
**Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
Halo sahabat 🤗
apa kabar Teman Readers?
maaf author telat update, mohon pengertian kalian semua dan jangan lupa dukungannya.
sering-seringlah kasih semang sama author biar author semangat updatenya dan author minta maaf banget, nget. nget. Karena udah buat kalian nunggu.
Happy reading ❤️**
Keheningan terjadi di antara orang-orang dewasa itu memenuhi ruangan nan mencekam, membiarkan perasaan kalut menyelimuti pikiran mereka.
Nazri masih belum mau membuka mata membuat perasaan orang-orang yang menunggunya langsung cemas, padahal dokter telah memprediksi kesadaran Nazri dari beberapa jam lalu. Namun, sang empu masih setia di alam bawa sadarnya.
Marina dan Andauval duduk di sofa dengan tatapan hampa diikuti oleh Buyung dan Desti yang duduk dihadapan mereka, sementara Ayyut tak beranjak dari tempat favoritnya di mana ia selalu duduk di samping Nazri. Mengharap kakak terkasihnya segera sadarkan diri.
"Nazri" lirih Ayyut sangat pelan sekali. Hatinya begitu hancur melihat wajah pucat Nazri yang masih belum sadarkan diri.
Air mata tak hentinya mengalir membasahi wajah tampan Ayyut yang memerah. Sesekali ia mengusap kening Nazri agar gadis itu segera membuka mata.
Sedih di hati Ayyut tak terkira sakitnya. Tak pernah-pernahnya ia serapuh ini, dengan perasaan yang campur aduk Ayyut menenggelamkan wajahnya di perut Nazri. Ia menangis dalam diam tapi dengan sekuat mungkin ia menahan isakannya untuk tidak keluar.
"Ku mohon sadarlah Nazri," lirih Ayyut dengan suara bergetar. Ia mendongak kembali menatap wajah pucat Nazri dan dengan perasaan kompleks ia tersenyum melihat Nazri mengerjap-kan mata.
"Nazri" gumam Ayyut semangat. Ia menyentuh punggung tangan Nazri agar ia tak kehilangan kesadarannya lagi.
Nazri membuka mata lebih lebar lagi, menatap wajah sumringah Ayyut dalam diam. Ia ingin membalas senyuman Ayu tapi seketika ia memucat. Bibirnya tak bisa diangkat.
"Nazri tenanglah! Kau baru sadar," nasehat Ayyut menyadari kecemasan Nazri dari tatapan mata kakaknya.
__ADS_1
Mendengar suara Ayyut yang mengatakan Nazri sudah sadar, semua orang langsung bangkit menghampiri Nazri di bangsal, mengurumi kedua insan itu dengan perasaan lega.
"Putriku" lirih Marina pilu sembari mengusap air matanya yang terus mengalir.
Nazri menatap wajah orang-orang dihadapannya dengan perasaan hancur. Ia tak bisa tersenyum, tak bisa menggerakkan bibirnya yang keluh hanya untuk menyapa saja. Bahkan seluruh tubuh Nazri seakan mati. Ia lumpuh, yah Nazri tahu itu.
"Maafkan Papa nak, karena Papa kamu begini," tangis Andauval pecah. Untuk kali pertama seorang Andauval mengeluarkan air mata dihadapan anak-anaknya.
"Harusnya Papa tidak membiarkan kamu menikah dengan Mahmed," tambah Andauval lagi dengan bersimbah air mata. Ia memeluk tubuh kaku Nazri dengan perasaan hancur. Putrinya itu terlihat diam saja ditemani air mata yang terus mengalir deras.
"Papa, Maa. Ku mohon kalian semua jangan menangis?!" Ingin sekali Nazri meluruskan kalimat itu, tapi sayangnya ia tak berdaya.
"Kau tak pantas mendapat keadaan miris seperti ini Nazri, Papa menyesal memaksa kamu menikah demi menyelamatkan harga diri keluarga."
"Pa? Jangan begini! Nazri pasti semakin sedih melihat Papa begini," peringat Marina pilu. Ia memegang bahu suaminya dengan perasaan hancur.
Andauval mendongak, menatap wajah istri dan putrinya secara bergantian, " Maafkan Papa," lirih Andauval lagi. Ia mengecup kening Nazri dengan hati yang terluka dan setelah itu ia langsung keluar tak berani menatap wajah lemah putrinya yang semakin membuatnya merasa bersalah dan hancur.
Kepergian Andauval sontak membuat seluruh mata tertuju menatap sosok pria gagah yang biasanya terlihat tegas berwibawa, kini rapuh tak berdaya menghadapi kenyataan pahit nan menyakitkan melihat putri yang dikasihinya cacat dalam waktu sekejap.
Buyung dan Desti memtung di tempat, menatap keadaan miris Nazri dengan perasaan hancur. Kemalangan yang menimpa Nazri memberi luka pada orang sekitar. Semua orang hanya bisa diam dengan perasaan yang campur aduk, tangisan pilu diiringi isakan yang tertahankan melengkapi ruangan yang serba putih itu.
Ayyut menatap sendu wajah pucat Nazri, ia mengusap air mata Nazri yang terus mengalir bagaikan induk sungai yang membasahi pemukiman warga. Sungguh, sangat hancur hatinya melihat nasib buruk yang menimpa kakaknya.
***
Mahmed memasuki kamarnya dengan sendu. Terliha dinding kamar itu rame oleh potret dirinya dan kekasih yang meninggalkannya.
Mahmed duduk di pinggiran sofa, meraih sebingkai foto di atas nakas. Menampakkan wajah bahagia dirinya dan Meira saat bertunangan dulu.
"Kenapa kamu egois Meira?" lirih Mahmed dengan mata berair.
__ADS_1
"Begitu pentingkah bagimu karier dari pada aku yang mencintaimu?" gumam Mehmed lagi dengan perasaan hancur.
Dada Mahmed terasa sangat sesak mengingat voucher bulan madu yang ia bakar sehari setelah pernikahannya dan Nazri berlangsung. Ia diam-diam memilih London sebagai tempat bulan madu mereka, tapi semuanya hancur dan hanya meninggalkan luka saja. Wanita yang paling ia cintai tak di sisinya lagi. Meira lebih memilih mengejar mimpinya tanpa peduli dengan hati pria yang ditinggalkannya.
Membayangkan masa-masa mereka bersama dulu semakin membuat Mahmed terluka, ia begitu merindukan Meira, rindu ditemani tidur oleh gadis itu. Rindu akan tingkah jahil Meira yang membangunkannya dan rindu saat-saat mereka saling bertukar cerita ketika mereka sedang berpelukan hangat.
Tak heran Mahmed begitu merindukan wanitanya berada di sisinya. Mereka memang biasa pacaran di luar batas. Kedua pasangan yang kurang pengawasan orang tua membuat mereka terjerumus dalam dosa, ia mengambil hak dari Meira yang seharusnya belum ia miliki.
Mahmed sangat berharap dapat bersama kembali dengan Meira, begitu sangat berharap. Namun, harapan hanya tinggal harapan. Perbuatannya yang semena-mena pada Nazri membuat tali penyatu antara dirinya dan Meira mulai terkikis habis.
"Kenapa kamu meninggalkan aku dengan memberikan beban sebarat ini, Meira?!" Mahmed memeluk pilu bingkai foto itu dengan hati yang remuk.
Mahmed sangat dalam mencintai Meira sedalam ia membenci Nazri. Tak ada seorang pun sosok wanita di semesta ini yang dapat menggantikan posisi Meira di hatinya, Mahmed menjamin hal itu.
Luka yang Meira gores di hati Mahmed tak mengurangi sedikit pun rasa cintanya terhadap Meira. Sampai saat ini, esok, bahkan sampai maut pun menjemput Mahmed akan tetap mencintai Meira. Posisi wanita itu sangat berharga dan amat spesial di hatinya.
BERSAMBUNG
***Yuhuuuii
gimana bab ini?
masih mau lanjut?
ayo komen kalo mau author lanjut?!
jangan lupa bahagia selalu teman Readers, maaf author banyak kekurangan nya
see you 😘
jangan lupa follow medsos author
__ADS_1
Ig @fitrihaida
FB @Haida***