
**Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
selamat Malam
apa kabar sahabat author
ada yang kangen author?
kangen tulisan author?
sebelumnya author minta maaf udah bikin kalian nunggu waktu lumayan lama untuk kelanjutan bab ini.
author enggak perlu jelasin sebab author sempat hampir Hiatus karena author yakin kalian pasti paham.
Berdasarkan ketidaknyamanan kita author sampaikan maaf dan cerita ini bakal tetap lanjutkan, jadi tetap ikuti cerita ini dan jangan lupa tetap dukung author supaya makin semangat dan Ramekan dengan komentar
makasih
HAPPY READING ❤️**
Hampir seminggu sejak kesadaran Nazri telah kembali, selama itu juga Mahmed tak pernah mengunjunginya. Pria itu hanya datang sekali saat kali pertama Nazri masuk rumah sakit dan itu pun tak menghadap istrinya.
Sepertinya rasa bersalah tak ada sedikit pun ada pada Mahmed. Hatinya membatu untuk Nazri, matanya telah dipenuhi kebencian. Sedikit pun ketulusan dan derita istrinya tak terlihat olehnya. Bagi Mahmed kehadiran Nazri hanya mala petaka di hidupnya.
Dan seperti sebelum-sebelumnya keadaan Nazri masih begitu saja, tak ada sedikit pun perubahan pada dirinya. Seluruh tubuhnya masih kaku dan hari-harinya hanya bertemakan ranjang saja.
Dokter telah mempersilahkannya Nazri pulang dan ia hanya perlu mendapatkan perawatan tambahan agar kondisinya cepat pulih sedia kala.
Mendengar kabar baik dari dokter, seluruh keluarga senang, tapi sayangnya Ayyut tak mendengar kabar bahagia ini. Sudah dua hari ia tak mengunjungi Nazri di rumah sakit. Tiba-tiba ia menghilang dan nomornya tak bisa dihubungi membuat Andauval dan Marina khawatir.
"Kita pulang sekarang sayang, adikmu tidak bisa ikut mengantar kita pulang. Kuliah Ayyut banyak ketinggalan, dia tidak bisa libur lagi," ujar Marina memberi tahu diiringi kebohongan dengan alibi Nazri tak mencemaskan adiknya.
Nazri hanya bisa diam. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengedipkan mata tanda ia mengerti. Hatinya sangat hancur mendapati ia berada di posisi seperti ini. Mengapa Mahmed sangat kejam berbuat begini terhadapnya? Tidakkah pria itu mempunyai rasa sesal, sampai-sampai hendak pulang pun dari rumah sakit ia tak datang menengok Nazri walau hanya menunjukkan wajah sekali pun tak ingin meminta maaf.
__ADS_1
"Mengapa nasibku semenyedihkan ini ya Allah?" batin Nazri meratapi nasibnya.
Pria yang berstatus sebagai suaminya tega mencelakainya sekejam ini tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
Nazri kira pernikahan ini hanya kompromi semata, tak ia sangka pernikahan ini pengantar neraka baginya. Pria yang berusaha ia hormati tega menyakitinya amat ganas.
"Kamu kejam Mahmed!" batin Nazri lagi. Tanpa sadar air matanya tergelincir melewati wajah pucatnya hingga berakhir di bibirnya yang membeku.
Marina mengusap pilu air mata yang membasahi wajah putrinya. Hatinya hancur melihat keadaan Nazri yang begini. Selain berdiam diri seharian, Nazri hanya bisa menangis. Begitu banyak luka yang tergores di keluarga Ahmad karena perbuatan Mahmed yang tak manusiawi.
Nazri menatap hancur wajah Marina. Tangan ibunya bergerak mengusap air matanya. Sama sekali Nazri tak ingin memperlihatkan kelemahannya di hadapan orang-orang yang dicintainya, tapi ia bukanlah makhluk kuat yang mampu menahan kesedihannya. Salahkan saja air matanya yang mudah mengalir!
Batin Nazri berperang dalam dirinya, beribu pertanyaan hinggap di kepala tanpa adanya jawaban. Begitu banyak penyesalan hingga tak terjabarkan lagi. Kesalahan apakah yang dilakukan Nazri di masa lalu hingga fisik dan batinnya terluka separah ini?
Ia tak pernah memasang rantai permusuhan kepada orang lain, berbagai konflik berusaha ia hindari terlibat dengan orang. Selama ini ia berusaha menabur kebaikan tanpa dan ia bukanlah sosok yang suka terlibat dalam problem orang. Namun, mengapa semua duka dan penderitaan ini harus ia yang mengalami?
Nazri memejamkan mata dengan air mata yang belum jua berhenti berjatuhan. Ia hanya bisa pasrah saat tubuh tak berdayanya di angkut para medis yang membantunya untuk di bawa ke mobil.
Sebelum para medis membawa Nazri keluar dari ruangan, Marina menatap pilu tubuh lemah putrinya yang sedang terbaring di bangsal rumah sakit. Sama sekali putri terkasihnya tak bisa di gerakkan, bahkan untuk duduk pun Nazri tak bisa. Ironis sekali memang nasib putrinya. Untuk tambahan energi saja pun Nazri harus di bantu makan melalui selang.
Malam ini entah kenapa langit sangat gelap. Entah karena bulan yang enggan memancarkan seluruh cahayanya? Atau bulan mulai bosan menerangi bumi, melihat perangai buruk manusia yang meraja rela.
Bangunan besar berlantai empat itu diisi oleh orang-orang yang haus akan kebebasan. Hampir seluruh orang-orang yang berada di dalam tempat itu hanya memikirkan kesenangan saja tanpa adanya beban tanggungjawab kehidupan. Terlihat baru saja seorang pria keluar dari sana dalam keadaan mabuk berat.
Ia berjalan sempoyongan ke arah parkir mencari mobilnya, tapi sialnya akibat terlalu mabuk ia tak dapat mengenali mobilnya sendiri. Terpaksa pria itu berjalan menjauh dari parkiran mencoba mencari kendaraan lain untuk ia tumpangi supaya ia segera pulang dan bisa mengistirahatkan tubuhnya yang amat lelah.
"Sial! Baru jam 9 malam tapi tak ada kendaraan yang lewat. Apa kota ini mulai mati?" makinya bergumam tidak jelas.
Ia melirik arloji di pergelangan tangannya dengan pandangan yang mengabur. Begitu banyak kunang-kunang yang hinggap di pandangannya hingga ia tak bisa melihat jelas waktu yang tertera di arlojinya. Padahal waktu telah menunjukkan pukul 2 dini hari.
Cukup lama ia berjalan tak tentu arah di tempat ini mencari kendaraan umum yang lewat, tapi tak ada satu pun kendaraan yang bisa ia tumpangi. Ada pun kendaraan di sini itu hanya kendaraan orang yang ingin menghabiskan malam di bangunan neraka berkedok surga itu.
"Akhh" erangnya bersuara cukup keras. Baru saja ada sosok pria yang kelihatannya sebaya dengannya tak sengaja menubruk tubuhnya yang lunglai.
__ADS_1
"Mahmed?" ujarnya sedikit ragu.
Mendengar namanya di sebut pria itu menengadah, "Ehhh, rupanya kau pria cupu yang sok mengejar kekasihku. Benarkan?"
Bukhh
Satu tinjuan kasar melayang ke wajah Mahmed hingga meninggalkan bekas merah di sertai biru di pipi kanannya.
"Dasar laki-laki tak berguna! Kau masih sama brengsek seperti dulu."
Tubuh sempoyongan Mahmed dipaksa bangkit saat pria di hadapannya menarik kasar kerah bajunya hingga membuatnya hampir merasa tercekik.
"Kau ingin menghajar ku? Ayo hajar... hajar bodoh!" tantang Mahmed dengan beraninya tak sadar akan fisiknya yang kacau.
Pria manis berkulit sawo matang itu berdecak. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai jijik melihat perangai buruk Mahmed yang tak ada perubahannya.
Dahulu Brian adalah sahabat Meira tapi sejak kehadiran Mahmed persahabatan mereka langsung hancur terpecah belah. Mahmed yang begitu posesif sangat tak menyukai adanya Brian dalam hidup Meira. Baginya keberadaan Brian hanyalah benalu dalam hubungan asmara mereka.
"Meira melakukan hal yang tepat meninggalkan mu..." Brian berkata demikian menohok perasaan Mahmed, ia jeda sejenak ucapannya bersamaan dengan tubuh Mahmed ia hempas kasar hingga membuat Mahmed terjatuh kasar di tanah.
"Kau begitu menjijikkan! Menghajar kau sama saja membiarkan noda hinggap di tanganku."
Kedua pria dewasa itu sama-sama melayangkan tatapan tajam. Kebencian antara satu sama lain terlihat jelas di mata mereka. Mahmed hendak bangkit membalas perlakuan Brian, entah itu tamparan atau pun makian. Namun, satu kata yang keluar diantara kalimat yang diucapkan Bria membuat Mahmed seketika membisu.
"Lebih baik pikirkan istrimu yang kau celakai tanpa ampun daripada mengingat lagi saudarinya yang jelas-jelas tak mengungkapkan mu."
Setelah mengucapkan kata-kata nasehat yang begitu terkandung hinaan nan memohon membuat Mahmed tak bisa berkutik lagi.
"Istri?" lirih Mahmed tersenyum getir.
Memang sejak mencelakai Nazri ia tak tau bagaimana keadaan gadis itu. Ia begitu sibuk dengan dirinya yang berusaha mencari kesenangan dengan membiarkan hari-harinya terbuang sia-sia di club malam bertemakan berbagai minuman keras yang entah apalagi bentuk dan mereknya.
Ayok berteman sama author yok teman Readers
__ADS_1
FB @Haida
Ig @fitrihaida