
Kilas balik on
Setelah keduanya puas berjalan-jalan ditaman dan bermain-main dengan bayi berpipi chubby itu. Eh ralat, hanya Mila yang menikmati kebersamaan bersama bayi mungil itu sedang, Kendy hanya memperhatikan keduanya. Namun ada perasaan yang menggelitik di relung Kendy. Perasaan yang membuatnya lupa akan masa lalu yang menyakitkan. Perasaan yang membuatnya bahagia. Tapi, tetap saja ia berpura-pura tak menyukai bayi itu.
"Ayo pulang sudah hampir petang!" ajaknya pada Mila yang duduk diayunan dengan bayi mungil itu dipangkuannya. Sejak tadi Mila berbicara dengan bayi itu. Yah respon bayi itu terkadang tersenyum lebar bahkan kaki mungil itu turun naik karena Mila mendirikannya diatas pangkuannya dengan Mila memegang badan bayi itu. Terkadang Kendy meragukan bahwa usia bayi itu dua bulan, hmm ... mungkin tiga bulan pikirnya lagi.
"Tuh Daddy suruh pulang," ucap Mila membuat mata Kendy melotot. Tapi Mila acuh dan menggendong bayi itu kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Kendy yang duduk dikursi taman.
"Tunggu bentar yah, dad Endy! Mas mana strollernya?" tanya Mila.
"Nih Mil." Kemudian ia mendekatkan stroller bayi bekas Yuyun adiknya Mila. Kemudian Mila meletakkan bayi itu.
"Nah, sekarang dad Endy deh yang dorong," ujar Mila kemudian mengarahkan dorongan stroller itu kepada Kendy.
Dengan malas Kendy mengambil dan mulai mendorong, melangkahkan kaki. Sedang Mila hanya tersenyum melihat ekspresi Kendy kemudian mengikuti langkah Kendy. Keduanya tak sadar bahwa seseorang sedang memperhatikan mereka dan menebar berita tak benar tentang mereka.
_____
Tepat jam 6 mereka sampai dirumah Mila. Kendy mengarahkan stroller itu kearah Mila. Kemudian Mila mengambil bayi mungil itu dan membawanya kedalam rumah sedang Kendy meletakkan stroller itu pada tempatnya. Setelah itu ia masuk kedalam rumah. Namun, ketukan di daun pintu rumah Mila membuatnya menghentikan langkahnya. Siapakah yang bertamu menjelang petang seperti ini? keluhnya dalam hati. Mengganggu saja, pikirnya. Apakah orang itu tidak berpikir bahwa saat ini orang-orang bersiap untuk beribadah atau beristirahat? hah ... ia menghembuskan napasnya kasar.
Dibukanya pintu dan betapa terkejutnya ia mendapati beberapa warga, pak RT, dan Fany.
"Nah pak, bener 'kan kata saya!" Seru Fany, orang-orang menatapnya seperti hmm ... menatap hal yang menjijikkan mungkin serta kilat kemarahan terlihat dari warga. Tapi berbeda dengan pak Gun, wajahnya seperti orang yang berpikir keras.
"Ada apa ini pak?" tanya Kendy, tentu saja ia merasa kebingungan alisnya bertaut.
"Pak kita bicarakan diluar saja, jangan dirumah ini!" Tanpa menunggu jawaban ia langsung melangkahkan kakinya keluar. Sungguh ia tak mau melibatkan Mila beserta bu Ratih.
Warga-warga itupun mengikutinya, beserta Fany dan pak RT.
____
Mila yang sedari tadi menunggu Kendy merasa heran karena Kendy tak menampakkan diri. Sedangkan saat ini ia harus mandi. Kan tidak mungkin ia meninggalkan bayi mungil ini sendirian tanpa ada yang menjaga. Mau minta tolong ibu sama Yuyun itu tidak mungkin karena saat ini keduanya siap-siap untuk sholat.
__ADS_1
"Dad kamu kemana yah?" tanyanya pada bayi mungil dipelukannya. Namun bayi itu bergeming dengan mulut yang manyun-manyun dengan liur yang keluaran. Membuat Mila gemas. Ia lap bibir bayi itu kemudian dikecupnya.
"Geumesnyaaa ... " gumamnya.
"Ayok kita cari dad dulu!"
Dengan menggendong bayi itu ia keluar mencari keberadaan Kendy. Dan yah, seperti biasa, ia terkejut bukan main melihat gerombolan warga sedang ditengah-tengah ada Kendy.
Ia pun melangkahkan kakinya mendekati gerombolan itu namun,
"pak jangan jangan dia itu wanita penghibur. mereka bertiga pak!"
"Astaga ja lang ini pak, si Mila,"
"Hidup boleh susah tapi kalau jual diri parah banget sih!!"
"Ini pak mereka berdua kumpul kebo! tuh lihat aja bayinya."
Wanita itu berteriak histeris, Mila terkejut namun tak ada rasa takut dihatinya. Untuk apa takut. Ia tak salah, lagi pula siapa yang akan mempercayai wanita yang berteriak-teriak seperti orang gila.
Ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kendy namun, ia bingung dengan apa yang terjadi. Ia hanya terdiam tenggelam dengan pikirannya.
Sedangkan Kendy disampingnya pun tampak santai seperti menunggu wanita itu puas menghujat, memfitnah memaki hingga,
"Pak Gun! saya harap bapak bertindak tegas sama orang dua ini!" teriak perempuan itu, bersamaan dengan sedan yang berhenti tepat didepan gerombolan itu.
Kilas balik off
Kendy terus menarik pelan tangan Mila. Membawanya kedepan Garasi, "Tunggu bentar disini Mil, gue ambil motor," ucapnya.
Mila tenggelam dengan pemikirannya, walaupun ia tak bersalah namun, ucapan Fany sedikit banyak mempengaruhi pikirannya.
"Pak jangan jangan dia itu wanita penghibur. mereka bertiga pak!"
__ADS_1
"Astaga ja lang ini pak, si Mila,"
"Hidup boleh susah tapi kalau jual diri parah banget sih!!"
"Ini pak mereka berdua kumpul kebo! tuh lihat aja bayinya."
Ah, ucapan Fany terus menggema di telinganya. Untung saja tadi pak Gun tak mudah mempercayai ucapan Fany. Lagi pula aneh sekali si Fany tiba-tiba bawa masa kerumah Kendy.
"Udah Mil ga usah dipikirin memang Fany tu dah Gila. Sini naik sini!" ajak kendy membuatnya langsung tersadar dari lamunannya.
"Mau kemana mas?" tanyanya heran.
"Kita baru aja loh mau di fitnah orang, masa iya malah mau jalan begini," sambungnya alisnya bertaut ia takut.
"Alah si Fany tu kolot banget dah, ga usah lo pikirin sini naik! kalau perlu kita izin dah sama pak Gun!" ucap Kendy santai membuat Mila membelalakkan matanya.
"Ya ampun mas baru kali ini deh aku denger mau jalan aja izin pak RT,"
"Ya dari pada nanti difitnah," jawab Kendy cepat.
"Buru dah," ajak Kendy tak sabaran.
Dengan perlahan Mila naik, ini kedua kalinya ia naik motor bersama Kendy. Jujur saja dari kejadian tadi membuatnya was-was. Ia takut apa yang tadi terjadi membawa gosip buruk mengenai dirinya. Dan yang terancam disini adalah pekerjaannya. Yah, itu pasti. Dari sini ia berpikir betapa kejamnya kabar burung yang beredar, kemudian menjadi kabar yang dipercaya dan dibenarkan. Lalu merugikan sebelah pihak.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1