
Pagi ini Nazri bangun lebih awal. Ia bangun pukul 4 pagi dan langsung membersihkan dirinya kemudian sembari menunggu azan subuh, Nazri menyempatkan mengejar shalat tahajud lalu mengaji.
Hampir semalaman ia tidak bisa tidur karena menahan rasa lapar yang meronta-ronta minta diisi tapi tak ada asupan atau bahan apapun di dapur untuk dimasak sekedar mengganjal rasa laparnya.
Melihat kondisi dapur Mahmed yang kosong lempang membuat Nazri yakin kalau pria itu pasti sering makan di luaran, bahkan untuk bersih-bersih di rumahnya. Mahmed tidak memperkerjakan pembantu rumah, ia lebih memilih jasa kebersihan dan sayang kemarin pria itu baru saja memutuskan menyewa jasa kebersihan dengan alasan yang menghina bagi Nazri.
Selama tinggal di rumah Mahmed, tanggung jawab Nazri untuk selalu menjaga Kebersihan rumah karena Nazri di rumah ini bukan sebagai istri baginya, tapi pembantu. Sangat terhina sekali rasanya, tanpa Mahmed perintah juga Nazri pasti akan melakukannya. Namun, apakah pantas julukan menghina itu ditujukan untuknya?
Nazri dan Mahmed tidur di kamar yang terpisah. Pria dingin itu tak mengizinkan Nazri memasuki kamarnya dan Nazri pun sama sekali tak ingin masuk ke sana. Di tempatkan di kamar kecil ini sudah membuat Nazri bersyukur dari pada ia tidur di lantai tanpa alas apa pun mengingat tak ada baik-baiknya sikap Mahmed apa bila mereka berhadapan.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi dan kelihatan penerangan tamaran dari luar menandakan anak matahari mulai mengintip melalui sela-sela jendela. Mahmed terjaga, ia bangkit dan langsung menyalakan lampu kamarnya.
Rasa haus yang sedikit menyiksa membuat Mahmed turun ke bawah menuju ke dapur, tapi sebelum sampai di dapur. Pria itu sempat tertegun mendengar suara merdu seorang wanita sedang mengaji surah Al-waqiah dengan sangat fasih bahkan makhorijul hurufnya sangat pas dan begitu menenangkan hati yang mendengarnya. Namun, bagitu mengetahui siapa sosok yang sedang khusyuk mengaji itu. Mahmed langsung menyeringai memponis Nazri di dalam hatinya berlagak Sholehah dengan menggadaikan kemampuannya yang bisa mengaji tapi akhlaknya sangat buruk.
Mahmed membuka kulkas, mengambil botol mineral dan langsung meneguk isinya sedikit kasar. Ia berbalik hendak kembali memasuki kamar tapi langkahnya terhenti melihat Nazri masih mengenakan mukena berdiri tepat di hadapannya.
Nazri yang tadinya telah selesai mengaji tidak langsung membereskan alat shalatnya. Mengetahui Mahmed memasuki dapur, gadis itu buru-buru menyusul tanpa melepas mukena yang masih melekat sempurna di tubuhnya.
Ia tak berani datang menjumpai Mahmed di kamar itu dan ketika Mahmed hendak bekerja ke kantor. Pria itu dengan keras melarang Nazri untuk tidak menunjukkan wajahnya, makanya dengan keberanian yang diujung kuku. Nazri memberanikan diri menghadap Mahmed.
Melihat bagaimana Mahmed meneguk minumannya tanpa ada kelembutan membuat Nazri tak berani menyapa. Ia berdiri di ambang pintu dapur menunggu Mahmed keluar.
__ADS_1
"Ngapain kau di sini?" Pertanyaan ketus Mahmed membuat Nazri sedikit tersentak.
"A–aku minta uang untuk belanja, tidak ada bahan apa pun di kulkas untuk di masak," ujar Nazri meluruskan tujuannya dengan perasaan yang diselimuti rasa takut.
Mahmed menyeringai. Ia menatap benci wajah Nazri yang menunduk, "Dasar tidak beradab! Bahkan kau tidak tahu tempat untuk meminta uang." Ucapan Mahmed begitu kasar dan menusuk. Nazri sangat sedih sekaligus marah mendengarnya tapi dengan sekuat hati Nazri mencoba tabah mengabaikan rasa sakitnya yang makin hari makin dalam.
"Maaf, tapi kau tidak mengijinkan aku masuk ke kamarmu. Makanya terpaksa aku mengatakannya di sin–"
"Akhh!"
Sakit. Sangat sakit sekali rasanya pergelangan tangan Nazri di cengkram kuat oleh Mahmed. Pria itu tanpa perasaan menarik Nazri naik ke atas mengabaikan Nazri yang hampir keseleo karena tak sengaja menginjak sarung mukenanya.
Dengan amarah yang membara Mahmed masuk kamar dan langsung merogoh laci nakas mengambil dompetnya kemudian menghampiri Nazri yang menunduk takut di depan pintu kamar. Pria itu tanpa belas kasih melempar wajah Nazri dengan helaian lembaran rupiah bewarna merah yang jumlahnya lumayan banyak.
"Kau ingin uang 'kan? Ini, makan ini!"
Nazri memejamkan mata dalam-dalam menghadapi penghinaan langsung dari suaminya. Tak ada sedikit pun harga diri Nazri di mata pria itu, ia menghina, memaki bahkan mengasari Nazri sepuasnya tanpa memikirkan perasaan Nazri yang terluka.
"Aku hanya meminta uang belanja kebutuhan dapur. Tidak banyak yang ku minta... tapi Pantaskah kau memperlakukan aku begini?" Suara Nazri begitu lemah bahkan hanya dirinya yang mampu mendengar sendiri ucapannya.
Mata Nazri berkaca-kaca dan sepertinya akan basah sempurna, tapi ia tak berani menengadah takut menatap tatapan Mahmed yang seakan ingin sekali membunuhnya dengan segera.
__ADS_1
"Dengar perempuan rendah! Tak peduli seberapa banyak uang yang kau inginkan dariku, tapi jangan pernah menunjukkan wajah menjijikkanmu di hadapanku. Mengerti?"
Tajam. Sangat tajam. Semuanya terkandung hinaan dan makian saja, tak ada sedikit pun perkataan halus yang keluar dari mulutnya.
"Apakah kau mengerti yang aku ucapkan? Huh?" Suara Mahmed begitu keras meneriaki Nazri, tak mampu melawan. Nazri hanya mengangguk kecil tak ingin membuat Mahmed semakin marah lagi.
"Menjijikkan sekali, dosa apa aku hingga harus menikahi perempuan rendah sepertimu!" decak Mahmed tak terima. Entah kenapa setiap melihat wajah Nazri selalu berhasil membuatnya diselimuti emosi. Seakan Nazri melakukan kesalahan besar hingga membuat Mahmed begitu dendam, padahal Nazri–lah di sini yang sama sekali tak bersalah. Namun, kenapa selalu ia yang tersalahkan?
Waktu yang memaksa Mahmed untuk berhenti karena ia harus bersiap untuk ke kantor, terpaksa ia mengakhiri perbuatannya. Padahal ia ingin sekali menghajar Nazri dengan beribu cacian, hinaan dan makian hingga membuat perempuan itu tak betah dan memilih pergi. Namun, melihat Nazri yang selalu terima dihina saja tanpa melakukan perlawanan sedikit pun mambuat Mahmed sangat marah.
Jika saja Mahmed tidak terikat janji pada mamanya maka ia dengan segera akan menceraikan Nazri, tapi ia sama sekali tak bisa melakukannya dan untuk terlepas dari ikatan konyol ini ia harus membuat batin Nazri tersiksa sehingga dengan sendirinya perempuan itu memilih pergi dan meminta cerai padanya.
"Pergi?" teriak Mahmed. Ia masuk kamar dan menutup pintu dengan sangat keras membuat Nazri menegang takut melihatnya.
Nazri menatap kosong pintu kamar yang tertutup rapat itu. Gadis malang itu jatuh lemah dengan bersimbah air mata.
Kekerasan Mahmed tak henti-hentinya menyiksa batinnya. Sakit sekali rasanya. Andai di kasih pilihan? Nazri lebih memilih disiksa fisiknya dari pada batinnya. Lukanya memang tak terlihat, tapi sakitnya sangat mendarah daging dan Nazri sendiri entah sampai kapan ia mampu bertahan dengan keadaan seperti ini.
"Astagfirullah, Allah Akbar. Sabar Nazri. Ini hanya sebentar." Air mata masih mengalir lancar dari pelupuk mata, tapi ia berusaha bersabar menguatkan dirinya yang lemah.
Dengan menahan sesak di dadanya dan luka hati yang tak terjabar lagi sakitnya. Nazri merangkak mengutip lembaran uang seratus ribu yang berserakan itu dengan perasaan hancur.
__ADS_1