Tiba-tiba Jadi Pengantin

Tiba-tiba Jadi Pengantin
15


__ADS_3

"Biadab!" Makian itu keluar begitu saja dari mulut Ayyut. Suara beratnya yang khas akan amarah seketika menggema atmosfer di sekitarnya.


Mahmed terkesima mendengar teguran tajam seorang pria yang seketika membuat ia yang dikuasai iblis itu membeku bersamaan dengan genggamannya yang melonggar di leher Nazri.


Nazri yang masih berada dalam kuasa Mahmed siap untuk menutup mata membiarkan kegelapan menjemputnya, tapi sebelum itu terjadi samar-samar ia mendengar suara akrab menyebut namanya.


Ayyut berjalan cepat dengan langkah selebar mungkin. Melihat saudarinya disakiti secara tak manusiawi menimbulkan kobaran amarah di hatinya.


Walaupun Mahmed tak menoleh ke asal suara, ia tahu sosok itu mendekat dan saat itu juga ia langsung lepaskan cekikikan–nya di leher Nazri hingga membuat tubuh Nazri langsung merosot dengan sadis.


Mata berkunang-kunang Nazri yang diselimuti air bening menatap Ayyut yang kini telah berada dihadapannya dengan perasaan hancur sekaligus senang. Saudara sekaligus malaikat pelindungnya ternyata dapat ia lihat disaat-saat terakhirnya.


Ayyut yang tadinya bersiap memberikan bogem mentah ke wajah Mahmed langsung urung saat melihat tubuh lemah saudarinya jatuh merosot dalam keadaan menyedihkan, "Nazri bertahanlah!" lirih Ayyut memangku langsung kepala Nazri di pahanya. Saudarinya itu diam saja tak menjawab, ia menatap dalam wajah merah Ayyut membuat Ayyut yang mendapatkan tatapan itu langsung ketakutan dan seketika Ayyut langsung merasa semangat hidupnya langsung sirna melihat saudarinya menyunggingkan senyum kecil lalu menutup mata menyisakan beban kepada Ayyut.


"NAZRIII" teriak Ayyut menggema dengan bersimbah air mata. Mahmed tertunduk diam di sudut lemari tempat beberapa piala terpajang.


Ayyut mengangkat tubuh Nazri dengan tergesa, ia berjalan dengan langkah lebar menuju pintu utama. Namun, sebelum mereka berdua benar-benar keluar dari rumah itu Ayyut menyempatkan menatap Mahmed.


"Aku bersumpah jika terjadi apa-apa kepada Nazri aku akan membunuhmu," ujar Ayyut dikuasai amarah. Mahmed diam tak menjawab, ia hanya menatap kedua makhluk itu yang baru saja keluar dari rumahnya tanpa ekspresi yang terbaca.


...***...


Suasana sunyi mendekap orang-orang yang berada di depan ruang IGD itu. Kedua keluarga telah berkumpul tapi tidak dengan sang pelaku masalah.

__ADS_1


Ada 5 orang di situ tapi tak ada satu pun yang bersuara, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing karena Ayyut belum cerita tentang kejadian yang menimpa kakaknya.


Marina, Rika bersama suaminya duduk di bangku terdekat sementara Andauval berdiri di dekat pintu IGD dengan perasaan gusar sesekali mengusap wajahnya secara kasar. Ia terlihat sangat cemas mengkhawatirkan keadaan putrinya dan Ayyut bagaikan tak memiliki tulang, ia duduk di lantai tak jauh dari ayahnya. Menyandarkan tubuhnya di dinding rumah sakit dengan kepala menunduk dalam bak gembel.


"Mahmed?" Suara pelan Rika seketika membuat seluruh mata menoleh secara bersamaan. Terlihat Mahmed dengan berani menampakkan wajah yang seketika membuat Ayyut langsung bangkit berlari menghampirinya.


Bughh


Ayyut melayangkan satu tinjuan telak ke wajah Mahmed membuat pria itu tersungkur cukup jauh. Napas Ayyut tersengal karena pukulannya yang dipenuhi emosi. Marina, Andauval dan Rika terkejut begitu juga dengan Mahmed yang belum siap dengan gerakan cepat Ayyut sementara Yoga membuang muka malu melihat perbuatan putranya.


"Sini kau brengsek!" geram Ayyut kembali menghampiri Mahmed yang belum bangkit.


Rika yang berniat melerai mencoba maju tapi langsung dihambat oleh suaminya. Yoga diam saja tak mempedulikan tatapan kebingungan istrinya, tapi matanya menatap tajam putranya yang dipaksa bangkit oleh Ayyut.


Bughh


Andauval dan Marina diam saja membiarkan putranya menghajar Mahmed. Melihat kemarahan Ayyut tertuju sepenuhnya kepada Mahmed memperjelas tebakan kedua pasang orang tua itu bahwa Mahmed penyebab putri mereka berada di ruang IGD ini.


"Beraninya kau menyakiti kakakku biadab!" Ayyut yang bersiap memberikan pukulan ketiga ke wajah Mahmed langsung terhenti saat dokter tiba-tiba keluar. Ia melepaskan kasar tubuh Mahmed lalu menerobos maju tak membiarkan ayahnya menghadap dokter.


"Bagaimana keadaan kakak saya dokter?" Terdengar suara desakan tak sabaran Ayyut bersamaan dengan suara erangan.


Mahmed yang baru saja lega terlepas dari pukulan Ayyut berniat untuk bangkit, tapi tubuhnya kembali dihantam. Kali ini bukan di bagian wajahnya melainkan perutnya yang ditendang Yoga tanpa minat tapi dengan penuh tenanga.

__ADS_1


Terlihat wajah tegas Yoga menendang kasar perut putranya dengan perasaan benci. Malu sekali melihat kelakuan putra satu-satunya yang memiliki karakter amat buruk. Tak hanya meniduri anak gadis orang di luar nikah, Mahmed bahkan mengasari istrinya sendiri yang berkorban melindungi nama baik keluarga.


"P–apa?" lirih Mahmed terbata. Ia menatap tak percaya Yoga yang menatap tajam dirinya.


Mahmed. Untuk kali pertama ayahnya memukulnya. Anak tunggal yang selalu dituruti kemauannya oleh kedua orang tuanya.


Rika yang melihat putranya dihajar suaminya hanya bisa diam, menundukkan dalam-dalam kepalanya seakan hal itu dapat menutupi rasa malunya. Perasaan Rika sekarang bercampur aduk, melihat putranya yang dihajar habis-habisan oleh dua orang pria secara bergantian membuat perasannya hancur, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa dan diwaktu yang bersamaan ia sangat marah, kecewa pada kelakuan tercela putranya.


"Bang" panggil Rika dengan suara pelan berharap menyadarkan suaminya dari kemarahannya dan tak memukul putranya lagi.


Sebelum berbalik menghadap istrinya, Yoga menghela napas panjang mencoba meredakan emosinya yang tersulut. Ia menarik tangan istrinya dengan halus membawa Rika menjauh untuk menghindari percakapan antara dokter dan Ayyut, takut kalau istrinya mendengar kabar buruk mengenai keadaan Nazri dan ia tak mau hanya kesalahan putranya kesehatan istrinya terganggu.


Sementara itu Marina dan Andauval seperti orang asing yang tak tahu berbuat apa-apa. Mereka tak memiliki keberanian ikut bergabung menghadap dokter untuk menanyai keadaan putri mereka, melihat perubahan sikap Ayyut membuat mereka sedih,terlihat jelas putranya kecewa kepada mereka berdua.


Setelah tak lagi merasakan ada orang yang memukulnya, Mahmed bangkit dalam keadaan sempoyongan. Wajah gagah pria itu telah dinodai oleh bercak darah yang keluar dari hidung dan sudut bibirnya dan efek yang ditinggalkan dari tendangan kejam Yoga menyisakan rasa nyeri dan sakit yang teramat dalam.


Mahmed tak beranjak, ia hanya berdiri bersandar di dinding rumah sakit dengan kepala menunduk. Saat ia menengadah untuk menghirup udara, tatapan tajam Marina menusuknya. Terlukis jelas tatapan wanita paruh baya itu dipenuhi kemarahan, kecewa dan benci yang mendalam.


Tak tahu menyesali perbuatannya yang mencelakai istrinya, tapi dalam hati Mahmed sangat menyesal dengan perbuatannya. Ia diselimuti rasa takut dan cemas yang amat luar biasa kalau nanti ia tak bisa bersama lagi dengan Meira melihat bagaimana ia memperlakukan Nazri.


Instagram @fitrihaida


FB @Haida

__ADS_1


__ADS_2