
**Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
Apa kabar Teman Readers semua
semoga kita semua baik-baik aja yah😊
Sebelumnya author minta maaf enggak update beberapa hari kemarin karena kesehatan author kurang baik. mohon pengertian teman Readers semua yah😉
Ada yang rindu gak?
rindu sama cerita author?
ato rindu sama doi kalian?
rindu sama author aja yah, karena pasti rindu kalian author balas dengan cerita bagus author. hihihi muji diri sendiri 😁
enggak kok gaes, karya itu semua bagus kok**
Happy reading ❤️
Tepatnya di dalam ruangan luas bernuansa perak dihiasi perabotan mewah, Rika dan Yoga duduk bersandar di sofa dengan posisi tangan mereka terlipat di atas perut dan tatapan mereka menghujam pemandangan dihadapan mereka.
Terlihat Mahmed duduk membungkuk di lantai dengan pandangan yang hanya terpusat pada lantai keramik putih itu saja.
"Sepertinya anda Memeng berniat membunuh saya."
Deg
Untuk sesaat Mahmed terkesima. Dadanya terasa sangat sakit seperti belati yang menggerogoti jantungnya. Mata Mahmed memanas, ada sebuah benda kasatmata yang berhasil mengobrak-abrik organ tubuhnya seakan siap untuk segera mengakhiri semangat hidupnya.
Untuk kali pertama kata-kata santai nan menyakitkan itu Rika lontarkan menghantam perasaan putranya. Terlihat Mahmed menatap nanar kedua orang tuanya yang langsung membuang muka seakan ia adalah sosok yang menjijikkan.
Hati Mahmed menciut merasakan dengan sangat sakit sesak di dadanya yang tak terdefinisikan lagi sakitnya. Orang tua yang selama ini selalu memanjakan dan memperhatikannya sekarang terlihat sangat membencinya seakan tak pernah ada kata mengasihi diantara mereka bertiga.
"Jika keluarga Ahmad benar-benar akan menuntut mu, kami tidak ikut andil dalam hal itu. Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang kau perbuat."
__ADS_1
Sakit, sangat sakit. Kembali hati Mahmed di patah-patah oleh kedua orang tua yang begitu ia cintai. Perkataan mereka memang santai dan tak ada kalimat kasar yang disertai makian, tapi setiap kata demi kata dalam setiap kalimatnya menghancurkan perasaan Mahmed.
Mahmed hanya bisa diam seribu bahasa. Menyesali perbuatannya pun sepertinya tak ada gunanya. Nasi sudah menjadi bubur, apa yang ia perbuat takkan dapat diperbaiki lagi.
Di rumah sakit ia hampir dihabisi oleh pria-pria kekar keluarga Ahmad. Yoga dan Rika tak bisa berbuat apa-apa dan untuk membelah putra mereka malu sekali rasanya mengingat perbuatan keji putra yang selama ini mereka sayangi ternyata melempar wajah mereka dengan kotoran secara beruntun.
"Maafkan Mahmed Mama, Papa."
Ingin sekali Mahmed meluruskan Kalimat penyesalan itu namun nyalinya tak sebesar itu. Kedua orang tuanya mulai tak memperhatikan dirinya dan itu bagaikan tamparan kasar yang menghantam mentalnya.
Sebelum ke sini, sempat terjadi keributan di rumah sakit mengingat semangat Andauval dan Ayyut yang sangat ingin menghajar Mahmed habis-habisan beruntung nyawa Mahmed terselamatkan oleh para petugas-petugas keamanan rumah sakit. Sejak mendengar kabar tragis yang dialami Nazri membuat kedua keluarga itu langsung patah semangat namun tak tahu dengan Mahmed si sumber masalah.
Kata dokter Nazri hampir saja meninggal akibat cekikan Mahmed. Beruntung ia selamat tapi meninggalkan cacat. Nazri menderita stroke.
...****...
Tidak tahu harus berbuat apa, Ayyut hanya bisa diam menetap gadis cantik yang terbaring di bangsal rumah sakit dengan Kedua bola mata masih setia tertutup rapat.
Kedua sudut mata Ayyut menghitam, dua hari dua malam lah sudah ia menangis dan sekarang ia tak mampu lagi menangis karena air matanya telah habis di cium bumi.
Cekleek
Pintu ruang rawat Nazri di buka dari luar, menampakkan sosok tampan berparas lembut. Buyung masuk ke dalam di ikuti oleh gadis manis yang sebaya dengannya. Terlihat gadis manis itu berjalan lemah menatap punggung Ayyut karena pria itu tak menoleh, matanya terfokus sepenuhnya dengan sosok didepannya.
"Dengan sangat, tolong biarkan aku menggantikan mu menjaga Nazri. Semalam kau tidak makan dan sekarang hampir sore, kau belum jua makan sedari pagi. Jika Nazri sadar, dia akan sangat sedih melihatmu begini." Buyung memegang bahu kanan Ayyut dari samping, membujuk sahabatnya itu dengan lembut.
Ayyut mengangguk lemah. Buyung benar, jika Nazri sadar ia akan sangat sedih melihat Ayyut berkelakuan bodoh seperti ini.
Buyung tersenyum melihat Ayyut bangkit walaupun pria itu tak menjawab, "Tolong jaga Nazri," pinta Ayyut dengan suara bergetar. Masih kentara jelas kesedihan yang dirasakan Ayyut.
"Iya" jawab Buyung diiringi anggukan semangat.
Ayyut berbalik tapi ia sempat syok melihat Desti berada di sudut ruangan memperhatikan mereka dalam diam.
"Hai, maaf aku datang," lirih Desti gugup, saking gugupnya parcel buah di tangannya sampai bergetar.
__ADS_1
Ayyut diam tak menyahut sapaan Desti. Ia tak perlu mempertanyakan kehadiran Desti karena ia yakin gadis itu sampai ke mari pasti karena Buyung. Sahabatnya itu pasti jalan Desti sampai ke sini mengingat antusias Desti yang berusaha mengejarnya.
"Tolong temani Buyung menjaga Nazri!"
Desti mengangguk ikut sedih saat mendengar suara lemah Ayyut. Pria yang biasa tampil gagah itu kini terlihat sangat hancur.
Desti mengangguk kukuh, Ayyut hanya bisa diam tak sanggup lagi bersuara bahkan hanya untuk menyunggingkan senyum tipis sebagai bentuk terima kasih ia tak mampu. Pada akhirnya Ayyut pergi begitu juga dengan Desti yang memilih duduk di sofa usai meletakkan buah di atas meja pasien. Namun, sebelum Ayyut benar-benar pergi ia menyempatkan diri berbalik, menatap dengan miris buah jeruk bawaan Desti. Nazri sangat menyukai buah itu dan sekarang buah itu akan hitam di makan oleh waktu karena orang yang menyukainya tak akan bisa memakannya lagi.
Ayyut keluar ruangan itu dengan tatapan hampa, semangat Ayyut menipis sejak Nazri terluka. Kakak yang paling disayanginya itu kini telah cacat dan semua hanya karena satu pria. Mahmed! Pria laknat yang tak hentinya menghancurkan hidup kedua saudarinya.
Melihat putra satu-satunya akhirnya keluar, Marina dan Andauval langsung bangkit menghadap Ayyut.
"Mama dan Papa belum makan juga ,kan?" Andauval dan Marina mengangguk dengan serempak.
"Ayo makan bersama," ajak Ayyut. Setelah itu ia tak bersuara lagi. Hati Marina dan Andauval sangat hancur melihat kesedihan putra mereka. Musibah yang menimpa Nazri membuat mental Ayyut terpukul, anak laki-laki mereka tak bisa menyembunyikan lukanya padahal ia bukanlah sosok pria yang lemah. Namun, untuk seorang Nazri merupakan semangat sekaligus kehancuran bagi Ayyut.
Andauval sangat merasa bersalah. Seharusnya ia tak membiarkan pernikahan tetap berlangsung dengan menjadikan Nazri pengganti kakaknya dan harusnya ia membiarkan keluarga Mahmed menuntutnya, lebih baik ia mendekap di penjara daripada melihat kedua putrinya disakiti oleh pria yang sama.
Bersambung
*Dukung selalu karya-karya author yah teman Readers
kasih semangat untuk author dengan like setiap babnya dan banyakin komentar.. Pasti author balas kok karena author senang di kasih krisar oleh pembaca cerita-cerita author
baiklah sekian untuk bab ini insya Allah kita jumpa nanti malam atau mungkin besok.
doain author selalu. sehat, usia berkah biar bisa terus menulis cerita yang kalian suka.
ambil sisi baik cerita ini yah
see you 😘
Instagram @fitrihaida
FB @Haida*
__ADS_1