Three Sweet Dads

Three Sweet Dads
"Seperti yang lo bilang, Tuhan milih kita,"


__ADS_3

"Kenapa Ay?" karena langkahnya jauh mendahului Inara ia pun berbalik, ia heran melihat Inara yang tiba-tiba saja terdiam. Abi memberengut, bagaimana bisa kekasihnya ini melamun memikirkan sesuatu padahal tadi dengan riangnya ia berjalan tanpa beban. Ia melangkahkan kakinya mendekati Inara.


"Ay, ada apa?" tanya Abi matanya mengelih dalam mata Inara.


"Tidak papa aku hanya teringat sesuatu, ayo kak," Ucapnya, kemudian berjalan mendahului Abi.


****


Sedan hitam itu membelah jalanan ibukota yang selalu padat akan kendaraan. Walaupun hari libur, tidak membuat orang-orang surut untuk melakukan aktivitas mereka. Hidup ini keras, maka diperlukan kerja keras agar bisa bertahan, lambat selangkah maka akan berakibat fatal. Mungkin itu yang menjadikan motivasi bagi orang-orang yang mereka lewati, bekerja keras tak kenal lelah.


Inara menatap keluar, ia melihat beberapa anak kecil berpakaian lusuh, kulit mereka terlihat kotor bahkan cemong diwajah entah mereka sadar atau tidak. Ada yang membawa koran, menjual tissue ada yang mengemis semua memiliki jenis job tersendiri. Kerasnya kehidupan berdampak bagi anak-anak malang itu. Entah mereka memiliki orang tua atau tidak siapa yang tahu?


Inara memandang kedepan. Kedua laki-laki didepannya ini tak ada yang memulai pembicaraan membuatnya bosan. Gadis yang biasanya kurang lebih mengeluarkan dua puluh ribu kata perhari itu terpaksa diam karena keadaan.


Jika Inara merasa bosan akan keadaan seperti ini, lain hal nya dengan Abi dan Lasa. Karena kemampuan mereka yang hanya mengeluarkan kurang lebih tujuh ribu kata perhari membuat mereka biasa saja.


Inara tak tahan dengan keadaan ini.


"Kak," serunya.


"Iya?" sontak keduanya menjawab, padahal dalam hati ia hanya memanggil Abi. Tapi tak apa karena keduanya sudah bersuara baiklah ia akan membuka topik pembahasan kali ini.


"Mengenai keranjang yang tadi malam kita temuin kak," ujarnya.

__ADS_1


"Iya ada apa dengan itu?" Abi menoleh kebelakang menatap sang kekasih sedang Lasa menajamkan pendengarannya.


"Entah kenapa feeling aku bayi itu sebenarnya nggak dibuang cuma terpaksa dibuang," Abi mengernyit heran mendengar ucapan sang kekasih, apa bedanya coba? kan sama saja, endingnya juga terbuang, pikirnya.


"Bedanya apa ya? hehehehe," kekehan garing terdengar menggema dalam mobil sedan itu.


"Gini kak, keranjang yang kita temuin kayak dipersiapkan gitu bahkan punya kelambu supaya bayi itu nggak kenyamukan. Terus kain tebal yang membalut bayi itu serta umur bayinya," paparan pernyataan Inara masih ambigu, harus disandingkan dulu dengan kejadian. Bagi yang tidak mempunyai otak diatas rata-rata atau kurang peka mungkin tak akan bisa menyandingkan fakta itu dengan beberapa kejadian yang mungkin terjadi sebelum pembuangan bayi itu.


Abi masih mencerna, namun membutuhkan waktu cukup lama. Berbeda dengan pohon pinang disampingnya yang kemungkinan sinyal otaknya telah beralih dari 4G menjadi 5G. Lasa mulai memahami namun matanya masih fokus kedepan.


"Ay aku perlu waktu buat mencerna ini," ucap Abi, tentu saja tak masalah bagi Inara. Berapa pun waktu yang diperlukan Abi itu tak masalah. Inara hanya ingin membantu mereka menemukan kedua orang tua bayi itu.


"Gue ngerti," cetus Lasa, ditengah-tengah.


"Kemungkinan orang tuanya sudah berusaha membesarkan bayi itu, buktinya bayi itu sudah berumur bukan bayi merah yang baru lahir. Entah apa alasan orang tua bayi itu, namun bila kita nemuin orang tua tu bayi, kita ngajuin buat adopsi aja bayinya," jelas Lasa, membuat Abi dan Inara tergemap. Jadi Lasa benar-benar tulus mau merawat bayi itu, tidak ada unsur paksaan? begitulah pertanyaan yang memenuhi ruang dikepala Abi dan Inara.


"Biasanya lo gak pedulian sama orang lain apalagi kayak hal yang jelas-jelas bukan tangung jawab lo. Tapi gue heran kenapa lo milih ngerawat bayi itu? bisa aja 'kan lo nyerahin kepolisi terus terjadilah kayak yang Lo bilang, bayi itu jadi milik negara," dalam argumen panjangnya terdapat pertanyaan yang harus dijawab Lasa. Inara juga dibuat penasaran dengan jawaban si pohon pinang sekaligus sahabat pacarnya ini.


Lasa masih setia dengan posisinya, bahkan matanya pun setia tak melirik ke arah Abi apalagi Inara yang dibelakangnya, "Seperti yang lo bilang Tuhan milih kita," hanya itu jawabannya dan itu cukup membuat Abi bungkam tak ingin bertanya lagi. Begitu pun dengan Inara.


"Tapi kita tetep nyari orang tuanya," tambahnya, kemudian berhenti karena lampu merah yang memaksa.


***

__ADS_1


Mobil Sedan hitam itu berhenti didepan rumah Inara. Rumah dengan pagar berwarna hitam itu tertutup, cat hitam pagar itu terkelupas disusul warna oranye kerena besi yang mulai berkarat. Seharusnya pagar itu rajin di cat dan jangan biarkan sampai berkarat.


Abi melepaskan seatbelt yang memeluk tubuhnya sepanjang perjalanan kemudian keluar dan membukakan Inara pintu. Lagi,lagi dan lagi hal itu disaksikan mata seorang jomblo siapa lagi jika bukan Lasa. Namun seperti biasa, ia bergeming tak mengganggu kebahagiaan orang lain. Karena ia meyakini setiap orang punya cara tersendiri agar bahagia, jadi tak perlu mengganggu kebahagiaan orang lain dengan mengejek, mendengkus, atau mengomentari hal-hal yang tidak perlu. Selagi dibatas aman cukup diam saja.


"Kak ayo masuk dulu," ucapnya, itu yang harus mereka lakukan bukan jika tidak habislah ia nanti jadi bahan ghibah emak-emak komplek perumahannya. Diantar dua pria dengan mobil sedan cukup menjadi bahan ghibah bahkan fitnah untuk emak-emak yang terkadang mempunyai mulut tak berakhlak mulia. Walaupun hanya sedikit saja golongan seperti itu, namun mereka terlalu pintar menyebarkan kabar burung sehingga banyak dipercayai orang. Mengingat betapa ngerinya hal itu membuat Inara begidik.


"Kak Lasa juga ikut," ajaknya, karena sepertinya Lasa tak tertarik untuk mampir. Hah, Begitulah Lasa. Entah apa yang membuatnya begitu acuh dengan banyak orang dan terkesan seperti tak mau ramah.


Lasa melepaskan seatbelt nya dan mengikuti Abi dan Inara. Inara memencet bel rumahnya dan tak seberapa wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu membuka pintu.


"Assalamualaikum bunda," Inara langsung mencium tangan ibu angkatnya. Bu Salma namanya.


"Assalamualaikum tante," disambung oleh Abi yang mencium takdzim punggung tangan wanita itu. Sedang Lasa bergeming tak berniat meneladani perilaku Abi. Sampai sikutan mengenai lengannya baru ia sadar dan melakukan hal yang sama.


"Wa'alaykummussalam anak-anak ibu datang," ucapnya wajahnya begitu berbinar senang melihat ada Abi dan ... ia mengernyit dan menatap Inara, baru kali ini ia melihat pemuda dengan mata agak sipit dengan tinggi badan yang lebih tinggi dari kekasih sang anak. Mungkin keturunan Chinese atau keturunan suku Dayak, tebaknya dalam hati.


Melihat sang bunda mengernyit ia pun mengenalkan Lasa, "Bunda ini kak Lasa dan kak Lasa ini bunda, Salma namanya," Keduanya pun saling melempar senyum. Bunda Salma yang senyum secerah matahari pagi sedang Lasa senyum yang terlihat dipaksakan dengan bibir yang tak tertarik dua senti.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2