Tiba-Tiba Membawa Madu

Tiba-Tiba Membawa Madu
10. Selangkah lebih Maju.


__ADS_3

"Kamu tahu? Adriana sampai bilang kamu lebih sayang Khansa dari pada dia?" kata Rania membuat Aditama memejamkan matanya sambil menarik napas dalam dan panjang.


"Aku faham cinta kamu sama dia lagi hangat-hangatnya tapi bisakkah kamu menjaga perasaan Adriana. Seorang ibu tidak akan mau jika anaknnya merasakan apa yang ibunya rasakan, jadi cukup aku saja kamu sakiti Mas!" tekan Rania di tengah isakkannya.


Aditama menyandarkan tubuhnya ke tembok dia mendongakan kepalanya agar air mata itu tidak menetes.


Aditama juga tidak mau sebenarnya menyakiti hati ke tiganya, dia ingin menjalankan pernikahan itu tanpa ada yang tersakiti. Namun siapa yang tidak sakit hati jika sang sumai tiba-tiba membawa madu di tambah Aditama sekarang menampakkan ketidak adilannya terhadap Rania.


"Jangan membahas yang tadi jika Adriana tidak membahasnya. Jika kamu duluan yang bicara Adriana akan kembali teringat akan hal tadi. Tugas mu saat ini dekati dia dan bujuk lagi perlahan jelaskan dan minta maaf. Jelaskan dengan kasih pengertian yang bisa di mengerti dengan seusia Adriana," ujar Rania yang mulai reda isakkannya.


Aditama menatap Rania lalu dia mendekat dan hendak memeluk Rania namun Rania menolaknnya dengan ke lima jarinya terangkat.


Ahirnya Aditama memilih duduk di samping Rania lalu menatap Rania yang sedang menatap lurus.


"Maafkan aku Rania, aku tidak setia dan ahirnya jatuh cinta sama Khansa," ucap Aditama membuat Rania meneteskan kembali air matanya dengan mata yang masih menatap lurus kedepan. Rania langsung menghapusnya.


Tidakkah Aditama menyadari ucapan seperti itu bikin hati Rania sakit hati? Walau Rania juga sudah merasakn ada sorot mata yang berbeda ketika Aditama menatap Khansa. Tapi jika langsung di ucapakan oleh suaminya sakit hati itu makin bertambah makin menusuk ke relung hati yang paling dalam.


"Khansa bukan gadis baik seperti yang kamu kira Mas," kata Rania dengan suara bergetar," Khansa bermuka dua. Dia baik jika ada kamu saja. Sifat aslinnya akan keluar jika tidak ada kamu,"

__ADS_1


"Jangan karena cemburu kamu menjelekan Khansa," timpal Aditama membuat Rania menatap dengan tatapan tidak bisa di artikan.


"Percuma juga jika aku memberi tahu kamu yang sebenarnya," Rania bangkit dari duduknya lalu dia berdiri di dekat jendela.


Rania berasa percuma jika menceritakan Khansa di depan Aditama, bukankah jika cinta sudah bicara maka seburuk apapun pasangan akan terlihat baik di matanya jadi paling susah jika menasehati orang yang sedang jatuh cinta.


Rania menarik napas berat sepertinya dia harus punya siasat jika ingin menyelamatkan rumah tangganya atau mengikhlaskan Aditama untuk Khansa kedua pilihan itu akan ada konsekuensinya.


Jika dia bertahan maka dia harus sabar dengan pilihannya itu namun jika dia Ikhlas melepaskan maka dia harus siap-siap keluar dari rumah dan Adriana harus bisa tanpa sang bapak.


Malam sudah menunjukan jam sembilan, Khansa gelisah karena Aditama tidak juga datang ke kamarnya padahal malam ini jatah dia. Karena sehabis makan malam Aditama sama Adriana yang masih marah. Aditama berusaha merayu sang buah hati.


"Aku penasaran dengan obrolan mereka, apa yang mereka bicarakan. Tapi tadi pas makan wajah mereka datar, apa mereka habis berantem? Tapi itu tujuan aku agar mereka berantem terus pisah, namu jika ternyata Rania mengadu yang tidak-tidak dan Mas Adit percaya! Ohhh no jangan sampai itu terjadi," racau Khansa bicara sendiri dia terus mundar mandir.


"Ck, ini gara-gara aku kena tipu Rania!" umpat Khansa lalu dia duduk namun detik kemudian dia berdiri lagi dan mundar mandir seolah gak ada capenya.


Sementara itu Aditama justru tidur di kamar putrinya terlihat Aditama sedang memeluk sang anak. pun Rania tidak tahu jika Aditama tidur di kamar Adriana.


Keesokan harinya seperti biasa Rania bangun terlebih dahulu dia membuka kamar sang anak dia sedikit tercekat ketika tahu Aditama tidur dengan Adriana karena pikiran Rania dia tidur sama Khansa.

__ADS_1


Rania masak terlebih dahulu dan masak hari ini adalah omlet jadi hanya memakan waktu sebentar, setelah selesai karena waktu masih menunjukan jam lima seperempat Rania pun berinisiatip untuk mandi terlebih dahulu.


Setelah memakan waktu lima belas menit Rania keluar kamar dengan kondisi rambut sedikit basah membuat Rania mengurai rambutnya dan di saat bersamaan Aditama keluar keduannya saling terdiam dengan pandangan yang saling mengunci walau hanya beberapa detik karena Rania langsung membuang pandanganya.


"Adriana sudah bangun?" tanya Rania menunduk.


"Lagi mandi," balas Aditama.


Rania lalu melangkah dan menuruni anak tangga lalu di susul oleh Aditama di belakangnya.


Dan di saat itu Khansa menatap keduanya napasnya cepat hidungnya kembang kempis Khansa melihat rambut Rania yang sedikit masih basah lalu menatap Aditama yang masih menggunakan piyama.


Khansa emosi karena dia menunggu semalaman dengan menggunakan baju dinasnya tapi ternyata Aditama tidur di kamar Rania.


Rania yang melihat sorot mata Khansa yang emosi langsung mengulum senyuamnnya. Rania sudah menduga dengan apa yang ada di pikiran Khansa rambut Rania yang sedikit basah lalu Aditama berada di belakangnya membuat siapa saja yang sudah berpengalaman pasti tahu arahnya ke mana.


Rania mengibaskan rambutnya ketika dia tepat melewati tubuh Khansa membuat aroma bau strowbery menyeruak di hidung Khansa.


"Saat nya kita bermain Khansa," ucap Rania dalam hati dengan sedikit menoleh ke arah Khansa yang menahan emosi.

__ADS_1


__ADS_2