
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
good evening guys
Apa kabar Teman Readers?
semoga kita sehat-sehat aja yah aaamiiinnnn.
Bab baru sudah tiba teman Readers.
selamat memanjakan perasaan kalian
Kasih saran dan masukannya yah
Happy reading and Anjoy guys ❤️❤️❤️❤️
Setelah telponan dengan mamanya tak ada lagi yang bisa Ayyut lakukan selain duduk termenung meratapi nasib saudarinya yang telah berubah drastis dalam sekejap. Bahkan rasa kantuk pun tak ia rasakan padahal hari semakin larut dan sebentar lagi pasti akan terdengar ayam berkotek.
Buyung duduk di sebelah Ayyut. Melihat Ayyut yang tampak kacau membuat dirinya merasa tak enak hati serta menyesali mulutnya yang suka mengoceh tak jelas tanpa bisa di rem.
"Ayyut maafkan ucapan saya yang kurang ajar, tapi saya teman kamu. Kamu harus berbagi beban pikiran kamu pada saya! Bukankah kita sahabat kecil?" Suara Buyung terdengar pelan dan tangan kirinya bergerak ragu menepuk pundak Ayyut.
"Setelah 5 tahun Nazri baru pulang dari kampung dan siang kemarin ia dipaksa menikah mengantikan Kak Meira yang kabur dari pernikahannya."
Buyung merasakan sebuah benda kasatmata menghantam jantungnya hingga membuatnya kesulitan bernapas kala mendengar kabar duka yang menimpa Nazri. Kakak dari sahabatnya itu yang sama sekali tak ia kenali ironisnya gadis itu menjadi pengantin penganti kakaknya yang kabur.
"Kamu tahu ballet hidup Kak Meira, dia kabur demi bisa tampil di Los angel mengejar mimpinya selama ini mengabaikan kalau kemarin pernikahannya dan keluarga Mahmed pria kurang ajar itu menuntut dan terpaksa Papa dan Mama menyerahkan Nazri pengantinnya." Tanpa persetujuan dengan sombongnya air mata Ayyut mengalir menceritakan cerita yang mengiris hatinya.
"Nazri itu sangat bodoh! Dia terlalu sayang dengan keluarga hingga dia mengorbankan hidupnya." Ayyut menoleh ke arah Buyung yang terdiam ikut merasa sedih mendengar cerita Ayyut.
"Sekarang lihat? Pengorbanannya tak berarti dimata Mama dan Mahmed?" tanya Ayyut menjeda ucapannya. Rasanya sangat sakit melanjutkan kata yang mampu mengobrak-abrik perasaannya. "Pria itu setelah menyakiti Kak Meira sekarang dia menyakiti Nazri juga. Kenapa ini harus terjadi pada Nazri Buyung?" isak Ayyut tertahan tak ingin Nazri mendengar suara tangisnya.
"Pria brengsek itu menyakiti kedua saudariku sekaligus." Buyung tak dapat berkata-kata. Untuk kali pertama baginya menyaksikan seorang Ayyut yang terkenal dingin tak berperasaan Kini menangis dihadapnya.
Pada dasarnya walaupun Ayyut seorang pria tapi ia adalah manusia biasa yang tak bisa menahan air matanya sekeras apapun ia menahan apa lagi menyangkut saudari yang dicintainya.
...***...
Nazri menggeliat ringan ketika merasakan cahaya matahari pagi menyapa matanya. Dengan malas Nazri membuka matanya yang terasa sangat berat dan ia langsung tersenyum merekah ketika melihat seorang pria muda berparas tampan menatapnya dengan penuh kehangatan dihiasi oleh senyuman indah di wajahnya.
"Good morning princess"
"Ayyut" decak Nazri tersenyum malu.
"Cepat bangkit! Ini pinjam baju Buyung dulu, setelah sarapan nanti kita beli baju ganti untuk kamu," jelas Ayyut menunjukan setelan baju pria di atas nakas dengan lirikan matanya.
Nazri mengangguk patuh mendengar titah Ayyut. "Ini jam berapa Yut? Kok cahaya matahari–nya agak panas yah?"
__ADS_1
"Ya iyalah, ini kan udah jam 9."
"Apa?" kejut Nazri dengan mata mendelik sempurna.
"Biasa aja" ejek Ayyut.
"Kamu kok enggak bangunin aku sih? Kan shalat subuh aku tinggal...."
"Cepat mandi! Biar sarapan." Ayyut berkata demikian mengabaikan kekesalan Nazri.
"Ayyut?" ujar Nazri setengah berteriak. Ia berdecak sebal kembali menghadapi sikap dingin Ayyut.
...***...
"Masya Allah cantiknya." Mata Buyung bersinar sempurna begitu melihat Nazri keluar kamar. Terlihat cantik menawan apa lagi ia baru saja mandi.
"Kamu lebih cantik alami daripada semalam dengan riasan pengantin ya walaupun pakai pakaian cowok, tetap cantik kok. Perfek!" puji Buyung menampilkan jari-jarinya yang membentuk huruf–O.
Nazri diam saja tak peduli dengan pujian Buyung yang menggodanya. Mata Nazri sepenuhnya terfokus pada Ayyut yang tak mau menatapnya membuat Nazri bertambah kesal saja.
"Mata kamu jaga!" tegur Ayyut menokok bahu Buyung dengan sendok makan.
"Santai Om" dengus Buyung kesal.
Nazri melangkah mendekat duduk bersama Buyung dan Ayyut di hadapan TV tanpa ada kursi makan dan hanya tikar plastik saja alas mereka duduk.
"Sebenarnya itu untuk adik aku di kampung. Belinya kemarin online, ya Karena kamu pakai hijab makanya itu untuk kamu aja. Kan enggak mungkin kamu pakai hijab pengantin kamu semalam?" jelas Buyung sembari melahap mie lontong miliknya.
Nazri ber–O–riah mendengar penjelasan Buyung. "Pantes baunya bau baru gitu."
"Ini makan!" kata Ayyut memutus percakapan antara Nazri dan Buyung dengan mendekatkan mie kehadapan Nazri.
Nazri menatap Ayyut. "Aku masih kesal sama kamu."
"Aku enggak keberatan" sahut Ayyut dengan ekspresi khas wajahnya yang datar.
"Aku juga mau dong Bang diperhatikan" sambung Buyung menggoda Ayyut.
"Bisa diam enggak?" geram Ayyut.
"Ok" Buyung berekspresi takut dan dengan gerakan tangan seolah sedang mengunci rapat mulutnya.
Nazri tertawa kecil melihat kelakuan Buyung yang spontan membuat kedua pria itu langsung menoleh ke arahnya.
"Kok aku tersipu yah lihat senyum kamu? Manis," gombal Buyung lagi. Nazri hanya diam mengabaikan gombalan Buyung sementara Ayyut geleng-geleng kepala melihat kelakuan buaya Buyung.
"Maaf yah kita cuma bisa makan ini saja, aku lebih suka makan makanan di luar daripada masak. Kamu tahulah cowok gimana," ujar Buyung demikian sok manis yang spontan membuat Ayyut yang melihatnya memutar bola mata jengah.
__ADS_1
"Dasar kamu–nya saja yang malas," tiba-tiba Ayyut menyahut.
"Enggak apa-apa kok, ini juga enak daripada kamu masak yang belum tentu enak," kata Nazri menunjukkan belangnya yang suka berbicara pedas spontan membuat Buyung keheranan. Gadis yang baru beberapa jam dikenalnya yang tadinya terlihat polos kini berbicara santai padanya seolah mereka telah lama dekat.
"Kamu benar" kata Buyung menampilkan ekspresi wajah tertindas.
"ternyata enggak se–pendiam yang aku kira. pedas sama kayak Ayyut," katanya lagi seolah-olah terluka.
"Lukanya enggak sampai ke jantung, kan?" tanya Nazri tersenyum lucu.
"Sampai, saakiit," lirih Buyung berekspresi sesedih mungkin. ia menyuap makanannya dengan mimik terluka.
"Baca bismillah Buyung, jangan asal makan," tegur Nazri.
"Ouh iya lupa" sahut Buyung berekspresi lucu. Nazri menggeleng geli melihat kelakukan konyol Buyung.
Nazri melirik Ayyut. Adik bungsunya itu terlihat sangat menikmati makanannya tak terpengaruh dengan percakapannya dengan Buyung.
Perasaan Ayyut sedikit lega melihat akhirnya Nazri tersenyum jua. Kak itu tampak amat senang bercanda dengan Buyung, walau pun rasa sungkan masih di perlihatkan olehnya.
BERSAMBUNG
BAGAIMANA BAB INI?
KALIAN SUKA?
KITA LANJUT BESOK?
ATAU MINGGU DEPAN AJA?
mumpung aku udah libur semester ayoh kasih semangat supaya aku terus update cerita ini dan semoga kalian suka selalu
komen banyak-banyak
kasih kritik dan saran
hargai usaha author
kasih jejak kalian supaya aku tahu kalian singgah di cerita ini
ayok Like, komen dan terutama favoritkan supaya kalau aku update langsung masuk ke notif kalian dan jangan pelit kasih gif yah
kasih vote juga
makasih
sempai jumpa di bab selanjutnya 😘
__ADS_1