
**Assalamualaikum
Halo Teman Readers
selamat malam Minggu
apa kabar?
semoga kita semua sehat selalu yah**
Happy reading and Anjoy guys 😘
Ayyut berlari memburu seperti di kejar waktu. Napas pria itu ngos-ngosan dan dadanya sedikit sesak karena berlari dari parkiran motor yang jaraknya lumayan jauh ke fakultas.
Ayyut menghela napas lega melihat meja dosen masih kosong. Ia masuk dan duduk di kursi kosong tepat di samping Buyung yang sepertinya temannya itu telah mempersiapkan bangku untuknya, kalau tidak akan Ayyut pastikan ia tak akan dapat bangku karena melihat kelas telah diisi banyak orang.
"Kau hampir terlambat," kata Buyung. Ayyut hanya mengangguk kecil seraya berusaha menetralkan napasnya yang tersengal, "Kau punya minum?"
"Tid–"
"Ini, minumlah!"
Ayyut dan Buyung menoleh secara bersamaan. Terlihat gadis yang duduk di depan mereka menyodorkan air mineral kepada Ayyut.
"Makasih yah, Desti," tulus Ayyut menerima tawaran gadis itu. Gadis yang di sebut namanya oleh Ayyut langsung tersipu malu. Senang sekali rasanya namanya di sebut halus dari bibir pria yang disukai.
"Sama-sama," balas Desti berusaha menyembunyikan rona di pipinya. Ia dengan cepat membalikkan badan tapi begitu ia menghadap depan bibirnya mengembang sempurna membentuk senyuman indah.
Buyung yang sedari tadi memperhatikan Ayyut dan Desti memilih diam saja. Ia tak berniat menggoda Ayyut atau pun sekedar menjahili temannya itu karena ia tahu Ayyut pasti sadar Desti menyukai dirinya. Namun, pria itu menutup rapat hatinya tak membiarkan celah sedikit pun untuk Desti memasuki hatinya.
"Desti sangat perhatian padamu–" Belum sempat Buyung bersuara panjang Ayyut langsung memotong.
"Lalu?"
"Apa kau tidak berniat mendekatinya kembali?"
"Kenapa tidak kau saja?"
"Bodoh! Dia menyukaimu."
"Biarkan!" Seperti pribadinya yang dingin. Ayyut memang tidak tertarik dengan hal-hal yang berbaur romansa, Buyung geram sendiri melihatnya dan seperti sekarang temannya itu sangat pelit dengan kata-kata.
"Miris sekali, lebih baik kau mengasari Desti dari pada diam saja membuat dirinya berharap padamu," lirih Buyung berekspresi sedih, kasihan dengan Desti yang selalu berusaha mendekati Ayyut.
"Kalau kau peduli, kau saja yang mendekatinya." Jawaban cuek tak bersahabat dari Ayyut membuat Buyung mendengus. Susah sekali rasanya bicara baik-baik dengan temannya ini.
"Apa dosen kita tak akan datang? Ini sudah lewat lima belas menit," ujar Ayyut yang baru saja melihat jam dari benda pipinya. Buyung mengangkat bahu balas cuek. Ayyut menatapnya dengan tatapan menerkam.
"Apa?" tantang Buyung tak kalah tajam. Sebenarnya ngeri juga melihat tatapan membunuh Ayyut.
"Sial!" umpat Ayyut tertahankan. Buyung hanya menggeleng tak peduli melihatnya.
__ADS_1
Sebenarnya Buyung malas sekali masuk kampus hari ini tapi karena ia terikat janji pada Nazri untuk membawa kakaknya itu makan di salah satu rumah makan favorit mereka tepat di dekat kampus Ayyut, makanya ia terpaksa masuk karena Nazri akan menunggunya di luar kampus begitu kelas mereka bubar.
***
"Apa kau lama menunggu?"
"Tidak, tapi tetap saja ini menyebalkan."
Ayyut tersenyum mendengar umpatan Nazri. Kakaknya yang satu ini memang tipe gadis yang tidak suka menunggu.
Mengenai menunggu, Ayyut jadi teringat pada masa kecil mereka. Pada saat kecil dulu Nazri kelas 4 SD dan ia 3 SD, kala waktu itu Ayyut dan Nazri satu sekolah dan berjanji sepulang sekolah akan membeli permen kapas di hiburan pekan raya. Namun, karena bontot Ayyut tertinggal di kelasnya ia terpaksa kembali ke kelas dan begitu ia menghampiri Nazri. Kakaknya itu menangis meraung karena uangnya di rampas oleh abang angkatan mereka yang menyebabkan Ayyut terlibat baku hantam sampai Abang kelas yang menjahili Nazri masuk rumah sakit karena kepalanya di hantam oleh Ayyut dengan batu.
Mengingat itu Ayyut jadi senyum-senyum sendiri, sebab sejak saat itulah Nazri menuntutnya untuk tidak membuat dirinya menunggu.
"Kenapa senyum-senyum? Senang yah membuat aku menunggu di terik matahari ini?"
Seketika Ayyut tertawa terbahak-bahak mendengar umpatan Nazri yang terdengar sangat lucu di baginya. Melihat Ayyut yang sangat senang menertawainya membuat Nazri berdecak sebal.
"Tidak usah berlebihan begitu, kalau hitam, tetap hitam. Seberapa banyak pun lulur yang kamu pakai tidak akan membuat kulitmu putih."
Nazri semakin berdecak kesal. "Hei ayolah kau, aku hanya bercanda. Jangan begitu, kau semakin lucu!"
"Oke yang putih, aku tidak hitam hanya saja kulitku sedikit gelap. Kuning Langsat, oke?" jelas Nazri mempertegas bahwa kulitnya tidak hitam. Ayyut hanya tertawa geli saja, sebenarnya ia juga tahu hanya saja senang sekali rasanya menggoda Nazri. Kakaknya ini sangat menggemaskan apabila marah.
"Baiklah Disyah, sekarang pakai helm atau kita tidak akan makan," ujar Ayyut membujuk Nazri.
Nazri memanyunkan bibir kesal, "Jangan panggil aku begitu!" larangnya tak terima. Benci sekali rasanya apabila Ayyut menyebutnya dengan nama itu, karena sebutan itu kerap kali Ayyut ucapkan apabila marah padanya atau mengejek dirinya.
"Baiklah Nazri–ku, sekarang pakai helm. Oke!" titah Ayyut menyodorkan helm kepada Nazri. Kakaknya itu terlihat mendengus sebelum menerima helm dari Ayyut.
"Siap laksanakan komanda," sahut Ayyut tegas begitu Nazri telah memakai helm dan naik ke motornya.
Tak perlu waktu lama, hanya tiga menit waktu mereka tempuh dan sekarang mereka telah sampai di salah satu rumah makan minang. Sedari SMP Nazri sangat suka makan di sini karena menu makanannya yang sangat lezat dan terutama harganya tidak terlalu mahal. Bahkan dulu Nazri ingin sekali kuliah di sini mengambil jurusan pengembangan masyarakat Islam namun keinginan hanya tinggal harapan semu. Nazri terpaksa tinggal di kampung bersama sang nenek karena nenek yang cinta kampung halaman tak ingin meninggalkannya apa lagi banyak kenangan di kampung itu.
Dahulu saat di ajak tinggal bersama di kampung oleh nenek awalnya Nazri tak terima namun takut menyeruakan penolakannya. Akan tetapi Nazri mensyukuri dirinya yang ikut nenek di kampung. Nenek sangat menyayanginya dan di sana para kerabat sangat sayang padanya bahkan tak sedikit orang-orang kampung juga sayang padanya. Walaupun sebenarnya keluarga Nazri sayang padanya, Nazri semakin bersyukur karena dirinya dikelilingi orang yang cinta padanya.
Nazri tak menyesali tak jadi kuliah di sini. Di kampung pendidikannya tak lepas walaupun harus mengurus nenek yang kesehatannya mulai terganggu. Bisa melanjutkan pendidikan dan disayang oleh banyak orang sudah memberi kebahagiaan tak terhingga bagi Nazri.
Dan Nazri sadari dirinya yang dahulu menentang tinggal di kampung ternyata memberi kebahagiaan yang berlimpah hingga Ayyut dan Meira sendiri suka iri padanya apa bila ia dan sang nenek pulang ke kota. Kasih sayang nenek yang berlebih ke Nazri membuat kedua saudaranya itu suka gemas, dan Nazri tipikal yang suka kompor. Memanas-manasi kedua saudaranya kalau ia di kampung itu emas desa.
"Pesannya Mas, Mbak,"
Nazri tersentak dari lamunannya begitu mendengar suara pelayan menyapa, sementara Ayyut yang tadi fokus dengan ponselnya langsung menengadah
"Terima kasih, Kak," ucap Nazri dengan seulas senyum tipis. Pelayan cantik itu hanya mengangguk ramah, menghidangkan makanan pesanan Nazri dan Ayyut.
Nazri menatap makanan yang di tata rapi itu oleh pelayan barusan. Seketika ia langsung murung begitu melihat rendang sapi, salah satu makanan kesukaan nenek tapi sayang nenek tidak bisa lagi menikmati makanan itu karena kadar darah tingginya.
Ayyut yang hendak makan seketika tak jadi saat melihat Nazri yang tiba-tiba murung. Ia mengikuti arah pandang Nazri dan saat itu juga ia langsung merutuki kebodohannya memesan makanan yang Ayyut sadari itu akan membangkitkan emosional Nazri.
"Aku rindu Nenek," lirih Nazri sedih.
__ADS_1
"Kau belum pernah menghubungi Nenek?"
"Aku tidak berani," jujur Nazri.
Bagaikan belati menghantam relung hati Ayyut saat mendengar erangan rintih Nazri yang mengiris hatinya. Kabar pernikahan Nazri belum sampai ke telinga nenek, setahu nenek Meira–lah yang menikah oleh sebab itu Nazri terpaksa pulang ke kota menggantikan nenek menghadiri pernikahan Meira karena kesehatan nenek yang buruk sangat tidak memungkinkan. Namun, alih-alih menghadiri, Nazri malah yang menjadi pengantinnya. Pernikahan Nazri dirahasiakan dari nenek yang entah sampai kapan dapat dirahasiakan?
Tanpa sadar Nazri menitikkan air mata kala teringat masa-masa bersama nenek. Neneknya itu suka sekali menceritakan keromantisannya bersama sang kakek membuat Nazri yang mendengarnya iri sendiri sampai mendambakan memiliki suami yang tulus mencintainya. Namun, harapan tinggal harapan yang takkan terwujud kala mengingat kenyataan pahit ia menikahi kekasih kakaknya. Kejam pula.
"Makan! Sampai kapan kau merenung terus?"
Ayyut mengangkat dagu Nazri dengan tangan kirinya dan tangan kanannya langsung menyuapi Nazri.
Nazri mendengus menatap kesal Ayyut yang hanya diam seakan tidak berbuat salah sama sekali. Nazri ingin bersuara tapi mulutnya penuh dengan makanan hasil suapan dari Ayyut.
Ayyut tersenyum geli melihat Nazri mengunyah makanannya dengan cepat-cepat. Ia tebak begitu mulut Nazri ringan, kakaknya itu pasti akan menyemburnya dengan kata-kata kasar.
"Apa-apaan kau? Berhenti memperlakukanku semau–mu!" Nazri kesal, sangat kesal. Walaupun Ayyut berusaha mencairkan suasana, tapi Nazri tak terima dengan perlakuan salah Ayyut.
"Tidak bisa, kau tahu itu," jawab Ayyut tak peduli dengan kemarahan Nazri.
"Aku tak bercanda Ayyut, ak–"
"Makanlah! Jika mengoceh lagi aku akan mencium matamu yang berair itu." Ungkapan geram Nazri dipotong oleh Ayyut.
"Aku kakakmu, jangan membuat orang salah paham! Dan satu lagi bersikaplah layaknya adik."
"Memanggilmu kakak, begitu?" Nazri tak menyahut. Ia sangat kesal kepada Ayyut saat ini.
"Kita hanya selisih umur satu tahun, mustahil bagiku memanggilmu kakak karena aku yang paling cocok lebih tua pada kau." Ayyut mengungkapkan itu diiringi tawa geli. Nazri semakin kesal melihatnya.
Tak ingin dirinya menjadi bahan tawa bagi adiknya, Nazri memakan makanannya dengan cepat mengabaikan Ayyut yang mengoceh mengejeknya.
Ayyut tersenyum menang melihat reaksi Nazri. Kakaknya itu kehabisan kata-kata membuat Ayyut yang melihatnya geli sendiri.
"Aku janji setelah makan, kita akan jalan-jalan dan kau ku beri kepuasan meminta apa pun mau–mu."
"Benarkah?"
Nazri mendongak antusias mendengar tawaran menggiurkan Ayyut, mustahil baginya menolak kesempatan emas itu. Jarang-jarang Ayyut berbuat seperti itu mengingat biasanya adiknya ini sangat pelit apa bila menyinggung kantong.
"Tiba ditawari hal begitu kau langsung semangat." Ayyut mendengus pura-pura keberatan.
"Tentu saja" sahut Nazri membenarkan.
"Makin sayang deh," tambah Nazri.
"Bohong. Kau hanya sayang uangku," sela Ayyut.
"Itu salah satunya," sambung Nazri membuat Ayyut semakin mendengus. Namun, sama sekali ia tak keberatan. Dirinya tau keuangan Nazri tidak baik mengingat kakaknya itu menikah dengan pria yang salah. Alih-alih memberi belanja untuk Nazri, pria kejam itu Ayyut yakini bisanya hanya mencaci kakaknya. Itu kentara jelas bagi Ayyut karena tak ada seorangpun yang mengenal Nazri lebih dalam selain dirinya. Kakaknya itu selalu berusaha kuat, tapi jauh dari dalam ia itu lemah.
Bersambung
__ADS_1
Instagram @fitrihaida
FB @Haida