
**Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
Apa kabar Teman Readers semua?
semoga baik-baik saja yah
amiinn
Akhirnya kita jumpa lagi di novel terbaru author
sesuai janji author kali ini aku nulis cerita tema islami
mohon bantuan dari Teman Readers yah karena ini merupakan karangan perdana author bertema islami😁
Happy reading ❤️❤️**
“Saya terima nikah dan kawinnya Nazri Ahmadisyah binti Andauval Ahmadi dengan mahar 1 juta dolar dan seperangkat alat shalat dibayar tunai”
“SAHH!!!”
Terdengar sahutan semangat bersamaan dengan sorakan riah dan bunyi tepuk tangan nyaring memeriahkan ruangan yang semula sempat hening nan tegang.
Nazri menghela napas panjang begitu mendengar kata ‘Sah’ dari para pengunjung. Pagi ini kehidupannya telah berubah dari seorang gadis manja nan konyol menjadi istri seorang pengusaha.
“Selamat ya!” Nazri tak mampu menjawab. Ia hanya tersenyum getir sedikit mengangggukkan kepalanya.
Seluruh tubuh Nazri berkeringat bukan karena hawa ruangan yang panas, tetapi karena cemas, takut menghadapi pria di sampingnya ini yang sekarang berstatus menjadi suaminya.
__ADS_1
“Putri Mama yang baik, jadilah istri yang penurut serta berusahalah membahagiakan suamimu!”
Bahagia?
Bagaimana mungkin Nazri akan membahagiakan suaminya sementara ia juga tak tahu apakah ia bahagia mengingat dirinya menikah dalam keadaan mendadak serta sangat mengejutkan bagaikan mimpi buruk di siang bolong.
Nazri hanya diam memandang lurus wanita paruh baya dihadapannya ini yang memandang haru ke arahnya. Ia tak tahu harus menanggapinya bagaimana? Senangkah? Sedihkah?
Kedua orang tua Nazri terlihat bahagia dengan pernikahan ini begitu juga dengan ibu Mahmed. Ibu suaminya. Hanya dua orang yang tidak bahagia dengan pernikahan ini, yaitu dirinya dan Mahmed.
Nazri tak dapat menyembunyikan luka hatinya. Wajah yang tegang tanpa senyuman sedikitpun belum lagi air mata yang tak hentinya mengalir hampir membasahi sebagian kerudung putihnya, begitu kentara bahwa Nazri tak bahagia di hari pernikahannya.
Bagaimana mau bahagia?
Nazri dipaksa menikah ketika ia baru menginjakkan kaki di ibu kota indonesia ini setelah 5 tahun lamanya.
“Kau akan sangat bahagia menikah denganku, welcome to hell!” bisikan halus tapi menikam menerpa kasar gendang telinga Nazri hingga menembus ke seluruh organ tubuhnya membuat Nazri seketika menegang bagaikan patung usang. Tercampak naas tak terurus.
Nazri hanya diam menahan perih luka hatinya. Air matanya yang sedari tadi mengalir deras bagaikan induk sungai yang membasahi pemukiman warga. Berbagai perkiraan-perkiraan buruk sedari tadi menghantui pikirannya. Pria yang menjadi suaminya ini sama sekali tak menyukainya bahkan hanya kenal beberapa jam lalu pria itu telah memasang rantai permusuhan diantara mereka berdua.
Di dalam ruangan yang dihias se-elok mungkin, Nazri duduk di tengah ranjang yang dipadati oleh kepingan-kepingan kelopak mawar merah. Baunya terasa amat wangi hingga menembus paru-paru mengantarkan kesegaran, tapi tak hal itu semua tak memberikan keistimewaan apa pun bagi kedua pasang pengantin yang tengah sama-sama diam.
Nazri meremas kuat gaun pengantinnya tak berani menatap wajah pria yang duduk di depan dengan pandangannya yang khas. Dingin.
Tap... Tap...
Suara langkah kaki yang mendekat itu menimbulkan efek yang luar biasa bagi Nazri. Jantungnya berdetak berkali-kali lipat kala langkah itu semakin dekat dan berhenti tepat di hadapannya.
__ADS_1
"Kau salah besar telah menerima pernikahan ini."
Nazri menegang mendengar kalimat dingin Mahmed. Pria itu menusuknya dengan tatapannya nan tajam.
"Ingat! Sampai kapan pun kau tak memiliki tempat di hatiku, dan menikahi bak petaka besar untukku."
Tes
Bulir-bulir air bening itu setetes demi setetes mengalir membasahi pipi Nazri. Saksi bisu penderitaan gadis itu di malam ini.
"Secepatnya aku akan menyiarkan kau wanita bodoh!"
Setelah mengucapkan kalimat menyakitkan itu Mahmed keluar dari kamar pengantin dengan membanting pintu. Nazri menangis sesenggukan. Hal yang tak pernah ia bayangkan terjadi dan itu amat sakit.
Nazri sendiri. Sendiri di dalam kamar cantik ini tapi memberi luka nan amat perih. Ia tak menyesali pernikahan ini terjadi, tapi yang ia sesali sikap kasar Mahmed yang begitu membencinya tanpa alasan.
**Bersambung
Dimohon maaf kepada Teman Readers apabila merasa kecewa dan tidak puas dengan bagian bab 1 ini yang jumlah katanya sedikit.
untuk hari-hari berikutnya bab ini akan author revisi yang tentunya akan ada tambahan kata dalam bab ini. jadi Teman Readers tenang saja
mohon maaf dan mohon pengertiannya 🙏
mau ceritanya dilanjut?
ayo segera favoritkan. like, vote dan komen juga serta jangan pelit dengan hadiahnya.
__ADS_1
Ig: fitrihaida**