
Setelah terdiam beberapa saat. Mahmed merasakan sebelah kiri kepalanya terasa sangat sakit ketika sebuah benda mendarat sempurna yang dengan entengnya langsung memberikan reaksi sakit tak terkira dan bersamaan dengan itu ia rasakan sebuah cairan segar berwarna merah cerah mengalir dari kepalanya yang sempat ia pegang sekedar meraba.
"Mama?" Mata Mahmed melotot sempurna begitu terkejut dengan perlakuan nekat mamanya bahkan saking syoknya ia tak mampu menutup mulutnya yang membulat.
Rika tak peduli dengan reaksi ataupun luka di kepala putranya. Ia benar-benar lepas kendali dan ia sangat murka sekarang kepada Mahmed yang hari ini sangat membuatnya kecewa.
"Kau meninggalkan Nazri di hotel, sendirian. tengah malam pula." Rika berkata panjang dalam tempo cepat begitu mendapat kabar dari ibu menantunya yang telak mempermalukannya. Sangat kecewa rasanya putra yang selama ini ia bangga-banggakan dan begitu ia cintai tega menyakiti seorang perempuan, apa lagi perempuan itu istrinya sendiri.
"Apa sebenarnya maksudmu melakukan itu?" teriak Rika lagi begitu garang.
"Hanya ditinggal di hotel, jangan berlebihan! Dia tahu jalan pulang." Dengan entengnya Mahmed berkata demikian manambah kemarahan Rika berkali-kali lipat.
"Mahmed!" Teriakan Rika menggema seluruh atmosfer rumah. Mahmed yang awalnya pusing karena sisa-sisa pengaruh alkohol, bertambah pusing lagi.
"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?" tanya Rika sedikit rasa sakit. "Dia istrimu."
"Istri" ulang Mahmed menyeringai. Rika syok melihat seringai menyeramkan putranya itu.
"Ya Mama benar dia istriku. Perempuan yang baru kemarin menikah denganku, tapi dia bukan perempuan yang kuinginkan. Mama tahu itu?" Bukan Rika saja yang marah, Mahmed juga ikut marah.
"Kalau bukan karena paksaan Mama dan Papa untuk menutupi reputasi kalian, aku tidak akan menikahi perempuan itu dan tentunya Meira akan menikah denganku."
__ADS_1
"Meira meninggalkanmu, dia lari di hari pernikahan kalian. Apa kau masih mengharapkannya?"
"Ya aku mengharapkan Meira," sahut Mahmed cepat. "Hanya Meira satu-satunya perempuan yang bisa jadi istriku dan untuk perempuan pilihan Mama itu akan segera aku ceraikan begitu Meira kembali." Mahmed menjeda sebentar perkataannya. "Hanya Meira, ingat itu!" tekan Mahmed penuh tekat.
"Kau begitu gila pada Meira, tanpa kau sadari harga diri dan martabat kau telah jatuh dihadapannya. Bahkan kau mengharapkan cinta perempuan yang hanya peduli dengan egonya mengabaikan ketulusanmu." Ada rasa sakit yang amat dalam menghantam perasaan Rika begitu mengatakan kata-kata yang mengiris hatinya. Bercampur dengan perasaan Marah, kecewa dan sedih.
Marah kepada Meira yang hanya memikirkan mimpi-mimpinya dan kecewa kepada Mahmed yang hanya melihat satu wanita dalam hidupnya padahal ia tak berarti sama sekali di mata perempuan itu dan malah dengan kejamnya putranya itu menelantarkan perempuan yang telah menjadi istrinya dan di waktu yang bersamaan ia juga sedih melihat kisah cinta putranya yang menyedihkan.
"Tak peduli apa pendapat Mama, bagiku hanya Meira dan ia akan segera menjadi istriku," Tanpa perasaan Mahmed meninggalkan mamanya yang syok melihat sikap kasarnya yang tak pernah-pernahnya ia lihat begitu membuat Rika terkejut.
"Mahmed?" Suara Rika tiba-tiba melemah saat melihat Mahmed memasuki kamar mandi dengan penuh amarah. Dada Rika terasa sangat sesak sehingga membuatnya sangat sulit bernapas dan sepertinya pertengkaran sengit mereka membangkitkan penyakit Rika.
BUKKK
"Mama!!!" Suara teriakan Mahmed begitu kuat. Ia berlari cepat menyusul mamanya yang telah terbaring di lantai.
"Mama maafkan aku" Hanya tiga kata itu yang saat ini mampu Mahmed ucapkan sebagai bentuk penyesalan akibat ulahnya. Ia mengangkat tubuh lemah mamanya dan membawanya dengan sesegera mungkin ke rumah sakit tanpa peduli dengan penampilannya yang hanya memakai piyama tidur kusut ditambah lagi wajah yang kusam belum dibersihkan lengkap dengan sisa-sisa bercak darah di kepalanya sama sekali tak ia perhatikan. Sekarang perhatian penuh Mahmed hanya untuk mamanya berharap mamanya tidak kenapa-kenapa.
...***...
"Benar tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Iya tidak apa-apa, sekarang pergilah!" Dengan gerakan kedua tangan Nazri mendorong kecil tubuh Ayyut untuk menjauh.
Sekarang mereka telah berada di depan pagar rumah Mahmed. Ayyut mengantar Nazri pulang setelah langit berubah warna gelap pekat menggantikan matahari dengan bulan yang bersinar indah tak seindah perasaan kedua insan tersebut.
seharian ia membawa Nazri jalan-jalan tanpa keinginan Nazri menghabiskan waktu ke tempat yang mana yang mampu mereka singgahi mengingat selama ini Nazri hanya berada di kampung bersama sang nenek di sana. Nazri hanya menurut dengan sedikit tak minat membiarkan Ayyut membawanya ke mana pria itu mau yang tentu saja sedikit banyaknya membuat Nazri menikmati jalan-jalan mereka tanpa rencana akibat terpesona dengan tempat-tempat indah yang mereka singgahi. Namun, sayang Nazri tak sadar ia seharian ini dibohongi oleh Ayyut tak tahu sama sekali alamat Mahmed dan tadi Nazri sempat menangkap basah Ayyut sedang teleponan dengan mama mereka, rapi begitu melihat Nazri Ayyut langsung mematikan sambungan telepon dengan alibi alamat Mahmed telah diberikan padahal nyatanya Ayyut kembali bertengkar sama mamanya.
Dengan sedikit keraguan dan rasa takut Nazri berusaha mengusir halus Ayyut dengan menampilkan mimik wajahnya penuh keyakinan walaupun ia tak seyakin yang ia perlihatkan. Bahkan ia sendiri tak tahu nasibnya saat menginjakkan kaki ke rumah itu.
"Baiklah aku akan pergi, jaga dirimu baik-baik dan jika terjadi sesuatu kepadamu segera hubungi aku. Mengerti?" Nasehat Ayyut. Nazri mengangguk semangat tapi tidak dengan detak jantungnya yang berdebar-debar berkali-kali lipat dengan egonya menambah kecemasan hatinya. Namun, Nazri berusaha keras untuk tidak memperlihatkannya kepada Ayyut.
"Aku pergi" pamit Ayyut dengan berat hati.
"Iya" jawab Nazri diiringi anggukan kepala. Adiknya itu terlihat sangat berat melangkah meninggalkan dirinya, Nazri dengan beribu upaya berusaha meyakinkan Ayyut bahwa ia baik-baik saja. Namun, yang namanya saudara pasti sangat berat melepas saudarinya.
"Nazri!" panggil Ayyut yang jelas-jelas Nazri berada dihadapannya. Melihat kelakuan adiknya itu membuat Nazri tersenyum lucu dan disaat bibirnya mengembang sempurna ia syok begitu Ayyut tiba-tiba mendekap tubuhnya dengan sangat erat.
"Berjanjilah untuk baik-baik saja."
Nazri mengangguk dibalik pelukan Ayyut. "Iya" jawabnya dengan nada penuh semangat walaupun ia sendiri tak seyakin itu dengan yang baru ia ucapkan.
"Aku akan pergi, jaga dirimu," pamit Ayyut dan tak lupa mendaratkan kecupan singkat di kening Nazri.
__ADS_1
Kembali Nazri hanya mengangguk saja layaknya seperti anak polos yang diperingati oleh orang tuanya. Ia lihat adiknya itu menyalakan motornya dan sesekali masih melihat ke arahnya sebelum adik laki-laki menyebalkan–nya itu benar-benar pergi.
Di seberang sana terlihat sebuah mobil berwarna hitam metalik sedari tadi diam memperhatikan interaksi kedua insan itu. Tatapannya tak lepas melihat seluruh kegiatan antara Nazri dan Ayyut secara terperinci, bahkan begitu motor Ayyut pergi ia masih mengikutinya dengan pandangan mata elangnya.