
Mahmed berjalan cepat menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang penanganan di mana ibunya di situ sedang terbaring lemah.
"Bagaimana keadaan Mama saya, Dokter?" tanya Mahmed sedikit desakan.
Dokter tersebut menghela napas sedikit panjang membuat Mahmed yang melihatnya tiba-tiba diselimuti rasa takut.
"Mama saya baik-baik saja 'kan? Dia tidak kenapa-kenapa 'kan Dokter?" Tanpa sadar nada suara Mahmed sedikit meninggi.
Dapat perlakuan kurang mengenakkan dari Mahmed tidak menarik sedikit pun emosional dokter tersebut, ia menggeleng kecil dan berucap. "Alhamdulillah berkat kuasa Allah pasien baik-baik saja dan beruntung karena Tuan cepat membawa pasien ke sini– jika tidak...."
Mahmed sempat menghela napas lega saat mendengar kata-kata menenangkan dari dokter laki-laki paruh baya berbadan kekar itu, tapi alisnya terangkat bersamaan dengan detak jantungnya berdetak lebih cepat lagi saat dokter itu berbicara ragu dan perkataannya langsung di potong Mahmed.
"Jika tidak apa Dokter?"
"Jika tidak kemungkinan pasien tak terbantu karena penyakit serang jantungnya."
Dokter itu berkata cepat dalam satu tarikan napas. Mahmed terlihat mendesah gusar. Tak ia sangka perdebatan mereka pagi ini ternyata membawa musibah pada ibunya. Hampir saja ia membuat ibunya celaka, nyaris meninggal.
"Saran dari saya lebih perhatikan lagi keadaan pasien, hindari ia dari tekanan dan terutama pasien tidak boleh mengalami hal-hal yang mengejutkan dan itu akan sangat mengganggu kesehatan Pasien."
Mahmed hanya bisa terdiam memaki kebodohannya. Dalam hati ia mengutuk Nazri, perempuan dalam hitungan hari baru saja jadi istrinya yang tiba-tiba datang menerobos masuk dalam kehidupannya membuat hidup Mahmed seketika kacau balau. Tak jadi menikah dengan pujaan hati dan sekarang ia hampir kehilangan ibunya.
"Ap–apa saya boleh masuk Dokter?" Terdengar kandungan keraguan pada suara Mahmed. Wajah tegas yang ia perlihatkan seakan tak mampu menutupi ketakutannya.
"Silahkan! Pasien sudah siuman dan sepertinya dia menunggu Tuan."
Mahmed memaksakan tersenyum mendengar tanggapan dokter itu. Rasanya tak mungkin ibunya menanti kehadiran dirinya mengingat ibunya pasti marah dan sangat kecewa akan dirinya yang durhaka.
"Terima kasih."
Mahmed pamit kepada dokter ia masuk ke dalam menemui ibunya yang entah mau atau tidak menemuinya, yang jelas Mahmed sangat menyesal akan sikap kurang ajarnya dan ia ingin segera memeluk dan memohon maaf dari ibunya.
"Maamaaa" Ada keraguan yang bercampur dalam suara Mahmed. Ia mesum ke dalam dengan langkah lemah ditemani hati yang teiris melihat ibunya tak mau menatapnya dan lebih memilih menatap tiang infus.
"Maafkan Mahmed Ma"
Rika masih tak bergeming. Rasa kecewa akan sikap putranya masih lengket sempurna dalam hatinya.
"Aku mohon Ma, jangan sakit lagi! Aku minta maaf."
"Mama?" Tak sadar Mahmed mulai mengeluarkan air mata melihat ibunya tak mau menatap bahkan enggan mendengarkannya.
__ADS_1
"Maaf" lirih Mahmed hendak memegang punggung tangan ibunya, tapi langsung di tepis kasar dan itu semakin membuat hati Mahmed teiris.
"Dengan sangat Ma, tolong maafkan Mahmed dan Mahmed janji tidak akan kurang ajar ataupun melawan Mama lagi. Sungguh...."
"Untuk apa?"
Mahmed terkesima. Ia sempat terdiam sebentar tapi selang beberapa detik ia langsung tersenyum tipis akhirnya mamanya bersuara. Dengan cepat ia menyeka air mata, menghadap mamanya.
"Unt..."
"Untuk kau kembali pada Meira dan meninggalkan Nazri. Begitu?"
Baru saja Mahmed merasakan titik bahagia, langsung hancur begitu mendengar penuturan Rika telak membuat Mahmed membisu.
"Atau menceraikannya?" lanjut Rika lagi menyelidiki tajam bola mata Mahmed. "Itukan niat kamu? Lalu untuk apa kamu minta maaf jika kamu bersikukuh dengan kemauan kamu? Bahkan kamu tidak tahu kekecewaan yang kamu gores di hati Mama."
"Mahmed tidak berniat menyinggung hal itu sekarang Ma." Suara Mahmed terdengar pelan bahkan terkesan permohonan.
"Kalau tidak sekarang, kapan?"
Mahmed membisu. Rasanya sangat sulit menanggapi hal yang begitu sulit baginya, ia merasa seakan mamanya mulai menciptakan arus pemisah. Pemisah antara dirinya dan Meira.
"Kau egois Mahmed!" Suara lemah Rika menginterupsi ruangan yang hanya mereka berdua yang menghuni, tapi menciptakan suasana yang mencekik bagi Mahmed.
"Meira yang meninggalkanmu, tapi kamu masih mempertahankannya. Dan kamu menyakiti wanita yang tak bersalah itu bahkan kamu juga menyakiti Mama." Rika semakin terisak dan itu semakin mengiris hati Mahmed.
"Kenapa cintamu begitu besar kepada Meira sampai kamu membunuh Mama?"
"Mama?" seru Mahmed syok tak terkira.
"Bagaimana Mama mangatakan itu? Mama tahu aku sangat menyayangi Mama–?
"Tapi secara tak langsung kamu membunuh Mama dengan terus melihat kamu mengharapkan Meira dan Mama tak sanggup melihat jika kamu menyakiti Nazri," Rika terdiam sesaat menetralkan napasnya yang memburu akibat emosionalnya yang bercampur aduk. "Sama halnya kamu menyakiti Mama dan sakitnya Mama tak sanggup. Lebih baik Mama tiad–"
"Maaa!" Mahmed mendekap tubuh lemah mamanya dengan berdimbah air mata.
"Tolong jangan katakan itu Ma! Sungguh aku tidak berniat menyakiti Mama." Kembali Mahmed menangis dan masih memeluk tubuh Rika.
"Kalau begitu berjanjilah untuk tidak menceraikan Nazri."
DEG
__ADS_1
Mahmed membisu. Bagaikan jarum yang mematikan menerobos masuk ke tubuhnya, menggerogoti seluruh organ tubuhnya tanpa celah sedikit pun hingga menyisakan efek tak berdaya bagi si empu. Mahmed sangat syok, refleks ia menjauh dan menatap mamanya dengan tatapan hampa.
"Aku tidak bisa menjamin itu, mengingat kami menikah dalam hal tidak baik dan tak ada jaminan dalam pernikahan tak ada perceraian." Akhirnya setelah terdiam cukup lama, kesadaran Mahmed kembali.
"Kalau begitu jangan pernah berniat menceraikan Nazri."
"Tapi bagaimana–" sambung Mahmed cepat yang langsung dipotong oleh Rika.
"Kecuali dia yang meminta cerai padamu."
***
Seharian ini adalah hari yang paling melelahkan dalam hidup Mahmed. Ia sedari pagi dikejutkan dengan kejadian-kejadian yang menguras hati dan pikirannya dan sekarang pun tak kenal malam kembali mata dan hatinya diuji saat tak sengaja melihat sosok perempuan familier sedang berboncengan dengan seorang laki-laki yang sepertinya umurnya tak jauh beda dari perempuan itu.
Kedua pasangan itu sangat mesra dan lebih mengejutkan lagi mereka berhenti tepat di depan rumah Mahmed.
Mahmed menyeringai memperhatikan pasangan itu dengan seksama tanpa terlewat celah sedikit pun dan tak disangka kedua bola mata Mahmed langsung membulat sempurna seakan ingin keluar dari tempat asalnya dengan segera. Urat-urat leher Mahmed langsung timbul membentuk akar-akar dahsyat bahkan rahangnya langsung mengeras beserta giginya yang mengertak sendiri tanpa diperintah saat melihat perempuan yang jelas-jelas di kenalnya sedang di peluk mesra oleh pria lain bahkan pria itu tak segan mendaratkan ciuman di kening perempuan itu.
"Ck" Mahmed hanya bisa mengumpat seraya memaki perempuan itu dalam hati tanpa berniat keluar dari mobilnya menggerebek pasangan yang tak tahu tempat bermesraan itu.
"Dasar! Dengan berhijab dia membiarkan pria lain menyentuhnya. Memalukan nama muslimah saja," Mahmed memaki perempuan yang berbalik menghadapnya, tapi tak menyadari keberadaannya karena fokus perempuan itu sepenuhnya pada pria yang baru saja pergi dengan motor balapnya.
Tatapan tajam Mahmed memperhatikan pria yang melewati mobilnya. Mahmed tak melihat wajahnya tapi Mahmed dengan cepat langsung menghapal plat motornya. Ia akan mempermalukan pria itu jika ia berhasil bertemu dengannya bersamaan dengan Nazri. Itu tekat yang telah Mahmed rencanakan dengan matang dalam hatinya.
Mahmed menyalakan mesin mobilnya dan ia juga sempat melirik perempuan yang masih berdiri di depan rumahnya. Melajukan mobil, Mahmed membunyikan klakson mobilnya dengan sangat keras tanpa peduli dengan tetangga yang akan menyembur karena terganggu. Fokus Mahmed sepenuhnya ingin memberi pelajaran kepada perempuan itu karena telah berhasil membuatnya marah.
Nazri berbalik ketika mendengar suara nyaring klakson mobil telat ke arahnya dan tak itu saja, cahaya kilau dari mobil itu menyorotnya hingga membuat Nazri langsung kehilangan pandangannya dan tak sampai di situ saja Nazri syok saat mobil itu hampir menabraknya dan hanya meninggalkan satu senti meter lagi untuk mengenai tubuhnya dan akan Nazri pastikan tubuhnya langsung hancur dihantam oleh mobil dan pagar rumah di belakangnya ini.
"Mahmed? " lirih Nazri syok begitu melihat pria yang mengeluarkan sedikit kepalanya itu menatap Nazri dengan sangat tajam.
"Menyingkir!" Suara Mahmed sangat kuat dan tajam. Nazri dibuat kikuk mendengarnya.
Masih di dalam mibil, Mahmed menggeram melihat Nazri hanya bergeser sedikit tak mengerti ia mau masuk.
"Buka pagarnya bodoh!"
Bagaikan di hipnotis. Nazri menuruti perintah Mahmed, dengan tubu gemetar dan tenanga yang seadanya. Nazri menggeser pagar besih berukuran lumayan besar itu dengan susah payah.
Sedikit tak ada rasa kasihan di hati Mahmed melihat Nazri yang kelelahan, bahkan ia geram sendiri melihat gerakan lambat Nazri. Begitu pagar terbuka. Mahmed menerobos masuk mengabaikan Nazri yang menegang dengan ulahnya.
**Favoritkan biar tidak ketinggalan update terbarunya
__ADS_1
Ig @fitrihaida
FB @Haida**