Tiba-tiba Jadi Pengantin

Tiba-tiba Jadi Pengantin
08


__ADS_3

"Berhenti di situ!"


Nazri terhenyak mendengar suara keras Mahmed yang seketika langsung memblokir ruang geraknya. Mahmed yang semula hendak memasuki kamar tiba-tiba terhenti begitu mengingat ia tak lagi tinggal sendiri melainkan ada sosok wanita yang sama sekali tak ia inginkan kehadirannya harus tinggal di rumahnya. Bersamanya.


"A–ada ap–pa?" Susah sekali rasanya mengeluarkan dua kalimat itu dari bibir Nazri. Mendengar suara keras Mahmed yang terkesan hardikan membuat Nazri merasa kesulitan menghirup udara.


"Jangan pernah menginjakkan kaki di kamarku! Dan terutama aku tak ingin melihat wajah munafikmu itu."


Nazri memeramkan mata. Mati-matian ia menahan saki di dadanya yang tiba-tiba terasa sangat sesak saat mendengar hinaan Mahmed kepadanya.


"Dengar! Aku tidak peduli apa pun yang kau perbuat, tapi jangan merusak nama baikku. Berhenti menggoda pria lain di luar sana! Mengerti?"


"Ak–ku."


Nazri bingung dengan maksud ucapan Mahmed. Ia hendak menjawab sedikit memberi penjelasan untuk pembelaan diri, tapi Mahmed tidak memberi celah dan pria itu terus menghujaninya dengan tuduhan-tuduhan yang menyakiti perasaannya. Sangat dalam.


"Apa kau tidak punya harga diri? Bermesraan dengan pria lain di depan rumahku? Apa kata orang jika mereka tahu perempuan rendah seperti kau yang berstatus jadi istriku menjalin hubungan dengan pria lain."


Nazri hanya bisa diam. Dengan sekuat mungkin menahan sakit hatinya. Ternyata Mahmed salah paham dan pria itu dengan egonya langsung menilainya dengan hal buruk. Salahkah ia bila di antar oleh adiknya sendiri? Padahal Mahmed–lah yang harusnya bercermin. Ia telah menelantarkan pengantinnya begitu saja dan sekarang pria itu tanpa perasaan menghinanya tanpa rasa kasihan.


"Bersikaplah sedikit terhormat walaupun sebenarnya kau itu rendah."


Sekuat mungkin Nazri menahan sesak di dadanya. Kedua tangannya meremas kuat ujung bajunya. Sakit sekali rasanya menerima hinaan bertubi-tubi itu dari mulut Mahmed yang terus memakainya habis-habisan tanpa memberinya sedikit ruang bagi Nazri untuk menjelaskan.


"Dasar perempuan tidak bermoral! Apakah kehidupanmu yang di kampung tak tahu cara menjaga harga diri?"


Keterlaluan sekali. Mahmed terus mencaci, menghina dan mengasari Nazri dengan kalimat-kalimat yang tak berperasaan. Emosi Nazri meningkat, ia ingin menyela dengan mengasari Mahmed, menampar pria itu dengan perkataan yang sama menyakitkan yang seperti ia rasakan. Namun, statusnya sebagai istri Mahmed hanya bisa diam, menerima dengan sakit hinaan dari suaminya.


Jika tidak ingat siapa sosok yang menghinanya ini, mungkin Nazri tidak bisa membayangkan bagaimana akhirnya. Selama ini tak ada seorang pun yang menghinanya dan terutama tak ada yang berani menghinanya baik orang lain, ataupun keluarga sendiri. Nazri bukanlah sosok yang lemah yang terima diintimidasi, tapi ia tak ingin durhaka kepada suaminya karena ingat dengan nasehat ibunya dan ajaran dari guru-guru sekolah dan guru mengaji dulu lengket sempurna di otaknya bagaimana seorang istri bersikap pada suami dalam hukum Islam. Namun, apakah perbuatan Mahmed begini dapat ia terima?


'Keterlaluan. Kesalahpahaman ini tak dapat di terima.' Batin Nazri berteriak tak terima. Namun, kembali Nazri hanya bisa diam menahan kalimatnya yang meronta untuk disuarakan.


Mahmed mendengus. Seringai kejam tercetak sempurna di wajahnya. Melihat keterdiaman Nazri yang tak memberikan pembelaan terhadap dirinya membuat Mahmed mengartikan perkataannya itu kebenaran bahwa Nazri perempuan rendahan.


"Menjijikkan! Bagaimana bisa orang tuaku memilihmu pengganti Meira. Bahkan lebih baik ular dari pada perempuan rendah sepertimu!"

__ADS_1


Hinaan demi hinaan Nazri terima dengan sakit. Walaupun ia menyerukan pembelaan, Mahmed pasti tidak akan mempercayai–nya. Bahkan jika seluruh dunia membela bahwa Nazri perempuan baik-baik Mahmed juga tidak akan percaya karena sedari awal di mata pria itu Nazri tetaplah perempuan yang buruk. Jadi percuma saja bagi Nazri berusaha membela diri, Mahmed tidak akan percaya karena pria itu hanya percaya dengan apa yang ia pikirkan benar.


"Dasar!"


Bang


Nazri tersentak. Usai puas memaki bahkan menghina Nazri habis-habisan Mahmed masuk kamar usai membanting kasar pintunya, meninggalkan Nazri yang mematung.


...***...


Langit yang semula bewarna gelap pekat mulai memberikan sinar kecerahan saat hari mulai dini ketika bulan hendak berganti posisi dengan matahari.


Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Ayyut memasuki rumah usai memasukkan motornya ke bagasi. Ia berjalan cepat ingin segera ke kamarnya mengistirahatkan tubuhnya yang letih. Namun, belum sempat ia naik tangga. Pergerakkan Ayyut terblokir saat suara dingin ayahnya menginterupsi.


"Berhenti di situ Ayyut!"


Ayyut membalikkan badan. Dilihatnya ayah dan ibunya duduk bersedekap di sofa dengan tatapan tajam mereka tusukan untuk Ayyut.


"Dari mana saja kau? Di mana Nazri?"


Suara kedua pria itu sama-sama dingin dan tajam. Mahmed tipikal pria keras tak peduli dengan tatapan tajam ayahnya yang seakan ingin memakannya.


"Kau ini kenapa Ayyut? Nazri itu kakakmu. Kenapa kau berani membawa istri orang?"


Itu suara Marina. Suara ibu Ayyut yang menghujani putranya dengan pertanyaan yang seakan-akan tindakan Ayyut suatu kesalahan yang fatal.


"Mama tanya aku kenapa?" tanya Ayyut kepada Marina dengan menunjuk ke arahnya sendiri. "Kenapa Mama tidak menanyakan menantu Mama itu? Kalian jelas tahu apa yang diperbuatnya kepada Nazri tapi kalian diam. Apa Nazri tidak berarti bagi kalian?"


"Tutup mulutmu Ayyut!"


Bentakan itu terdengar bersamaan dengan tamparan keras yang mengenai pipi Ayyut. Ayyut sempat terdiam meresapi rasa sakit yang lengket sempurna di pipinya. Terasa kebas, perih dan panas. Namun, tak sebanding dengan sakit di hatinya.


"Kau tidak mengerti urusan orang tua. Di matamu kau hanya menganggap benar apa yang kau lihat? Segitu picik–kah bagimu kami? Mama dan Ayah? Apa kau pikir kami tidak peduli pada Nazri. Huh?"


Marina menggenggam erat lengan suaminya berusaha menyalurkan ketenangan kepada sang suami. Seketika ia langsung ketakutan melihat kemarahan Andauval takut kalau suaminya itu lepas kendali dan berakhir menghajar Ayyut.

__ADS_1


"Mulai sekarang berhenti memedulikan Nazri. Fokus pada kuliahmu, biar suaminya yang mengurusnya. Kau tak memiliki hak atas Nazri."


Ayyut terkesima. Rasanya sangat mengherankan sekaligus mengerikan mendengar kalimat itu keluar dari mulut ayahnya. Bagaimana mungkin Andauval memberi titah yang sama sekali mustahil Ayyut turuti dan terutama hal itu menyangkut Nazri yang tak aman bersama pria bajingan yang sekaligus telah menyakiti Meira.


"Dia saudariku! Bagaimana Ayah bisa berkata begitu?"


"Tapi dia sudah menikah. Dia bukan wanitamu dan tanggung jawabmu dan Ayah untuk menjaganya telah lepas karena dia telah bersuami."


"Tapi Mahmed bukan pria yang tepat untuknya."


"Tetap saja kau tidak boleh ikut campur. Ingat dia kakakmu?"


"Karena dia kakakku makanya aku harus melindungi–"


"Jangan keras kepala Ayyut! Berhenti menguji kesabaran Ayah."


"Mas?" Suara Marina terdengar sangat lemah. Melihat adu mulut antara suami dan anaknya yang sangat terkesan sengit itu membuat Marina bergetar ketakutan.


"Aku tidak menyangka sikap ayah yang begitu terhadap Nazri." Suara Ayyut melemah. Sepertinya tak ada ujung perdamaian jika terus berdebat dengan ayahnya. Sakit rasanya mendengar kalimat ayahnya itu yang melarang keras dirinya seakan seluruh kesalahan berpusat dari dirinya.


"Maaf Ayah. Aku tidak bisa menuruti perintah Ayah. Bagiku dahulu dan sampai kapan pun Nazri akan selalu aku lindungi selama ia bertemu pria yang tepat untuknya maka aku akan melepasnya." Ayyut sempat terdiam sesat menjeda ucapannya yang tanpa ia sadari membuat Marina dan Andauval membeku mendengarnya. "Ayah tidak bisa melarang aku untuk memperhatikan Nazri karena bagiku Nazri adalah wanita yang harus aku lindungi."


Usai mengucapkan kalimat panjang itu yang entah ia sadar atau tidak telah menusuk hati kedua orang tuanya. Ayyut berjalan cepat menaiki anak tangga dengan sesegera mungkin memasuki kamarnya mengabaikan kedua orang tuanya yang membeku. Bahkan Andauval dan Marina tak sanggup menoleh menatap kepergian Ayyut.


**Bersambung


Instagram @fitrihaida


FB @Haida


follow akun author yah Teman Readers


see you tomorrow


insya Allah 😅**

__ADS_1


__ADS_2