
Tepat pukul tujuh pagi Mahmed terbangun dari tidurnya setelah puas bergelung dengan kasur empuknya. Ia duduk sebentar mengais kesadarannya, lalu bangkit tak lupa mematikan AC di kamarnya.
Tak perlu waktu lama kini Mahmed telah rapi dengan setelah jas kerjanya. Ia berangkat dengan mobil hitam metalik kesayangannya tanpa menyentuh sarapan yang telah disiapkan oleh istrinya.
Ia tak perlu heran, atau pun kecarian akan Nazri yang tak terlihat. Sama sekali ia tak peduli akan keberadaan gadis itu, bahkan ia sangat berharap kalau Nazri akan meninggalkan rumah ini. Sungguh itu akan sangat menguntungkan baginya.
Seperti biasa Mahmed pergi begitu saja. Ia melajukan mobilnya sedikit lambat, melewati taman kompleks di dekat rumahnya.
"Motor itu?" gumam Mahmed merasa familier melihat motor sport bewarna merah itu pernah ia lihat sebelumnya. 'Tapi dimana?' batinnya.
Kedua bola mata Mahmed menyapu seisi taman yang tidak terlalu luas itu seiring dengan jalan yang memutar, tiba-tiba mobil Mahmed berhenti mendadak ketika melihat seorang gadis yang telah berstatus sebagai istrinya itu sedang tersenyum lebar bersama pria lain.
Rahang Mehmed mengeras, tangannya mengepal kuat di atas stir mobilnya. Tatapan tajamnya menghujam pemandangan dihadapannya.
Mahmed ingin sekali keluar dari mobilnya, melabrak kedua pasangan romantis yang tak tahu tempat itu. Namun, dengan amarah yang tertahan kasar di dadanya, Mahmed memilih diam tak ingin manjadi pusat perhatian warga jika ia menghampiri kedua pasangan itu.
Mahmed memilih pergi membawa emosinya yang diujung tanduk. Ia tak mau nama baiknya tercoreng hanya karena perilaku murahan istrinya. Mahmed tak sebodoh itu mempermalukan dirinya, biarlah di rumah nanti ia memberi Nazri pelajaran yang tak akan dilupakan oleh gadis itu.
Terlihat istrinya sangat bahagia saat disuapi oleh pria dihadapannya menambah kemarahan Mahmed yang melihatnya. Dalam hati Mahmed mengutuk Nazri, ia melajukan mobilnya dengan emosi.
...***...
Setelah Ayyut pergi Nazri memasuki rumah dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya. Ia melangkah dengan santai diiringi dengan siulan kecil dari bibir ranumnya.
"Oh, Ratu penguasa sudah pulang."
Nada bicara yang tajam itu sontak membuat Nazri menghentikan langkah. Ia menoleh ke sumber suara dengan perasaan waswas, detik berikutnya gadis itu menundukkan kepala.
Hal yang tak pernah diperlihatkan Nazri kepada siapa pun, tapi kenapa setiap kali berhadapan dengan Mahmed ia selalu melemah seakan pria itu menyedot aura keberaniannya.
Mahmed yang semula duduk bersandar di pinggiran sofa melangkah maju menghampiri Nazri yang menundukkan kepalanya,"Kau benar-benar membuatku muak," ujar Mahmed menggeram.
"Pergi pagi-pagi sekali, apakah kau sudah puas dengan kekasihmu. Hah?" Amarah Mahmed akhirnya meledak setelah sekian jam ia menunggu Nazri pulang.
__ADS_1
Nazri semakin menundukkan kepalanya sedalam mungkin seakan hijab yang ia pakai dapat menutupi raut wajah ketakutannya. Nada bicara Mahmed terdengar sangat tajam seakan pria itu siap menerkam Nazri saat itu juga.
"Harus berapa kali kukatakan padamu, jangan bertindak murahan terang-terangan." Nada bicara Mahmed meninggi, ia sangat marah melihat Nazri begitu mesra bersama orang lain. Di sekitar lingkungan rumahnya pula lagi.
Kedua tangan Nazri meremas kuat ujung baju tunik–nya. Kedua bola matanya mulai memanas dan sepertinya air terjun kepedihan akan segera mengalir.
Melihat Nazri yang masih setia dengan keterdiamanya membuat Mahmed semakin geram. "Apa kau bisu Nazri Ahmadisyah?
"Tidak" jawab Nazri spontan masih menunduk.
"Ini peringatan terakhir untukmu. Jangan sekali-kali kau bertindak murahan di depan umum. Kau boleh melakukan itu sesukamu di mana pun, mau itu di hotel, di rumahmu bahkan dengan pria mana pun. MENGERTI?" peringatnya menghina Nazri habis-habisan.
Bibir Nazri membeku tapi tidak dengan tubuhnya yang mulai bergetar. Ia hanya bisa diam menerima dengan sakit penghinaan yang tak manusiawi dari suaminya. Sedikitpun tak ada niat di hati Nazri untuk membela diri karena ia tahu seberapa keras pun melakukan pembelaan Mahmed tidak akan peduli karena sedari awal di mata Mahmed Nazri memang perempuan seperti itu.
"Cukup kedua kali ini aku melihatmu bersama pria yang sama di sekitar rumahku, PAHAM?"
Nazri terlonjak kaget. Ia syok bukan karena tekanan Mahmed di akhir kalimatnya, tapi...
Tunggu!
Bersama pria yang sama?
Setelah sekian lama membodoh dengan apa yang ia dengar, akhirnya kewarasan Nazri kembali, "Apa maksudnya....?" batin Nazri ragu.
"Ayyut?" batin Nazri lagi menebak isi hatinya yang ia yakini tak meleset.
"Sudah berapa kali pria itu memuaskanmu hah? Sampai di depan umum sekali pun kalian tetap...."
"DIAM!!!" pekik Nazri kuat memotong ucapan Mahmed.
Mahmed terkesima. Untuk kali pertama Nazri berani menyanggah ucapannya, dengan suara keras pula.
Mahmed ingin bersuara kembali tapi seketika ia syok mendengar ucapan Nazri.
__ADS_1
"Dia adikku bodoh! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?"
Tak bisa ditolerir lagi akhirnya amarah Nazri meledak juga setelah sekian lama ia menahannya tanpa perlawanan sedikit pun.
Mahmed tak bisa dibiarkan. Suaminya ini benar-benar keterlaluan. Nazri tak bisa diam lagi, ia harus melakukan perlawanan. Tak hanya menghina istrinya sendiri, Mahmed bahkan menghina keluarga istrinya. Sungguh demi apa pun Nazri tak terima dengan penghinaan ini. Selama ini Nazri diam saja dengan perlakuan kasar Mahmed karena pria itu hanya menghinanya tapi tidak sekarang. Nazri tak terima keluarganya dihina apalagi Ayyut yang tak tahu apa-apa kini menjadi bahan hinaan tak manusiawi dari suaminya.
Mahmed sempat terkesima beberapa saat melihat perlawanan Nazri. Perempuan yang selalu menundukkan kepala, tak berani menatap matanya. Kini telah berani melawannya dengan sikap ganas pula.
"Menjijikkan! umpat Mahmed bersuara kecil. Tatapan elangnya menatap Nazri yang juga menatapnya dengan penuh kebencian.
"Adik?" kata Mahmed lagi dengan menyunggingkan senyum merendahkan. Nazri tetap diam, memperhatikan seluruh perilaku Mahmed secara terperinci. Ia balik menatap tajam tatapan suaminya itu.
"Beginikah caramu membela diri?"
"Kau benar-benar tak tahu ya?" lirih Nazri menatap sayu Mahmed. Miris sekali, pria yang berusaha ia hormati ternyata tidak tahu apa-apa tentang istrinya. Tentang Meira. Wanita yang ia cintai.
"Melihat cara bicaramu memperjelas betapa buruknya dirimu. Kau bersikap seolah begitu mencintai dan sangat mengenal Kak Meira, tapi kau tak tahu apa-apa tentang keluargaku walaupun itu dalam hal yang terkecil. Adikku."
Nazri menyuarakan kemarahannya. Menampar Mahmed dengan kata-kata yang telak membanting mental suaminya.
"Aaghhh"
Nazri meringis, nyaris berteriak saat Mahmed mendorongnya sampai ke dinding dengan cara mencekik lehernya.
Nazri menatap mata merah Mahmed dengan penuh keberanian. ia tak takut dengan kemarahan Mahmed bahkan ia menantang Mahmed. Tak ada perlawanan sedikit pun yang Nazri lakukan, ia pasrah membiarkan Mahmed mencekiknya.
BERSAMBUNG
**Insya Allah bakal update lagi besok
follow akun NT author yah
follow juga medsos author dan akan author kompir begitu kalian DM
__ADS_1
Instagram @**fitrihaida
FB @Haida