Tiba-Tiba Membawa Madu

Tiba-Tiba Membawa Madu
21. Permainan Mantan Suami Istri.


__ADS_3

Semenjak ke datangan mereka dua minggu yang lalu kini Rania mulai menata hidupnya dia akan fokus membesarkan putrinya, dia mulai menjual bisnis online dari mulai skencare, tas, baju, yang biasanya suka di gandrungi kaum hawa. Rania memulai walau jualannya belum begitu rame tapi Rania sering promosi di sosial media. Seperti halnya sekarang dia begitu tekun mempromosikan daganganya. Total sudah ada delapan orang yang pesan skencare yang bermerek ternama bahkan pernah di promosikan oleh artis dangdut ternama.


"Terimakasih Mba, barang akan datang dalam dua atau tiga hari, semoga cocok ya, jangan lupa nanti beri testimoninya," kata Rania ketika berbicara dengan custamernya.


Rania yang ramah mampu membuat siapa saja nyaman membeli prodak jualannya.


"Alhamdulillah," lirih Rania bersyukur dengan apa yang dia raih walau belum seperti yang lain setiap harinya dapat orderan banyak.


Padahal jika Rania mau bekerja di perusahaan bisa mengingat dia dulu pernah kerja di kantor, namun Rania memilih bekerja secara online karena tidak mau meningglkan Adriana.


Sementara itu di jakarta Khansa menikmati kehamilannya yang makin membesar, Aditamapun memberi perhatian penuh membuat Khansa merasa perempuan yang paling bahagia.


"Aku kerja dulu, hati-hati di rumah," ujar Aditama menatap manik mata istrinya.


"Terimakasih," Khansa tersenyum dengan manisnya detik kemudian mereka saling menyatukan napasnya.


Aditama mulai menerima Khansa yang sudah tau kejahatnnya, dia akan bersabar menunggu Khansa lahiran terlebih dahulu.


"Aku ikuti permainan kamu Khansa," ujar Aditama menyunggingkan senyumannya padangannya menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam.


"Gara-gara kamu aku berpisah dengan Rania, dan kamu dengan sadarnya menjerat aku dengan tingkah polos kamu, walau dulu aku pernah melakulannya tapi bukan berarti aku cinta sama kamu! aku berbuat manis semata biar anak yang ada di dalam perut kamu baik-baik saja," kembali Aditama bersuara seorang diri, seolah Khansa berada di depanya, itu karena bentuk kekesalannya sama Khansa namun dia enggan jika langsung bicara di depan istrinyan itu, dia sendiri benci sama Khansa namun dia akan memberi pelanjaran sama wanita itu yang sudah bikin hidupnya jauh dari Rania dan Adriana. Padahal sudah jelas keduanya salah.


Ponsel Aditama berdering dia pun menatap nama yang tertera sangat jelas muncul dia layar ponelnya.


"Ck, ngpain dia telepon," Aditama membelokan mobilnya dan melepaskan seatbeltnya dia angkat benda pipih itu lalu mengangkat panggilan teleponnya.

__ADS_1


"Ada apa? Aku baru sampai depan kantor," ujar Aditama sambil keluar dari mobilnya.


"Aku hanya ingin tahu kamu sudah sampai apa belum?" jawab Khansa di sebrang sana.


Aditama membuang napas kasar lalu dia memencet tombol kunci sehingga terdengar bunyi dari mobilnya.


"Khansa kamu tidak perlu segitunya, percayalah sama aku," Aditama melangkah menaiki tangga satu persatu sebelum ahirnya dia tiba di depan lift pintu terbuka, Aditama langsung masuk namun terlihat seorang wanita berjalan ke arahnya membuat Aditama menekan tombol.


"Aku hanya takut saja mas," ujar Khansa dengan nada manja.


"Ya sudah aku mau kerja dulu,"


"Semangat sa_"


Belum selesai Khansa mengucapkan kalimatnya panggilan pun langsung terputus.


Di dalam lift Aditama melihat perempuan itu yang terlihat masih sangat muda dengan menggunakan celana panjang berwarna hitam serta kemeja warna putih yang di luarnya di baluti oleh blazer berwarna hitam. Rambut yang terurai serta memiliki wajah yang sangat paripurna.


Tidak ada ada obrolan dari keduanya hingga lift terbuka di lantai tiga, Aditama pun keluar dan perempuan itu pun ikut keluar.


"Baru kerja di sini?" tanya Aditama pada ahirnya membuat perempuan tersebut mengangguk sambil tersenyum dengan manisnya. Hati Aditama berdesir melihat senyuma yang begitu manis, bagi siapa saja laki-laki normal pasti akan merasakan hal yang sama.


Aditama melihat card yang di kalungkan di lehernya tertera nama Marisa.


"Saya duluan pak," ucap Marisa mengangguk sopan lalu meningglkan Aditama yang diam mematung.

__ADS_1


Aditama tersadar dia langsung melangkah dengan cepat.


Sememtara itu ketika Rania sedang sibuk berbalas pesan dengan Customernya sebuah panggilan masuk dari Khnasa membuat Rania mendengus dengan kesal.


"Ada apa orang ini tiba-tiba menghubungi," Rania menekan tombol tolak," ganggu saja orang kerja!"


Sebuah pesan masuk dari Khansa, Rania langsung membacanya.


"apa mas Adit ada di situ?"


"Ada," jawab Rania sambil terkekeh.


"Akan aku ajak kamu dalam permainan ku Khansa," Rani tersenyum dengan jail.


Khansa pun langsung memanggilnya dengan menghunakan video call namun Rania kembali menekan tombol berwarna merah.


"kamu jangan macam-macam Rania!"


Kembali Khansa mengirim pesan, membuat Rania tersenyum lalu dia mencari foto orang lain di mana tangan itu saling menggenggam dengan mesranya.


"Uhh, takutnya bagaimana jika aku sudah macam-macam," Rania mengirim pesan itu lengkap dengan foto tangan yang saling menggengam.


Khansa yang melihat itu menggengam erat ponselnya, terihat guratan emsoi di wajahnya hidung yang kembang kempis serta gigi yang gemeretak.


"Tidak mungkin!" teriak Khansa sambil memecahkan vast bungan yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Maaf Khansa, aku hanya ingin memberi pelajaran buat kamu, semoga kamu tidak akan merasakan apa yang aku rasakan," mata Rania mulai berkaca-kaca," biar bagai mana pun Mas Adit pernah menjadi laki-laki yang paling baik sebelum ahirnya kamu datang menghancurkan,"


Setetes airmata keluar tanpa bisa di cegah, Rania pun segera menghapusnya dengan kasar.


__ADS_2