Tiba-Tiba Membawa Madu

Tiba-Tiba Membawa Madu
6. Pembelaan Aditama.


__ADS_3

Pagi menjelang Rania menggeliatkan tubuhnya ia lirik jam yang ada di nakasnya terlihat jam menunjukan lima tiga puluh pagi, Rania langsung terperanjat dia kemudian langsung ke kamar mandi lalu menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Walau waktu sudah mendekati ahir namun Rania masih tetap menjalankan perintahNYA karena itu sebuah kewajiban.


Rania melaksakan solatnya dengan Khusu dia berdoa memohon ampunan dan di beri kesabaran dan ke ikhlasan atas ujian ini. Itulah yang sering Rania panjatkan dalam do'anya meminta ke ikhlasan dan kesabaran dalam hal apapun. Ridho dengan jalan yang harus dia lalui walau itu pahit karena Rania yakin di balik semua ini akan ada hikmah tersembunyi. Dan Allah tahu mana yang terbaik untuk hambanya walau harus di lalui dengan rasa sakit hati dan perjalanan yang tidak mudah karena harus ada rasa sabar dan ikhlas atas ketetapanNYA.


Setelah selesai Rania turun ia hendak ke dapur dan di saat bersamaan pintu kamar Khansa terbuka Aditama dan Khansa keluar dengan tawa yang sangat renyah.


Rania tercekat kini kedua mata itu saling bertatapan terlihat Aditama pagi ini sangat segar berbeda dengan hari-hari biasannya.


Khansa mengambil kesempatan itu dia langsung memeluk tangan Aditama dengan mesra.


"Sayang," ucap Aditama membuat Rania menarik kedua sudut bibirnya dia berusaha tersenyum walau dalam paksaan. lalu Rania melangkah begitu saja melewati tubuh mereka.


"Sayang enakkan semalam, bahkan kamu meracau karena begitu menikmat," ujar Khansa sedikit meninggikan suaranya sengaja agar di dengar oleh Rania.


Rania yang mendengar itu menarik napas berat.


"Allah, kuatkan aku," gumam Rania.


"Sayang kamu baik-baik saja kan?" tanya Aditama memeluk Rania dari belakang. Namun Rania segera menepisnya.


"Seperti yang mas lihat," jawab Rania datar tanpa menoleh sedikitpun sama Aditama.


Aditama menarik napas berat lalu ia melangkah dan menaiki anak tangga, Khansa mengambil kesempatan dia mendekati Rania.


"Semalam adalah malam bersejarah bagi aku dan mas Adit, pelayanan aku sangat memuaskan untuk dia." kata Khansa sambil menyunggingkan senyumannya.


"Itu hak kalian, wajar. Kalian kan suami istri," balas Rania berusaha untuk tenang dan tidak terpancing oleh omongan Khansa, karena Rania harus berhati-hati dengan Khansa yang pandai menjaga sikap di depan Aditama.


"Wow rupanya ada yang pandai menyembunyikan cemburunya," timpal Khansa sambil menepuk tangannya pelan," Hebat sekali kamu Rania."


"Ya, aku hebat tidak seperti kamu," ucap Khansa kini keduanya saling bertatapan.


"Apa kamu bilang!" Khansa meradang dengan ucapan Rania.


"Iya, aku hebat tidak seperti kamu!" Rania mengulangi ucapannya dengan sedikit penekanan," masih kurang jelas aku ulangi, aku hebat tidak seperti kamu,"


"Dasar!" Khansa hendak melayangkan tangannya namun langsung di cegah oleh Rania.


Sebuah langkah kaki terdengar membuat Rania langsung melepaskan cengkraman itu dengan mengayunakan tangan Khansa membuat si pemiliknya meringis.

__ADS_1


"Lihat saja permainan aku Rania," ucap khansa dalam hati.


Aditama mengecup pucuk kepala Rania namun perasaan Rania sedikit berbeda dia tidak lagi merasakan getaran ada rasa jijik yang menghampirinya mengingat mereka semalam telah melakukan ritual suami istri.


"Masak apa hari ini?" tanya Aditama sambil duduk lalu dia menggulung kemejanya seperempat.


"Hari ini aku kesiangan jadi aku hanya bikin roti panggang dan susu hangat untuk kalian," jawab Rania," Aku mau ke kamar Adriana dulu,"


Rania pun melangkah namun sebelum melangkah Rania menoleh ke arah Khansa yang sedang menatapnya juga.


"Mas, ahir-ahir ini aku di perlakukan tidak baik oleh kak Rania, dia sepertinya belum menerima aku sebagai adik madunya," adu Khansa dengan wajah di buat sesedih mungkin.


"Wajar, kamu yang sabar ya. Dia pasti luluh, dan mas akan menasehati Rania agar bisa menerima kamu sebgai adik madunya," sahut Aditama sambil membelai rambut Khansa.


"Mas cinta kan sama aku?" tanya Khansa tiba-tiba namun bukan tanpa alasan karena dia tahu Rania ada di dekat situ.


"Mas sudah mulai mencintai kamu, entah sejak kapan rasa ini hadir," jawab Aditama.


Rania yang mendengar ucapan langsung dari suaminya membuat matanya memerah air mata itu sudah menggenang di pelupuk matanya hingga sekali kedipan air mata itu terjatuh.


"Mama," panggil Adriana membuat Rania langsung menghapus air matanya dan menoleh sama sang anak.


Aditama dan Khansa ikut menoleh ke sumber suara. Khansa mengulum senyum setidaknya Rania sudah tahu bahwa sekarang Aditama mulai mencintainya.


"Mama lagi menunggu kamu, sayang," jawab Rania sekenanya. Lalu melangkah mendekati meja makan.


Adriana duduk di samping Rania, sementara Aditama duduk di kursi di mana ada dia sendiri sebagai kepala keluarga dan Khansa tepat di depan Rania.


"Adriana, berangkat sama Bunda ya?" tawar Khansa membuat Adriana menoleh sama Ibunya meminta jawaban dari sang Mama.


Rania memberikan isyarat dengan melirik ke arah Khansa dan sedikit menggelengkan kepalanya.


"Adriana kan sudah ada yang menjemput jadi Bunda gak perlu mengantar aku," sahut Adriana sambil mengunyah makanannya.


Rania bernapas lega karena sang anak mengerti akan isyaratnya.


"Baiklah kapan-kapan saja ya anak Cantik," ucap Khansa.


"Hhhh kalau bukan sedang menjalankan misi gak mau aku mengantar kamu," ucap Khansa dalam hati namun ekspersi mukanya dia tersenyum dengan manisnya.


"Mas nanti antar aku sebentar, keperluan bulanan sudah habis," ujar Rania menoleh Aditama menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Setelah sarapan Adriana jemputannya sudah datang, terdengar ucapan salam dari si Mbok.


"Asslamualaikum,"


"Walikumsalam," jawab mereka kompak.


Si Mbok langsung masuk dan mulai mengerjakan pekerjaannya seperti biasa.


Rania sudah bersiap hendak ikut karena dia mau pergi ke supermareket karena searah dengan kantor Aditama.


"Kamu gak ikut Khansa?" tanya Aditama.


"Saya di rumah saja mas, bantu si Mbok," jawab Khansa.


Mereka pun ahirnya pergi meningglkan rumah di dalam mobil Rania lebih banyak diam tidak seperti biasannya yang selalu ceria.


"Sayang kenapa?" tanya Aditama menoleh sebentar lalu dia kembali fokus mengemudi.


"Gak papa, aku hanya gak nyangka saja kamu mendua," sahut Rania yang pandangannya mengarah ke jendela. Aditama menarik napas dalam.


"Cobalah mulai menerima, biar bagai...,"


"Dia adik madumu," potong Rania karena dia sudah bosen dengar ucapan itu dari mulut Aditama.


"Mas, ini bukan masalah dia adik madu ku, aku akan ikhlas jika kamu meminta itu secara baik-baik dan aku yang mencarikan calon untuk kamu, bukan malah mendadak dan aku tidak tahu. Dan berbohong!" ucap Rania dengan suara bergetar.


"Rania, mengertilah tidak mudah ada di posisi mas," ujar Aditama.


"Mengerti kata mu? aku suruh mengerti? masalah ini berawal dari kamu! kamu yang membawa duri dalam rumah tangga kita, kamu sendiri yang mendatangkan dia hadir dalam rumat tangga kita, dan sekarang aku harus mengerti!" kata Rania sedikit meninggikan suaranya dengan tangannya menunjuk ke arah Aditama ketika bilang'kamu'


"Kamu berubah Rania, kamu sering emosi dan berani sama Mas," ujar Aditama yang pandangannya fokus ke depan," pantesan Khansa sering mengadu karena di perlakukan kasar oleh kamu,"


Rania yang mendengar ucapan itu tercekat lalu menatap suaminya dari samping dengan buliran airmata yang jatuh.


"Mas percaya begitu saja sama dia? Mas percaya?" kata Rania penuh penekanan


"Iya," jawab Aditma singkat, Rania memejamkan matanya kini suaminya lebih percaya dengan ucapan Khansa.


"Mas ada buktinya?" ujar Rania sambil menghapus air matanya.


"Gak ada, namun Khansa sering mengadu ke mas tentang perbuatanmu sama dia,"

__ADS_1


Rania menarik napas dalam entah apa yang telah Khansa adukan sama suaminya sehingga dia lebih percaya Khansa dari pada dirinya.


__ADS_2