
"Berani kau menilaiku?"
Nada ucapannya pelan tapi sangat tajam. Geraman amarah terlihat jelas di matanya.
Dengan sekuat mungkin Nazri berusaha bertahan mengabaikan rasa sakit di lehernya saat jari-jari Mahmed semakin dalam menekan lehernya.
"Kenapa tidak? Bukankah kau sepuasmu menilaiku? Aku berbicara fak... ta."
Remasan tangan Mahmed semakin mengeras di leher Nazri, air bening menetes mulus dari mata melewati wajahnya yang merah menahan sakit. Kedua jempol Mahmed menekan kuat leher istrinya tanpa peduli dengan pandangan istrinya yang mulai mengabur.
"Matilah kau Nazri!"
Mata merahnya menatap Nazri penuh murka sedangkan istrinya tidak berbuat apa-apa. Di sela-sela tatapan sayunya, ia menentang tatapan iblis suaminya seakan ia siap mati di tangan Mahmed.
Nazri tak mampu menyahut. Tubuhnya mulai kehabisan tenaga saat sang suami dengan ganas mencekik leher istrinya membiarkan iblis menguasai dirinya.
Sungguh Nazri perempuan yang bodoh. Demi keluarga ia rela bertahan dengan pria berhati iblis dan demi keluarga ia rela nyawanya berakhir di tangan suami yang sama sekali tak mencintainya melainkan sangat membenci dirinya.
Nazri memejamkan mata saat ia mulai kehabisan napas. Namun, sebelum kegelapan menjemput Nazri, ia merasa tubuhnya di hempas dan samar-samar ia mendengar pintu utama terbuka keras.
...***...
Ayyut melaju motornya dengan kecepatan tinggi. Ia baru saja melarikan diri dari kemurkaan mamanya saat sang mama melarangnya mengunjungi Nazri.
"Nazri sudah menikah, kakakmu itu sudah memiliki keluarga. Berhenti memperhatikannya terus, kakakmu itu bukan anak kecil yang terus kau juga."
Kalimat-kalimat itu terus terngiang bagaikan kaset rusak yang terus diputar memenuhi isi kepala Ayyut membuatnya semakin kesal saja.
Jika saja Nazri menikah dengan pria yang tepat maka Ayyut dengan senang hati tak mencampuri urusan rumah tangga Nazri, tapi walaupun Nazri tak pernah mengeluhkan tetang rumah tangganya. Ayyut tahu kalau kakaknya itu tidak baik-baik saja.
Ayyut sangat yakin kalau Mahmed memperlakukan kakaknya dengan sangat kasar. Walaupun Nazri berusaha menyembunyikan apa yang ia alami, Ayyut sangat tahu kehidupan rumah tangga Nazri tidak bahagia. Nazri bukanlah sosok yang baru ia temui, ia sangat mengenal kakaknya itu dan sedikit saja perubahan dari Nazri membuat Ayyut langsung mengetahui apa yang dialami kakaknya itu.
Sedari awal Ayyut tak setuju Nazri menikah dengan Mahmed tapi ia tak punya kuasa untuk menentang pernikahan itu terjadi terlebih Nazri rela saja menjadi pengantin penganti kakaknya. Pria itu hanya menginginkan Meira dan dia bukanlah pria baik untuk kedua kakaknya melihat bagaimana pria itu memperlakukan kedua kakaknya dengan sangat buruk. Pertama ia meniduri Meira tanpa ikatan pernikahan sehingga membuat keluarga Ahmad menuntutnya dan karena Meira melarikan diri dari pernikahannya demi mengejar mimpi menjadi ballerina, terpaksa keluarga Ahmad merelakan Nazri sebagai pengganti kakaknya karena keluarga Mahmed balik menuntut tak ingin menanggung malu.
__ADS_1
Demi nama baik keluarga Nazri merelakan mimpi dan masa depannya, tak mungkin ia sanggup ayahnya mendekap di penjara hanya kesalahan kakaknya yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Mengingat hal itu Ayyut sangat marah. Tak terasa motornya telah memasuki kompleks perumahan pria yang paling dibencinya sayangnya kakaknya tinggal di situ.
Keluarlah!
Ayyut mengirim pesan singkat itu begitu ia telah berada di depan rumah Mahmed, tak lama pintu rumah terbuka menampakkan wajah gadis yang akhir-akhir ini dirindukan Ayyut.
"Ayyut" seru Nazri antusias. Nyaris ia hampir berteriak saking senangnya.
Ayyut tersenyum di atas motornya ikut senang melihat kegirangan kakaknya.
"Ayo masuk," ajak Nazri sumringah menghampiri Ayyut yang masih setia duduk di atas motor mewahnya.
Ayyut tak mengindahkan ajakan Nazri, "Kau menyiapkan pesanku, 'kan? Cepatlah Naik! Aku ingin merasakan sensasi makan di luar dengan masakan mu itu." ujar Ayyut meluruskan langsung tujuan kedatangannya. Ia memakai kembali helmnya yang tadi sempat ia lepas dan memberikan helm lainnya untuk Nazri.
"Huh, padahal aku ingin kau makan di dalam." Ayyut tahu itu hanya basa-basi kakaknya saja dan di balik ekspresi kesal yang diperlihatkan Nazri itu, kakaknya pasti menyimpan was-was jika saja Ayyut menurut masuk ke dalam.
"Yakin di dalam?" tanya Ayyut sembari menyalakan mesin motornya.
Bukan ekspresi kesal seperti tadi yang kentara dibuat-buat, sekarang terlihat kakaknya itu beneran kesal. Ayyut tersenyum geli saja melihat ekspresi lucu kakaknya itu. Baginya setiap kali Nazri kesal itu pasti terlihat sangat lucu di matanya.
Motor Ayyut berjalan lambat membiarkan angin pagi memanjakan tubuh mereka. Ayyut menghentikan motornya di taman kompleks dan langsung turun diikuti oleh kakaknya.
"Ku tebak pasti kau menyiapkan nasi goreng Pattaya."
"Ini kan yang paling kau suka untuk sarapan," sahut Nazri mulai membuka tutup rantang satu persatu.
"Kau paling tahu apa yang aku suka."
"Tentu saja" sahut Nazri lagi membanggakan diri.
"Nasi goreng buatanmu memang yang terbaik Nazri," kata Ayyut dengan mulut yang padat. Nazri tersenyum merekah mendengar pujian dari adiknya itu. Ini lah salah satu alasan Nazri kenapa ia selalu bersemangat menyiapkan makanan untuk adiknya karena memang Ayyut tak pernah mencaci masakannya dan tentunya Nazri handal dalam hal masak memasak.
__ADS_1
Sedang asyiknya senyum-senyum karena pujian adiknya, Nazri tersentak saat Ayyut tiba-tiba menyodorkan sesuap nasi goreng ke mulutnya.
"Kau tahu aku tidak suka makan diperhatikan."
Nazri tersenyum, ia menyambut suapan dari Ayyut dengan semangat. Ayyut tersenyum melihat respon baik dari kakaknya.
"Seandainya ada perempuan lain sepertimu Nazri maka aku akan langsung menikahinya tanpa berpikir lagi, sayangnya kau kakakku."
Namun kata-kata itu hanya hinggap di dalam hati Ayyut. Ia tak berani menyuarakannya takut menambah beban kakaknya dan ia pun tak mungkin mencintai kakaknya sendiri.
Setelah selesai makan Ayyut langsung mengantar Nazri pulang dan ia pun langsung pergi. Namun, belum lama waktu yang ia tempuh, Ayyut menggeram saat ponselnya terus berdering di saku celananya. Terpaksa ia menepikan motornya dan seketika Ayyut langsung syok saat sang nenek kembali menghubunginya.
"Di mana Nazri. Kenapa kalian bertindak seakan menyembunyikan cucuku. Cepat suruh dia segera pulang dan jika terjadi apa-apa pada Nazri aku akan langsung menghabisi kalian."
Gendang telinga kiri Ayyut langsung dihantam oleh suara keras neneknya. Ia menggeram bukan karena kemarahan sang nenek yang menyemburnya melainkan karena telinganya yang tiba-tiba sakit mendengar suara nenek dari seberang begitu mengganggu Indra pendengarannya.
"Nenek kami juga keluarga nenek, Nazri tidak mungkin kami apa-apakan dan sekarang dia bersama ku. Kami di mall."
Deg
Beginilah jika interaksi terjadi dalam keadaan sama-sama kesal, Ayyut merutuki kebodohannya salah berbohong kepada sang nenek.
"Benarkah? Cepat tunjukkan Nazri kepadaku sekarang!" Terdengar sahutan antusias dari orang seberang bersamaan dengan telepon yang berbunyi tut–tut tandanya panggilan dialihkan ke panggilan video.
Ayyut semakin kalang kabut menghadapi desakan neneknya, "Nazri sedang di kamar mandi Nak," jawab Ayyut mendesah gusar. Ia hampir putus asa menghadapi semangat sang nenek.
"Baiklah, sebentar lagi aku akan menelepon dan pastikan aku melihat Nazri."
Tubuh Ayyut langsung melemas seakan sarapan buatan Nazri barusan tak memberikan energi untuknya. Ayyut menghela napas sedikit lega tapi ia tak bisa tenang karena sebentar lagi sang nenek akan kembali meganggunya sebelum melihat wajah cucu kesayangannya. Nazri.
Dengan rasa kesal Ayyut kembali memutar balik motornya. Melajukan motornya dengan kecepatan lumayan tinggi berharap dengan segera dapat bertemu kembali dengan sang kakak.
Begitu sampai di rumah Mahmed, Ayyut berniat mengetuk pintu tapi seketika ia terkesima mendengar suara keras seorang pria yang terkesan kasar dan tajam.
__ADS_1
"Matilah kau, Nazri."
Kedua bola mata Ayyut membulat sempurna, tak perlu waktu lama lagi ia langsung mendobrak pintu menerobos masuk ke dalam dan pemandangan pertama yang dilihatnya langsung membuat jantungnya melemah tapi tidak dengan amarahnya yang langsung membara.