Tiba-Tiba Membawa Madu

Tiba-Tiba Membawa Madu
11. Penasaran.


__ADS_3

"Mas, semalam aku nunggu kamu, kan giliran jatah aku," kata Khansa menghampiri Aditama.


Rania yang mendengarnya tersenyum sambil menggelengkan kepalannya lalu ia mengambil telur di dalam kulkas.


"Iya Mas ketiduran di kamar A-"


"Khansa boleh ke sini sebentar?" potong Rania, dia tidak mau jika sang sumai bilang tidur di kamar Adriana.


"Bantu Kak Rania sebentar," kata Aditama sambil mengusap pipinya lalu melangkah begitu saja menuju kamar Khansa.


Rania tersenyum melihat wajah Khansa yang di tekuk.


"Dengar Rania, hari ini kamu berhasil membuat Mas Adit tidur di kamar mu, tapi tidak dengan malam-malam berikutnya," ancam Khansa ketia Aditama sudah benar-benar masuk kamar.


Rania bergeming dia tidak menanggapi ucapan Khansa malah fokus untuk menyiapkan sarapan, Rania tahu jika dia bicara yang tidak-tidak takut Aditama keluar dan salah faham. Dia ingin melakukannya dengan smoot. Sejauh ini walau Rania di sakiti oleh Aditama namun dia ingin bermain dengna Khansa karena dia yang memulai terlebih dahulu.


"Heh, denger Rania Izzara," bentak Khansa sambil mendorong bahu Rania sehingga Rania terpojok," walau kita seumuran dan kamu istri pertamanya mas Adit, tapi aku tidak akan tunduk sama kamu,"


"Iya, aku tahu itu, kamu nurut karena emang ada Aditama," kata Rania sambil sedikit mendorong Khansa lalu dia melangkah begitu saja. Rania tidak ingin terlihat lemah di hadapan musuh. Ya musuh anggap saja seperti itu.


"Mas Adit lebih memilih aku dari pada kamu, kasian banget ya kamu, oopss!," Khansa menutup mulutnya,"cuma karena Adriana saja dia gak mau melepaskan kamu,"


Rania yang sedang menuangkan susu berhenti lalu menoleh.


"Dia yang bicara seperti itu, kalau pun semalam kamu sama dia, itu hanya memenuhi kewajiban sebagi sumai," lanjut Khansa.


"Begitu? baik jika emang yang dia ucapan seperti itu, tidak masalah," balas Rania lalu dia kembali menuangkan susu itu ke dalam gelas.


Ada rasa sakit hait ketika Khansa berbicara seperti itu, perih seandainya suatu saat nanti Aditama lebih memilih Khansa dari pada dia.


Rania harus memperisapakan dari sekarang dia harua siap dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang ada.

__ADS_1


Namun dia akan berusaha untuk mempertahan kan rumah tanggannya sebisa mungkin, sampai ahirnya kata sabar sudah tidak ada dan Ikhlas harus melepaskan.


"Kamu sakit hati menedengarnya?" ketus Khansa sambil melipatkan kedua tangannnya.


"Jika perempuan yang memiliki hati nurani, sebagai sesama permpuan seharusnnya kamu tahu, namun percuma jika bicara sama kamu yang..."


"Maksud kamu aku tidak punya hati nurani?" Khansa sedikit meninggikan suaranya namun Rania hanya membalas dengan mengangkat kedua bahunya kemudian meningglkan Khansa begitu saja.


Pintu kamar terbuka Aditama sudah rapih dengan kemeja berwarna putih serta dasi yang sudah terpasang.


Khansa tersenyum lalu melangkah menghampiri Aditama, detik kemudian keduanya kini telah menyatukan napas mereka, saling membalas satu sama lain seolau enggan untuk berhenti berhenti apalagi Khansa yang lebih dominan karena dia yang memulai.


Rania yang hendak kesana tercekat lalu menutup mata Adriana, sungguh pemandangan yang tidak ingin di lihat.


Rania merasa sesak yang teramat, mau melabrak setatus mereka suami istri. Luka itu makin mengaga ketika tahu suaminya menikah lagi di tambah mereka melakukan kemesraan tidak pada tempatnya sungguh luka itu semakin membuat Rania bertambah, Wanita mana yang tidak sakit hati melihat suaminya seperti itu.


"Ehem," Rania berdehem sambil menunduk.


Aditama dan Khansa langsung saling melepaskan tautan itu.


Adriana hanya mengangguk lalu menoleh sama sang Mama yang wajahnya langsung berubah.


"Ayah selalu menyakiti hati Mama," ujar Adriana menatap sang ayah.


"Enggak sayang, Ayah gak menyakiti Mama," Aditama hendak menggandeng tangan Adriana sang Anak langsung menyembunyikan tangannya di balik punggung.


"Ayo Mama, aku takut telat," kata Adriana sambil menarik lengan Rania.


Pemandangan seperti itu yang ingin Khansa lihat sehari-hari, kebencian sang anak dan Rania yang sudah tak tahan karena di sakiti, perlahan mereka akan keluar dari rumah ini menjadikan Khansa satu-satu nya wanita yang bertahta di hati Aditama.


Khansa mengulum senyuammnya ketika membayangkan jika itu terjadi.

__ADS_1


Mereka ahirnya duduk tidak ada pembicaraan, hanya terdengar suara sendok dan garpuh.


"Aaa sayang," ujar Khansa sambil mengarahkan sendok ke mulut Aditama. Aditama lalu membuka mulutnya, Khansa menoleh sama Rania lalu dia tersenyum.


Rania menghembuskan napasnya bukan masalah soal cemburu namun di sana ada Adriana yang melihat.


"Sayang, jika sudah ayo kita keluar nunggu jemputan datang," ujar Rania, Adriana mengangguk lalu turun dari kursi.


"Mama, kenapa ayah sekarang berubah?" tanya Adriana, Aditama yang mendengar itu memejamkan matanya lalu menarik napas panjang dan berat.


"Adriana do'a kan saja agar Ayah seperti dulu lagi," jawab Rania singkat.


"Sudahlah mas, jangan sedih namannya juga anak-anak, nanti juga kamu punya anak lagi dari aku," ucap Khansa ketika Rania dan Adriana sudah ada di luar.


Jemputan pun sudah datang lalu Adriana masuk ke dalam mobil Rania pun melambaikan tangannnya dengan tersenyum.


Setelah mobil tidak ada Rania menarik napas berat. Rania mulai berfikir langkah selanjutnya yang akan dia ambil seperti apa.


Jika dia bertahan maka akan melihat pemandangan seperti tadi namun jika dia melepaskan hati nya belum siap karena rasa cinta yang dia milik masih ada untuk Aditma dan tidak semudah itu untuk memutuskan, apa lagi mereka sudah membina rumah tangga selama sepuluh tahun, namun bukan itu saja yang dia pikirkan yaitu masa depan Adriana, sulit untuk seorang Rania. Rania harus berfikir masak-masak apa yang akan dia pilih nantinya. Itulah pergolakan batin Rania.


Rania membalikan badannya dia terkejut ketika Aditama dan Khansa sudah ada di belakangnya.


mata Rania mengarah di mana tangan Khansa memeluk erat lengan Aditama. Tidak ada penolakan melainkan dia seperti menikmatinya.


"Aku berangkat Rania," kata Aditama yang setiap harinya dia berubah tidak seperti dulu sedikit kaku dan dingin jika dekat dengan Rania.


Rania menarik kedua sudut bibirnya lalu menarik tangan Aditama kemudian dia menciumnya. sebelum ahirnya dia masuk ke dalam.


"jika emang yang di katakan Mas Adit mereka tidak pacaran dan di jebak oleh Khansa tapi kenapa mas Adit begitu cepatnya berubah dan seolah mereka menginginkan sejak lama," gumam Rania bicara dalam hati dia berfikir sambil melangkah menaiki anak tangga.


"Ada apa dengan masa lalu mereka? Tapi itu tidak penting, mau masa lalu mereka kaya apa," kembali Rania sibuk dengan pergolakan dalam hatinya.

__ADS_1


Khansa melihat Rania dengan langkah gontai membuat dia mengembangkan senyumannya.


"Ini baru permulaan Rania, belum ada apa-apanya," guma Khansa.


__ADS_2