Three Sweet Dads

Three Sweet Dads
I Can't


__ADS_3

"Gue ... " Lasa menatap Kendy yang duduk tanpa menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, dari bahasa tubuhnya terlihat jelas lelaki itu menunggu keputusan dari Lasa. Kemudian Lasa menghela napasnya pelan dengan mata yang menyendu, mata sipit yang biasa menatap tajam tak lagi terlihat. Sepertinya kali ini ia menyetujui apa yang Kendy sarankan.


"Gue ... gak bisa ikutin saran lo," ucapnya membuat Abi yang sedang berbaring pasrah disofa dengan kaki yang ia selonjorkan merasa senang akan keputusan Lasa kemudian ia tersenyum, bangkit dengan segera dan langsung duduk tegak. Sedang Kendy memijit tengah keningnya. bahunya turun, ia kecewa. Kurang apalagi ia menjelaskan? tanyanya pada dirinya sendiri. Okay, Kendy calm down.


"Sekarang gue mau tanya, lo mau apa?" Tetap dengan suara yang tak meninggi. Kali ini Kendy mencoba menyelami pemikiran sahabatnya.Ia akan membumbui pikirannya dengan perasaan direlung hatinya. Jujur saja ia pun pernah memaki orang tua si bayi yang tega itu.


"Gue tetep sama keputusan awal ngerawat bayi itu, memberi cinta dan kasih sayang," ujar Lasa pelan, sebenarnya Lasa heran sedari tadi rasanya banyak sekali berbicara, sungguh diluar kebiasaannya.


Kendy bergidik, ia geli mendengar Lasa menucapkan kata-kata manis seperti itu. 'memberi cinta dan kasih sayang?' heh darimana Lasa mendapatkan kosakata itu? Kendy menarik napas, manusia yang acuh tak acuh itu berkata ingin memberikan cinta dan kasih sayang? Kendy bermonolog dalam hatinya. Kendy tidak sadar, jika Lasa sebegitu tak pedulinya, mengapa ia bisa tinggal dirumah Lasa?


Kendy menarik napas kemudian membuangnya pelan, "Oke kita rawat bayi itu," ujarnya walaupun ia tak tahu bisa membantu atau tidak.


"Jadi bayi itu tanpa identitas nih? dan kita gak mau tau ni siapa orang tua bayi ini?" tanyanya.


Lasa tak berniat menjawab, kenapa harus bertanya hal yang sudah pasti jawabannya. Melihat Lasa yang tak berniat itu, Abi pun menjawab, "orang tua nya gak ngeharapin dia, ya udah kita ambil aja," ucapnya, membuat Kendy lagi,lagi dan lagi pasrah.


"Ayolah Sa, kok gue ngerasa kita ini egois banget kalau nggak ngelapor ke polisi," Kendy belum menyerah juga rupanya.


"Egois gimana sih maksudnya?" Abi menyela, dari tadi Kendy selalu mengatakan egois, egois dan egois.

__ADS_1


Kendy mengalihkan pandangannya pada Abi, "Kalo kita ngelapor polisi ada lah usaha kita buat nemuin orang tuanya, kalau gak di lapor ya kayak gak ada usaha gitu. Gue ngerasa kayak nyulik bayi, lo tau ... " Ya, Kendy berharap bayi itu bisa bertemu orang tuanya. Walaupun tidak diharapkan, setidaknya bayi itu mempunyai asal usul yang jelas.


"Kita yang bakalan jadi orang tua buat bayi itu, kita juga gak selamanya melajang 'kan? siapa yang duluan menikah maka dia yang bakalan ngadopsi si manis ... "


"Dan gue pastiin itu gak mungkin gue!" seru Kendy.


Abi hanya mengendikan bahu, sedang Lasa tak berniat untuk menimpali apa pun. Tapi ia ingin memperjelas sesuatu.


"Kendy sekali lagi maafin gue yang gak bisa ngikutin saran lo. Gue tau keputusan gue ini bakalan berat buat kita, tapi gue yakin kita pasti bisa hadapin ini semua. Kita juga bakalan cari tau asal usulnya bayi itu. Dan gue pikir kalau bayi ini kita serahin ke polisi baru kita mengadopsi itu susah, banyak persyaratan yang harus dipenuhi, terlebih lagii kita belum menikah dan ..." jelas Lasa.


Kendy benar-benar pasrah. Ya, mau tidak mau, suka tidak suka, ia berusaha menerima bayi itu. Lagi pula jarang sekali Lasa bersikap seperti saat ini. Ini pertama kalinya ia melihat Lasa bersikap hangat, Lasa yang cenderung tak bisa mengungkapkan isi hatinya kali ini lebih terbuka. Selama ini ia merasa Lasa menyimpan luka yang begitu dalam, tapi ia sama sekali tidak tahu masalah apa yang dialami sahabatnya itu. Apakah lukanya jauh lebih menyakitkan daripada ia dan Abi?


"Gak usah minta maaf Sa, karena apa? karena gue aja numpang sama lo hahahaha ... kalau Lo mau nambah personil kita, it's okay asal lo bahagia," ujarnya yang langsung mendapat cibiran dari Abi.


"Gue itu emosian, masa lo gak kenal sama sifat gue. Tapi beneran marahnya gue itu karena gue khawatir sama kedamaian rumah ini, ditambah gue gak suka bayi, ngerepotin," ucapnya.


"Kenapa gak suka?" Abi menatap manik hitam Kendy, wajar saja jika kebanyakan laki-laki tidak menyukai bayi, berbeda dengan perempuan yang suka dengan makhluk mungil dan manis itu.


"Ya 'kan tadi gue bilang ngerepotin," ucapnya, kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Lasa yang diam, memilih menjadi pendengar yang baik

__ADS_1


"oh gitu, tenang kita bareng-bareng ngerawat dia," Abi sama sekali tak menaruh curiga, jika alasannya hanya sekedar merepotkan itu bisa dimaklumi.


"Iya terserah, gue ngikut terus mau ngapain kita ini?" Kendy melihat jam yang melingkar ditanganya. Rupanya sudah setengah jam mereka berdiskusi. Saat ini sudah jam dua siang.


"Hmm ... ngambil si Manis?" saran Abi.


"Memang dia dimana?"


"Di rumah Mila," Jawab Lasa, sepertinya si pohon pinang sangat antusias sekali. Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar berwarna light sky blue miliknya dan meninggalkan kedua sahabatnya yang masih tercengang dengan tingkahnya.


Kendy dan Abi saling berpandangan, seolah berbicara lewat sorot mata. Abi menaikkan kedua alisnya tanda ia bertanya 'Ada apa dengan Lasa?' Kemudain Kendy mengangkat kedua bahunya tanda 'Ia tidak tahu,' Lalu keduanya bangkit dan menyusul Lasa.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


Wiiih, baru mulai gengs kehidupan menjadi seorang ayah. Gimana ya ... bisa gak? Kok author meragukan ketiganya 😬😳


__ADS_2