
Suasana malam begitu sepi dan mencekam. Angin yang berhembus bagaikan beribu jarum berbisa melayang dan menghantam kasar tubuh seorang pria jangkung yang sedang menghisap rokoknya di samping sebuah motor balap miliknya.
Ayyut berdiri di hadapan sebuah bangunan megah yang semula bangunan itu begitu ramai oleh resepsi pernikahan. Tatapan mata Ayyut memandang datar pada sebuah kamar yang letaknya di lantai 3 sebagai tempat yang diduga kamar pengantin.
Ayyut menginjak kasar puntung rokoknya. Ia kembali menyalakan rokoknya yang tersisa satu batang lagi. “Ck” decak Ayyut melempar kasar kotak rokoknya. Ini yang kesepuluh kali Ayyut menghisap rokoknya selama kurang dari satu jam ini ia berdiri.
Malam yang semakin dingin tak ia hiraukan. Fokusnya sepenuhnya terletak pada sebuah kamar yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya.
“Ayyut?”
Merasa namanya di sebut Ayyut menoleh dan betapa tekejutnya dirinya melihat seorang gadis berdiri tak jauh darinya di tengah malam selarut ini.
“Nazri, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ayyut tiba-tiba cemas langsung berjalan cepat menghampiri Nazri.
“A... aku...,” Nazri tak jadi melanjutkan ucapannya ketika merasakan Ayyut menubruk kasar tunuhnya.
Nazri membisu. Ia hanya bisa diam membiarkan Ayyut memeluk tubuhnya.
Ayyut melepaskan pelukannya. Ia menangkup pipi Nazri yang sebagian tertutup oleh kerudung gadis itu.
“Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau keluar di malam selarut ini? Hmm?”
Nazri diam meresapi kelembutan Ayyut yang terlihat begitu mencemaskannya, begitu menenangkan syahdu. Tatapan Nazri memandang lamat-lamat Ayyut begitu juga dengan pria itu, kemudian Nazri berkata. “Aku tadi melihat kamu di sini lalu aku segera turun.”
“Bodoh!” maki Ayyut membuat Nazri terdiam tak mampu berkata-kata.
“Kau ini perempuan Nazri, kenapa kau keluar sendiri disaat malam selarut ini? Apa kau ingin membunuhku?”
“Maafkan aku?” gumam Nazri sedih menyesali perbuatannya. Ayyut menghela napas kasar. Melihat Nazri yang murung membuat dirinya tak mampu memarahi gadis itu.
Ayyut menarik tubuh Nazri untuk lebih mendekat lagi dengannya. Ia mengangkat dagu Nazri agar menatapnya, kemudian ia mengelus pipi Nazri yang terasa begitu dingin di tangannya mengalahkan dinginnya tubuhnya, padahal ialah yang sedari tadi terkena dinginnya malam larut ini.
“Lihatlah dirimu! Kenapa kau sebodoh ini? Keluar lengkap dengan riasan pengantin. Bagaimana jika seorang pria lain yang lebih dulu melihatmu? Ak-ku....” Ayyut tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia sangat kalut melihat penampilan Nazri yang berani-beraninya keluar hotel ini dengan penampilannya yang begini. Ia melepaskan kasar jas yang melilit di tubuhnya, ia pasangkan dengan hati-hati di tubuh Nazri.
“Ayo masuk, aku akan mengantarmu,” ujar Ayyut menuntun Nazri dengan memegang erat kedua bahu gadis itu.
__ADS_1
Nazri melawan langkah Ayyut. Pria itu sempat heran mendapati Nazri yang tak mau melangkah maju. Ia menoleh menatap mata Nazri yang memancarkan sebuah permohonan.
“Nazri, ayo masuk! Kau tak boleh di sini.”
Nazri menggeleng menatap Ayyut dengan sedih.
“Dimana laki-laki itu?” tanya Ayyut dingin. Urat-urat lehernya mengeras mendapati kejanggalan pada diri Nazri.
“Dia pergi” jawab Nazri sedih. Kepalanya menunduk tak berani menatap mata elang Ayyut. Ia tahu laki-laki di hadapannya ini sangat marah. Nazri memeras kuat-kuat gaun pengantinnya dan bibirnya ia gigit berusaha untuk menahan air matanya untuk tidak tumpah.
“Brengsek” umpat Ayyut memaki pria yang dengan berani-beraninya menginggalkan perempuan yang begitu berarti bagi Ayyut.
Ayyut menghembuskan napas kasar melihat ekspresi ketakutan Nazri. Ia jadi menyesal karena tanpa ia sadar ia baru saja membuat Nazri takut. Ia menarik tubuh Nazri membawa gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
Nazri diam merasakan kehangatan tubuh Ayyut yang menenangkan dirinya. Kedua tangan Nazri terangkat membalas pelukan Ayyut.
“Tidak baik bagi kita jika terus di sini, ayo masuk aku akan mengantarmu ke dalam dan aku akan segera pulang,” ujar Ayyut sembari melepaskan pelukannya.
Nazri menggeleng keras mendengar penuturan Ayyut. Pria itu yang melihatnya semakin mengerutkan kening.
“Kenapa?” tanya Ayyut frustrasi.
Nazri menundukkan dalam-dalam kepalanya, “Aku takut,” lirih Nazri dengan suara bergetar.
“Aku tadi mendengar suara aneh pasangan dan aku-“
Penjelasan Nazri menggantung ketika Ayyut kembali mendekap tubuhnya dengan tiba-tiba.
“Jangan lanjutkan lagi!” perintah Ayyut memahami ketakutan Nazri.
Nazri mengangguk di sela pelukan Ayyut. Ia memeramkan matanya merasakan ketenangan dalam pelukan Ayyut. Ia selalu merasa aman dan tak pernah takut apabila selalu berada di dekat Ayyut. Pria ini sangat menjaganya dan Nazri selalu merasa tenang seakan Ayyut adalah malaikat pelindung dirinya.
Ayyut mengelus lembut kepala Nazri yang di tutupi oleh kerudung putih. Perempuan itu terlihat tenang dalam pelukannya, hati Ayyut perih menyaksikan penderitaan Nazri. perempuan yang selama ini ia coba lindungi, sayangi dengan sepenuh hati kini jatuh ke dalam kehidupan pria bejat seperti Mahmed.
Rahang Mahmed mrngeras. Ia berjanji jika nanti pria itu berbuat macam-macam kepada Nazri, maka ia bersumpah demi namanya tak akan membiarkan hidup Mahmed tenang.
__ADS_1
Ayyut tak sembarang tak menyukai Mahmed. Melihat tatapan yang di perlihatkan proa itu kepada Nazri membuat Ayyut muak, sangat berbeda jauh kala Mahmed menatap Meira. Kakak tertuanya.
"Mau ikut bersamaku?" tanya Ayyut sangat lembut.
Mendengar suara Ayyut Nazri menengadah hingga membuat pelukan mereka terlepas, "Kemana?" tanyanya penasaran.
"Mau atau tidak?" ujar Ayyut balik bertanya membuat Nazri mengerucutkan bibir cemberut.
"Mau, tapi ke mana?" tanyanya lagi mencoba untuk bersabar.
"Ikut saja jika memang mau," finish Ayyut.
Nazri menghela nafas.
"Baiklah," ujarnya pasrah.
Kemudian mereka pun pergi meninggalkan bangunan mewah itu. Nazri memeluk erat peluk Ayyut. Adiknya itu terlihat amat fokus mengendarai motor sport miliknya.
Di lain sisi. Di dalam ruangan besar yang terdapat amat banyak umat manusia, di lengkapi berbagai jenis minuman yang mampu membuat mahkluk yang meminumnya lupa diri. Tampak seorang pria lengkap dengan jas hitam miliknya sedang duduk sendirian di bar, sesekali meminum minumannya dengan rakus seakan tak ada waktu esok untuk menikmatinya.
Mahmed membalikkan badan. Melihat pemandangan di depannya yang mampu menciptakan seringai geli beserta luka yang mengiris ulu hati.
Tampak orang-orang dengan berbeda gender, tak peduli tua atau mudah. Sedang menari liar menikmati alunan musik DJ yang memekakkan telingah.
Tempat yang terkutuk itu adalah tempat yang di datangi Mahmed malam ini sebagai alibi mengenyahkan luka serta emosinya.
"Kenapa kau tega pergi di saat pernikahan kita, Meira," lirihnya yang tanpa sadar setetes air mata mengaliri wajah tampannya.
**mau lanjut bab baru hari ini juga?
ayo komen Teman Readers
aku nantikan jejak kalian
Instagram @fitrihaida**
__ADS_1