Tiba-tiba Jadi Pengantin

Tiba-tiba Jadi Pengantin
11


__ADS_3

Pagi ini Ayyut bangun pagi-pagi sekali saat deringan ponsel miliknya yang begitu memekakkan memaksanya untuk berpindah dari alam mimpi ke alam nyata.


Dengan penuh rasa malas Ayyut mencoba menengadah, memaksakan matanya yang berat untuk terbuka. Ia meraih ponsel yang letaknya tepat di dekat bantalan. Dengan perasaan kesal ia membaca nama si pemanggil yang telah berani menganggu tidurnya, tapi begitu matanya membaca tulisan di benda Pipinya itu. Mata Mahmed membulat sempurna tak menyangka dalam waktu yang singkat ia dikejutkan dengan hal-hal yang seakan mampu mencopot jantungnya.


"Nenek" gumamnya khas dengan suara seraknya.


Ayyut tak berani mengangkat panggilan. Ia bangkit, buru-buru berlari keluar dengan membawa ponsel yang tak hentinya berdering. Ia menuruni anak tangga dengan tergesa menghampiri mamanya yang sedang memasak di dapur.


"Maa!" Suara Ayyut sedikit keras. Marina yang sedang mengiris rawit sontak saja kaget.


"Ayyut, ada apa?" ujarnya kesal dengan mata mendelik tajam ke arah putranya yang berantakan.


"Nenek" jawab Ayyut serius.


"Hah?"


Seketika jantung Marina berdebar kencang. Memompa dengan sangat cepat hingga menimbulkan perasaan yang tak terdefinisikan.


"Angkat bod–!"


"Mama tahu aku tidak suka berbohong" potong Ayyut menyela umpatan Marina.


"Ke mari!" ujarnya dengan perasaan waswas.


Setelah memberikan ponsel pada mamanya, Ayyut langsung beranjak pergi dari sana tak ingin mendengar rangkaian kebohongan yang diucapkan mamanya kapada sang nenek di kampung sana.


...***...


Di dalam ruangan luas namun tertutup. Seorang gadis berpostur tubuh tinggi nan ramping, sedang menari pelan mengikuti irama musik ditemani penerangan yang minim.


Saking asyiknya menari ia tak sadar kalau ada dua orang pria baru saja masuk dan memperhatikannya dalam diam. Kemolekan tarian terlebih lagi postur tubuh yang indah, wajah yang cantik jelita. Menawan hati pria yang memandangnya.


"Arrghh" erangan kesakitan lolos dari bibir perempuan cantik itu.


Ia terseleo salah gerakan saat berputar tak sengaja melihat dua pasang mata pria sedang memperhatikannya yang membuatnya terkejut hingga mengalami cedera di kakinya.


Kedua pria yang tadinya memanjakan mata melihat kelembutan menari sang gadis, langsung tersentak dan buru-buru menghampiri gadis itu dan satu pria lainnya langsung menyalakan lampu ruangan.

__ADS_1


"Are you okay?" Sapa pria jangkung berdarah Eropa itu.


Gadis itu tak menjawab. Ia menengadah dan melihat pria yang tadi memperhatikannya telah berada di hadapannya.


"Meira kau tidak apa-apa?" Pria yang tadi menyalakan lampu langsung menghampiri kedua orang itu dan menatap si gadis dengan cemas.


"Yah, aku baik-baik saja," jawabnya diiringi ringisan kecil.


"Wear here!" Suara berat itu menginterupsi Meira. Ia melepas cepat jas miliknya dan melingkarkannya di tubuh Meira menutup lekuk tubuh gadis itu karena mengenakan busana balet.


"Thank you" ucapan tulus keluar dari bibir ranum Meira. Ia menyunggingkan senyum kikuk merasa tak enak mendapatkan perlakuan dari pria asing di depannya.


"Kenalkan ini temanku, Jamie Walken," ujar Rangga. Asisten Meira yang selama ini berperan penting dalam pertumbuhan karier gadis itu. Mereka merintis kesuksesan bersama dan begitu banyak cerita suka dan duka mereka lalui.


Meira mengangguk mengerti. "Hi. i'm Meira"


"Nice to meet you, Meira," gumam Jamie menatap lembut bola mata Meira dengan iris mata birunya.


Meira hendak bangkit tapi ia langsung meringis kesakitan karena kakinya yang keseleo ternyata mengeluarkan darah lumayan banyak hingga menembus sepatu baletnya dan rasanya lumayan perih serta sakit.


Entah kenapa baru sekali menatap Meira Jamie langsung tersentuh. Perhatian penuh ia berikan kepada Meira bahkan tak hanya memberikan Meira jas miliknya, ia juga melepas kemejanya dan merobeknya lalu melilitkannya di kaki Meira mencoba untuk memberikan pertolongan pertama menghentikan pendarahan di kaki Meira.


Meira sedikit terkejut mendengar ternyata Jamie bisa berbahasa Indonesia bahkan terkesan sangat fasih.


"Terima kasih" ucap Meira lagi dengan perasaan penuh ketulusan. Ia sedikit malu dengan Jamie apa lagi pria ini baru saja mengorbankan kemejanya yang kelihatannya bukanlah harga yang murah.


"Mari aku antar," ujar Jamie bangkit sedikit berjongkok yang sontak saja membuat Meira refleks.


"Aku bisa sendiri."


"Tidak apa-apa, ayolah."


Tolakan halus Meira tak digubris oleh pria Eropa itu. Ia mengangkat tubuh Meira dengan gaya ala bridal style. Rafa hanya diam menahan senyum melihat kelakuan temanya itu yang begitu memperhatikan Meira. Ia sangat yakin pasti pria itu menyukai Meira.


...***...


Ayyut dan Buyung berjalan beriringan memasuki ruangan. Terlihat kelas telah terisi oleh banyak orang.

__ADS_1


Sekumpulan gadis di sudut ruangan yang sedang asyik tertawa ria langsung berhenti begitu melihat dua orang pria masuk ruangan yang salah satu diantaranya berparas tampan bak malaikat merupakan pria tertampan di fakultas ini nyaris pria tertampan di kampus. Namun, memiliki jiwa keras bak batu, sama sekali tak tersentuh akan tetapi itu menjadi tantangan bagi para gadis-gadis yang mengidolakannya.


Seperti biasa, begitu masuk ruangan Ayyut langsung duduk tak peduli dengan keadaan sekitar berbeda dengan Buyung yang usai meletakkan tasnya. Ia langsung melenggang ke meja lain yang dihuni oleh beberapa mahasiswa, ikut masuk dalam perbincangan orang-orang itu.


Salah satu dari sekumpulan perempuan tadi melangkah. Ia adalah Desti salah satu mahasiswi populer karena kecantikan dan kecerdasannya. Ia datang menghampiri Ayyut yang sedang asyik berkutat dengan ponselnya.


"Ayyut. Bisa tolong sehabis kelas... kita bertemu..." Dengan keberanian yang telah dipersiapkan dengan begitu matang, tapi tak menutup kegugupan Desti. Bahkan kalimatnya putus-putus saking groginya.


"Untuk?" tanya Ayyut to the poin memotong perkataan Desti yang belum usai.


"Untuk makalah" jawab Desti cepat menyala niatnya yang sebenarnya.


Ayyut tampak mengangkat alis bingung, "Bukankah kita tampil dua Minggu berikutnya?" tanya Ayyut meyakini ingatannya.


Ia, Desti dan Vira, teman akrab Desti. Mereka satu kelompok dalam mata pelajaran praktek lembaga keuangan syariah. Ayyut sangat yakin dengan apa yang ia ucapkan dan tak mungkin ia lupa atau pun lengah karena hampir seluruh silabus kelas mereka ia ingat bagian-bagiannya.


Desti tampak kebingungan tapi dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih serius.


"Iya, kita perlu mencari referensi dengan segera untuk menghindari revisi. Bukankah lebih cepat dikerjakan lebih baik?"


"Kau benar" sambung Ayyut tak ingin lebih lama lagi terlibat perbincangan dengan Desti. "Kau simpan nomorku, 'kan? Hubungi aku nanti di mana kita akan jumpa. Oke?"


"Iya" jawab Desti semangat. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyum lebar membuat orang lain yang tak sengaja melihatnya terheran.


"Aku balik, yah," pamit Desti masih dengan senyum yang masih terpatri indah di wajah cantiknya. Ayyut mengangguk kecil tak membalas senyuman Desti. Walaupun begitu tetap saja membuat gadis itu merasa bahagia tak terkira.


Instagram @fitrihaida


FB @Haida



**Singgah di novel author yang ini yah


ceritanya udah taman


wajib baca yah teman Readers

__ADS_1


see you tomorrow


insya Allah 🤭**


__ADS_2