaian ke laundry, tapi fokusnya kali ini beralih kearah keranjang. Baju-baju menumpuk di tiga keranjang, eh empat keranjang. Tapi kenapa bisa bertambah? Lasa mengernyit, alisnya bertaut. Kemudian ia teringat anggotanya ternyata bertambah satu. Bayi mungil itu menjadi bagian dari Lasa and the genk.
Tapi saat ini ia sangat kesal dengan kedua sahabatnya. Yang satunya asik berpacaran dan yang satunya marah gak jelas. Lasa menghela napasnya, sepertinya lencana peri kebersihan akan disematkan kepadanya untuk minggu ini.
Lasa mengambil kantung laundry. Satu persatu, baju ia masukkan dimulai dari keranjang Kendy. Setelah selesai, ia beralih ke keranjang Abi, dan keranjang selanjutnya. Hingga ke keranjang terakhir, keranjang yang hanya berisi beberapa kain bayi serta sarung tangan dan kaki bayi. Ia membuka lembaran kain yang terlipat itu. Dengan cermat ia mengamati kain itu dan betapa terkejutnya ia ketika melihat noda berwarna merah namun mulai berubah warna kecoklatan. Mata Lasa membola, noda apakah ini? jika ini darah, tapi darah siapakah? pikir Lasa. Jantung berdetak dengan cepat, ia khawatir jika terjadi sesuatu pada bayi mungil yang berhasil menghangatkan relung hatinya.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1