Tiba-Tiba Membawa Madu

Tiba-Tiba Membawa Madu
8. Adriana Kecewa.


__ADS_3

Semenjak kejadian itu Rania harus hati-hati dengan Khansa dia harus mengumpulkan bukti agar suaminya percaya bahwa dia tidak bersalah.


Khansa makin hari makin menunjukan keromantisannya dengan Aditama, pun Aditama mulai berani di depan Rania. Jika ada Adriana saja Aditama menjaga jarak.


"Kamu tahu? Kenapa aku sekarang berani mesra di depan kamu?" ucap Aditama ketika mereka sedang berada di dalam kamar, sementara Rania duduk sofa dan Aditama berdiri di dekat jendela dengan pandangan keluar.


Rania bergeming dia gak menjawab pandangannnya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.


"Kamu mulai berubah Rania, ketika Mas menginginkan kamu justru kamu menolaknya dengan berbagai alasan Dan kamu tidak lagi memberikan perhatian sama Mas," lanjut Aditama tanpa menoleh sedikitpun.


Rania menarik napas dalam mendengar penuturan suaminya. Padahal sifat Rania masih sama dia selalu perhatian akan Aditama, soal makanan, menyiapakan baju serta memasang dasi Rania masih menjalankannya seperti dulu tidak berubah, dan perhatian yang lainnya namun Rania mengakui jika urusan ranjang dia sedikit berbeda. Ada perasaan jijik jika mengingat suaminya melakukan hal sama dengan wanita lain walau hubungan mereka sah-sah saja karena suami istri.


Rania akan menerima konsekuensinya jika cara Aditama menikahi Khansa dengan unsur ilmu poligami yang benar menurut syariat islam. Namun caranya Aditama menikahi Khansa jelas-jelas tanpa sepengetahuan Rania walau tujuan awalnnya ingin menyelamatkan Khansa dari pekerjaan yang tidak halal.


"Itu hanya alsan klasik," sahut Rania sambil menoleh sesaat.


"kalau pun iya aku berubah hal wajar karena kini suami ku juga berubah," lanjut Rania membuat Aditama menoleh.


"Kamu dendam?"


"Tidak!" jawab Rania cepat.


Hening seketika hening gak ada lagi obrolan dari keduanya hingga sebuah ketukan membuat keduanya menoleh ke arah pintu.


Rania beranjak dari duduknya lalu membuka pintu itu, Adriana langsung menerobas dengan mengembangkan senyumannya.


"Papa, hari ini Adriana kan libur. Yuk kita jalan-jalan," ajak Adriana dengan sorot mata yang berbinar.


Rania duduk di samping sang anak setelah menutup pintu.


"Sayang, hari ini Papa gak bisa menemani Kamu karena Papa ada kerjaan," sahut Aditama sambil membelai rambut Adriana, terlihat perubahan di wajah Adriana yang menjadi masam.


"Adriana sama Mama ya jalan-jalannya, bisakan kalau Adriana berdua saja sama Mama?" lanjut Aditama.


"Sayang, Papa lagi sibuk jadi kita jalan berdua saja ya?" tawar Rania.


Adriana pun menganggukan kepalannya padahal dia ingin sekali jalan bertiga seperti dulu namun Aditama jarang meluangkan waktu untuk Adriana alasannya karena harua kerja. Padahal tidak sepenuhnya kerja melainkan ingin ada waktu berdua dengan Khansa.

__ADS_1


Raniapun menyuruh Adriana untuk bersiap.


"Apa kamu tidak kasihan dengan Adriana, dia begitu berharap kamu ikut," ujar Rania ketika sudah memastikan sang anak keluar.


"Sudahlah, yang penting kalian bisa jalan-jalan," jawab Aditama.


Rania lalu berisap dia menggunakan celana jeans dengan atasan tunik yang berwarna hitam serta krudung yang senada. Terlihat sangat cantik walau dengan pakaian sederhana namun terlihat elegant ditambah pembawaan tubuh Rania yang jika memakai baju apa saja terlihat bagus.


Aditama menatap Rania yang sedang merapikan krudungnya dengan model yang di lilit ke leher namun masih menutupi bagian dadanya.


"Jangan tebar pesona," celetuk Aditama ketika Rania sedang menyemprotkan minyak wangi.


Gak ada jawaban dari Rania karena biasanya Rania berdandan seperti itu tanpa MakeUp yang berlebihan.


Setelah selesai Rania keluar lalu membuka pintu kamar sang anak yang sudah rapih.


"Ayo!" ajak Rania dengan tersenyum, Adrianapun membalsa senyuman ibunya.


"Mbok, aku mau pergi dulu, Mbok mau di belikan apa?" tanya Rania ketika si Mbok sedang sibuk di dapur.


"Gak usah Nduk, jangan repot-repot," jawab Si Mbok.


Khansa datang dengan wajah ceria sambil menyapa Adriana sangat lebut.


Rania muak dengn prilaku Khansa yang penuh dengan topeng.


"Anak cantik, ko Bunda gak di ajak?"


Rania yang mendengar ucapan Khansa mendengus dengan kesal.


"Ayo sayang," kata Rania menggenggam tangan Adriana lalu melangkah sambil menabrakan bahunya ke Khansa. Membuat Khansa meringis.


"Mari kita berperang Khansa dan siapa di sini yang akan kalah, kalaupun aku terusir dari rumah ini setidaknya aku sudah berjuang, dan aku tidak akan terlihat lemah," ucap Rania dalam hati.


Mereka pun masuk ke dalam mobil lalu memasangkan sabuk pengaman begitupun dengan Adriana yang di bantu oleh sang ibu.


Rania melajukan mobilnya sementara Aditama yang sedang di atas melihat dari kaca jendela mobil itu keluar dari halaman rumahnya.

__ADS_1


Aditama turun dia masih berpakain santai hanya menggunakan celana dan kaos berwarna hitam.


"Sayang, ayo kita juga jalan-jalan," ajak Khansa sambil bergelayut manja.


"Kemana?" tanyanya.


"Bebas, yang penting keluar jalan berdua," sahut Khansa.


"Bakilah, siapa-siap sana," kata Aditama sambil menyentuk hidung istrinya.


Si Mbok yang melihat menggelengkan kepalanya dia merasa risih dengan pemandangan seperti itu, bukan tanpa alasan karena si Mbok juga tahu busuknya Khansa seperti apa. Namun Aditama sedikitpun gak percaya sama omongan si Mbok karena Aditama berfikir Si Mbok sudah pasti membela Rania.


"Entah apa yang di berikan perempuan itu sehingga Pak Adit berubah," ucap si Mbok seorang diri detik kemudian dia menggelengkan kepalanya.


Sementara itu Rania membawa Adriana bermain di wahana Dunia Fantasi mereka sangat asik walau tanpa Aditama. Adriana begitu menikmati setiap permainannya.


Rania memanjakan anaknya melihat senyum bahagia dari Adriana mampu membuat Rania melupakan semua masalahnya.


Setelah puas dengan permainan Rania mengajak Adriana pergi ke pantai. Namun sebelum mereka pergi ke pantai mereka menyempatkan makan terlebih dahulu.


Setelah sampai Adriana berlari kecil lalu melangkah terlihat ombak akan segera datang Adriana langsung berlari karena dia takut terbawa ombak.


Rania tertawa lalu dia ikut sang anak sambil bermain air dan terlihat ombak akan datang lagi mereka merentangakn kedua tangannnya dengan salah satu tangan mereka saling menggengam.


Dan benar ombak datang membuat keduanya tertawa karena hampir limbung dengan terjalan ombak yang lumayan kencang.


"Kamu kekuatan Mama, Adriana," gumam Rania sambil menatap sang anak yang sedang melompat lompat.


Rania mengajak sang anak untuk berhenti dulu sambil mencari minuman dan tempat untuk mereka istirahat. Namun betapa terkejutnya Rania ketika mereka di hadapkan dengan sosok yang sangat dia kenal.


Rania menatap tak percaya dengan apa yang di lihatnya, Aditama membuang pandangannya sementara Rania menatap Khansa yang semakin mengeratkan pelukannya. Sementara Adriana menatap sang Mama lalu menatap Aditama dan Khansa bergantian.


Mata Rania mulai memerah dia mengatur napasnya agar emosinya terkontrol sadar bahwa mereka sedang berada di tempat umum.


"Mama, ayo kita cari minum Adriana sudah haus," ujarnya, Rania menoleh lalu menarik kedua sudut bibirnya.


Namun sebelum pergi Rania menatap tajam Aditama lalu menoleh ke arah Khansa yang sudah jelas dia sangat berbahgia dengan ini semua.

__ADS_1


"Kamu boleh menyakiti aku mas, tapi setidaknya jaga perasaan Adriana," bisik Rania dengan penuh penekanan.


"Ayo, Mama. Sepertinya Papa sudah gak sayang lagi sama aku," ucap Adriana membuat Aditama memejamkan matanya.


__ADS_2