Tiba-Tiba Membawa Madu

Tiba-Tiba Membawa Madu
17. Perdebatan.


__ADS_3

Keesokan harinya Ahirnya Aditama memutuskan untuk ke rumah si Mbok di lihat jam sudah menunjukan pukul sepuluh, Aditama kesiangan gara- gara dia kecapean sehabis perjalanan pulang pergi dari jakarta ke bandung dan dari bandung ke jakarta.


Aditama merasa heran karena biasannya Rania akan membangunkan jika dia kesiangan mau itu hari libur sekalipun namun Khansa berbeda justru dia masih tertidur pulas.


Aditama segera beranjak sedikit buru-buru karena takut Rania sudah berangkat. Khansa yang sadar suaminya bangun dia ikut terjaga di lihatnnya Aditama sedang mengancingkan kemeja berwarna putih.


"Mau ke mana mas? Bukannya hari ini libur kantor?" tanya Khansa.


"Iya, mas akan ke rumah si mbok siapa tahu Rania ada di sana," sahut Aditama sambil menggulung kemeja itu sampai siku.


"Mas, Bisa gak kamu menjaga perasaan aku, aku ini istri mu sedangakan Rania itu mantan!" isak Khansa pada ahirnya.


"Mengertilah Khansa, semata-mata hanya karena Adriana," kata Aditama sambil mendekat lalu dia membelai rambut Khansa.


"Aku emang salah telah berada di kehidupan kalian, aku salah begitu mencintai sosok Aditama, harusnya aku mengerti bahwa cintanya hanya untuk Rania seorang," Khansa semakin menangis.


Aditama langsung membawa Khansa ke pelukannya Khansa terisak bukan tanpa alasan karena perasaan dia sama Aditama emang begitu dalam sehingga ambisinya sangat kuat.


Khansa tersenyum di balik tangisannya dia sedih campur bahagia jadi satu Khansa berhasil mencegah sang suami bertemu dengan mantan istrinya.


Aditama sendiri dia dilema satu sisi dia ingin menemui Rania dan Adriana seblum mereka ke Bandung, namun Khansa juga butuh dia. Aditama jika sudah dekat Khansa dia seperti tidak berkutit walau dia pernah bilang sama Iqbal masih cinta tapi nyatannya jika dekat Khansa dia akan lebih mengutamakan Khansa. Tapi Rania juga masih ada di dalam hati Aditama walau cintanya tidak sebesar dulu.


"Aku kasih kejutan sama Mas,"


"Apa itu?"


Keduannya melerai pelukannya lalu Aditama menatap Khansa , Khansa mengeluarkan sesuatu di bawah bantal sebuah kotak panjang di serahkan sama Aditma.


"Apa ini sayang?" tanya Aditama, Khansa hanya tersenyum terilhat wajahnya sangat bahagia, perlahan Aditama membuka kotak itu, mata Aditama membulat sempurna ketika melihat benda itu.


"Ini beneran?" tanya Aditma dengan mata binar bahagia. Khansa hanya mengagguk dengan senyuman yang terus mengembang, Aditama kembali membawa Khansa ke dalam pelukannya kini keduanya saling memeluk erat.


Namun bayangan akan Rania masih melekat di dalam pikiran Aditama. Aditama mulai menepis bayangan itu karena biar bagai mana pun sekarang istri satu-satunya adalah Khansa.


"Sekarang bersiap lah, kita ke rumah si Mbok,"


Khansa mendongakan kepalanya mau protes dia takut akan kecurigaan Aditama hingga perlahan dia menganggukan kepalanya dia pun membersihkan badan terlebih dahulu.


Sementara itu di rumah si Mbok Rania sudah siap, dan Iqbal pun sudah datang, Rania memberikan uang buat si Mbok biar bagai mana pun Rania numpang di rumah si Mbok walau si Mbok menolak namun Rania memohon untuk di terima.


"Terimakasih Mbok, sudah membantu Rania," ucapnya sambil memeluk si Mbok lalu bergantian sama Liza.


"Terimakasih ya, liza," kata Rania.


"Kami pinginnya ibu masih di sini," kata Liza sambil membalas pelukan Rania.

__ADS_1


"Pinginnya, tapi gak mungkin merepotkan kalian terus," sahut Rania sambil melerai pelukannya.


Iqbal sudah selesai memasukan barang-barang Rania lalu melangkah mendekati mereka.


"Terimakasih ya Den mau mengantarkan Nduk," kata si Mbok menatap Iqbal.


Sebuah suara deru motor membuat mereka menoleh terlihat sepasang suami istri mendekat ke arah mereka.


Rania menarik napas berat ketika tahu yang datang Khansa dan Aditama.


Iqbal menoleh sama Rania yang membuang pandangannya.


"Rania aku kemarin ke bandung mencari kamu," kata Aditama yang sudah turun dari motornya sambil menggengam tangan Khansa, Lalu menoleh sama Adriana yang sedang menatapnya.


"Sayang," ujar Aditama mendekati Adriana. Membuat Adriana bersembunyi di balik punggung si Mbok.


Aditama menekuk lututnya agar sejajar dengan sang anak, dia pun mengusap Rambut Adriana.


Rania menatap Khansa keduannya kini saling bertatapan, kemudian Iqbal menatap Rania dan Khansa bergantian lalu sama Aditama yang sedang mendekati Adriana.


"Ayo Rania ini sudah siang," ajak Iqbal mencoba mencairkan suasana.


Rania mengangguk lalu dia menggengam tangan Adriana begitu saja tanpa peduli Aditama sedang membujuk Adriana.


"Sudah lah mas, mereka memang selingkuh sebelumnya buktinya mereka akan ke bandung bersama," Khansa mulai melancarkan aksinya dia mendekat sambil menyentuh dada suaminya agar sedikit lebih jauh dari Rania.


"Apa tujuan kamu kesini?" tanya Rania yang tidak menanggapi ucapan Khansa.


"Aku hanya ingin bertemu dengan kalian," jawab Aditama sambil menatap wanita yang telah menemaninya selama sepulu tahun.


Iqbal mengamati penampilan Khansa yang di matannya sangat minim busana berbeda dengan Rania yang terlihat anggun walau tanpa riasan MakeUp berlebih.


"Ayo,"kembali Iqbal ajak mereka.


"Ayo Mas kita juga pulang, dia emang seperti itu terbuktikan ucapan ku dia selingkuh," kata Khansa dengan ketus.


Rania yang hendak membuka pintu berhenti lalu dia membalikan badannya dan menatap tajam Khansa.


Rania menoleh sama Aditama yang sedang menatapnya lalu menatap Si Mbok dan Liza yang merangkul pundak Ibunya.


"Baik, aku rasa ini waktu yang tepat untuk membongkar kebusukan mu," ujar Rania dia mengeluarkan ponsel.


"Apa maksud kamu, hah!" bentak Khansa sambil mendorong bahu Rania menggunakan jari telunjuknya.


"Kamu takut?" Rania menyunggingkan senyumannya.

__ADS_1


"Baiknya kita pergi dari sini Mas," Khansa menarik lengan Aditama.


"Stop, Khansa!" Aditama melepas tangan Khansa yang menariknya, lalu menoleh sama Rania.


Terlihat wajah Khansa yang berubah menjadi ketakutan, dia menatap Rania dengan tatapan tajam.


Iqbal berusaha untuk menahan diri agar jika dia membela Rania maka Khansa akan menyulutkan kembali bahwa mereka selingkuh.


Rania menatap si Mbok lalu mengaggukan kepalannya si Mbok pun melangkah lalu mendekati mereka.


"Bilang lah Mbok," ujar Rania.


Si Mbok menatap Aditama lalu menatap Khansa yang sedang melotot sebuah kode agar si Mbok tidak bilang sama Aditama.


"Apa kamu akan percaya jika Mbok yang membeberkan waktu di mana kejadian kamu mentalak aku?" tekan Rania menatap Aditama.


"Itu sudah berlalui Rania aku tidak mau membahas hal itu," ujar Aditama membuat Khansa tersenyum dia merasa berada diatas angin dengan ucapan suaminya barusan.


"Cih, tidak layak kamu menjadi suami Rania," umpat Iqbal sambil menatap tajam Aditama


"Kamu tidak curiga bekas luka di pundak Adriana?" ujar Rania dengan gejolak emosi namun dia harus bisa mengontrol emosinya, gak ada jawaban dari Aditama dia menoleh sama sang anak yang perubahan wajahnya berubah ketika mendengar itu.


"Baiklah akan aku putar Videonya," Rania tersenyum lalu menoleh sama Khansa yang sedang menegang.


"Aduh, perutku sakit mas, aduhh tolong," ujar Khansa sambil meringis memegangi perutnya dia meluruh lalu langsung di tangkap sama Aditama.


"Kamu kenapa? tidak apa-apakan?" tanya Aditama terlihat panik dia mengusap pertu Khansa.


Khansa menatap Rania lalu tersenyum dengan liciknya.


"Kita ke dokter, aku takut kandungan kamu kenapa-kenapa," kembali Aditama memeberi perhatian.


Rania membuang pandanganya, Khansa terus meringis dengan Akting dia yang luar biasa.


Iqbal bertepuk tangan dia tersenyum dengan tatapan sinis mengarah ke Aditama dan Khansa.


"Wah, sepertinya kami menonton pertunjukan drama yang sangat epik, di mana seorang wanita berpura-pura sakit dan bodohnya lagi si pria itu percaya, luar biasa," kata Iqbal yang kembali menepuk tangannya, Iqbal yang dari tadi diam saja dia ahirnya bersuara dia merasa sudah geram.


"Apa maksud kamu, istri saya sedang kesakitan," timpal Aditama.


"Kamu datang kesini sebenarnya tidak jelas Aditama, jika tujuan kamu ingin bertemu dengan anakmu harusnya kamu tidak mencegah Rania pergi, apa kamu ada hal lain? Dan berubah pikiran ingin mengajak Rania rujuk?" Iqbal merengkuh pundak Rania dia eratkan ke tubuhnya sebuah pemandangan yang membuat Aditama menahan cemburu.


"Lihat, perubahan wajah kamu sangat kentara kamu masih cemburu jika Rania di dekati pria lain," lanjut Iqbal sementara Rania terdiam," Lihat, bahkan perempuan yang tadi meringis saja sudah berhenti melihat aku sedekat ini sama Rania," Iqbal menatap Khansa lalu Aditama menoleh sama Adriana yang tiiba-tiba mengaduh.


"Sekali aku tekan ponsel ini, maka akan kebongkar semuannya, kamu harusnya bijak dalam mengambil tindakan," tekan Iqbal menatap Aditama tajam, lalu menatap Khansa yang perubahan mimik wajahnya sangat jelas menahan rasa takut.

__ADS_1


__ADS_2