Tiba-tiba Jadi Pengantin

Tiba-tiba Jadi Pengantin
05


__ADS_3

Tubuh jangkung yang terlelap dengan damainya di king size beludru itu mengabaikan cahaya matahari yang menerobos masuk melalui sela jendela, menerpa wajah tampannya tampa pamit tak menjadi gangguan bagi pria itu. Bahkan selimut tebal berwarna setara dengan king size miliknya yang membalut tubuhnya tak memberi reaksi panas sedikit pun baginya padahal hari mulai siang.


Mahmed tidur dengan begitu nyenyak setelah semalaman menghabiskan malam ditemani minuman keras yang entah berapa puluh botol ia teguk.


"Mahmed!!!" Entah dari mana asal suara teriakan itu yang dengan entengnya meganggu kesenangan tidur Mahmed. Pria itu pun tak peduli kembali tidur dengan menutup rapat kedua telinganya dengan bantal mengabaikan terikan perempuan yang begitu familier baginya. Namun, baru saja ia akan kembali dengan alam mimpinya selimutnya ditarik paksa bersamaan dengan suara teriakan yang begitu melengking tepat di telinganya.


Mahmed bangkit, "Mama?" ujarnya sedikit meninggikan suaranya menatap kesal wanita paruh baya yang sedang bersedekap tepat dihadapannya menatap dirinya dengan tatapan memakan.


"Kau minum?" tanya Rika begitu mencium bau tak sedap yang begitu menganggu Indra penciumannya bahkan ia tadi sempat membuang muka ketika Mahmed berbicara.


Mahmed menghiraukan pertanyaan mamanya. Ia menarik selimutnya bersiap untuk kembali tidur tapi sialnya mamanya kembali menarik selimutnya hingga membuat Mahmed sangat geram.


"Di mana Nazri?"


"Di mana menantuku?"


Mahmed yang semula mencoba tak peduli dibuat syok oleh mamanya dengan pertanyaan yang telak menghantam batinnya. Ia awalnya tak peduli dengan pertanyaan mamanya yang menanyainya nama perempuan yang sama sekali tak ia kenal. Namun, ia terkesima begitu mendengar kata 'menantu' keluar dari bibir mamanya.


Mahmed menggeram. Ia baru saja sadar ternyata ia telah menikah dan dengan malangnya bukanya menikah dengan kekasihnya, ia malah menikah dengan adik kekasihnya ketika sang calon melarikan diri dari pernikahan mereka.


"Di mana kau buat menantuku," amarah Rika telah berapi-api siap untuk meledak ketika dengan tak tahu dirinya orang yang ditanyainya diam saja.


"Oh perempuan itu"


"Perempuan itu?" ulang Rika tak percaya dengan respon Mahmed. Anaknya itu terlihat tenang berbeda dengan dirinya yang diselimuti kemarahan karena tak melihat keberadaan menantunya di rumah putranya.


"Dia masih di hotel"


"Hotel?" ulang Rika lagi frustrasi sendiri dengan sikap putranya yang sama sekali tak peduli sama sekali dengan istrinya yang baru dinikahinya.

__ADS_1


"Kau meninggalkan Nazri– di hotel?" tanya Rika berusaha untuk bersabar. Tak ada suara dari putranya itu, ia hanya mengangguk kecil seakan membenarkan pertanyaan Rika yang tentu saja membuat Rika langsung lepas kendali.


"Kau!"


"Mamaaa?" Mahmed berteriak frustrasi melihat Rika meraih vas bunga dari nakas bersiap untuk menghantam kepalanya beruntung tak jadi karena mamanya dikagetkan dengan dering ponsel dari saku gamisnya.


"Habislah kau!" geram Rika melirik sekilas Mahmed sebelum mengangkat panggilan telepon, tapi keningnya sedikit terangkat begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya ternyata mama Nazri. Perempuan yang baru saja sumber dari keributan antara ibu dan anak itu.


"Halo" sapa Rika. Mahmed terlihat terdiam kesal menatap punggung mamanya yang meganggu ketenangannya. Ia bersiap untuk bangkit ke kamar mandi tapi belum sempat melangkah Rika langsung berbalik memblokir ruang gerak Mahmed dengan tatapan mematikan miliknya yang khas sebelum Mahmed rasakan vas bunga itu benar-benar mengenai kepalanya.


***


"Aku tidak mau lagi, Ayyut," tolak Nazri geram dengan menekan nama adiknya saking kesalnya.


"Makanlah Nazri!" ujar Ayyut tak kala geramnya dari Nazri.


"Mi tidak membuat kenyang apa lagi kau hanya makan satu piring. Sudah ku bilang tadi makan nasi tapi kau menolak."


"Itu kemauanku, dan 2 piring mi bukanlah porsi aku. Jadi berhenti memaksaku dan makan sendiri pesanan kamu itu!"


Perdebatan sengit terjadi diantara kedua saudara itu. Tak ada yang mau mengalah diantara mereka, kedua-duanya sama-sama keras hingga menarik perhatian orang sekitar merasa lucu dengan kelakuan konyol mereka yang mereka rasa biasa saja tapi menarik bagi orang lain, apa lagi mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang terkesan tak pernah akur namun romantis.


"Makan Nazri atau aku akan benar-benar marah." Nada suara Ayyut terkesan tak ingin dibantah hingga membuat nyali Nazri menciut tak berani menyela lagi.


"Baiklah, tapi kau harus membantuku walaupun sedikit karena sungguh aku tidak akan bisa menghabiskan ini." Suara lemah Nazri membuat Ayyut sedikit menyesal. Ia mengangguk dan memindahkan sebagian mi dari piring Nazri ke piringnya yang tadi sempat kosong.


"Bisa?"


Nazri mengangguk membenarkan pertanyaan Ayyut. Adiknya itu menuruti permintaannya membuat Nazri sedikit menyunggingkan senyum dan terlihat mi lebih banyak dimakan oleh Ayyut seakan mengerti ketidaksanggupan Nazri menyantap mi itu. Ayyut memang keras tapi sebenarnya dia sosok pengertian.

__ADS_1


"Ayyut, bagaimana dengan Ma–mah–med. Sua–mi...ku." Suara Nazri nyaris tak terdengar. Ada keraguan bercampur rasa takut saat ia mengucapkan pertanyaannya itu yang dengan susah payah ia lontarkan.


"Dia tak mengingkanmu. Kenapa? Kau ingin mendatanginya?"


Nazri menundukkan dalam-dalam kepalanya. Sakit rasanya mendengar pertanyaan menyakitkan itu dari Mahmed yang telak mehantam perasaannya.


Ayyut diam saja memperhatikan Nazri dengan seksama. Ia menyadari perubahan kakaknya itu dan ia jelas-jelas mengerti perasaan Nazri sekarang, tapi ia tak ingin membela ataupun memberi respon sedikit baik tentang pria itu yang sekarang menjadi sumber emosi Ayyut hanya dengan mendengar nama pria itu saja apa lagi nama itu disebut oleh Nazri membuat amarahnya langsung berkobar mengingat Nazri–lah korban dari perbuatan buruk pria itu. Namun, Nazri masih saja mengingatnya yang jelas-jelas menyakitinya tanpa celah kebaikan. Bodoh memang!


"Tidak ada kabar darinya?" tanya Nazri berusaha tegar menahan rasa sakitnya. Ayyut menggeleng yakin. "Kau ingin kita mencarinya tanpa tau alamatnya. Begitu?"


Nazri terdiam. Ternyata Ayyut menyadari keraguan Nazri tentang kabar Mahmed.


"Tidak ada kabar dari keluarga Ma– nya. Dari Mama, Papa?" Nazri tak berani menyebut nama Mahmed. Hanya dengan huruf awal pria itu yang sempat Nazri ucapkan tapi wajah Ayyut langsung berubah seram.


Ayyut kembali menggeleng membuat semangat Nazri melemah. Ia mencoba tegar dan kembali bertanya. "Kau telah menelpon Mama?" Kembali Nazri merasakan sakit di dadanya melihat Ayyut hanya menggeleng saja.


"Aku telah menelepon Mama Papa sedari tadi, mereka tak bisa dihubungi. Apa perlu kau sendiri yang menghubungi?" tawar Ayyut menyerahkan ponselnya kepada kakaknya.


Nazri hanya diam menatap telepon genggam itu dengan pandangan sedih. Memang benar ia menikah dengan Mahmed karena paksaan yang sama-sama tidak mereka inginkan. Namun, pantaskah ia mendapatkan perlakuan buruk Mahmed seperti ini?


"Tidak" Setelah puas menatap telepon genggam itu. Nazri menolaknya diiringi gelengan lemah. Ayyut memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Ia tahu pasti Nazri tak berani menghubungi orang tua mereka makanya Ayyut tanpa rasa was-was sedikit pun menawarkan ponselnya kepada Nazri. Sebenarnya ia membohongi Nazri, sebelum pagi tiba ia telah mendapat alamat Mahmed dari surel yang di kirimkan oleh mamanya, tapi ia tak ingin melepas ataupun menyerahkan Nazri kepada pria kepar*t itu begitu cepat. Ia ingin memberi sedikit pelajaran kepada Mahmed agar ia tahu bagaimana rasanya ditinggalkan.


**Instagram @fitrihaida


FB @Haida


follow medsos author yah


mari berteman karena author orangnya suka nambah teman ☺️**

__ADS_1


__ADS_2