Tiba-tiba Jadi Pengantin

Tiba-tiba Jadi Pengantin
12


__ADS_3

Bakda shalat subuh Nazri langsung berkutat di dapur. Menu sarapan pagi ini Nazri memasak nasi goreng Pattaya dan ikan gambolo bakar untuk makan siang nanti.


Semalam Nazri dapat pesan whatsapp dari Ayyut kalau adiknya itu akan singgah untuk sarapan pagi. Mendengar hal itu tentu Nazri langsung bersemangat hingga ia memasak nasi goreng kesukaan adik nakalnya itu.


Sebenarnya Nazri cukup kesulitan memikirkan menu makanan hari ini mengingat keuangan mulai menipis dan terlebih lagi ia tak berani untuk minta uang kembali pada Mahmed, tapi sampai kapan begini terus? Beruntung yang makan di rumah ini hanya Nazri seorang sehingga ia tak perlu repot memikirkan makanan apa yang harus disediakan atau disukai oleh Mahmed?


Pria dingin itu benar-benar membangun tinggi-tinggi bentengnya sehingga sedikit pun tak menyisakan celah untuk Nazri masuk. Mereka hidup di atap yang sama, tapi mereka seperti hidup di dunia yang berbeda. Tinggal serumah tapi tak pernah bertukar sapa sekedar melempar senyum tipis, yang ada hanya nyanyian yang tak bernada yang Nazri terima dari suaminya. Penuh kandungan makian dan hinaan saja.


Mengingat hal itu Nazri menghela napas panjang. Rumah besar ini bak sangkar yang mencekiknya. Ia terjebak dalam jeruji emas ini, mengorbankan mimpinya menjadi design ternama, menjadi istri peganti dari kekasih kakaknya yang egois dan malangnya semua kesalahan langsung di timpakan kepada Nazri, bahkan Meira sampai sekarang belum memberi kabar.


Sembari menunggu ikan yang ia bakar matang, Nazri meraih laptopnya di atas meja makan yang tadi sengaja ia bawa dari kamar. Jemari Nazri menari di atas keyboard membuka website bisnis online yang baru ia mulai dan betapa terkejutnya Nazri saat sebuah nama menyita perhatiannya.


'Hei Nona desa. Kenapa semua akun medsosmu tidak ada yang bisa dihubungi? Jangan salahkan aku jika tiba-tiba mendatangimu. Hampir sebulan kau menghilang.'


Nazri menggeram kesal membaca kolom komentar jualannya yang diisi oleh Rafa, sahabat Nazri di kampung hampir mematikan usahanya.


"Aishh, tidak bisakah dia meninggalkan kata-kata yang lumayan lembut?" gumam Nazri tiba-tiba pening.


"Jika begini maka tidak akan ada orang yang mau menyewa jasa design aku," tambah Nazri berbicara pada dirinya sendiri.


Nazri baru saja merintis usaha. Ia membuka jasa design di situs website beberapa bulan yang lalu, tapi belum dapat pesanan yang lumayan. Sahabatnya yang suka bertindak gegabah itu tanpa sadar hampir mematikan usahanya dengan meninggalkan komentar yang mengandung pertanyaan dari orang lain.


Nazri menutup laptopnya sedikit kesal. Ia meraih ponsel dari rok maroon yang ia kenakan. Gadis itu membuka aplikasi Instagram dan mengetikkan sesuatu di sana untuk di kirim kepada Rafa.


Nazri hendak menekan tombol send begitu ia telah mencatatkan sesuatu di sana, tapi tiba-tiba ia tertegun kala teringat dengan potongan kalimat dari komentar Rafa di website bisnis miliknya.


"Hampir sebulan?" kata Nazri nyaris bertanya pada diri sendiri.

__ADS_1


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, seaka hari berusaha mengimbangi tahun. Baru saja Nazri menginjakkan kaki di kota ini dan langsung menyandang status sebagai istri, tapi tak pernah memeluk secuil kebahagiaan. Mahmed benar-benar tak menyukainya, nyaris pria itu sangat membencinya. Nazri terpaksa menyembunyikan diri acap kali Mahmed hendak berangkat atau pulang dari kantor.


Nazri menjadi sangat sedih. Ia merasa diri seperti penyusup yang berusaha menguasai rumah orang lain saat tuan rumah tak ada.


Tingg


Nazri tersentak dari lamunannya saat suara notifikasi mengejutkannya. Ia kembali menatap ponselnya dan kembali ia syok melihat notifikasi barusan berasa dari pesan pria yang merusak moodnya.


'Benarkah kau ini Nazri? Kupikir kau mati di kota sana setelah menghilang tanpa kabar sama sekali.'


Nazri hanya bisa menggeleng menahan kekesalan hatinya. "Tuh kan, Rafa memang menyebalkan. Pria itu tak tahu cara menjaga mulutnya."


Nazri terpaksa menghapus kalimat yang tadi telah ia tuliskan panjang lebar. Ia mengirimkan pesan singkat kepada Rafa sebagai pertanda ia masih bernapas, mengabaikan kekesalan sahabatnya itu yang ingin mengajaknya perang chat.


Nazri mematikan data selulernya. Ia kembali melanjutkan kegiatan memasaknya dan buru-buru menyiapkan bekal untuk di bawa oleh Ayyut ke kampus.


'Keluarlah!'


Kedua bola mata Nazri bersinar cerah membaca satu kata itu. Buru-buru ia mengambil rantang yang telah ia isi dengan beraneka macam makanan ala masakannya. Nazri keluar rumah sedikit lebih cepat setelah memastikan pintu telah ia tutup dengan hati-hati.


"Ayyut" seru Nazri antusias. Nyaris ia hampir berteriak saking senangnya.


Ayyut tersenyum di atas motornya ikut senang melihat Nazri begitu bersemangat.


"Ayo masuk," ajak Nazri sumringah menghampiri adiknya itu.


"Kau menyiapkan pesanku, 'kan? Cepatlah Naik! Aku ingin merasakan sensasi makan di luar dengan masakan mu itu." Ayyut memakai helmnya dan memberikan helm lainnya untuk Nazri.

__ADS_1


"Huh, padahal aku ingin kau makan di dalam," ujar Nazri menampilkan ekspresi kesal


"Yakin di dalam?" tanya Ayyut sembari menyalakan mesin motornya.


"Ku rasa kau tidak akan bisa bernapas lega begitu aku masuk ke dalam. Jadi cepatlah naik!" kata Ayyut diiringi nada mengejek.


Nazri mendesah gusar. Ia naik ke motor Ayyut dengan rasa kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya berbasa-basi saja menawari Ayyut masuk ke dalam rumah, beruntung adiknya itu langsung menolak. Karena Nazri yakin apa bila Ayyut menginjakkan kaki ke dalam pasti terjadi pertarungan antara adik dan suaminya, mengingat Ayyut paling sensitif apa bila ada orang yang bersikap kurang ajar kepada kakaknya.


Ayyut sangat pintar. Ia langsung dapat mengenali sisi buruk seseorang itu hanya melalui tatapan matanya dan di mata Ayyut. Mahmed itu masuk nominal garis merah.


"Kita akan kemana?" tanya Nazri penasaran.


"Apa aku mengajakmu?" ujar Ayyut balik bertanya.


"Iihhh!" Nazri mengeram kesal mencubit pinggang Ayyut sedikit kencang.


"Kau ingin kita kecelakaan?" tanya Ayyut dengan suara sedikit keras.


"Kapan mulutmu ini bisa tersentuh gula?"


Mereka saling melempar pertanyaan tanpa ada diantara mereka yang menjawab. Ayyut tak menjawab semua pertanyaan-pertanyaan Nazri. ia melirik wajah kesal kakaknya itu melalui kaca spion, sungguh terlihat sangat lucu dan menggemaskan membuat tangannya gatal hendak mencubitnya kuat-kuat menambah chubby pipi kakaknya.


"Peluk aku nanti kau terpelanting!" titah Ayyut bersuara keras ketika suaranya beradu dengan mesin motornya.


"Tidak ma... aaghhh." Nazri yang semula menolak sontak saja berteriak saat Ayyut menambah kecepatan motornya hingga membuat Nazri mau tak mau memeluk pinggang adiknya.


Instagram @fitrihaida

__ADS_1


FB @Haida


__ADS_2